GARAGE

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

GARAGE

Choi Hansol Seventeen|| Kim Dahyun Twice

.

.

.

“HP, Google, Micrososft dan Apple sama-sama sukses pertama kali dibuat di garasi.” Choi Hansol mulai bercicit di sela-sela eksperimennya. Aku menatap Hansol kasihan, seperti menatap Luna saat menginjak tahi ayam di teras rumah, kemarin sore. “Tidak ada yang lain memangnya?”

“Jangan remehkan eksperimen ini. Jika aku terkenal nanti kau pasti juga ikut terkenal. Choi Dahyun adik Choi Hansol si ilmuan jenius.” Mata Hansol menatap agak ke atas, pikirannya pasti sedang memainkan imajinya. “Tapi.. memangnya ilmuwan boleh mendapat nilai F untuk matematika?” Hansol memberengut saat aku membawa kembali kenangan dua bulan silam. Hansol sampai pernah membakarnya hidup-hidup di belakang garasi—maksudku kertasnya. “Einstein juga pernah dikatakan bodoh di sekolah.”

“Kau berbeda.”

“Kita sama. Kita sama-sama punya dua telinga, kita sama-sama punya dua kaki, kita sama-sama punya dua tangan.” Lagi-lagi Hansol berhasil menyanggahku dan tersenyum sarkastik. “Oke terserah.” Dan Hansol mencicit ria.

“Sekarang apa yang kau buat?”

“Alat mata-mata. Jam laser api.”

Hah? Barang apalagi itu? “Hey, kau tahu tidak. Ini akan menjadi big hits di seluruh dunia. Setiap badan intelejen di dunia diwajibkan memakai ini nantinya. Ini adalah jam tangan yang bisa mengeluarkan laser. Nah nanti lasernya akan menjadi api dan menghancurkan—“

“Minggu lalu kau bereksperimen tentang perkawinan katak dan ayam.” Interupsiku mampu membuat Hansol (lagi-lagi) memberengut kesal padaku. “Dua bulan lalu kau juga bereksperimen membuat cokelat rasa tahi sapi yang membuatmu dirawat dua minggu di rumah sakit karena memakannya.”

Hansol masih diam. “Lalu enam bulan lalu kau mengajak Somi melakukan tarian gila untuk mendatangkan petir.”

“Heh! Itu percobaan non ilmiahku! Itu karena otaku sedang dalam keadaan tidak waras.”

“Seperti sekarang?”

“Sudahlah. Kau hanya iri padaku karena aku bisa menguasai garasi. Sudah sana pergi. Jika aku terkenal nanti jangan harap aku mau berbagi ketenaranku denganmu, huh.”

Wah! Siapa pula yang mau ikut terseret dalam ketenaranmu. Well, itupun kalau berhasil.

“Sudah pergi sana. Pergi ke dapur dan bikin pie saja sana.”

“Sore Hansol. Oh Sore adiku manis.” Aku lupa disetiap percobaan selalu ada peran asisten di dalamnya. Dan disinilah Ken, tetangga kelewat dungu yang mau-maunya mendapat gelar kehormatan dari Hansol untuk membantu setiap eksperimen gilanya.

“Sudah abaikan dia Ken. Sekarang bantu aku dengan hitung-hitungan ini.”

Aku lupa. Nilai kimia terakhirnya adalah C.

||.||

 

“Aku dengar ada kebakaran. Mau lihat?” Luna sudah berdiri dan memakai sandalnya. Hanya kebakaran kan? Bukannya pesta alien atau kunjungan dinas paling mustahil keluarga kerajaan. Wilayah desa kami cukup terpencil dari kota, tapi bukan berarti kami harus menjalani kehidupan primitif.

“Ayo cepat.”

Akhirnya aku bangkit dari duduku dan menyusul Luna.

Jalanan menjadi sangat ramai setelah pemadam kebakaran lewat. Orang-orang berbondong-bondong melihat kebakaran. Oh iya sekarang apa yang dilakukan Hansol ya? Apa dia berhasil menciptakan jam tangan laser api? Atau dia—hey! Kenapa ada banyak asap  di langit rumah kami—Apa dia berhasil meledakan garasi?

Dan benar saja, di dekat sana Hansol dan Ken berada di depan garasi yang kini tinggal rangka dan abunya saja. Kupikir mereka sedang menangis tapi mereka malah ter-tersenyum? Dasar orang gila!

Mereka bersalaman dengan wajah penuh cengiran bodoh, “Kita hampir berhasil bung,” ucap Hansol. Sinting!

||.||

 

Seminggu setelahnya Hansol menangis di teras rumah. Membuatku malu setengah mati. Selamat Hansol kau baru saja menaikan ketenaranmu dua tingkat sebagai anak laki-laki umur 12 tahun yang menangis seperti bayi. Dan aku akan dicap sebagai adik orang cengeng. Alasannya simpel; dia akan dikirim ke kamp militer musim panas. Bagi setiap laki-laki di desa kami, kamp militer musim panas adalah neraka yang paling dalam, dekat dengan inti bumi. Teman sekelasku Jackson, mendadak  jadi kurus, mendadak pula sok disiplin. Padahal dialah biang kerok di sekolahku. (Oh iya sikap Jackson hanya bertahan seminggu setelahnya dia kembali membuat kasus lagi.)

“Aku tidak mau pergi ke sana! Di sana tidak ada Ken!”

“Kau bisa mengajaknya,” usul dad santai. “Tapi dia fobia bangun pagi.”

Itu sih malas namanya. “Aku juga alergi.” Dad mengerutkan alisnya, “Alergi?” tanyanya. “Iya aku alergi sinar matahari dad!”

“Mom! Siapkan berkasnya dan kita akan berangkat besok dengan kereta paling pagi!” teriak dad.

Kasihan sekali kau Choi Hansol. Jangan ledakan pelatihmu ya hahaha.

“Dahyun?”

“Iya.”

“Tahun depan giliranmu masuk ke kamp militer khusus perempuan.”

Hah? Berita macam apa itu! Aku kan anak baik. Malah paling normal tapi—

“Biar kau berhenti mencuri make up ibumu.” Hansol malah tertawa seperti penyihir gila.

Tahun depan aku akan pergi ke rumah nenek membawa lima koper sekaligus!

 

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s