Kill The Snow White

fanficfunny2
CREDIT : Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

Kill The Snow White

A Fanfiction by Fanficfunny

.

.

.

 Tittle : Kill the snow white|| Scriptwritter: Fanficfunny || Main Cast : Mark GOT7 [Snow White] and Suzy [killer] Miss A|| Support Cast : Kim Jungkook, Melanie Chocolate, Choi Youngjae GOT7, Im Jaebum GOT7, Kunpimook [Bambam] GOT7 || Genre : Slight! Action, AU, Angst|| Rating : PG-13

.

Terinspirasi dari dongeng Snow White

Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

Summary :

Kill the snow white for me, baby.

 

.

.

.

.

.

Moncong WG 701 sepanjang dua ratus lima puluh milimeter kini berdiri angkuh di depan pelipis Mark. Hanya berselisih tiga jengkal saja, timah panas berbahan dasar  perak mampu menohok Mark, mengoyak sistem sarafnya lantas menembus kerangka putih berbalut kulit ras Asiatic mongoloid miliknya. Mark mengumpat, begitu ia mendengar kekehan mengerikan terlontar dari seorang pria paruh baya yang terbalut jas model Norfolk. Pria itu mengangkat alis—yang hampir tak ada, lantas mengakhirinya dengan tarikan bibir pada sisi kirinya, sedang sisi kanan bibirnya masih bergaris horizontal. Senyum timpang.

“Apa permintaan terakhirmu, sayang?”

Langkah Mark mundur teratur. Keringat mulai mengucur di pelipisnya. Sial! Seharusnya ia tahu jika sedang dikuntit oleh salah satu prajurit kerajaan ketika ingin bertandang kerumah mitra kerjanya.

Sir,” ujarnya. Mendengar itu sang lelaki di penghujung tigapuluh itu semakin menudingkan revolverya.

“Tidak bisakah kita berbicara baik-baik sir?” Mark berkata dengan nada sehalus mungkin kendati tetap saja membuat pemimpin Ellender  bergeming ditempatnya.

Umpatan masih Mark gencarkan kendati dalam volume rendah, begitu anak buah si pemimpin berlarian secara random lalu mengepungnya dengan revolver pada masing-masing telapak tangan mereka. Revolver yang  hanya mampu menampung sepuluh peluru mereka tudingkan ke arahnya. Ia teguk salivanya hingga membasahi dinding kerongkongannya yang kering—membayangkan dirinya terhantam sepuluh peluru oleh lima belas hulu balang pria bangka itu. Sial! Tubuhnya bisa hancur dalam hitungan detik!!

“Kau payah. Kau tahu?”

Pria didepannya mencibir dengan senyuman memuakan masih bertengger di sana—penghias wajah rentanya yang sudah banyak berkeriput.

Perlu disadari Mark jika pria yang bertindak sok penguasa itu nampak sedikit berbeda sejak pertemuan terakhir mereka—mungkin dua atau tiga tahun silam. Mata sipitnya sudah sayu dengan gelambir kelopak mata yang menjuntai ke bawah. Bibirnya berwarna biru kehitaman—yang Mark apriorikan didapatnya akibat menghisap batangan kecil berisi nikotin dengan frekuensi  sering. Tubuhnya merupakan kontradiktif dari wajahnya. Kedua lengannya kekar dengan jemari besar-besar mirip seorang kuli kasar. Kakinya panjang, dan Mark berani bersumpah jika kakinya sarat akan otot.

“Bawa dia masuk ke kereta.”

Dua lelaki bertubuh besar  menggamit lengannya di kedua sisi. Menyeretnya kasar seolah sampah busuk yang pantas dimusnahkan kemudian memasukannya—lebih tepatnya membantingnya tanpa perasaan ke dalam kereta. Kedua orang berjas hitam itu mengikat tangannya dengan tali mati yang sengaja mereka ulangi hingga bertumpuk. Mark sedikit meringis begitu salah seorang lelaki berbibir lebih tebal menjambak rambutnya tanpa ampun dan lelaki lainnya menyumpal mulutnya dengan kain.

“Akhirnya kau tertangkap Mark Yi-eun Tuan!” ujar sang tetua Ellender.

“Masukan dia ke penjara dan kurung dia. Lusa ia akan tahu akibat dari perbuatannya,” tambahnya.

Tepat setelah ia merampungkan kalimatnya, kereta berjalan perlahan. Manik Mark kala itu masih menghujam pada sosok pemimpin bengis yang tengah menyulut cerutu  yang diselipkannya di antara kedua bibirnya. Senyum kemenangan menjadi pemandangan terakhir Mark sebelum kereta bergerak lurus menembus hutan, meninggalkan si tua bangka itu bersama antek-anteknya.

 

Bugh

 

Satu bogem mentah mendarat tanpa cacat di kepala belakang Mark. Ia berteriak marah sebelum gelap membayangi retinanya.

 

||.||

“Membusuklah kau pecundang,” umpat lelaki bertubuh paling gempal setelah berhasil mendaratkan tubuh Mark tanpa manusiawi. Keduanya tertawa renyah sebelum benar-benar angkat kaki dari ruangan segi empat berdinding batu—penjara bawah tanah.

Mark mengulas senyum kecilnya, malas jika harus menyuguhkan wajah menyedihkannya. Ia terlampau sering menunjukan wajah memuakan itu di masa lalu.

“Selamat datang.”

Sebuah suara kecil menginterupsi pemikirannya. Ia berbalik dan mendapati tubuh ringkih dengan lutut ia tekuk sebagai penghuni lama penjara—yang dibuat lima tahun silam sebagai siksaan bagi mereka yang mendewakan perdamaian.

“Kau wanita?”

Alis sang lawan bicara terangkat sebelahnya. “Ada masalah?” tanyanya yang kentara sekali merasa tersinggung.

Mark terdiam sebentar, gamang menyatakan ungkapan maafnya ketika kedua pasang maniknya tak sengaja bertumbuk pandang dengannya. Perlu disadarinya wanita itu tak menatapnya ramah.

Manik Mark kembali bergerilya pada lawan bicaranya. Bukannya ingin bertindak kurang ajar, namun jelas sekali ia benar-benar penasaran pada wanita bergaun lima belas senti di bawah lutut.

Dengan bantuan penerangan mentari yang masih bersinar terik di balik kisi-kisi, ia mendapatkan potret sosoknya. Wajahnya cantik kendati terdapat luka malang melintang  di permukaan wajahnya. Tubuhnya ringkih dengan bentuk rahang yang nyaris sempurna untuk seorang gadis. Ia tak mengenakan poni layaknya gadis di Ellender, surainya pun tak luput dari perbedaan gadis pada umumnya. Bergelombang dengan gradasi cokelat kemerahan yang tak mencolok.

“Kau bukan seperti orang dari Ellender.”

“Memang bukan.”

“Lalu—“

“—Dari distrik Gyeolhan.” Sang gadis tersenyum sesaat sebelum kembali berucap, “Tak jarang delik kulakukan, mungkin itu faktor utama yang membuatku kerap kali menjadi penghuni penjara. Apa itu cukup jelas?”

Dapat Mark konklusikan, ia bukan tipe wanita yang mau repot-repot direcoki berbagai pertanyaan mengenai dirinya. Terbukti dari penuturannya yang terlampau jelas.

“Bagaiamana dengan nama?”

“Bae Suzy.”

Dua kata, delapan huruf. Cukup memperkuat hipotesis Mark sekian lalu. Ia berdehem kemudian pandangannya menyapu ruangan segi empat tanpa embel-embel peralatan apapun. Wajahnya mendadak ragu, lewat ekor matanya ia melirik Suzy yang sedang mengerut-ngerut.

“Apa kita akan—“ Mark mengganti nadanya beberapa oktaf lebih rendah, “Berbagi ruangan?” tanyanya.

Suzy bangkit lantas menepuk-nepuk pantatnya. Seringaian terletak di sana menemani sudut kiri bibirnya yang membiru.

“Kau boleh ikut.”

“Hah?”

“Kau ingin keluar ‘kan?”

Anggukan kecil terjadi begitu saja sedang wajah Mark menunjukan kebingungan. Merasa kesal, dagu Suzy terangkat menunjuk pada kisi-kisi jendela yang hilang tiga batang besi. Masih tersisa tersisa dua batang besi lagi, kendati demikian mereka masih bisa melepaskan diri dari sana mengingat tubuh keduanya termasuk golongan kecil. Bukan leco, hanya sedikit ramping.

“Kapan?”

“Nanti malam. Siapkan tubuhmu.”

“Bagaimana denganmu?”

Suzy tersenyum kecut. Tangannnya terangkat mengusap sebagian luka kering yang masih membekas di pipinya. Sebenarnya luka yang tergores cukuplah dalam dan cukup banyak. Dua di pelipis kirinya, satu di kiri bibirnya, terakhir dua di masing-masing pipinya. Jika di kalkulasikan maka lima luka telah membingkai kulit putih susunya.

“Tak apa.”

“Tapi bagaimana jika kita ketahuan? Mungkin saat itu juga kepala kita akan diisi lima kaliber sekaligus.”

“Semua anak buah si tua bangka itu bodoh dan desersi. Kau sudah lihat buktinya ‘kan?”

Mutiara kelam milik Suzy kembali menelisik ke arah kisi-kisi yang berhasil meniupkan pergerakan angin petang yang berhembus dari arah utara ke tenggara Ellender.

“Bagaiamana bisa mereka mengabaikan jeruji jendela yang sudah terbuka lebih dari separuhnya saat membawamu kemari?” jelasnya.

Sekali lagi manik kokoa Mark bersiborok pada kisi-kisi—mengira-ngira seberapa tinggi jendela berjeruji yang berada di depannya, kalau benar asumsinya maka ia beserta gadis berwajah oriental yang kini masih menjaga jarak dari sosoknya tak mampu melewatinya melihat tinggi kisi-kisi berada enam jengkal dari kepalanya.

“Jangan bodoh! Gunakan otakmu.”

Lima menit sepuluh sekon—tepat ia mengenal, lebih tepatnya tahu jejeran abjad nama Suzy, namun ia sudah dijejali kalimat kasar dengan mimik dingin sebagai nilai tambahnya. Jadi apakah pantas seorang gadis mengeluarkan kalimat sampah pada pemuda yang bahkan belum membalas ucapan namanya? Oke! Mark cukup bersabar mengingat wanita adalah kaum minoritas di distriknya.

“Kupikir wajahku menunjukan tingkatan usia yang cukup untukmu, nona Suzy.”

Mark tersenyum asimetris melihat adanya perubahan mimik wajah Suzy yang mengalami peningkatan emosi. Awalnya ia ingin memperhatikan segala tetek bengek teori kesopanan, namun setelah melihat bagaimana Suzy memperlakukannya, ia dengan senang hati mencabut keinginannya.

“Tidurlah kupikir waktu empat jam cukup bagimu,” tutur Suzy.

Seolah ucapan terakhir Mark adalah makhluk kasat mata yang lesak di balik lumpur. Suzy mengabaikannya, ia masih kekeh berada dalam tata bahasanya—mengabaikan sistem bahasa yang dibeperlakukan Ellender dengan menjunjung segala kesopanan untuk usia lebih tua sebagai point utamanya. Jemari kurusnya yang sedari tadi memeluk lutut ia tekankan pada lantai batu menjadikannya titik tumpu berat badannya guna menggeser tubuhnya merapat pada sisi kiri penjara yang terdapat jerami sebagai alas tidurnya. Dan opsi selanjutnya yang ia pilih adalah mengistirahatkan tubuhnya tanpa perlu repot-repot berpamitan pada Mark, maka menit selanjutnya kepalanya sudah jatuh pada jerami dengan manik terpejam.

Di sisi berlainan Mark menggerutu, mendumel—masih tentang sosok bernama Suzy.

“Kau bisa tertidur secepat itu? Tsk!”

Mark menghela nafas kasar, tangannya secara naluri menelusuri kepala belakangnya. Rasa pegal masih mendominasinya meski satu jam telah berlalu. Ugh  sial!. Jika saja ia masih tekurung dengan kesadarannya, bisa dipastikan ia akan menghajar kedua bawahan Si Kim Jungkook—Demi Tuhan Mark lebih suka menamakannya tua bangka—lantas menendangnya keluar dari kereta. Jadi ia tak perlu terjebak di penjara dengan wanita tanpa tata krama sebagai bonusnya, dan mungkin kini ia sedang menikmati teh hangat di rumah Jackson—rekan sejawatnya— dan membuat rencana untuk pemberontakan selanjutnya.

Sayangnya semuanya hanya jabaran dari kata jika.

Dan ia benci satu kata—empat huruf, yang hanya mampu membuai manusia dengan asa kosong.

Ia bukan jejeran kaum utopis. Dan ia sangat bersyukur.

Untuk menunggu petang berlabuh, Mark memilah duduk di samping tubuh Suzy dengan jarak yang cukup kentara. Selain duduk bersila dengan tulang punggung yang ia senderkan pada dinding, imajinasi—mungkin lebih pantas menyebutnya kilasan peristiwa, karena pada dasarnya potongan gambar random yang terus berkelabat pada otaknya adalah;  peristiwa nyata yang terjadi di masa lalu.

Desahan-desahan lelah masih mengepul dari bibir tipisnya, sedang kedua bola hitamnya yang terkungkung warna putih berkelana hingga ke pojok kanan atas. Masih kental dalam ingatannya, bagaimana Jungkook hadir dalam hidupnya dengan senyum milik Dewa Apollo kala ia menemuinya di pelabuhan. Menurut ibunya—sayangnya ia mengabaikan point of view orang lain— Ia adalah teman baik yang ditemui ibunya kala bertandang ke benua bernama Amerika—sejujurnya Mark tak tahu dimana benua itu terletak, mengingat ia tak pernah bepergian menggunakan kapal bertenaga batubara seperti ibunya. Bermodalkan permen rasa jahe sebanyak lima biji ia berhasil mengambil hatinya saat itu, dan tanpa disadarinya belaian lembut pada surai hitamnya adalah awal dari segala bencana hidupnya. Dan berawal dari permen jahe, ibunya pergi secara mengenaskan.

“Masih melamun?”

Mark terlonjak kala mendengar cicitan Suzy berserta senyum timpangnya. Posisinya berganti duduk bersandar di dinding ujung utara lantas mengunci pandangnya pada sosok Mark yang bersandar di tembok selatan.

“Siapa namamu tadi?

“Aku bahkan belum sempat mengatakannya.”

Satu alis tebal milik Suzy terangkat, “Benarkah?” tanyanya lebih ke diri sendiri.

“Haruskah kujawab ya, Nona Suzy?” ujar Mark dengan selipan nada sinis.

Iris kelam milik Suzy berputar mengelilingi rongga matanya—sebagai apresiasi dari ketersinggungan Mark.

“Jadi siapa namamu?”

“Mark Yi-Eun Tuan. Jika kau tahu siapa aku, kau akan berpikir dua kali untuk bertutur kata denganku.”

“Memangnya kau cenayang?”

“Aku bukan seorang yang terus bersuara tanbiat,” tukas Mark tak suka.

“Lalu siapa kau dan kenapa kau bisa masuk penjara?”

“Untuk apa kau tahu?”

Huh! Idiot?! Sepertinya ia salah jika menaruh rasa penasaran, menggelitik rongga dadanya. Mengharapkan jawaban dari seorang pemuda yang mungkin akan berbalik arah memandangnya kala mereka sudah berhasil keluar, adalah pandangan idiot.

“Aku seorang pemimpin anti-Jungkook, kau bisa menyebutnya pemberontak,” aku Mark dengan rasa percaya diri yang ia setel ke jarum maximum. Senyumnya berkembang lebar hingga menimbulkan tarikan pada otot-otot pipinya.

Kendati Mark yakini ia sudah terlihat keren di mata seorang wanita namun sepertinya fakta hebat miliknya tak cukup kuat membuat Suzy memekik terperanjat, bertepuk tangah riuh, yeah minimal melebarkan dua indera penglihatannya sebagai reaksi dari keterjutannya.

“Cukup keren.”

Ia sudah berhasil menyematkan kalibernya pada dua puluh orang sekaligus!! Merampok pajak kerajaan senilai seratus keping logam emas, dan terakhir ia berhasil memblokade wilayah Derrix—berjarak enam kilometer dari ibukota Ellender—selama dua hari! Dan penghargaan yang di berikan Suzy hanya dua kata dengan penghias nada datar?!! What the hell!!

“Kau tahu aku pemimpin pemberontakan yang menggemparkan Ellender,” ujar Mark menuntut penghargaan lebih.

“Aku tahu. Setidaknya aku tahu dengan makhluk apa aku keluar dari penjara.”

“Makhluk?”

Apa yang wanita itu pelajari selama ia menghirup oksigen? Apakah tata krama adalah hal yang patut di hilangkan dari distriknya? Tunggu… Bukankah ia berasal dari tanah Gyeolhan? Dewasanya ini ia tak pernah mendengar adanya pelanggaran norma di distrik kecil itu pun ketika ia kadang kala menginjak tanah berpenghasil gandum untuk mengunjungi mitra kerjanya disana—Jinyoung. Ia tak menemukan adanya rambu-rambu kurangnya tata krama. Lalu?

“Kau bukan berasal dari Gyeolhan.”

Tak banyak reaksi yang ditujukan Suzy terkeculai irisnya—menatap malas tepat ke retina Mark dengan seringaian bosan yang terpupuk di bibirnya. Andai kata Suzy adalah ahli hitung—ia mungkin bisa mengingat dengan jelas berapa orang yang berasumsi jika dirinya bukan berasal dari distrik penuh sopan santun itu. Well, ia bersyukur daya ingatnya tak begitu berfungsi jika di jejali dengan bilangan.

“Terserah.”

Mark tak tahu arti sekunder dari aksara terserah, yang ia tahu terserah mencakup dua intisari; pertama yang menunjukan kebenaran atau opsi lainnya yang menunjukan sebuah penyangkalan. Ia tak melihat akan tanda-tanda dari dua makna itu kendati otaknya yang berisi puluhan strategi penyerangan telah bekerja keras.

Suzy bangkit dari duduknya, menatap cakrawala yang terkurung warna pekat dengan segelintir bintang tanpa rembulan sebagai tata riasnya. Lantas mengalihkan pandangannya ke belakang.

“Kenapa?” tanya Mark dengan nada menghardik.

“Ini adalah waktu pertukaran antara pekerja malam dengan pekerja siang. Jika kita berhasil melarikan diri dari penjara selama kurang lebih lima belas menit kupikir nyawa kita aman. Sekarang bagi jerami menjadi enam lalu tumpuk disini. Pekerja malam berupah dua puluh shilling sudah mulai berdatangan. Cepat!”

Satu tarikan pada sudut kanan bibir Mark menjadi jawaban pertama atas perintah sepihak Suzy. Ia berdiri, tulang punggungnya melengkung sedemikian rupa hingga dua lengan tangannya mampu menjepit dan memindahkan jerami secara cepat ke bawah jendela.

Sekitar 420 sekon Mark habiskan untuk memindahkan jerami ke bawah jendela dan sekon lainnya ia pergunakan untuk melihat bagaimana tubuh Suzy bergerak lincah menaiki sisi demi sisi jerami, terkadang kakinya tergelincir tatkala belum mendapat pijakan yang tepat. Setelah sekian sekon ia habiskan, akhirnya tubuh Suzy mampu keluar dari penjara tanpa cacat.

“Waow,” ujarnya sebagai apresiasi kerja keras Suzy—entah bagaimanapun Suzy masuk dalam kaum yang perlu dilindungi.

Pandangan remeh menguar dari balik kisi-kisi. Sinar kesombongan jua masih bersinar kendati wajah Suzy sudah bersimbah sinar kekuningan yang bola tabung  hasilkan—entah kapan para petugas menyalakannya.

“Giliranmu. Aku akan berjaga.”

Seperti yang terucap Suzy, kini Marklah yang menjadi pelaku utama setelah hanya menjadi penonton apatis. Ia melakukan apa yang dilakukan Suzy sesaat lalu dengan polesan kesempurnaan, ia berhasil melalui kisi-kisi tanpa cacat. Bisa di bilang melepaskan diri dari jerat hukum bukanlah hal sporadis yang dilakukannya.

“Jadi kemana kita?”

“Entahlah, yang pasti kita harus segera angkat kaki dari sini.”

Sebelum Mark benar-benar menjauhkan diri dari kastil setinggi—hampir dua belas meter yang hanya berongga satu jedela di atas dan satu pintu kayu di bawah. Ia melihat penjara yang dibuat Jungkook untuk menghukum adalah satu kastil dengan parit berdiameter enam meter mengelilingi kastil. Satu-satunya jalan untuk mengkomunikasikan penghuni kastil dengan dunia luar adalah jembatan kayu yang terbentang.

Keduanya berlari tanpa perlu repot-repot menelengkan kepala seratus delapan puluh derajat atau kurang. Keduamya terus berlari meninggalkan jembatan kayu, menyongsong kepekatan malam yang mengunci segala misteri di balik matan yang bertebaran rambang.

Mereka terus berlari, berlari lurus tanpa ada niatan untuk membelok ke arah barat laut atau sejenisnya. Terus berlari hingga mampu mereka rasakan rasa kebas mulai menggelayuti tungkai mereka. Awalnya hanya rasa pegal yang melanda namun begitu ratusan meter mereka lalui nafas mereka saling berebut oksigen yang kian menipis di  sistem pernafasan. Tak mampu berjuang lebih lama lagi, dua tungkai Suzy terhenti. Ia membungkuk dengan deru nafas yang tak keruan, dua lengannya ia topangkan pada lututnya.

“Mau kemana kita?” ujarnya.

Tungkai Mark terhenti, kepalanya ia tolehkan pada sumber suara. Setalah retinanya mengirimkan gambar sosok teman berlarinya, ia berbalik. Keringat masih menjadi salah dua tanda keletihannya.

“Entahlah.”

Nafas keduanya menderu keras, empat tungkai tanpa galat berdiri lelah menopang dua berat tubuh yang menampung berbagai sistem kehidupan. Namun Suzy memilah menumbangkan dua tungkainya dengan punggung menyandar pada salah satu pohon oak.

“Rencanamu?” ujar Mark lagi masih dengan nafas naik turun.

“Aku hanya merencanakan kabur tidak untuk selanjutnya.”

“Pintar.”

“Kuanggap sebagai pujian, Mark Yi-Eun Tuan.”.

“Memangnya kita di mana sekarang?”

“Jika aku tidak salah, kita di sekap di Kastil Ern maka hutan ini kalau tak salah hutan…” Suzy mengigit bibir bawahnya, mengingat-ingat konfersasi yang terucap kala ia dibawa kemari  saat kesadarannya merangkul setengahnya.

“Hutan Redmoon. Kendati aku sanksi tentang keorisinilan namanya.”

“Kau yakin?”

“Tak sepenuhnya.”

“Kita sudah berlari sangat jauh, kemungkinannya kita berada di tengah hutan, benar?”

“Mungkin.”

Tak mau membuang sekon lagi Mark bergerak gesit, membelah kerapatan pohon pada sayap kiri, tangannya bergerak-gerak secara random pada epidermis oak. Kokoa sipitnya melebar setelah menguliti kayu oak—menunjukan adanya hal yang berarti.

“Ketemu!”

Teriakan bersemangat milik Mark berhasil meluluhlantakan sekat keheningan yang tercipta. Alis Suzy berkerut-kerut ragu begitu melihat pancaran kokoa Mark.

“Ada apa?”

Sejamang manik Mark berkeliaran tanpa arah pada area bawah—entah apa yang dilakukannya, alih-alih memberikan kejelasan ia memilah mengkedipkan kelopak matanya dengan bibir yang terus bergerak-gerak gelisah.

“Berjanjilah padaku untuk melupakan apa yang kau lihat!”

Terjadi pergeseran nuansa yang signifikan setelah perintah terakhir menyusupi daun telinga Suzy, melewati gendang telinganya hinggga berlabuh ke otaknya, di sana ucapan perintah Mark harus kembali ditelaah menjadi bahan yang lebih mudah diserap menjadi bahasa yang lebih sederhana. Sayangnya ia tak menangkap hal pendukung yang terucap dengan sikap abnormal yang ditujukan Mark. Yang ia tahu, Mark serius dengan ucapannya kali ini.

Ngg—ya”

“Kumohon!”

“Baiklah.”

Suzy tak tahu Mark akan membawanya kemana, yang ia tahu pergelangan tangannya ditarik begitu saja oleh Mark, kokoanya terus memicing dengan kewaspadaan cukup tinggi. Sesekali ia menunduk tatkala tak menemukan sebuah tanda—Suzy tak tahu apa arti tanda bintang kecil di balik kulit luar pohon yang tadi sempat Mark obrak-abrik. Ia melihat jejeran tanda bintang itu seperti sebuah gemintang bagi pelaut tanpa kompas. Seperti yang dikatakannya, Mark menunduk mencari tanda lain yang sepertinya berada di batu dengan daun kering oak sebagai kamuflasenya.

Suzy pikir tanda itu hanya berada di pohon atau batu yang tersembunyi, nyatanya ia melihat tanda itu tersembunyi di tanah, buah kering, daun kering, bahkan sampah kertas pembungkus sepatu.

Dan setelah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya Mark bergulat dengan tanda bintang dan mengikuti arahnya, akhirnya Mark menunjukan sebuah mimik kelegaan yang begitu kentara. Ia menyibakan semak belukar dan—

“Waow!”

Suzy melihat dua sampai tiga rumah beratap ilalang berbahan kayu berdiri kokoh dengan cerobong asap yang membungbung tinggi. Dapat dipastikan retina Suzy ia melihat segelintir orang tengah bercakap atau bertukar pikiran di pelataran rumah mereka. Ia tak pernah tahu—kendati ia bersusah payah menjejali isi otaknya dengan informasi tempat di Ellender—jika di hutan Redmoon yang tak berpenghuni—hal itu tertulis dalam buku sekolahnya— tengah terjadi interaksi sesama homo sapiens.

Pssssstt! Akan kukenalkan kau pada teman-temanku?”

Teman? Sejauh ini banyak hal yang membuat Suzy harus mengerutkan dahinya, berpikir keras, serta merta rasa penasaran yang terus tertumpuk.

“Ayo!”

Belum jua Mark menyuarakan perihal ‘perkampungan mendadak’ yang dilihatnya, ia sudah kembali—tanpa berniat melontarkan perizinan—menyeret pergelangan tangannya. Kala itu wajahnya sumringah dengan kekehan yang mendayu-dayu membuat telinga Suzy cukup terganggu.

“Apa kalian akan berpesta tanpaku?” ujarnya setelah berhasil mendekatkan diri pada segerombol homo sapiens.

Semuanya—yeah sepertinya ada lima orang, secara refleks melihat keduanya. Satu diantaranya seorang gadis memekik senang, selendang abu-abunya terjatuh dikarenakan gerakan mendadak yang gadis itu perlihatkan—berdiri. Manik kecilnya berbinar-binar dan terakhir sang gadis memeluk tubuh Mark dengan amat erat.

“Darimana saja kau. Kau membuat kami semua khawatir,” ujarnya serak.

“Melanie, aku baik-baik saja.”

Jika ditilik dari gestur yang ditampilkannya gadis berempunya nama Melanie—ia mendengar Mark menyebutnya begitu, adalah seorang gadis yang cantik. Terbukti dari rahang v-nya berlekuk sempurna yang dipadukan dengan hidung bangir miliknya.

“Siapa dia?” Gestur tubuhnya menunjuk sosok Suzy setelah menanggalkan pelukannya pada Mark. Irisnya bergerak dari atas ke bawah mengira-ngira siapa wanita yang dibawa Mark.

Suzy pikir bukan Melanie satu-satunya makhluk yang merasa terpacu rasa penasarannya pada dirinya, kini empat orang—tiga lelaki dan satunya seorang gadis— tengah berdiri di depannya dengan mimik sama dengan Melanie,  bedanya tatapan mengintimidasi mereka lebih kental dibanding iris kelabu Melanie.

Oh—Ia baru menyadari adanya persamaan manik antara Mark dan Melanie.

“Akan kuceritakan segalanya, kuharap kalian mau membuat temanku nyaman.”

.

.

.

.

.

“Jadi kau sering kabur dari penjara?” tanya Melanie sambil mengunyah roti kacangnya.

Sepertinya hipotesis awal Suzy bertolak belakang dengan fakta yang terpapar. Ia mengira Melanie adalah gadis cantik dengan kepribadian ketus atau seseorang yang gampang menaruh curiga, nyatanya ia gadis berisik yang sangat ingin tahu segalanya—tipikal gadis menyebalkan—

 

—untuk Suzy

 

”Menurutmu?”

Ada dengusan yang berasal dari beberapa pasang mata, ada juga sebuah kasak-kusuk tak bersahabat yang memaki, lainnya tanpa adanya sikap skeptis menghunuskan rasa tidak sukanya pada Suzy lewat sudut-sudut matanya. Oh baiklah! Suzy salah menempatkan sikap apatisnya ke dalam konfersesi dirinya dengan perkumpulan pemberenotak. Well, bolehkan Suzy melemparkan kesalahan pada sosok menyebalkan Melanie?

“Setidaknya kita tahu dia salah satu dari kita.”

Pembelaan dari Im Jaebum—ketua pemberontak divisi 3— membuat Suzy mengangkat alisnya sarkatis, kentara dalam gestur wajahnya menunjukan penolakan yang berarti.

“Maksudku kau termasuk jejeran pembenci Jungkook,” ralat Jaebum.

Masih dalam selimut kecanggungan yang dirasakan Jaebum kala tak melihat ekspresi balasan apapun, ia terkekeh—dan menjadi satu-satunya tanda bahwa Jaebum aneh.

“Bukankah kita harus melaporkan kondisi kita pada divisi lainnya, benar begitu Ketua Yi-Tuan?”

Mark yang kala tadi terus berkutat pada buku agenda kecil miliknya mendongak—dengan manik masih meminta penjelasan adanya penyerbuan yang dilakukan seluruh pasang mata pada dirinya. Ia berdehem menutupi ketidaktahuan dirinya lantas berucap, “Benar.”

Lalu ia kembali menyelami deretan angka pada kalender—mengabaikan decakan Jaebum.

“Youngjae kirim telegrram untuk Ketua Divisi lima—Jackson. Kita harus tahu keadaan mereka juga.” Pria pemilik alis tebal itu hanya tersenyum dengan anggukan singkat sebagai jawaban dari perintah ketuanya. Mantel abu-abunya ia sibakan ketika tungkainya memilih berdiri—menopang berat badannya.

“Aku ikut!” ujar Melanie masih dengan nada cerianya.

“Melanie,” panggil Mark dengan nada penuh penekanan.

“Ayolah kak, aku juga ingin menikmati pinggiran Ellender. Boleh ya?”

Helaan nafas milik Mark terdengar berat, ia memicing tak suka ketika Melanie mulai memperlihatkan sisi kelucuannya; mengedipkan secara statis kelopak matanya dengan bibir mengerucut ke bawah.

“Youngjae jaga dia.”

“Yeay!”

“Aku—“ Suzy berdehem singkat sebagai penetralisir kegugupannya lantaran menjadi pusat perhatian, “juga ikut,” tambahnya dengan manik yang ia posisikan menghunus kedepan—kendati ia tahu jika dirinya terlihat ingin menggertak untuk menutupi ketakutannya.

“Apa kalian pikir orang tuaku akan tidur tenang mengingat anaknya berada di penjara? Aku akan mengirimkan telegram untuk mereka, bahwa aku baik-baik saja.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bau bubuk Mesiu masih mengobrak-abrik indera penciuman Mark, desauan berisik revolver jua masih menjadi kawan setia rungunya. Pundaknya menghantam keras—amat keras lemari kecil tempatnya berlindung. Dua tangannya berkelung menjadi satu, menggenggam pelatuk revolver berisi kaliber bertipe blemish vermint.

 

DORR

DORR

Dua tubuh ambruk  di depan kokoa Mark, menghancurkan urat jiwanya ketika mendapati wajah kesakitan pada diri Jaebum dan Melanie. Jemarinya mengepal, meremas revolver berisi sepuluh peluru dengan dendam yang meletup.

“Brengsek!!”

DORR

DORR

DORR

Amarahnya secara cepat memuncak, jemarinya terus bergerak menekan pelatuk dengan amat beringas.

DORR

DORR

DORR

Tiga jam lalu, ia masih tertawa bersama Jaebum membicarakan wajah pias Jungkook. Dua jam lalu ia mampu berkerut-kerut bingung ketika pintu tergedor dengan nada amat menjengkelkan. Satu jam lima puluh menit lalu Jungkook beserta antek-antek menudingkan pistol pada pelipis Pimook—salah satu anggotanya—dan menghancurkan tempurungnya dalam sekian sekon. Dan sekarang, entah menit atau sekon ke berapa sebagian besar kawannya telah merangsek pada tanah dengan tubuh berisi peluru.

 

DORR

DORR

DORR

DORR

Tubuhnya berguling ke kanan—tepatnya di sisi belakang meja setelah berhasil menumbangkan targetnya dalam sekali tembakan. Tubuhnya menegang sebagai refleks atas kehadiran mendadak Suzy dari sisi kiri. Ia memegang revolver—sama seperti Mark. Maniknya memicing tak suka pada perhelatan perang yang disuguhkan Kim Jungkook tanpa embel-embel persiapan dari kubu Mark.

“Mereka pasti mengikuti kita, brengsek!”

DORR

DORR

Tubuh keduanya saling berhimpitan akibat suara tembakan yang diarahkan ke meja tempat mereka bersembunyi. Sial! Jika mereka mengintip sekali saja mungkin sekon selanjutnya kepala mereka sudah tercabik peluru.

DORR

DORR

DORR

DORR

Entah berapa tembakan yang terlontar dari mulut revolver—kali ini bukan untuk mereka. Yang pasti Mark hanya mampu menggeram begitu mendengar bunyi ‘benda berat jatuh’ ke lantai marmer, ia yakin kawannyalah yang menjadi korban bukan cecunguk suruhan Jungkook.

“Keluarlah, tak ada satupun kawanmu sayang.”

Tubuh Mark menegang ia lantas menatap Suzy kebingungan—yang ditatap hanya mampu memalingkan wajah dengan manik almond yang berkaca-kaca.

“Jangan memandangku seperti itu,”ujar Suzy bergetar.

Derap sepatu yang bergesekan dengan lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang bergema seolah alarm datangnya dewa kematian. Nyatanya, Jungkook adalah dewa kematian yang tak berperikemanusiaan, dan tak memiliki moral yang bersih. Ia adalah pria terkutuk di dunia ini! Senyuman lebar Jungkook tampilkan tatkala ia menemukan sepatu Mark di balik meja.

“Tinggalkan kami,” teriak Jungkook pada satuan anak buahnya.

Seperti halnya perintah Jungkook, semua orang tanpa terkecuali berlari keluar meninggalkan dirinya. Jungkook berjalan tanpa ragu membuat fokus Mark terus berada di area waspada.

Well, well apa yang kita lihat?” ujarnya tatkala tubuhnya telah berhadapan langsung dengan Mark.

Jungkook lantas tertawa sarkatis dengan gigi putih yang ia sombongkan, sedang garis matanya tenggelam di balik kerutan wajahnya. Setelah berhasil menghilangkan tawa kepuasannya, ia menunjuk wajah Mark dengan ujung tongkat kayunya.

“Suzy?”

Tubuh Suzy bangkit Ia berdiri di samping Jungkook tanpa mau bertumbuk pandang dengan Mark. Kini bahunya turun beberapa senti, pancaran sinar kesombongannya telah lenyap menguar terbawa angin malam yang mengigit tulang.

“Tunjukan pada dia siapa bosnya.”

Perlahan Suzy mengangkat tangan kanannya lantas mensejajarkan revolvernya dengan pelipis Mark, maniknya masih bertolak pada retina Mark yang menunjukan kekecewaan.

Kedua sudut bibir Mark terangkat, ketika mendapati fakta yang terangkum di otaknya. Ia tertawa sinis sebelum berucap,“Kau pasti sudah merencanakan dari awal ‘kan? Kim Jungkook.”

“Ideku hebat kan? Kau juga harus berterima kasih pada Nona Suzy yang mau berbaik hati mengirim telegram tempat persembunyianmu, sayang.”

Rahang Suzy menegang, kepalanya semakin kuat ia tolehkan ke arah kanan tangannya.

“Suzy, setidaknya kau harus mengunci targetmu sebelum melepaskan pelatuk.” Suzy menelan salivanya pahit, tubuhnya menunjukan adanya tremor yang berakibat hilangnya fokus moncong revolver. Dadanya terhimpit sesak begitu almondnya bersiborok dengan kokoa Mark. Tatapan tak suka milik Mark masih mengintimidasinya secara langsung.

“Suzy?” panggil Jungkook.

 

DORR

 

Tubuh Suzy ambruk, mentalnya menciut sebasar biji semangka. Revolvernya jatuh lengkap dengan jemari Suzy yang masih menempel pada pelatuk. Maniknya bertumbuk pandang pada sosok di depannya.

 

“Mark?”

 

“Jangan meremehkan target yang masih memegang senjata ayah.”

 

END

 

 

Iklan

3 respons untuk ‘Kill The Snow White

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s