[EXOZY Series : KAI Vers.] When december came

whan-december-came-by-sdw-art

Cr: Suzy Dream World

When december came

.

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Tittle : When december come ||Author: Fanficfunny || Main Cast : Bae Suzy Miss A and Kim Jong In EXO || Supp. Cast : OC’s and Yongjae GOT7 || Genre : Sad, Hurt, Romance, Fantasy, AU|| Length : Oneshoot|| Rating : T

Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya. Terinspirasi dari FF ku yang berjudul 7 July—pernah di publish di blog Bumsso. Ide sama alur sama tapi setting, diksi, dan cast berbeda. Jadi ini bukan plagiat looh

****

.

.

.

Dan esok.

Tahun depan.

Tepat saat kapas itu kembali muncul.

Ia akan bertemu dengan Jong In. Kekasihnya.

.

.

 

Tak ada frasa yang keluar dari keduanya, hanya gaun berwarna biru keabu-abuan milik sang gadis  yang terus berkibar karena ulah angin musim dingin. Kedua tangan sang gadis  bergelut ringan—saling meremas menyalurkan rasa lelah yang sudah menggerogotinya lima tahun belakangan ini. Bibirnya bergetar ringan, namun masih tak ada fonem yang ingin menyeruak pelan, karena begitu banyak yang ingin disampaikannya, begitu banyak perihal yang membuat mata sembabnya tak pernah kempes barang sehari pun dan begitu banyak rasa rindu yang terus menggerogotinya.

“Sampai kapan?”

Sederet kalimat memilukan keluar bebas dari mulut sang gadis. Disusul isakan kecil yang membuat suasana Desember siang ini kembali berhembus semakin dingin.

“Bisakah kau tak menanyakannya?”

Pria di sampingnya tersenyum paksa, menampilkan aura perih yang tak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Sang Pria tersenyum kembali, namun lebih ke aura tulus yang ia tampilkan, ia menggamit jemari sang gadis  yang masih saja tertunduk kemudian bergumam, “Entah sampai kapan ini terjadi Suzy, tapi ini hanya terjadi jika kapas lembut turun dari langit untuk kali pertama.” Sang pria terdiam sebentar, “Untuk itu ayo kita bersenang-senang,” lanjutnya lagi.

Pria yang memakai baju polos berlapis mantel kulit domba itu bangkit, mencoba membawa hati sang gadis kembali pada tempatnya. Tangannya semakin erat pada genggaman menyalurkan perasaan hangat pada keduanya.

“Tidak Jong In!” teriak sang gadis .

Pria bernama Jong In itu terdiam, kendati demikian, tangannya masih menggamit lengan gadisnya. Ia menunduk tatkala gadis bersurai hitam pekat itu berjongkok marah, air matanya masih menggenang di pelupuk matanya.

“Tidak Jong In , cukup. Aku mohon hentikan!”

Suara sang gadis  masih meraung-raung kala itu menyalurkan kegundahannya selama ini.

“Bersabarlah.”

“Aku mohon Jong In, kau berhak hidup bahagia begitu pula denganku.”

“Tidak! Hidup seperti ini denganmu merupakan kebahagianku meski dengan jalur yang berbeda, tapi aku menyukainya Suzy. Sungguh!” ucapnya lantang.

“Untuk itu, ayolah pergi bersamaku Su,” lanjutnya lagi dengan senyuman manis yang menggantung dibibir pria berkulit coklat itu.

Suzy termenung lama dalam diam , lalu lengkungan senyum menghiasi wajah cantiknya. Ia  bangkit dan mengeratkan pegangannya sambil berjalan pelan beriringan dalam mentari sore yang membiaskan sinar orange-nya.

“Jong In, hari ini kita mau kemana?”

Suara Suzy sudah tak terdengar lagi begitu menyedihkan di daun telinga Jong In , membuatnya tersenyum lebar sambil mengerling jenaka. Oh ia sangat merindukan moment seperti ini dimana tangan bebasnya mampu menyentuh permukaan halus kulit Suzy, mengusap poni depan sang gadis, dan memeluknya ringan.

“Jong In,” rajuk Suzy.

Jong In semakin tergelak mendengar penuturan kekasihnya dengan nada merajuknya yang lucu.

“Bagaimana kalau ke rumah ibuku dulu?”

Perlahan Suzy ragu akan keputusan Jong In tapi nyatanya ia tetap mengangguk meski ada sedikit rasa resah yang menghampirinya. Namun mutiara kelam milik Jong In mampu menguarkan segala keresahan yang gadis itu rasakan, ah! Entah kenapa Suzy sangat membenci perasaannya yang selalu bertele-tele dalam segala hal. Sebanyak apapun bahagia yang ia rasakan toh tetap saja semuanya akan berakhir sad ending.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa lancar tanpaku?”

Jong In merangkul pundak Suzy yang selalu dirindukannya dan juga aroma mint yang selalu menjadi favoritnya tatkala desember datang.

“Lebih baik tanpamu, aku bisa menjahit gaun manapun yang aku suka tanpa harus berdebat dulu denganmu, dan seperti biasa sang puteri akan tersenyum melihat gaun rancanganku. Dan pada akhirnya aku akan tenggelam dibalik tumpukan benang-benang kusut,” ujar Suzy.

“Apa kau bilang?! Tuan Puteri dan penghuni istana lebih suka rancanganku dibandingkan denganmu,” decak Jong In

Suzy kembali memasang wajah memprotes, apanya yang lebih menyukai rancangan si pria bodoh ini. Bahkan dulu Tuan Puteri pernah datang ke toko kecilnya sambil membeberkan kesalahan-kesalahan yang dibuat Jong In disertai gumaman sinis yang anehnya membuat imajinasi Jong In bertambah liar.

Bayangkan saja, bagaiama Tuan Puteri tidak marah jika Jong In menyerahkan jerih payahnya berupa gaun panjang yang berwarna hijau disertai riasan-riasan perak yang membuatnya tampak seperti pohon natal dan payahnya lagi, Jong In membuatnya bukan untuk perayaan Natal tetapi untuk pesta kebun. Apa dia ingin membuat Tuan Puteri malu didepan para hulu balangnya serta puteri dari kerajaan seberang?

“Kau bahkan—“

 

FLIP

 

Manik Suzy membulat begitu merasa bibir lembut milik Jong In menyentuh bibirnya pelan.  Tangan besar Jong In semakin menekan tengkuk Suzy membuatnya kian tenggelam dalam ciuman hangat di bawah langit kelabu yang terus menjatuhkan gumpalan kecil salju.

Awalnya hanya sebuah tempelan ringan diantara keduanya, tetapi kelamaan dapat Suzy rasakan Jong In melumat bibirnya lembut yang selalu dibalas penuh rindu oleh Suzy.

 

3 menit

 

 

Jong In menjauhkan bibirnya, lalu memeluk Suzy hangat. Salju pertama dibulan Desember telah datang, dan Suzy selalu menjadi seorang gadis beruntung karena selalu bertemu dengan pujaan hatinya saat salju pertama kali turun. Tak semua gadis dapat seberuntung Suzy tetapi tak semua gadis  juga sekuat Suzy.

“Kenapa menciumku tiba-tiba?” tanya Suzy.

Kini semburat pada wajah Suzy terlihat, rona merahnya menjalar pada bagian pipi membuat wajahnya semakin menggemaskan dimata Jong In .

“Kenapa? Tak menyukainya?” tanya Jong In menggoda.

“Tidak. Bukan seperti itu, tapi… Ya! Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Kenapa selalu bertanya?” sungut Suzy kesal.

“Aku hanya penasaran, karena setiap aku menciumu selalu saja wajahmu berwarna merah.”

Heol! Jangan menggodaku Kim Jong In !”

Suzy berkacak pinggang yang hanya dibalas lirikan mata kosong Jong In yang sekarang terlihat sedikit berwarna. Jong In menyentuh bibirnya sambil tersenyum menggoda menimbulkan seberkas warna kemerahan yang kembali menjalar pada wajah Suzy.

Yaa!”

Jong In tertawa terbahak-bahak sebelum lari menghindar ketika Suzy ingin memukulnya dengan sepatu kulit yang baru dibelinya dengan beberapa keping uang perak.

“Berhenti disana, Jong In bodoh!” ancamnya.

Suzy berdecak sebal lalu mengangkat tinggi gaunnya menyusul Jong In yang sudah jauh di depannya, sejujurnya Suzy membenci semua hal berbau lari karena pada dasarnya ia tak suka berkeringat apalagi ditengah salju pertama turun tapi Jong In selalu membuatnya berhasil berolahraga ditengah cuaca sinting siang ini.

“Ayo kejar aku Suzy,” ucap Jong In santai.

Jong In tertawa lagi, ketika melihat nafas Suzy yang sudah tersengal-sengal sambil melipat gaun panjangnya dan bersusah payah kembali berlari.  Langkah Suzy terus bertambah mencoba mensejajarkan langkah besar-besarnya dengan langkah Jong In yang sebenarnya tak terlalu lebar tapi terlalu gesit jika berlari. Manik hazel-nya menangkap sesuatu yang selalu ada di bulan desember, sebuah pemandangan indah mengagumkan yang selalu ditemuinya saat berlari bersama Jong In .

Sebuah lembah hijau yang masih segar belum tertutup salju, dengan sinar mentari yang berpendar lemah, membuatnya selalu terpesona apalagi jika dilihat dari tebing tempatnya berpijak.

“Kenapa harus kau?”

Senyumannya memudar, air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Tapi, sama seperti janjiku dulu. Aku akan selalu menunggumu.”

Tangan kurusnya menghapus jejak keperihan yang gadis  itu tengah sembunyikan. Jika takdir memang sengaja menggoreskan tintanya seperti ini maka ia dengan tulus akan menjadi gadis penunggu selamanya.

Suzy menghela nafas kasar, lalu memenuhi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak yang ia hirup. Ia terus berlari menembus tebing curam yang segera digantikan dengan padang ilalang hijau yang hampir tertutup salju. Langkahnya kian bertambah menyambangi sungai berkelok yang selalu menawarkan diri untuk menghapus lelahnya bersama Jong In .

Suzy kembali berjalan –Setelah berdebat dengan Jong In karena ia benci berlari— ditemani Jong In yang sudah tak egois meninggalkan Suzy di belakang dan hanya mengizinkan ia melihat punggung Jong In. Tangan mereka sudah tak saling bertaut bukannya tak ingin tetapi Jong In dan Suzy tengah asik memeluk kelinci berbintik hitam untuk ibunya di rumah.

“Kau yakin kelinci ini tanpa pemilik?” tanya Suzy ragu.

“Apa kau pikir kelinci ini sama seperti sapi yang digembalakan sebegitu jauhnya dari pemukiman, huh?”

Suzy berdecak, kenapa ia bisa sebodoh itu? Ini pasti efek berdekatan dengan Jong In si pria bodoh.

Langkah keduanya terhenti ketika melihat rumah kayu yang masih menggunakan ilalang sebagai atapnya berbeda dengan rumah Suzy yang notebene-nya berada di jantung kota Ellender dan memilih genting sebagai penghalang panas serta dingin yang menyerang.

Jong In memandang rumah kecil di depannya sayu, ia melangkah lebih jauh dan menyentuh kenop pintu yang sudah lapuk dimakan usia. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya membuat nyalinya ciut untuk membuka pintu atau sekadar mengetuknya pelan.

“Biar aku saja,” ucap Suzy.

Ia mengetuk pintu berwarna coklat tanah pelan. Hatinya was-was ketika tak ada tanda-tanda akan dibukakan pintu, pikirannya langsung menjurus ke berbagai hal yang mengerikan namun segera ia tepis perasaan itu. Kembali ia mengetuk pelan pintunya hingga pintu berdecit, sedetik berlalu  seorang wanita tua bermantel coklat kumal dengan rambut putih yang berantakan sudah berada di ambang pintu, tangan kecilnya yang hanya tulang dibungkus kulit  membenarkan letak kacamata bulan sabit miliknya.

“Ya Tuhan! Anaku!!”

Ia memeluk Jong In haru, membuat kelinci berbintik lepas dari genggaman tangan besar Jong In .

“Anakku! Oh kau kembali?”

Manik biru sang ibu menggetarkan hati Jong In, ada sedikit perasaan tak tega ketika wajah sang ibu berkerut-kerut bahagia.

“Ayo masuk nak.”

Ibu Jong In memeluk anaknya sambil membimbing Suzy yang berada di sampingnya untuk masuk ke dalam gubuk kecil peninggalan ayah Jong In sepuluh tahun yang lalu.

Jiwa Jong In tercabik sembilu, ketika mutiara kelamnya kembali berkelana menjelajahi seisi rumah ibunya yang sudah tak layak lagi. Ruang tamunya berserakan segala macam perabot, meja, kursi, vas, serta cangkir kian mengiris hatinya kembali.

“Maaf, nak. Ibu lupa memberesinya.”

Kaki rentanya mencoba meraih kaki kursi yang terbalik namun langsung diurungkannya begitu melihat anak satu-satunya membenarkannya dan mencoba membenarkan meja bundar yang terbuat dari jati. Kaki rentanya kembali melangkah, menjamah isi lemarinya yang hampir semuanya kosong dan hanya tersisa beberapa biskuit coklat yang sudah berbintik abu di beberapa sudut sisinya.

Tanpa dapat dibendungnya lagi, air mata itu kembali membasahi kedua pipi keriputnya. Pantas saja anaknya tak pernah mau kembali, semua lemari kayunya saja kosong. Tak ada makanan tersisa bahkan untuk dirinya sendiri.

Ia mengusap perlahan air matanya. Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya tapi Ibu Jong In selalu menganggap hal itu menjadi faktor utama keegoisan takdir—sekedar menghibur diri.

“Maaf nak ibu tak mempunyai makanan,” ucap Ibu Jong In lirih.

“Tak apa bu, ayo Suzy kita mencari makanan di hutan. Sebagai calon menantu yang baik kau harus pintar menyenangkan hati ibuku.”

Suzy tersenyum tipis sebelum dirinya pamit bersama Jong In menembus deretan pohon rapat yang berjejer berdekatan—seolah tak mau jarak mengikis kebersamaan mereka. Mereka berjalan beriringan, saling menggenggam jemari satu sama lain menikmati waktu yang terus bergulir. Hal yang mereka temui saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah berhumus itu adalah suara nyanyian jangkrik saling beradu dan nyanyian burung-burung kecil yang saling bersahutan. Tak lupa pula beberapa kelinci yang saling berebut pandang dengan sepasang kekasih itu.

“Kau kembali Jong In!!” Seekor tupai cokelat turun dari pohonnya setelah memekik. Senyum masih bertengger di kedua belah bibirnya ketika maniknya bersiborok langsung dengan mutiara kelam yang hanya mampu di temuinya di bulan desember.

“Tak senang aku kembali nona tupai?” tanya Jong In bercanda.

“Tentu saja aku sangat senang. Mau kutemani berkeliling hutan, ups sepertinya tidak atau teman gadis mu akan menendangku dan menjadikanku sebagai bahan dasar mantelnya,” ujar tupai berwarna coklat itu.

“Haha kau pintar Nona Tupai,” ucap Suzy tergelak.

Suzy melambaikan tangan pada Nona tupai bergaris dan kembali melanjutkan perjalanannya bersama Jong In mencari jamur merah berbintik putih, bayam liar, dan ubi manis yang selalu di tanam oleh Suzy ketika sempat mengunjungi hutan sekaligus menjenguk Ibu Jong In . Sayangnya belakangan ini ia terlalu sibuk hingga wanita  tua itu harus merawat dirinya sendiri, lagipula Ibu Jong In tak pernah mau meinggalkan rumahnya padahal Suzy sudah menjanjikan rumah mewah yang terdapat kebun luas di belakangnya tetapi wanita renta itu tetaplah keras kepala sama persis dengan anaknya.

“Jong In, seandainya hal itu tak pernah terjadi padamu mungkin kita bisa menikmati waktu sepanjang hari. Menikmati musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur secara berkala. Kenapa harus kau?”

Bahu Jong In terangkat ringan menanggapi keluhan Suzy yang seolah-olah menjadikan Tuhan sebagai tersangka utama. Tangan kuatnya merengkuh pundak Suzy semakin mengikis jarak diantaranya.

“Kenapa kau harus pergi ke pesta bodoh itu? Seandainya saja—”

“—Apa kau mencintaiku?”

Manik Suzy langsung menatap mutiara kelam Jong In –yang masih terlihat kosong baginya—bingung. Alisnya berkerut bingung, melihat Jong In yang masih saja memandang rangkaian pepohonan yang daunnya sudah rontok hampir disemua bagian.

“Tentu saja aku mencintaimu, lebih dari apapun,” jawab Suzy mantap.

“Lalu bisakah kau menunggu lebih lama lagi?”

Bibir Suzy seketika kelu, entah kenapa pertanyaannya kali ini membuatnya hampir tak bisa bernafas dengan baik. Bukannya ia tak mencintai Jong In , tapi ia tak mau munafik semakin lama bahwa, ia lelah, ia lelah menunggu, ia lelah menjadi gadis  kuat.

Hm?”

Gumaman kecil itu membuat Suzy semakin menatap Jong In bingung, ia menghelas nafas panjang kemudian berucap, “Baiklah jika memang itu maumu. Lalu apakah kau mencintaiku?”

“Tanpa kau bertanya seharusnya kau sudah tahu. Aku mencintaimu melebihi apapun.”

Kedua sudut bibir Suzy terangkat membentuk lengkungan kecil. Jawabannya manis sama persis yang diharapkan Suzy.

“Tapi—“

“—Woa Suzy! Jamur merah berbintiknya banyak sekali, ayo cepat kita harus mengambilnya sebelum petang datang,” teriak Jong In sambil menunjuk gerombolan jamur-jamur ranum seukuran sepatu bayi.

Suzy tahu, sangat tau. Jika Jong In mulai memotong ucapannya tandanya ia tak nyaman, memangnya kapan dia selalu nyaman dengan topik memuakan itu?

Jong In bergerak-gerak lincah sambil mencabuti jamur berbintik sebanyak mungkin.

“Bantu aku Suzy!” teriaknya gembira.

“Tidak mau! Aku lelah.”

WOAAA.”

Tangan Jong In menarik cepat lengan Suzy membuatnya jatuh pada pelukan Jong In . Membuat tubuh kurusnya jatuh tepat di atas Jong In .

“Apa yang kau lakukan Jong In!!” teriaknya saat mata mereka bertatap pandang.

“Hanya menikmati waktu.”

Secepat kilat ia menggulingkan tubuh Suzy membuatnya kini berada di atas tubuh Suzy dengan jarak yang dapat diukur dengan jari.

“Apa yang kau  lakukan bodoh. Lepaskan aku!” teriak Suzy kesal.

“Tidak mau. Kau harus katakan ‘lepaskan aku pangeran Jong Inku yang tampan’ baru aku mau melepaskanmu.”

“Tidak mau!”

“Atau….. kucium kau,” ucap Jong In penuh nada menggoda.

“Oke, oke lepaskan aku pangeran Jong Inku yang tampan, tolong.”

“Kalau aku tidak mau bagaimana?” tanya Jong In semakin menggoda.

“Lepaskan atau kubunuh kau!!”

Emm… sepertinya lebih asik jika aku tak melepaskanmu.”

“Kim Jong In !!!”

Eiii…Kau bisa menyakiti telingaku. Benar-benar gadis  cerewet.”

Ia bangkit dari adegannya yang sebenarnya sangat tidak etis untuk diintip anak rusa yang sedang tak sengaja lewat dan lihat sekarang kedua rusa kecil itu saling berpandangan terkejut dan menatap keduanya dari balik semak—horror. Jika saja induk rusa berada di sini mungkin saja kedua anaknya sudah diseret sejak tadi, oh meski keduanya hanya anak rusa tapi bukanlah ide yang baik membiarkan kedua anak rusa yang masih terlampau kecil dan polos untuk menilik adegan yang… ini biasa saja, ya setidaknya itu pikiran Suzy.

“Kau tahu, terkadang kau tak perlu memikirkan beban apapun jika bersamaku karena aku selalu punya sejuta cara untuk membuatmu tersenyum.”

Senyuman manis nan memikat masih menempel pada wajah Jong In, meyakinkan setiap katanya pada pujaan hati di depannya tapi mungkin percuma saja karena Suzy sudah terlanjur kesal pada Jong In dan memilih berbaring di antara tumpukan jamur merah berbintik yang sangat lezat jika di buat sup.

“Seharusnya kau terpesona,” guamam Jong In kesal.

Ia mempoutkan bibirnya dan ikut merebahkan dirinya di samping Suzy menatap pemandangan langit yang semakin kelam dan masih di temani salju putih bersih yang turun di anak rambut keduanya, membiaskan rasa dingin dan lembut secara bersamaan. Suzy tahu, ia adalah makhluk teridiot yang pernah ada, bagaimana tidak? Menikmati sapuan salju lembut dengan cara berbaring?

“Jong In.” Saat ini Suzy memilih menutup kedua kelopak matanya menikmati setiap sensasi yang salju tawarkan.

Hm?” Sepertinya Jong In juga tak mau kalah dengan Suzy buktinya ia sudah menutup tirai mutiaranya.

“Aku mencintaimu.”

Lengkungan ringan sudah kembali terpasang pada wajah Jong In .

“Aku juga mencintaimu.”

Keduanya sama-sama terdiam saling menikmati waktu yang masih bersahabat pada mereka. Menyalurkan setiap kata cinta dalam diam yang begitu menyejukan.

“Suzy?”

Hm? Ada apa?”

“Bae Suzy aku mencintaimu!” teriaknya masih dengan mata terpejam.

“Aku tahu, dan aku juga sangat mencintaimu Kim Jong In .”

Ketika mantra cinta telah di keluarkan oleh kedua insan untuk saling mengikat cinta mereka lebih erat, tak ada lagi frasa yang keluar, keduanya masih terdiam menikmati belaian angin musim dingin yang semakin berhembus kencang. Tak ada luka lama yang mencuat, dan tak ada lagi perasaan gundah yang mendominasi hati mereka hanya ada sebuah kesejukan dalam kesunyian penuh cinta.

 

Cinta… bukankah indah?

 

—Yeah, setidaknya untuk saat ini.

 

Eh? Bisakah kita segera mencari bayam liar dan ubi manisnya? Pasti ibumu kelaparan lagipula aku tak mau menjadi patung es di sini,” ujar Suzy memecah keheningan.

“Benar juga, pada hitungan ketiga ayo buka mata. Satu… Dua…Tiga..”

Benar saja kedua mata mereka terbuka dalam detik yang sama.

“Dan pada hitungan ketiga, kita harus bangkit. Satu… Dua… Ti—“

“—Terlalu lama,” ucap Suzy yang langsung berdiri mengabaikan wajah protes dari Jong In .

“Ayo cepat, ibumu bisa marah-marah jika kita tak segera mendapatkannya.”

Jong In mendesah kecil lalu beranjak berdiri di samping Suzy.

Kajja

Jong In menggandeng tangan Suzy kembali menautkan jemari sang gadis itu di sela-sela jemari panjangnya. Ia bersenandung kecil menyenandungkan nyanyian salju putih tak lupa lagu natal yang ia senandungkan bersama Suzy.

 

 

I keep my distance but you still catch my heart

Tell me baby do you recognize me

Well it’s been a year it doesn’t suprise me

Last Christmas

I gave you my heart but the very next day you gave it away

This Year to save me from tears

I’ll give it to someone special

 

 

“Aku merindukan lagu ini sudah berapa lama ya. Aku benar-benar menyukai lagu ini,” ucap Jong In gembira.

“Bagaimana denganmu? Oh Suzy? Dimana kau?” lanjutnya lagi

“Disini, di bawah sedang mengambil bayam liar,” ucap Suzy sambil mengangkat tinggi tangannya untuk memberitahu keberadaannya.

“Jangan menghilang tiba-tiba, kau membuatku cemas saja.”

“Siapa yang menghilang Tuan Kim aku hanya berjongkok saja, eh kebetulan sekali ada ubi manis. Cepat kau ambil Jong In , lalu masukan pada keranjangnya, ambil yang banyak mungkin ini bisa bertahan selama 3 hari penuh.”

Sesuai perkataan Suzy, Jong In mulai mencabut ubi manis. Warnanya sedikit merah keungu-unguan dengan ukuran hanya sekepalan tangan remaja, bentuknya lonjong hampir menyerupai lobak hanya saja pada ujungnya tumpul dan tak ada daun pada ujung lainnya, hanya batang panjang yang ujungnya terdapat daun bulat-bulat kecil. Rasanya manis layaknya madu dan bila di campurkan dengan garam serta rempah-rempah lainnya akan menghasilkan rasa manis gurih yang kuat, dan apabila ingin menjadikan ubi manis sebagai menu makan malam yang mewah hanya perlu memasaknya bersama kaldu ayam. Ubi manis ini sangat disukai Ibu Jong In , ia selalu suka menjadikan ubi manis sebagai menu makan malam yang dicampur dengan bayam liar sebagai tambahan rasanya.

Sejujurnya Suzy juga menyukainya namun karena satu hal ia harus membuang jauh-jauh makanan lezat itu, membayangkannya saja dapat membuat air matanya kembali terpompa apalagi bibirnya harus bersibakku dengan lembutnya ubi manis.

Suzy tak ingin menangis, sungguh! Ia akan menunjukan padanya bahwa ia adalah gadis  yang kuat well hipokrit lebih tepatnya.

“Sudah?” tanya Jong In membuyarkan setengah lamunan Suzy.

Eh? Ah, sudah. Sudah ayo cepat pulang.”

Jong In tahu ada yang tersembunyi di balik senyuman manisnya, ada sesuatu yang bahkan dirinya dan hatinya tak tahu akan alasan itu. Sesuatu yang perih, dan ini tidak berhubungan sama sekali dengan adegan perselingkuhan yang ada di teater alun-alun setiap malam minggu yang dulu sering di tontonnya bersama Suzy untuk menghilangkan penat.

“Ayo, Jong In .”

Kali ini Suzy yang lebih dulu menautkan jemarinya, kepalanya ia senderkan pada lengan Jong In sedang tangan lainnya sibuk memegang keranjang berisi bahan makanan. Mereka berjalan ringan menyusuri hutan kecil melalui jalan setapak yang berkelak-kelok.

“Jong In , aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu sayang.”

Entah sudah keberapa kalinya mereka bertukar kata-kata keramat manis itu, tapi yang jelas keduanya tak pernah bosan mengucapkannya dan mendengarnya seolah-olah kata itu masih selalu manis dan masih terus menggelitik telinga mereka.

“Bukankah kita lucu?”

“Apanya?” tanya Jong In berkerut.

Suzy mengakat tinggi tautan tangan mereka dan berkata, “Setiap bertemu kita pasti mengucapkan kata cinta yang dulu sangat dihindari kau dan aku. Lalu sekarang?”

“Oh ayolah, kita dulu terlalu mementingkan ego masing-masing dan kupikir-pikir tak ada salahnya mengucapkan ‘I Love You’ ‘kan?”

“Benarkah? Tapi dulu ada yang bilang padaku ‘untuk apa mengucapkan I Love You cukup aku menyayangimu dan kau menyayangiku maka semuanya selesai’ apakah orang itu sedang terkena amnesia?”

“Baiklah, baiklah aku mengaku bersalah. Maafkan aku, puas?”

“Tidak semudah itu tuan sok tahu.”

“Lalu katakan apa yang harus ku lakukan?”

Suzy menghentikan langkahnya ia memandang Jong In serius membuat pria tampan itu juga menghentikan langkahnya.

“Tutup matamu,” ucap Suzy serius.

“Kenapa?”

“Tutup matamu sekarang.”

Jong In berdecak sebal kendati demikian ia tetap menutup kedua maniknya, “Sudah lalu?”

 

FLIP

 

Sentuhan lembut pada bibir Jong In membuat sedikit tubuhnya tersetrum listrik berkekuatan rendah, ia tersenyum puas begitu menyadari bibir milik Suzy lah yang memulainya. Setidaknya gadisnya mempunyai inisiatif untuk memulainya terlebih dahulu. Menyadari seriangaian puas yang terpetak di wajah Jong In,  hal itu membuat Suzy langsung menanggalkan ciumannya.

“Jangan mengejeku. Aku tahu aku masih pemula,” ucap Suzy jengkel.

Masih tak menemukan wajah normal dari Jong In membuat Suzy bertambah kesal, membuatnya ingin menjauh dari Jong In , oh tentu saja dia sangat malu pada Jong In karena seumur hidupnya ia tak pernah mencium Jong In pada area sensitif itu.

Aisshh, Lupakan. Lupakan,” teriak Suzy sambil berjalan cepat meninggalkan Jong In yang masih tersenyum tak jelas.

Yaa! Bae Suzy ciuman perdanamu lumayan juga.”

Heol! Kim Jong In !”

Jong In benar-benar menyebalkan, seharusnya dia tak perlu bereaksi berlebihan seperti itu dan seharusnya Suzy tak melakukannya. Aissh!

Yaa! Bae Suzy tunggu aku.”

Suzy semakin mempercepat langkahnya begitu mendengar teriakan keras dari Jong In.

“Ayolah Suzy, kau pemula yang keren!”

Jong In  kembali harus mensejajarkan langkahnya dengan langkah Suzy yang dibuat besar, ia kembali menggoda Suzy dengan memasang wajah polos yang begitu menjijikan menurut Suzy.

“Kenapa dengan gadismu?” tanya tupai coklat yang tak sengaja melihat mereka berdua.

“Dia baru saja mencoba hal yang baru,” bisik Jong In keras.

“Diam! Ayo pulang, dan nona tupai selamat tinggal juga kuharap jika aku kembali, kau mau menawarkan bulu coklatmu sebagai syal baru tuan puteri, dia pasti sangat senang.”

Sang tupai kecil membelalak lalu segera merangkak naik ke atas pohon. Gadis  itu benar-benar mengerikan jika dalam keadaan mood jelek.

Suara nyanyian jangkrik dan sahutan burung-burung semakin samar terdengar ketika mereka telah melewati pintu keluar masuk hutan. Suzy masih saja memberengut kesal sedangkan Jong In masih kukuh melontarkan kata-kata memuakan tentang cinta yang entah kenapa sekarang terdengar begitu memalukan di telinga Suzy.

“Anaku,” teriak Ibu Jong In saat keduanya sudah menapaki pekarangan rumah Ibu Jong In .

“Ibu akan memasaknnya untuk kalian, tunggu disini. Dan khusus untukmu Suzy kau harus menjaga Jong In biar aku saja yang memasak ini semua,” perintah Ibu Jong In begitu Suzy memasang wajah ingin membantu.

Dan Suzy mendecak kesal, ia ingin membantu Ibu Jong In semata-mata hanya ingin menghindari kicauan Jong In yang semakin melantur ke arah dirinya dan dia bersama dua orang anak.

“Jangan memasang wajah cemberut,  kau ingin aku pergi dengan bayang-bayang menyeramkanmu itu huh, lebih baik kau duduk. Cepat sini.”

Mau tak mau Suzy kembali mematuhi perintah Jong In , ia segera mendudukan dirinya pada sebuah batu besar yang dulu sering digunakannya sebagai ajang adu panco, jangan tanyaan siapa yang menang karena dari tahun ke tahun Suzylah yang menang. Itu bukan karena dia kuat tetapi karena Jong In lah yang harus mengalah. Klise yang manis.

“Ada yang ingin kau ceritakan?”

Hm? Kenapa aku? bagaimana dimulai dari kau dulu.”

“Duniakau putih dan setiap tahun pekerjaanku hanya tidur dan menunggu. Selesai.”

“Apa kau tak bosan berada di dimensi lain yang hanya berlatar warna putih saja tanpa kehadiran siapapun dan apapun? Apa tak lama menunggu selama itu?”

Emm bagaimana ya, sebenarnya bosan tapi mengingat wajahmu entah kenapa Aku selalu sabar menunggu.”

“Lalu apa disana ada kalender?”

“Bodoh! Warna hitam saja tak ada, bagimana bisa ada kalender.”

“Aku hanya bertanya saja.”

“Dan sekarang, bagaimana dengan hidupmu? Apakah Yongjae masih mengganggumu? Apa kau makan dengan baik? Apa makanan favoritmu saat ini masih sama seperti dulu? Apa kau selalu menonton teater?  Apa—“

“Jong In, stop! Apa kau sedang dalam rangka mengerjakan tugas? Tanyakan satu persatu.”

“Bagaiamana dengan Yongjae?” tanya Jong In penasaran.

Yongjae. Choi Yongjae teman sebaya Suzy yang kini menjadi pemilik toko bakery adalah rival terberat Jong In . Membutuhkan pengorbanan yang besar agar dapat menyingkirkan Yongjae dari lingkup Suzy karena pria berambut pirang itu selalu saja bersama Suzy, well tak apa jika dia diam atau sekadar menyahuti tapi, dia selalu mengajak Suzy pergi ke tempat lain jika ada dirinya di sana.

“Yongjae? Dia masih bekerja disana dan  kudengar ia akan membuka toko bakery lagi. Kau tak cemburu ‘kan padaku dan Choi Yongjae?”

“Kalau aku cemburu bagaiamana?! Tidak boleh! Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Tidak boleh ada Yongjae,” teriak Jong In layaknya anak kecil.

“Lihat dirimu kau ini sama saja dengan Jungkook.”

“Siapa lagi Jungkook!!!”

Suzy menutup matanya saat Jong In mulai berteriak.

“Umurnya baru tiga tahun, kau ingat anak pamanku.”

Ah~ Rupanya dia sudah sebesar itu. Lalu apa kau masih menonton teater malam minggu?”

“Tidak.”

Wae?”

Err—kau tahu ‘kan alasannya jadi jangan paksa aku untuk mengatakannya.”

Seketika itu juga roman ceria pada wajah Jong In menguar cepat. Ia hanya menggangguk dengan senyuman halus yang tak terlihat.

“Apa yang kau makan?”

“Pie daging? Emm entahlah aku makan jika perutku lapar saja.”

“Suzy.”

Ah! Kupikir Ibumu sudah selesai, ayo makan kuharap ibumu tak mencampurkan jamurnya pada sup ubi karena akan terasa pahit. Ayo ke sana.”

Helaan nafas panjang kelaur begitu saja pada bibir Jong In melihat Suzy yang sudah beranjak dari duduknya menuju lambaian tangan Ibu Jong In . Ia tahu pasti Suzy tak ingin ia diceramahi lagi karena tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya.

“Suzy, tinggal dua jam lagi dan aku benar-benar akan pergi.”

Ia memandang langit yang kini sudah tak terlalu terang seperti awalnya, tampak seberkas sinar sang mentari yang mulai meredup dan awan-awan mega mulai bermunculan keluar di cakrawala barat sana.

“Pilihan yang melelahkan.”

Sekali lagi Jong In memandang awan di atasnya kosong.

“Jong In, makananmu bisa dingin!” teriak Suzy.

Eoh, Aku akan ke sana.”

Jong In berlari kedcil ke arah gubuk kecil ibunya. Disana sudah terhidang berbagai macam masakan yang menggiurkan, terdapat menu spesial di sana, makanan yang sudah sangat Jong In rindukan selama ini. Pie rumput laut.

“Kapan ibu memasaknya?” tanya Jong In heran karena setahunya pie rumput laut membutuhkan waktu hampir setengah hari untuk membuatnya inilah alasan Pie rumput laut hanya ditemui satu tahun sekali di perayaan menyambut musim semi.

“Ibu memintanya. Sudah ayo makan.”

Jong In mengangguk bersemanagt, ia tersenyum lebar taatkala Suzy mengambilkan makanannya ke piring.

“Terimakasih sayang.”

“Jangan menggunakan hal yang menjijikan untuk merayuku.”

“Haha kau masih malu dengan yang tadi?”

“Sudahlah Jong In apa kau tak sadar wajah kekasihmu ini sedari tadi sudah melebihi tomat rebus, jangan kau goda lagi dia,” bela Ibu Jong In .

Jong In kembali memasang senyum kemenangannya membuat Suzy benar-benar gemas untuk mengacak-acak wajah tampannya. Jika saja ini bukan ruang makan mungkin sudah ia salurkan sedari tadi keinginannya.

“Selamat makan,” ucap Jong In sumringah.

Ibu Jong In  meletakan sumpitnya ia tersenyum hambar saat melihat anak satu-satunya memakan masakannya lahab, ada rasa yang membuatnya ingin meneteskan air matanya, ada sensasi yang aneh saat burung gagak mulai melintasi cakrawala langit sore yang begitu menggugah di musim dingin tahun ini, dan—ada—ada perasaan marah pada dirinya ketika menilik kembali keadaan Jong In sesungguhnya.

Tak jauh berbeda dengan Suzy yang makan dalam diam, ia mengambil sup ubi manis tak selera. Dalam benaknya hanya ada Jong In dan waktu. Tak ada yang lain karena pada dasarnya kedua unsur itu berhubungan erat hanya saja, waktulah yang berkuasa atas diri Jong In .

Jong In menghentikan makannya saat tak menemukan percakapan yang terjadi, “Apa yang kalian lakukan? Cepat makan nanti bisa dingin,” tegur Jong In .

Ah, uh aku juga sedang makan.” Suzy mengangkat tinggi-tinggi sendok kayunya menunjukan bahwa ia memang sedang makan sedangkan Ibu Jong In tergagap sebenatar lalu tenggelam di balik mangkuk besar sup, menikmati rasa kayu manis yang bercampur dengan sup ubi manis.

Selama satu jam ini, tak ada yang spesial jika dilihat secara umum hanya percakapan biasa yang dibumbui banyolan-banyolan yang mengocok perut, tapi percayalah kedua anak hawa dan anak adam itu sedang tenggelam di balik lembah kemunafikan yang mereka ciptakan sendiri demi membangun sebuah kebahagian tanpa dasar. Tapi tak apalah, toh mereka menikmatinya dan mereka juga menerima konsekuensi yang dewa kematian tawarkan, memang sangat menyiksa tapi rasa itu sirna, ketika salju menyambut kota kecil yang terletak hanya beberapa kilometer dari jantung kota Ellender turun menyejukan manusia di bawahnya.

Hingga tanpa mereka sadari mentari telah bersiap kembali dalam singgasana malamnya. Sinarnya menerobos celah-celah kecil jendela berlubang yang otomatis menghentikan tawa mereka.

Kini air mata telah berkumpul dalam mata berkantung Ibu Jong In , ia berkali-kali mengigit bibir bawahnya menahan bulir air matanya jatuh. Sekali saja dalam hidupnya ia ingin mengantar anaknya pergi mengelana ke dalam ruang hampa tapi air matanya tak pernah berhenti mengucur ketika melihat pancaran mata Jong In yang kosong.

Ibu Jong In menyerah, ia memeluk anaknya erat lalu bergegas menumpahkan segala kekecewaannya pada Tuhan di balik pintu coklat.

Dan kini hanya tersisa Jong In dan Suzy yang masih terpaku dalam diam menatap satu sama lain penuh arti.

“Mau melihat sunset?” tanya Jong In .

Suzy tak yakin kendati demikian ia tetap menerima uluran tangan Jong In yang langsung menggenggam tangannya erat. Jong In menuntun Suzy keluar dari rumahnya menantang sinar sore mentari yang semakin dingin hari ini.

Ia memilih duduk di balik batu, menghadap langsung pada sinar mentari sore yang semakin kentara di barat singgasananya.

“Aku mohon makanlah yang baik. Berkencanlah dengan Yongjae beberapa kali ingat! Aku hanya bilang beberapa kali bukan sering.”

Suzy terdiam, ia lebih memilah menikmati pemandangan di depannya berupa pegunungan serta pepohonan yang kian tertutup salju—mengingat rumah Ibu Jong In berada di atas bukit tertinggi.

“Berjanjilah padaku sayang.”

Sudah dibilang ‘kan kebahagiaan sialan ini semu! Apapun yang terjadi selalu berakhir sad ending tak pernah berubah meski hanya setitik tinta saja. Suzy lelah, lelah menghadapi sebuah rutinitas di bulan desember yang begitu menjengkelkan.

“Aku akan kembali lagi, percayalah.”

Jemari Jong In merapat pada kelima jemari Suzy. Kemudian tanpa ragu ia menyisipkan jemarinya di sela-sela jemari Suzy lantas menggenggamnya erat. Masih beberapa menit lagi sebelum warna orange tenggelam di balik tirai hitam.

Embusan putih yang mengepul keluar dari mulut Jong In begitu ia menghela nafas kasar.

“Suzy, begini. Hanya dengan cara ini aku mampu melihatmu sekalipun hanya sehari dalam setahun. Kumohon jangan sekalipun lelah.”

Manik Suzy yang kini tergenang titik bening, bersiborok dengan mutiara kelam milik Jong In. Rahangnya mengeras dengan bibir yang ia katupkan. Kentara sekali jika gadis rapuh sepertinya tengah menahan tangis. Jong In segera memeluk tubuh ringkih Suzy kemudian membenamkan kepala gadisnya pada dada miliknya. Entah masih pantaskah ia mengklaim Suzy sebagai gadisnya menilik keegoisannya membuat Suzy tersiksa.

“Kenapa kau harus pergi ke pesta rakyat lima tahun yang lalu, huh? Kenapa kau harus berdiri di samping tugu alun-alun? Dan kenapa tiba-tiba ada kembang api yang menghantam tubuhmu? Kenapa?!!!” teriak Suzy.

Kini tangis itu pecah kembali, dengan rasa sakit yang masih sama.

“Itu memang waktu kematianku.”

Jong In menghela—yang disusul kabut tipis mengepul di sekeliling mulutnya. Senyumnya ia sengaja sematkan.

“Berhentilah mengeluh. Bukankah Tuhan sudah berbaik hati memberiku waku untukku kembali ke dunia lewat dewa kematian yang mengatakan, aku mampu hidup sehari dalam setahun.”

“Sampai kapan?”

Dua kata dengan nada menuntut mampu menohok tenggorokan Jong In. Menyerangnya hingga seabjad pun tak mampu keluar dari kedua celah bibirnya. Ia terpaku dengan manik masih beradu dengan bongkahan batu.

“Sampai Tuhan tidak lagi berbaik hati.”

“Atau sampai ibumu berdoa untuk menghentikannya?”

Beberapa tahun lalu sang Ibu memang berdoa pada Yang Kuasa agar memberikan sepercik kasihnya pada anak semata wayangnya. Membutuhkan hampir satu tahun untuk terus duduk di depan kuil dengan literan air mata yang terus menggenang. Dan setelahnya dapat ia lihat, tiap tahun saat butiran kristal turun dari langit dan menjamah permukaan tanah pertama kalinya. Anaknya kembali.

“Kau pikir ibuku akan setega itu?”

Semburat orange kian mimpih tatkala mentari telah tengelam di balik bukit. Kini tirai kelam telah terbuka membayangi manik Suzy dengan warna hitam yang masih tercampur sedikit gradasi orange.

Kedua sudutnya tertarik dengan manik menghujam ke tubuh Jong In. Ia tersenyum dengan lapisan kedua bola yang masih tergenang—sebagai kenangan terakhir yang mampu di persembahkannya untuk Jong In. Melihat akan hal itu, seutas senyum juga terpatri dalam kedua celah bibir Jong In

“Maaf,” ucap Jong In.

Lamat-lamat warna orange keemasan ditelan kegelapan, bersamaan dengan tubuh Jong In yang mengabur. Awalnya hanya kaki jenjangnya kemudian merangkak naik ke atas hingga ke perutnya.

 

Suzy kembali tersenyum.

 

Begitupun dengan Jong In.

 

Hingga dapat Suzy lihat angin desember membawa pergi tubuh kekasihnya seutuhnya, dengan senyuman sebagai pemandangan terakhirnya. Nafas Suzy tersangkut di tenggorokan, begitu tubuh kekasihnya telah berganti menjadi angin petang yang memabukan. Ia tersenyum, kendati sepuluh detik berlalu Suzy sudah menangis terisak—tanpa perlu lagi menyembunyikan segala kepedihannya lagi.

 

Dan esok.

 

Tahun depan.

 

Yeah, tepat saat kapas itu kembali muncul.

 

Ia akan bertemu dengan Jong In.  Kekasihnya.

 

Namun pada akhirnya ia. ..

 

Akan menangis—lagi.

 

.END.

 

Well, ini sebenernya ide murahan—soalnya kata temenku mirip sama punya dia [yang 7 July punyaku dan ini mirip 7 July]. Jadi please ini bukan plagiat loh. Settingnya ini pas jaman kerajaan loh yaa..

 

 [!!] DONT BE SIDERS 

Iklan

28 thoughts on “[EXOZY Series : KAI Vers.] When december came

  1. Daebak,benar” cerita yg tak trduga.
    q kira jong in oppa hanya bisa ditemui suzy bulan desembar jj karena dia dikutuk atau semacam itulah tpi gk tau .a jong in oppa itu udh mninggal
    heh benar” cerita yg menyayat hati dan jga mengharukan

    next ffx ditunggu min
    FIGHTING

  2. huaaaaa knpa sdih bngt 😥
    jd sbnernya jongin dh mninggal dn dy dksih ksempatan oleh tuhan dy bsa hidup 1 kli dlm stahun d blan desember #huaaaaaa knpa sdih bngt #hiks 😥
    DAEBAAAAAAAAKKKK 😀

  3. Sedih, kasihan Kaizy hanya bisa ketemu sekali dalam setahun, pasti berat banget dalam penantian. Ceritanya bagus, ditunggu ff yg lainnya^^

  4. nyeseek banget :’)
    bayangin jd suzy yg dalam setahun cuman sehari bisa lihat kai
    kaizy sweet banget, feelnya dapet bgt
    ffnya keren bgt ditunggu exozy seriesnya 🙂

  5. ini mata aku udah berkaca kaca banget :”(
    aku kira jongin jadi kaya jack frost soalnya setting waktunya pas desember,,
    tapi kayanya ga beda jauh sama jack frost ne,, mereka juga udah meninggal :”
    tapi nasib jongin lebih sedih lagi :(( ga sanggup deh kalau misalkan jadi suzy,, suzy kuat banget daebak!!!

    authornim,, bikin sequelnya dong :))
    suka nih ff kaizy :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s