A Case 2/2

 4

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Tittle : A Case 2/2|| Author  : Fanficfunny || Main Cast: Myungzy || Genre : mystery, detective story, romance|| Duration : -|| Rating : PG 13
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

.

.

.

.

 

#FILE 6—Terjadi lagi!!!

 

Myungsoo memutar bola matanya mendengar penuturan ibunya yang terlalu berlebihan dalam membanggakan dirinya. Kenapa semua wanita sama? Terutama wanita yang sudah beristri dan mempunyai anak, mereka selalu cenderung membangga-banggakan kelebihan mereka masing-masing.

“Dasar wanita,” umpatnya.

Iris maniknya berkeliling berharap dapat menemukan si rambut bergelombang yang akan menyembul dibalik kerumunan gadis-gadis berbedak tebal dengan pakaian simple-nya. Myungsoo tahu Suzy bukanlah wanita yang akan berlama-lama betah dengan pakaian wanita yang wajar dikenakan.

“Tuan Small.”

Suzy menepuk pelan pundak Myungsoo, memperlihatkan senyum termanisnya. Oh tentu saja, sekarang adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu dalam hidupnya. Berteriak pada Miss. Jessica bahwa dialah pelakuanya dan menjabarkan rincian yang mereka temukan lalu setelahnya ia akan di beri penghargaan oleh Mayfield Yard, ini akan sangat menyenangkan.

Myungsoo tercengang! Dia bahkan lebih mirip seorang keledai bodoh yang sedang melihat para tentara menari, rahangnya terbuka lebar dengan arti pandangan setengah tak percaya, butuh beberapa detik untuk mengatupkan rahangnya dan tersenyum tolol ala idiot yang ia tunjukan.

Suzy cantik. Terlalu sempurna malah!

Itulah yang membuat rona pada pipi Myungsoo terlihat.

Ia mengenakan dress peach panjang yang menjuntai sampai bawah kakinya, ada beberapa renda-renda di sekitar bahunya yang ditambah bunga rajut membuat kesan manis. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai namun kali ini tanpa penjempit poni, ia memilih mengeksplorasi poni pinggirnya, membuatnya semakin cantik.

Wajahnya halus, tak mengesankan adanya penumpukan bedak yang berlebihan. Dan bau aroma lavender dicampur mint menguar dari tubuhnya membuat kesan yang sungguh sempurna.

“Oh.. Hai.. Nona Bae.”

Myungsoo merutuk dalam hati, mengutuk bibir mungilnya yang tiba-tiba kelu seketika.

“Hai. Kau tampan malam ini Myung.”

Shit! Jantung Myungsoo kini benar-benar akan meledak.

“Bagaimana perkembangan kasusnya?” tanya Suzy bersemangat.

“Mengaggumkan!” dan sangat cantik.

Mungkin Myungsoo ingin mencoba menggombal tapi semua kata-katanya sialnya  tertahan di kerongkongannya.

“Ayo kita kalahkan Miss. Jessica, wanita itu akan menangis darah meminta pengampunan kita.”

Well untuk itu Suzy, kita tetap harus membuntuti Miss. Jessica, lagipula kita tak mempunyai bukti konkret ‘kan? Kalau kita bertindak gegabah bisa saja kita yang mendekam di balik jeruji bukannya orang yang berhak.”

“Lalu kemana Miss. Jessica? Sudah hampir sepuluh menit ini aku berkeliling gedung tapi aku tak menemukan batang hidungnya sedikitpun, aku hanya melihat seseorang yang kita lihat bersama Miss. Jessica kemarin, dia pergi ke pintu depan meninggalkan dasi kupu-kupunya. Kau tahu Myung, dia sangat mengerikan dengan wajah pucat pasi.”

“Benarkah? Kenapa kau tak segera membuntutinya?”

“Tadinya aku mau, tapi aku langsung ditarik oleh ibuku untuk berkenalan dengan Mr. Addyson”

“Bagaimana orangnya?”

“Sempurna. Terlalu sempurna malah untuk ukuran pria mapan di Birmingham

“Sama sepertimu.”

Suzy mengerutkan alisnya sedangkan Myungsoo memasang cengiran bodoh dan terus merutuk dalam hatinya.

“Bagaimana ciri-ciri fisiknya atau kesan pertama yang ia tunjukkan padamu dan Ibumu, Suzy?” tanya Myungsoo mengalihkan pembicaraan mereka.

“Tubuhnya tegap tinggi, tutur katanya sopan, tak ada kumis atau jenggot di dagunya, wajahnya bersih bersinar. Pancaran matanya teduh, dan jujur. Ia memakai…… Itu dia orangnya!”

Myungsoo memicing saat melihat seorang pria berbadan atletis sedang tersenyum cerah, matanya yang diyakini sipit kian tenggelam membentuk bentangan bulan sabit. Jasnya berwarna hitam licin, ia memakai syal berenda berwarna merah marun, dan rambut yang disisir klimis.

Disebelahnya ada Miss. Violet yang sedang tertawa dengan rekan sejawatnya. Malam ini, Miss. Violet terlihat sangat cantik luar biasa, ia menggulung rambutnya ke atas dengan hiasan untaian bunga mawar kecil plastik yang ia gunakan sebagai bando. Matanya memancar, namun ada sesuatu yang aneh saat ia tak sengaja bertatap pandang dengan manik biru Miss. Violet, ada keresahan yang begitu kentara disana. Beberapa kali Miss. Violet mengusap dahinya yang berkeringat dengan tangan yang sudah di bungkus sarung tangan berenda putih pendek .

“Pantas saja Miss. Violet jatuh hati padanya,” decak Suzy.

“Violet benar-benar beruntung, ia mempunyai wajah yang cantik jelita, dari keluarga baik-baik dan dianugerahi otak cerdas lalu sekarang.. dia menikah dengan pria sempurna kaya raya di usia ideal. Oh betapa beruntungnya kau teman,” gumam salah seorang wanita berbaju hijau toska yang berada hanya tiga langkah dari tempat Myungsoo dan Suzy berpijak.

“Tapi yang kudengar, asal-usul dari keluarga pria kurang mengenakan. Ayahnya tukang sol dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.”

“Benarkah? Hahaha.. setidaknya asal-usul pacar kita jelas dan sangat terhormat,” ucapnya memandang keduanya tak suka.

“Tapi tetap saja, pria itu lebih kaya,”  gumam temannya yang menggunakan dress sutera berwarna biru kesal.

“Ayo kita ucapkan selamat pada teman terbaik well  hanya untuk saat ini,” gumam wanita yang berpakain hijau toska yang kemudian meletakan vodka-nya dan melangkah bersama temannya ke arah pasangan yang sedang berbahagia. Mereka menampakan senyum kepalsuan disana meninggalkan kesan ramah yang begitu memuakan.

“Kasihan sekali Miss. Violet mempunyai teman seperti mereka,” ujar Suzy sinis.

“Hey itu Miss. Jessica, mau kemana dia? Kenapa Mr. Addyson  mengikutinya dari belakang? Suzy ayo kita selidiki,”  bisik Myungsoo mengacuhkan gumaman Suzy yang tak penting.

Keduanya berjalan mengendap-endap mengikuti langkah Miss. Jessica dan Mr. Addyson ke arah pintu keluar, menyibakkan tirai ungu yang menghalanginya. Keduanya berhenti sejenak, mata tajam Miss. Jessica mengalihkan pandangannya pada setiap ujung sudut memeriksa adanya kehadiran orang lain, namun sayangnya mata kelamnya tak menghujam ke balik pot besar yang ditumbuhi sebatang pohon mapple kecil.

Miss. Jessica bergumam, tapi tak tahu kata apa yang ia lontarkan, hingga membuat wajah Mr. Addyson mengerut bingung namun segera digantikan dengan wajah merah padam.

“Demi Tuhan! Aku akan membunuhmu jika kau mengatakan yang tidak-tidak!” teriak Mr. Addyson murka.

Wajah Miss. Jessica menegang, mulutnya bergetar hebat ketika retinannya menangkap hujatan begitu besar dari lawan bicaranya.

“Aku bersumpah! Mr. Addyson!!”

“Omong kosong!!”

“Terserah, aku sudah memperingatkanmu sir, jika kau mati jangan pernah menyalahkanku.”

Miss. Jessica, menurunkan topinya dan membungkuk kecil sebelum tubuhnya hilang di balik tirai ungu.

“Dasar orang gila!” pekik Mr. Addyson ketika Miss. Jessica sudah benar-benar pergi.

Ia kembali ke dalam masih dalam wajah merah menahan amarahnya.

“Kita lihat informasi apalagi yang akan kita dapat selain ini.” Myungsoo mengerling ke arah Suzy membuat gadis itu mual seketika. Sungguh,  pria bertampang serius itu tidak cocok berbicara dengan nada yang sedikit errr.. menggoda? Mungkin.

Keduanya kembali ke dalam gedung yang bernuansa glamor, terlihat patung es berbentuk wajah Miss. Violet dan Mr. Addyson tengah bergandengan dan tersenyum gembira di bagian tengah gedung dan Suzy akui patung es setinggi tigapuluh senti itu memang sangat keren.

Eh? Apa yang kalian lakukan disini? Ayo cepat kita harus mengucapkan selamat pada Violet dan Addyson,” suara nyaring dari Mrs. Rachel membuyarkan lamunan Suzy, dan membuat Myungsoo sukses mengulum senyum terpaksanya.

“Tapi bu—“

“Tunjukkan sopan santunmu, sebelum ibu mencincangmu menjadi seratus bagian sama seperti nilai Bahasa Perancismu.”

Myungso mendumel, ia melirik Suzy yang tengah tersenyum penuh kegelian. Apa yang lucu? Manusia secerdas dirinya harus dikalahkan oleh seorang wanita tua yang menyandang status ibu? Mungkin itu yang sedang menggrayangi otak Suzy.

“Nona Walcott junior, hari ini kau tampak sangat cantik?”

“Terimakasih, bibi.” Suzy tersenyum penuh sopan.

“Baru saja aku berbincang dengan ibumu dia wanita yang mengagumkan.”

“Terimakasih bibi.”

“Kau mau menyapa Tuan Addyson dan ikut bersama kami? Kebetulan ibumu sedang berbincang dengan Tuan Addyson.”

Suzy mengangguk kemudian ia melangkah ke arah segerombolan pria dan wanita yang sedang tertawa bersama. Dalam gerombolan itu terlihat Miss. Jessica yang sedang terdiam penuh kerutan, pria mengerikan teman Miss. Jessica sedang tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Mr. Addyson. Lalu Miss. Violet yang sedang meminum brendinya, Ibunya—Nyonya Walcott, Mr. Addyson sendiri dan  seorang pria tampan berambut kemerahan yang memakai jas berwarna abu-abu yang sedang berdiri di samping Miss. Violet persis.

“Nak.”

Suara berat itu membuat dahi Myungsoo berkerut. Bola matanya sedikit menyipit saat mendapati ketua ‘tukang ketik’ –Harry Murcher—berbincang kecil dengan seorang pria yang belum diketahui identitas olehnya. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas pria itu mengendikan dagunya kesal pada Harry Murcher, sambil bergumam yang Myungsoo duga sebagai umpatan kecil.

Myungsoo sedikit heran, karena setahunya Harry Murcher adalah tetangganya di Duncen Street. Lalu kenapa dia ada di sini? Oh! Mungkin saja Harry Murcher merupakan kenalan atau pasien Miss. Violet, bukankah sebagian besar dari tamu undangan disini merupakan pasien Miss. Violet.

“Ya sudah. Aku ke toilet dulu,” ucap Harry Murcher.

Sang pria hanya menatap datar kepergiannya lalu bergabung kembali berbincang dengan Miss. Violet sambil melontarkan beberapa lelucon kecil.

“Maaf mengganggu, tuan dan nona. Ini anakku namanya, Arthur Myungsoo Small. Ayo, Myungsoo ucapkan sesuatu pada Mr. Addyson dan Miss. Violet.”

“Selamat atas pernikahanmu Mr. Addyson dan kau tampak mengagumkan Miss. Violet.”

“Terimakasih.” ucap keduanya agak berbarengan. Keduanya tertawa renyah begitu menyadari akan kesamaan yang mereka tunjukkan.

Tsk,” dengus sang pria tadi.

“Namanya Cornelius Travor, seorang dokter umum yang sangat terobsesi dengan tanaman. Dulu teman satu sekolah Miss. Violet yang menurut desas-desus beredar, ia menyukai Miss. Violet jauh sebelum Miss. Violet bertemu dengan Mr. Addyson dan memutuskan untuk menikah. Kudengar dia sangat sedih ketika mendengar berita ini.. dan lelaki tua tadi namanya Harry Murcher paman Mr.  Cornelius Travor, kudengar hubungan mereka tidak baik akhir-akhir ini,” bisik Suzy pelan.

Myungsoo hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Suzy.

“Aku ingin ke toliet, permisi,” kata Jessica sopan.

Miss. Jessica pergi dengan senyuman terbentuk di bibir tipisnya. Ia membungkuk lalu hilang di balik kelokan yang mengantarkannya ke toilet.

“Aku harus kembali menjalankan tugasku untuk mengecek keamanan gedung ini. Aku tak mau Tuan Haynsworth mengalami gangguan kecil dalam acara pertunangannya. Lagipula polisi Mayfield Yard tingkat satu sepertiku tidak cocok berada di dalam ruangan. Ketua bisa saja memarahiku,” pamit teman Miss. Jessica yang diketahui bernama Albert Fudge dari name tage yang ia gunakan.

“Dia polisi?! Bloddy hell! Kenapa dia tak menangkap Miss. Jessica? Ia malah mendukung wanita tua itu,” bisik Suzy geram.

Myungsoo hanya mengangkat bahunya.

“Addy, aku harus mengganti bajuku. Acara pertunangannya akan segera dimulai, kau tidak berganti pakaian?” tanya Miss. Violet

“Sebentar lagi, aku masih ingin berbincang dengan Nyonya Walcott,” jawab Mr. Addyson lembut.

“Oh baiklah, aku akan ke atas dan mengganti bajuku.”

“Tunggu, bagaimana dengan jarimu? Sudah baikan?”

“Emm.. tadi siang hanya tergores sedikit saja tak perlu khawatir,” ucap Miss. Violet dengan penuh senyuman sebelum pergi ke kamar Mr. Addyson.

Myungsoo mengamati sekelilingnya berharap ia menemukan sebuah petunjuk untuk tahu apa arti dari pesan yang ditinggalkan pelaku. Pesta Dansa? Ya ini merupakan pesta dansa yang dicampur dengan acara pertunangan Mr. Addyon dan Miss. Violet… atau mungkin pesta dansa yang dimaksud bukan ini? Maksudnya benar-benar pesta dansa tanpa dibumbui apapun? Oh ayolah.. masa iya dia harus menunggu enam bulan lagi untuk acara pesta dansa tahunan.

Kira-kira hampir lima belas menit Myungsoo dan Suzy berpencar  menelusuri ruangan pesta dansa, Myungsoo sendiri bahkan sudah berkenalan dengan enam orang gadis untuk memperoleh informasi ringan tapi yang didapatnya tak lebih dari pesona-pesona mereka mencoba melumpuhkannya. Sungguh menggelikan.

Sedangkan Suzy harus terus memaksakan senyumnya mendegar celotehan para tetua lingkungannya mengenai tetek bengek kesopanan serta cobaan dalam hidup. Bukannya Suzy ingin bertindak kurang ajar, namun sekarang ia benar-benar tak ingin mendengarnya, sungguh!

 

 “AAAAAAAAAAAAAAAA”

 

Sebuah teriakan menggema di seluruh rumah Mr. Addyson yang telah disulap menjadi gedung pertunangan, Myungsoo terperanjat, ia langsung berlari murka ke sumber suara.

“Terimakasih Tuhan,” gumam Suzy karena beberapa orang tua di lingkungannya berhamburan mendekati asal suara.

Suzy harus menjunjung tinggi dress-nya agar dapat berlari dengan cepat menuju tempat yang sedang di kerubungi oleh banyak orang.

Tubuhnya bergetar hebat dan  tangan kurusnya menutup lubang mulutnya tak percaya  bergitu melihat seorang pria dengan dasi longgar dan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka, tergeletak tak berdaya di tembok kamar mandi. Ia mati dengan keadaan duduk menyandar pada tembok, kedua tangannya tergeletak tak berdaya dengan telapak tangan menghadap ke atas. Kakinya menjulur lurus kedepan, matanya membelalak sekan ingin keluar dari tempurungnya. Disampingnya terdapat sebuah tulisan tegak agak tebal ‘Terminé’ berwarna merah kental.

Mulut sang korban ternganga, ada bekas muntahan yang terlihat di beberapa bagian sekitar mulutnya. Aroma wine dan ayam panggang menguar menjadi satu-satunya pengharum ruangan di kamar mandi.

“Ya Tuhan!! Apa yang terjadi!!” teriak Mr. Cornelius pucat.

Myungsoo beringsut kedepan dan berlari ke arah mayat, memeriksa denyut nadinya mendeteksi apakah masih ada kehidupan namun sekian detik kemudian Myungsoo menggeleng pelan.

“Paman!!” teriak Mr. Cornelius serak.

“Jangan sentuh apapun,” teriak Myungsoo saat melihat Mr. Cornelius mencoba mendekati mayat Harry Murcher.

Myungsoo memakai sarung tangan yang tadi siang ia curi dari ruang kerja Paman James, memeriksa leher korban yang ternyata masih cukup hangat kalau begitu berarti, waktu kematian sang korban antara 10-30 menit.

“Dugaan sementara keracunan,” gumam Myungsoo berkerut.

“Oleh serbuk bunga Nerium Oleander,” tambah Suzy yang meneliti bekas muntahan dari sang korban.

“Tapi bagaimana bisa?” tanya Myungsoo, “Dan tulisan apa ini? Terminē?”

Myungsoo bergidik ngeri begitu menyentuh tulisan itu dan mendekatkan pada hidung mancungnya. Ia mencium bau anyir yang menusuk-nusuk hidungnya.

“Ini darah” ucapnya yakin.

“Nak! Apa yang kau lakukan! Aku sudah menghubungi polisi, cepat menyingkir dari korban. Ini TKP bukan tempat bermain anak-anak seperti kalian! Minggir kalian berdua,” teriak Albert terengah-engah.

“Diam! Aku mendapat tugas dari Paman James untuk segera memeriksa mayat jika terjadi pembunuhan,” bohong Myungsoo.

Albert sedikit melangkah mundur ketika mendengar nama James disebutkan, ia terdiam begitu saja mengamati Myungsoo yang sedang menelusuri kantong korban.

“Apa ini?” tanya Suzy begitu melihat isi dari kantong Mr. Harry.

“Tiket kereta api menuju London yang belum digunakan, kotak tembakau, arloji, dan beberapa keping uang shilling. Sepertinya ia berencana untuk pergi malam ini sekitar jam 10 malam dilihat dari tiket kereta apinya.”

“Untuk apa?” tanya Suzy bingung.

“Entahlah yang pasti ada sedikit kejanggalan di sini. Point pertama di tubuh korban tidak diditemukan adanya luka fisik, semuanya tampak seperti gejala keracunan biasa lalu bagaimana caranya menggoreskan tulisan dengan darah seperti ini? Point kedua wajah korban yang menunjukan adanya keterjutan pasti tidak berniat untuk bunuh diri lagipula, Mr. Harry bukanlah orang sebodoh ini. Jika ia benar-benar ingin bunuh diri, ia akan memilih tempat yang pantas dan sesuai seleranya bukannya di kamar mandi rumah orang. Point ketiga, ia tewas karena keracunan Nerium Oleander dan menurut pendapatku bubuk atau cairan Nerium Oleander dimasukan ke dalam wine atau ayam panggangnya.”

“Tapi pamanku belum memakan apapun dari rumah!” teriak Mr. Cornelius.

“Tepat sekali Tuan. Itu artinya…..” Myungsoo menatap tajam ke arah satu persatu orang disini.

“Pelakunya ada diantara kalian!”

Semuanya terkejut bukan main, beberapa diantara mereka bahkan berteriak histeris. Namun tak sedikit pula yang saling melemparkan tatapan curiga pada teman-temannya.

“Jangan bercanda anak kecil,” teriak pria berbadan kurus ceking yang memakai topi kainnya.

“Benar, lagipula kau siapa?” pekik temannya menimpali.

“Sudah kubilang! Aku di tugaskan oleh Paman James. Jika masih ada yang ingin memprotes kalian boleh mendaftarkan nama untuk menjadi calon tersangka, berminat?” tanya Myungsoo sinis.

Semua orang terdiam, roman mereka menjadi sepucat kertas polos yang memancarkan kekalutan luar biasa.

“Apa artinya tulisan itu?” tanya Suzy bingung begitu melihat tulisan rapih di dinding dekat mayat ditemukan.

Terminé? Rasanya aku pernah mendengarnya.. tapi dimana?”

Myungsoo mengerutkan dahinya, ia menatap tajam ke arah gugusan huruf rapi berdarah.

“Oh ya!! Tentu saja, kenapa aku tak menyadarinya. Tapi kenapa tertera seperti itu? Seharusnya ada satu korban lagi…. kenapa seperti itu.”

Wajah cerianya yang baru bertahan beberapa detik menjadi muram seketika. Myungsoo mengelus-elus dagunya, mencoba membayangkan dirinya menjadi pelaku dan hal apa yang akan di perbuatnya jika ingin menjadi membunuh si tua Harry.

“Oh begitu ya,” gumamnya dengan senyum menggantung di bibir tipisnya.

 

. || .

 

#FILE 7—Si gadis kecil penjual korek api yang menderita

 

“Baiklah aku dan Suzy akan menginterogasi kalian satu persatu.”

Suzy membelalak kaget, menatap Myungsoo protes. Interogasi katanya? Pada puluhan orang? Apa dia ingin kasus ini diselesaikan selama tiga hari?!

“Aku bercanda Suzy,  baiklah siapa diantara kalian yang terlibat percakapan hari ini atau mengenal korban?” tanya Myungsoo tajam.

Addyson, Jessica, Violet, Rachel, Albert, Cornelius, dan yang terakhir ibu Suzy mengangkat tangannya gemetar. Tampak dari roman wajah yang mereka tunjukan adanya ketakutan.

“Mr. Addyson, apa yang kau lakukan sekitar 10 sampai 30 menit yang lalu?”

“Aku berbincang dengan para tamu, jika kau tak percaya tanyakan saja pada ibumu.”

“Sudah kuduga. Alibi yang sempurna sir,” ucap Myungsoo sambil tersenyum.

“Lalu nona Jessica, apa yang kau lakukan sekitar 10 sampai 30 menit yang lalu?”

“Aku pergi ke toilet dan berjalan-jalan sebentar di sekitar sini,” jawab Miss. Jessica gugup.

“Toilet? Maksudmu kau pergi ke toilet bersama korban?”

“Yang benar saja bocah!! Aku mempunyai level yang tinggi,” pekik Miss. Jessica marah.

“Aku pergi ke toilet tapi aku tak menemukan apapun yang ganjil disana, dan aku tidak melihat adanya Mr. Harry di sekitar toilet. Sungguh aku tak berbohong, aku bersumpah demi nama ayahku!”

“Demi nama ayahmu ya? Emm.. cukup menarik.”

“Lalu kau Mr. Albert?” ucap Suzy.

“Apa kau gila?! Aku ini keponakannya mana ada keponakan yang membunuh pamannya sendiri?”

“Aku bertanya alibimu sir bukannya menuduhmu, lagipula ada keponakan yang membunuh pamannya contohnya kasus pembunuhan di lorong kereta api yang terjadi dua tahun lalu di kereta bawah tanah di  Brixton Selatan, kau ingat? Dan sekarang aku bertanya apa alibimu kuharap kau tak salah paham lagi Mr. Albert.”

“Jika kau ingin bertanya padaku bocah sok tahu! Aku sedang berbincang dengan ibumu, Mrs. Bae, dan Mr. Addyson. Apa kau puas?!” ucapnya geram.

“Terimakasih untuk jawaban sopanmu, Mr. Albert. Nah, sekarang Mrs. Rachel dan Mrs. Jung, apa alibi kalian?”

“Dasar anak nakal, beraninya kau memanggilku tanpa embel-embel ibu. Kami sedang berbincang dengan Mr. Addyson,” ucap Mrs. Rachel galak.

“Ayolah bu, ini kan hanya formalitas saja jangan memarahiku seperti itu, dan bu alibimu sempurna,” jawab Myungsoo dengan nada yang sedikit melunak.

“Baiklah yang terakhir,” kata Myungsoo kembali ke ekspresi awalnya.

“Miss. Violet, apa ada yang ingin kau sampaikan?”

“Seperti yang kau tahu, aku pergi mengganti bajuku dan ketika aku mendengar beberapa orang berteriak aku langsung berlari menuju kemari.”

“Apa ada saksi?”

“Ada seorang pelayan wanita, aku memintanya untuk mengantarkanku ke kamar Addy, untuk berganti pakaian.”

“Apa dia melihat anda keluar atau mungkin dia berada di pintu masuk selama anda berada di dalam?”

“Tentu saja tidak Tuan Detective, dia harus bekerja, bukan?”

“Benar juga, lalu.. kudengar anda sedang meneliti tumbuhan bernama Nerium Oleander? Apakah ada seseorang yang sama-sama sedang menelitinya atau ada yang membelinya dari anda?”

“Ya, Jessica kerumahku untuk membeli sebotol kecil berbagai racun dan salah satunya Nerium Oleander.”

“Itu sebagai referensiku, aku ingin membuka praktek pengobatan herbal!!” tukas Miss. Jessica.

“Mengaku saja, Miss. Jessica kau masih punya waktu untuk mengakui dosamu dan meminta maaf pada Tuhan,” sela Suzy acuh.

“Apa maksudmu?!! Kau pikir aku pembunuhnya? Jangan bercanda.. bahkan aku baru melihatnya kali ini!!” bela Miss. Jessica kesal.

“Dasar mengerikan.. kau itu bukankah—“

“Sekarang giliranku Suzy,” potong Myungsoo.

“Kau ingin menyerahkan dirimu sendiri atau aku harus bersusah-susah membongkarnya?”

“Miss. Merrilow Smith?” lanjut Myungsoo.

Semuanya saling berpandangan mencari seseorang yang namanya baru saja di sebutkan dengan lantang. Ada satu diantara mereka tersenyum pucat hingga ia harus menelan kuat-kuat salivanya.

“Myungsoo apa yang kaulakukan? Tersangkanya bukan—“

“Nikmati saja permainanku Nona Bae,” ucap Myungsoo sambil memberikan senyuman teranehnya.

“Jika kau tak ingin mengaku, aku akan membongkar kedokmu.”

“ Pelakunya adalah…. kau? Ya Kau Nona.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Violet Anderson”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Mr. Addyson menggeram mendengar calon tunangannya baru di sebutkan sebagai tersangka, ia memandnag Myungsoo marah menampilkan aura mengerikan yang ia punya.

“Jangan bercanda anak kecil!!!!”  pekiknya dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Demi Tuhan kau akan kubunuh kau jika tak menarik kata-katamu kembali,” tambahnya dengan tatapan mengintimidasi.

“Bersabarlah Mr. Addyson, aku akan menjelaskannya satu persatu.”

Myungsoo melepas sarung tangan plastik miliknya, dan meletakan pada bagian watafel yang tak tersentuh muntahan.

“Nona Merrilow Smith yang kita ketahui bernama Violet Annderson adalah seorang gadis kecil dalam dongeng ‘gadis penjual korek api’ yang kita ketahui bahwa sang gadis di temukan tergeletak di persimpangan jalan Lauriston Street. Dia tidak mati, hanya namanya saja yang sudah di bunuh oleh seorang dokter laki-laki baik hati berwarganegaraan Perancis. Awalnya aku tak begitu yakin, tetapi setelah menyelidiki asal usul Miss. Violet barulah aku percaya.

“Mr. Harry adalah pria tua yang malang, ia mati karena keracunan Nerium Olenader yang sengaja di berikan oleh Miss. Violet saat mereka berpapasan well sebenarnya bukan berpapasan sih, Miss. Violet memang sudah pergi ke kamarnya yang diantarkan oleh seorang pelayan yang memang sudah ia rencanakan, jadi ketika dirinya diinterogasi sudah ada pelayan yang siap membelanya, memberikan saksi tapi toh sang pelayan tetap bekerja. Ia kembali ke dapur atau ke gedung utama untuk melanjutkan tugasnya lalu kau, Miss. Violet bergegas mencari Mr. Harry yang untungnya masih kau temui, kau bersendau gurau sebentar. Sebenarnya kau sedang berpikir keras bagaimana caranya mencampurkan obat itu ke saluran pencernaannya oh untunglah kau menemukan wine yang menurut imajinasiku ada pelayan yang tanpa sengaja lewat membawa wine, mungkin kau bergurau lagi agar Mr. Harry tak menemukanmu memberi bubuk pada wine-nya. Setelah kau memastikan bahwa Mr. Harry telah meminumnya kau kembali ke dalam kamarmu, bergegas mengganti pakaian, namun sepertinya kau menemui kendala hingga saat orang-orang menjerit barulah kau bisa mengenakan pakaianmu.. Seharusnya jika racun Nerium Oleander murni takkan menyebabkan kematian secepat itu tapi kau telah menambahkkannya dengan zat kimia lainnya yang berakibat fatal.

“Kau tahu Miss. Violet? Jika kau tak melakukan kesalahan satu saja, pembunuhan ini akan masuk pembunuhan paling aneh di seantero Inggris. Tapi kau meninggalkan dua bukti nyata.

“Yang pertama tanganmu yang terluka, aku yakin salah satu jemarimu sengaja di lukai agar darah menetes dan kau menuliskan kata Terminé.”

“Tapi dia sudah terluka dari tadi siang” ujar Mr. Addyson.

“Terluka? Yang benar saja, masa tidak ada tanda-tanda obat merah di sekitar perbannya tadi, lalu sekarang tiba-tiba ada obat yang menyembul dari perbannya.”

Semuanya terperanjat, sedangkan Mir. Addyson sendiri terpekik tertahan ketika baru menyadarinya.

“Dan kedua Miss. Violet, sepertinya kau buru-buru berganti baju, buktinya tatanan rambutmu sedikit berantakan pada kedua pinggirnya, seharusnya wanita sepertimu takkan melakukan hal- hal yang dapat membuat dandananmu rusak  dihari pertunanganmu.”

“Benarkah begitu? Apa buktinya?” tanya Miss. Violet tenang.

“Di dalam kantong dress-mu yang tersembunyi ada serbuk putih yaitu racun Nerium Oleander. Bagiamana?”

Miss. Violet terdiam cukup lama, kemudian senyuman tipis menggantung di kedua sudut bibirnya.

“Dan pelaku pembunuhan  Mrs. Marry bukanlah si malang Mr. Thaddeus bukan? Pembunuhnya adalah kau senidri, Miss. Violet. Kau ingin menjelaskannya? Atau aku yang akan menjelaskannya?”

Miss. Violet kembali tersenyum, jemarinya bergetar hebat di balik kepalan tangan kecilnya.

“Sepertinya kau ingin aku menjelaskannya, baiklah dengan senang hati Miss Violet,” ucap Myungsoo tersenyum miring saat melihat wajah Miss. Violet mulai bermunculan keringat kecil di dahinya.

“Sepertinya kau menakuti Mrs.Marry Mosrtan dengan sesuatu yang membuatnya harus keluar berlari-lari di tengah gelapnya pagi, kenapa aku menyebut pagi? Karena waktu kejadiannya sekitar pukul 03.200 sebelum kau pergi ke rumah pasienmu untuk mengambil stestoskop. Bukankah sedikit ganjil untuk apa kau pergi sepagi itu hanya untuk mengambil stetoskop? Tentu saja dengan alasan memeriksa Mr. Charles pasien langgananmu berkata bahwa Mr. Charles harus segera di periksa karena alasan yang menurut mereka logis.

“Mari  kita lihat seberapa jauhkan kebenaran yang aku ungkapkan. Mr. Thaddeus adalah seorang pria malang yang harus mendekam di penjara akibat perbuatan yang di lakukan orang lain. Aku akan menjelaskannya secara runtut agar kalian bisa memahaminya

“Jadi Miss. Violet memanggil Mrs. Marry entah dengan cara apa yang pasti itu bisa membuatnya panik, hingga harus berlari meninggalkan rumah dengan piyamanya. Di perempatan Lauriston Street kau menghadangnya, berbincang dengannya sebentar mungkin, lalu kau menembak puluhan batang korek api yang sudah kau serut dengan hati-hati dan penuh dendam menggunakan revolver mainan yang terbuat dari kayu. Kau menyentuh pegasnya lalu dengan cepat kau mengisi peluru korek api batang. Hal itu bukanlah kemampuan rendahan yang bisa dilakukan oleh semua orang hanya orang ahli saja yang bisa melakukannya, untuk itu kau terus berlatih di kebun kecilmu dan menggunakan papan panjang yang kau gunukan sebagai korban.”

“Bukankah waktu kematiannya pukul 00.00 – 01.00 Tuan Detective?” ucap Miss. Violet.

“Yeah, itulah siasat yang kau gunakan. Bukan tanpa alasan kau membuat Mrs. Marry lari pontang panting menuju Lauriston Street yang berjarak 5 km dari rumahnya, bukankah kau dokter? Jadi kupikir kau pasti tahu bukan?  Kematian tiba-tiba yang terjadi di tengah olah raga yang keras, akan mengakibatkan protein di otot menjadi mudah mengeras, kekakuan jadi jauh lebih cepat dari biasanya. Hal itulah yang membuat polisi dan aku sendiri salah dalam memprediksikan waku kematian korban. Dan entah harus kukatakan beruntung atau tidak, kau memanfaatkan Mr. Thaddeus untuk membuatmu jauh dari kecurigaan polisi, Mr. Thaddeus sebelumnya pasti juga pernah berkeluh kesah padamu kalau akhir-akhir ini ia harus kerja lembur di pabriknya yang kebetulan memang tak jauh dari Lauriston Street, tempat TKP.

“Ingin mengelak Miss. Merrilow? Aku bertaruh, jika polisi menggeledah rumahmu ia akan menemukan revolver, cutter, Nerium Oleander, dan tumpukkan batangan korek api yang patah atau kalau beruntung polisi juga akan menemukan barang-barang yang berbau masa lalumu.”

“Sudah!! Hentikan! Violetku adalah wanita sempurna yang pernah ku kenal, dia adalah pribadi yang lembut. Jadi tidak mungkin dia mampu membunuh dua orang dengan cara yang tragis!” teriak Mr. Addyson marah.

“Tapi sir—

“Stop!! Demi Tuhan, kau akan celaka Myungsoo!!”

Mr. Addyson terengah-engah, urat lehernya kembali mengendur setelah berteriak sekian kerasnya hingga membuat semua uratnya menegang marah.

“Bodoh,” gumam Miss Violet lirih.

“Aku memang yang membunuh mereka, akulah Merrilow Smith si penjual korek api yang kalian acuhkan. Akulah gadis malang yang di bentak oleh si Harry kejam, akulah yang di tertawakan oleh si licik Marry dan….”

Ia terdiam cukup lama, namun senyum masih menempel pada wajah cantiknya.

“Seharusnya aku membunuhmu juga, Addy” ungkapnya tajam namun terdapat nada kesedihan yang terselip didalamnya.

“Vi.. Vi.. Violet? Apa yang kau katakan?” tanya Mr. Addyson dengan wajah pucat.

“Namaku Merrilow Smith, bukan Violet Annderson. Itu adalah nama pemberian dari orang yang berbaik hati yang mau menampungku, membawaku ke Perancis dan mematikan nama Merrilow Smith sebagai gadis kecil yang mati karena tergilas ketidakpedulian.”

“Tapi kenapa—“

“Kau! Lelaki pengecut yang sudah menendang keranjangku!” teriak Miss. Violet murka.

Mr. Addyson, terdiam kaku. Tangannya mengepal keras.

“Pernahkah kau tahu? Bahwa korek api itu terlalu berharga? Pernahkah kau tahu begitu sedihnya aku ketika kau menendangnya dengan muka menjijikanmu? Dan pernahkah kau tahu betapa kalutnya aku membayangkan ayahku akan memukuliku lagi?”

Manik kecil Miss. Violet berpendar sayu, ia menunduk perlahan menyingkirkan rasa sakit yang sudah terkubur dalam benaknya. Menampik bahwa kepedihannya akan berlangsung lagi.

“Itu karena… karena.. aku menyukaimu.”

Wajah cantiknya mendongak, meminta penjelasan lebih ketika mulut Mr. Addyson bergerak-gerak lagi tanpa suara.

“Aku menendang keranjangmu lalu mengejekmu berharap kau akan mengejarku dan berlari ke arahku tapi kau malah duduk diam di situ, tadinya aku ingin meminta maaf tapi… tapi ibuku menyeretku karena aku menghilang begitu saja.”

“Dan kau sudah tahu kan, aku seperti apa?” gumam Miss. Violet lirih, ada rasa penyesalan yang ia pancarkan.

Mr. Addyson tetap bergeming, mulutnya terkunci rapat-rapat sedangkan jiwanya kian berteriak menyerukan pendapat mereka masing-masing, membuat perang batin yang begitu bergejolak.

“Maaf karena sudah menolakmu dan membunuh pamanmu, Cornelius. Kau pria baik-baik, sungguh tak pantas kau menyukai gadis kotor sepertiku. Well~ Mr. Albert kau polisi ‘kan, ayo cepat tangkap aku,” ucap Miss. Violet  menyerahkan kedua tangannya.

Mr. Albert memborgol tangan mungil Miss. Violet dengan berat hati, ada perasaan bersalah yang harus di tekannya kuat-kuat. Rasa bersalah karena sudah mengacuhkan keluarga Smith sejak kematiannya, rasa bersalahnya yang berubah berlipat ganda akibat mendengar semua penuturan wanita itu.

Sir, kau tahu arti Terminé? Dalam bahasa Perancis kata itu diartikan ‘Selesai’ dan kau tahu apa artinya itu? Dia mencintaimu sejak awal, dan begitu terkejutnya dia saat mengetahui asal usul keluargamu, seharusnya sekarang ia membunuhmu juga tetapi ia tak melakukannya. Untuk itu, ia menggoreskan kata Terminé di tembok sebagai sumpahnya bahwa pembunuhan telah selesai dan ia takkan pernah membunuhmu,” gumam Myungsoo pada Mr. Addyson.

Wajah muram Mr. Addyson mendongak, binar matanya memercikan sebuah harapan. Namun bibirnya masih menutup rapat.

“Kau tahu kenapa ia memilih bahasa Perancis? Ini bukan alasan bahwa dia dulu pernah tinggal di Perancis namun…. pernahkan kau tahu bahasa Perancis adalah bahasa terindah di dunia? Dan dia benar-benar bersumpah dengan bahasa yang cantik,” lanjutnya lagi.

Myungsoo menjauh dari Mr. Addyson yang bergetar, menghampiri Suzy yang masih saja mengalami  sebuah perasaan keterjutan yang luar biasa.

Miss. Violet tersenyum sesaat sebelum dia di giring oleh Mr. Albert ke kepolisan Mayfield Yard.

“Violet!!” panggil Mr. Addyson.

Miss. Violet berhenti sejenak, maniknya beralih menatap wajah calon tunangannya entah apakah status itu masih bisa di sandangnya lagi atau tidak.

“Ah tidak, maksudku Merrilow aku akan tetap menunggumu, ingat aku akan setia menunggumu!” teriak Mr. Addyson gembira.

“Bodoh,” gumam Miss. Violet.

Namun wajahnya memancarkan sebuah titik kebahagiaan yang mulai merengkuh hatinya kembali.

Dan kasus itu selesai dengan luka yang tergores dalam disetiap  hati orang.  Merutuki sebuah kebodohan tak acuh terhadap sesamanya yang sudah membuat seorang gadis polos berubah menjadi monster kecil.

Namun, sama seperti halnya dongeng kuno bahwa kebenaranlah yang selalu menang dan pada akhirnya dendam yang akan selalu tenggelam di balik penyesalan bergumul menjadi satu membuat siksa batin yang tak berujung.

 

. || .

 

#FILE 8— Musim Panas terakhir

 

Kabut putih masih menggerayangi Birmingham menimbulkan bayangan semu di minggu pagi terakhir liburan musim panas kali ini. Myungsoo memilih menyesap coklat panasnya yang dicampur dengan rasa caramel sebagai penguatnya, bibir tipisnya tersenyum tatkala melihat pemandangan Duncen Street yang terhampar di depannya.

Dapat ia lihat sebuah kereta kuda berjalan sedikit cepat membelok dari arah kiri persimpangan jalan. Dilihat dari kereta kuda yang sedikit runcing pada bagian depannya dan letak kursi kusir yang agak menjorok ke depan, kereta itu berasal dari Lauriston Street hanya kereta Lauriston Street lah yang memiliki keunikan di seluruh wilayah Inggris.

Mari bertaruh, orang yang berada di dalam kereta itu adalah seorang gadis berambut sepunggung dengan penjepit poni matahari yang selalu menempel disana kecuali pada malam pesta dansa dua minggu yang lalu.

Benar saja, gadis itu melonjak keluar saking terburu-burunya membenarkan letak rambutnya kemudian menyerahkan beberapa keping uang penny. Terjadi sedikit perselisihan karena wajah sang kusir langsung muram begitu melihat uang yang di sodorkan gadis itu, sedangkan sang gadis menampilkan wajah alot yang siap berdebat.

Myungsoo tersenyum puas begitu sang gadis menatap jendela tempatya berdiri. Intuisinya benar, sangat tepat sasaran.

Dia segera meletakan cangkirnya, menyambar jas coklatnya yang tergantung. Melangkah lebih cepat, mendahului sang gadis yang baru saja akan menyambar kenop pintu membuat gadis itu berjengkit kaget.

“Hey Nona Bae, kemana saja kau dua minggu ini?” tanya Myungsoo gembira.

“Oh Myungsoo kau membuatku terkejut,” jerit Suzy.

“Ayo pergi, aku tahu kau tak terlalu suka berada di dalam ruangan pengap.”

Keduanya berjalan pelan menikmati suasana pagi berkabut di Birmingham. Mereka membelok pada salah satu pertigaan jalan menghindari pemandangan beton yang menjuang tinggi.

“ Mari ceritakan sesuatu setelah kejadian menakjubkan yang membuat kita mendapatkan penghargaan spesial dari kepolisian Mayfield Yard,” ucap Myungsoo santai.

“Penghargaan yang super spesial terlampau spesial untukku, karena di samping menerima pujian bertubi-tubi aku juga mendapatkan ocehan ibuku dan paman Dudley, yang lebih memuakan daripada ocehan pelayan Toko Sepatu usang. Dan kau tahu Myung? Aku harus mendapat hukuman membantu peternakan kakakku—Lorine di dekat Reigate, Surrey.Kkau tahu betapa terpencilnya desa itu Myung!?!! Ya Tuhan!!” kata Suzy kesal.

“Aku tahu, dan sepertinya kau juga pernah terpeleset di genangan lumpur babi. Pasti menjijikan.”

“Tentu saja, baunya tidak bisa hilang selama dua hari meskipun aku mencucinya dengan sabun terbaik di sana, tapi tunggu aku tak bercerita bahwa aku terpeleset di kubangan lumpur babi, darimana kau tahu?” tanya Suzy penuh selidik.

“Di sekitar kerah bajumu ada noda-noda menghitam khas lumpur yang tak bisa dihilangkan meski ibumu sudah susah payah menggosoknya. Benar ‘kan?”

“Wuah, kau benar-benar hebat sekarang,” ucap Suzy terpukau.

“Tak terlalu tapi cukup untuk seorang pemula sepertiku, sangat susah mengasah intuisi serta ketajamanku.”

“Myungsoo, ada beberapa hal yang masih menjadi misteri dalam kasus Miss. Violet dan kau belum menjelaskannya padaku. Pertama siapa Miss. Jessica dan apa hubungannya dia dengan polisi tingkat satu Mr. Albert. Kedua kenapa kau begitu yakin saat itu bahwa Miss. Violet lah pelakunya dan terakhir kenapa kau tak memberitahukannya padaku? Kenapa kau bertindak seperti pahlawan. huh?” tanya Suzy bertubi-tubi dengan memasang wajah yang di tekuk.

“Pelan-pelan kau bisa menyakiti tenggorokanmu. Baiklah aku akan menjelaskannya satu persatu, yang pertama Miss. Jessica adalah detective payah well aku tidak bisa menyebutnya detective karena ia sendiri bukan detective ia merupakan polisi wanita yang bekerja di penjara untuk itulah akting dan tempramennya sangat buruk. Dia terpaksa di tugaskan oleh Pamanku James dan Mr. Albert yang sama sekali tak membaantu untuk menyelidiki kasus ini, tadinya paman ingin mengerahkan detective sungguhan tetapi berhubung mereka sedang mengerjakan kasus yang lebih rumit dan rahasia makanya mereka terpaksa mengirimkan Miss. Jessica yang masih dalam masa cutinya untuk bekerja dan keduanya membuat kesalahan fatal dengan memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan.”

“Jadi karena akting buruk mereka, kita menjadi terjebak karenanya? Rasa kesalku pada Miss. Jessica berlipat ganda kali ini,” gumam Suzy kesal.

“Lalu yang kedua, terlepas dari Miss. Jessica yang mencurigakan serta Mr. Cornelius yang lebih mencurigakan pada kasus pembunuhan kedua kita menemukan satu orang yang secara tersembunyi mempunyai keterkaitan dengan kedua kasus. Pada awalnya memang aku akan melakukan hal yang sama denganmu menduduh Miss. Jessica, tetapi ada satu hal yang menarik perhatianku saat itu, gulungan rambut yang tak begitu rapih serta luka tanpa obat di jarinya yang tiba-tiba ada obat merah setelah kejadian itu. Dan ketika aku mencocokan semua buktinya… semuanya hanya mengarah pada Miss. Violet yang malang, tapi bukankah Mr. Addyson setia berkunjung kesana? Malah yang kudengar hubungan keduanya bertambah dekat.”

“Syukurlah, aku akan begitu membenci kasus ini jika tak berakhir bahagia. Mereka pasangan yang cocok.”

“Dan untuk pertanyaan terakhirmu, Nona Bae. Aku bukannya ingin bertindak sebagai pahlawan sungguh! Sudah kubilang aku baru menyadarinya,  kalau aku diskusikan denganmu takutnya  tersangka akan pergi tanpa jejak dan tentu saja aku takkan membiarkannya, ini kasus pertamaku.”

“Kau memang hebat! Otakmu sangat cerdas!” pekik Suzy sambil tersenyum.

“Oh ya, bukankah ada yang ingin kau bicarakan denganku? Bukankah kau yang mengirimiku telegram?”

Suzy tercekat, manik matanya mengerjap-ngerjap lucu ia menengadahkan wajahnya menghadap wajah datar yang selalu disuguhkan Myungsoo namun itulah letak ketampanannya ia akan semakin tampak bersinar.

Ia mengigit bibir mungilnya, mengurangi sedikit rasa kegugupannya. Mungkin yang akan di lontarkannya nanti adalah hal paling menjijikan yang pernah didengar gendang telinganya tapi jika ia menahannya lebih kuat dan menguncinya pada lubuk hatinya hanya akan membuat hatinya terasa gelisah tak terkira.

“Jadi….”

Myungsoo kembali menunggu rentetan kalimat yang di lontarkan gadis itu, tapi bukannya menggerakan bibir cerewetnya ia malah tersenyum penuh rona yang terpetak jelas pada wajahnya.

“Setelah kasus si gadis kecil penjual korek api’ selesai aku merasa sedikit aneh tepatnya saat aku berada di peternakan. Hal ini membuatku tak bisa tidur semalaman. Mungkin ini akan sedikit menggelikan tapi aku hanya berasumsi jika.. aku.. aku—“

“Oy Myungsoo!!”

Suzy menahan rahangnya, ia mendengus kesal begitu meliaht pria berseragam polisi yang baru saja memanggil Myungsoo.

Demi sapi jelek Lorine!! Ia benar-benar ingin mengambil revolver tua milik pamannya lalu menarik pelatuknya ke arah Myungsoo dan pamannya James!

Tak pernahkah mereka tahu, membutuhkan kekautan ekstra sampai perutnya memiliit mengatakan bahwa ia meyukai Myungsoo. Tapi ia sendiri sekarang sanksi! Tak mungkin gadis normal sepertinya menyukai orang seaneh Myungsoo.

“Sedang apa kau disini? Hey bukankah kau partener Myungsoo, keponakan Dudley ‘kan?”

Suzy tersenyum terpaksa, menanggapi perkataan Paman Myungsoo, James.

“Kami sedang berjalan-jalan. Paman sendiri? Iya, dia partner tebaikku paman, seorang actress yang sangat berbakat.”

“Wuah benarkah? Sungguh kehormatan bisa bertemu denganmu. Aku sedang mencari kado ulang tahun untuk anakku.”

Ketiganya agak sedikit terkejut saat mendengar derap langkah beberapa kereta kuda yang berkejaran dari kejauhan. Perlahan dapat Myungsoo lihat kereta kuda itu membesar, melewati mereka dengan langkah terburu-buru kira-kira ada tiga kereta kuda yang berjalan agak cepat dan dua kereta lainnya berjalan sedikit lebih lambat dari tiga kereta di depannya. Salah satu kereta kuda dengan kusir tua berambur kerting kumal berhenti. Giginya yang keropos terlihat saat ia sedang menebarkan senyuman hangatnya pada James.

“Oh, James senang sekali bertemu denganmu disini.”

Salah seorang wanita berambut sebahu dengan topi ala scotlandia turun dari kereta dengan wajah muram. Ia tersenyum lemah.

“Bisakah kau menangani kasusku? Dan aku sangat berterima kasih kalau kalian berdua juga ikut.” ucapnya pelan.

“Ada apa?” tanya James bingung.

“Suamiku terbunuh di rumah dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya di temukan tergantung di atap kamarnya, kedua kakinya di temukan di korden dekat jendela. Tak ada sidik jari ataupun jejak sang pelaku dan semua jendela serta kamar terkunci rapat.”

Myungsoo menyeringai, ia berdehem kecil pada Suzy yang membuat wajah orientalnya mengerjap bingung.

“Wah, Myungsoo, Suzy  mari kita selidiki bersama-sama mungkin ini akan menjadi kasus kedua yang berhasil kalian pecahkan,” ujar James senang.

Suzy membelalak.

Kasus lagi?  Artinya peternakan lagi?!

“Oh God!!”

 

.END.

 

Annyeonghaseyo^^ Wah ini pasti FF paling membosankan, paling garing dan mengerikan yah …

Sebenernya ini tuh dulu ff buat lomba tapi karena suatu hal engga jadi deh 😀

 

Dan maaf bagi kalian yang sudah nunggu lama fic. Ini soalnya laptopku plus coneectednya error jadi engga bisa ngpost apapun deh… Maaf yaa ^^

.

.

||Next FF: [94Line Boy] Happy Fic Ep. 1/2|| 15/16-11-2014 ||

Stay tune yaa di

Suzy Fanfiction World.

 

 

 

Iklan

19 respons untuk ‘A Case 2/2

  1. hahahah astaga…
    klo suzy berhasil nanganin kasus, artinya peternakan dan babi2 siap menanti
    aigooo suzy mau bilang dy ska myung tapi pamanya keburu dateng.ckckck
    myung pasti udah tau deh suzy mau bilang apa. myung jjang

    1. Ciieeehhh yang first nih 😀
      hahaha ya sejenis gitu deh … soalnya ibunya suzy itu khawatiran banget siih /sok tau :D/
      wuahahaha di sini Myung maah hebat… dan kalo emang Myung pinter pasti dia bisa nebak dong XD

  2. Reblogged this on bsuji1994 and commented:
    gumawo updatetannya
    🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌌🌙🌌🌌🌌
    -、 🌙 💕🌙  _,-‘
      -、_ ○_,- ̄
        〇
        o
    ○= ∧**∧ ==○
    || (⌒ (´-ω-`) ⌒) ||
    /⌒⌒O⌒⌒O⌒⌒⌒i|
    /# # # #/)

  3. Oh god, ini keren thor meski end nya masih mengantung di bagian curahan hati suzy untuk myung Lol
    Kasus lagi kemungkinan kau makin dekat ama myung dan pertenakan suzy Нåнåнå˚°º=))нå˚°º=D =Dº°˚нåнåнå˚°
    Jjang thor suka ama analisa myung buat. Kasus pertamanya ini serasa liat conan/sinichi lagi beraksi

    Ditunggu next ff yg makin jjang lainnya 😀

    1. Makasii hbangeet yaaa udah mau jadi good reader /hug/
      Ah ga sehebat itu kok.Masih banyak kekurangannya cuma karena males ngedit yaaa apa adanya 😀
      dan aku niru cara penulisannya novel Sherlock Holmes jadinyaa rada mirip gituu….
      Hahahaha yaa semacam itulah nasib Suzy mendapat kesempatan sekaligus penderitaan XD

      Well makasiiihhhhhh yaaaaa ❤ ❤ ❤

  4. ngga nyangka kalau violet pelakunya kira’i jessica..gomawo udah update thor ffnya benarbenar jjang..alurnya ngga ketebak thor jadi bikin pembaca jadi penasaran..bahasanya juga rapihh..ahhh jjang banget lah pokoknya,ini udah end ya thor?pdhl suzy belum ngungkapin perasaannya..pengen myungzy bersatu T.T ,sequel ne thor?? ;))

  5. kasian suzy, masa dia mau nyatain cinta ke myung ga jadi jadi aigoo,, tapi kayanya myung juga suka sama suzy kkkk

    eon gila nih ff nya mantap banget!!!
    serasa baca novel terjemahan hahaha kaya novel sherlock gitu kkkk

  6. ini bacanya harus berulang?
    kasian miss violet, untung hubnya dgn nr. addyson gk rusak.. dri kecil ampe gede mr. addyson menyukai org y sma, so sweet
    (✘﹏✘ა) hådë3êh paman james ganggu MyungZy..gpp deh biar Myungsoo y ngomong suka duluan, tapi kyknya dlm otaknya myungso cuma kasus kasus kasus
    Suzynya jadi girly
    ditunggu ff selnjutnya
    S♥e♥м♥ά♥n♥G♥ά♥τ (ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧ ­
    •° 명수 ♡ 수지 °•

  7. yah kenapa ga diikutin lomba>_< ini pasti dapet juara. keren tauuuuuuuu huhu

    tapi kenapa endingnya gantung?! ( buat myungzy sih gabtungnya wakwaj ) kalo inti ceritanya sih pas engga gantung lol

  8. membosankan? ini bener-bener asumsi yang sangat amat very salag Thor, ini keren banget, apalagi disini aku serasa diajak berpikir bersama, hahaha
    pokoknya T.O.P BIGBANG deh

  9. Astaga! Aku hampir lupa dngan ff ini lho, Thor! #jujur bangt -_-
    tapi langsung connect gitu baca ada part pnyelidkan tntang gadis korek api! Kyakakakak
    tapi syukrlah MyungZy bisa nyelesaikan kasus tsb, dan skarang d tawarin nanganin kasus baru?! Oh mei gott! Suzy bakl berakhr d pternakn Lorine!!?
    Malangny Suzy! Lol
    tapi ga papa dh, asal ada Myung yg menemani! ^^
    MyungZy jjinja jjang!
    jeongmal daebak Thor!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s