[Orific] Daily Life?

 

editingredpen

Daily Life?

.

.

.

Kak Karen terus-terusan menggumpalkan ocehannya di sela-sela aku mengerjakan tugas editing. Tidak tepat di samping cuping telinga kananku sih tapi, agak serong lima belas derajat, sebenarnya. Tapi tetap saja membuat otaku seketika mengalami stagnasi dan mungkin sekarang jutaan sel sudah mati sekarang. Secara tidak langsung Kak Karena baru saja melakukan kejahatan genosida pada otaku. Hah! Beruntung sekali dia karena tidak ada perlindungan Hak Asasi Otak.

“Maksudku warna biru itu cocok loh.”

Lagi-lagi ucapannya menggaung di otaku membuat ideku seketika melayang  ke nebula. Bukannya aku tidak bisa berkonsentrasi sungguh! Tapi tidur lima jam selama dua hari membuat otaku mengkriput, dan membuat wajahku bertambah jelek seperti kayu yang dimakan rayap.

“Buat kegiatan brainstorming gitu.”

Aku mengambil popcorn kilut ku. Masa bodoh! Jika warna biru bisa membuat bulpoinku bergerak sendiri dan merevisi  naskah sialan ini akan kuganti cat kamarku. Kalau bisa rumahku, perabotanku, dan seluruh pakaianku!

“Cocok tuh buat yang suka produksi ide-ide kreatif.”

Bah! Sok mengkuliahi Kak Karen ini, padahal kalau di kantor kerjaanya hanya marah-marah. kemarin saja dia marah-marah lagi, dan bilang, ‘Deadlinenya 1 minggu lagi dan kamu belum juga berhasil merevisi naskah novel? Heh! Kamu pikir ini novelis ecek-ecek hah?’

Kalau begitu ‘JANGAN PERNAH MEMBUATKU NYASAR KE DIVISI PEMILIHAN NASKAH! KARENSA SIA—N‘

Bukannya mendapat ide untuk mengganti kalimat janggal di novel ini, malah otaku isinya umpatan ke Kak Karen. Sebenarnya sih sah saja, malahan sangat menyenangkan. Tapi—err—Novel ini lebih membutuhkanku (amat sangat malahan) dan deadlinenya diajukan secara kurang ajar oleh Kak Karen menjadi enam hari.

“Jadi kalau kerja di bidang yang perlu banyak ide. Boleh dicoba tuh.”

Aku nyengir.

Wah Mark besok harus benar-benar membelikanku sapi—bukan berarti aku ingin memelihara sapi—tapi daging dan susunya bisa kujual kan. Setidaknya aku bisa kaya mendadak dan bisa beralih profesi. Aku bisa menjadi pencicip makanan.

Omong-omong dialah sang pencetus ide, mendengarkan kuliah Kak Karen bisa memperlancar aliran otak seperti Sungai Nil. Bohong sekali dia!

“Nah aku juga ada tips lagi nih. Kalau—“

Bip!

Aku mematikan radioku kemudian menaikan volume Bang Bang Bang milik Bigbang menjadi 74%

Selamat tinggal suara menyebalkan Kak Karen!

END

Ruangan yang didominasi warna biru cocok digunakan untuk kegiatan brainstorming dan dapat memproduksi ide-ide kreatif lebih banyak.
Cr: @WOWFAKTA

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s