A Case

4

A Case

 

|| Scriptwritter : Fanficfunny ||

|| Main Cast : Kim Myungsoo Infinite a.k.a Arthur Myungsoo Small and Bae Suzya.k.a Bae Suzy Walcott  ||

|| Genre : Detective story, little romance, suspense,   ||

Length : Oneshoot

Inspired by nove Sherlock Holmes and dongeng gadis penjual korek api

 

 

***

#FILE 1—25 Desember 1880

 

Kala itu, ketika lampu mulai berkelap-kelip berwarna-warni seorang gadis kecil tengah menjejakan kakinya menjual korek api batangan. Beberapa kali ia mencoba menawari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jalanan Lauriston Street—sebuah pusat kota kecil yang terletak sekitar 40 km dari pusat London— Jemarinya yang kecil menggenggam lemah seikat korek api batangan, kakinya menggigil luar biasa karena sandal satu-satunya peninggalan ibunya hilang saat ia hampir tertabrak kereta kuda yang melaju cepat menembus gumpalan salju.

“Korek.. Api.. Ibu belilah korek api ini,” ucapnya pada salah satu wanita setengah baya yang sedang kesusahan membawa ikan kalkunnya.

“Aku tak butuh korek api kecuali dunia ini sudah tak ada matahari, hoho,” ujarnya sambil terkekeh tak peduli.

Sang gadis kecil mengusap bulir air matanya yang mulai jatuh. Perlahan ia menjauh dari keramaian, berniat mengistirahatkan kaki kecilnya untuk sejenak.

“Bagaimana ini,” isaknya mulai khawatir.

“Jika aku pulang tanpa membawa hasil apapun, ayah pasti marah dan dia akan memukuliku lagi.. Aku takut,” tambahnya.

Seorang anak laki-laki kecil yang diperkirakan seumuran dengan gadis itu berjalan mendekatinya dari arah kiri. Tadinya ia ingin mencuri beberapa roti kecil di sebuah toko roti Bakery Hart namun entah kenapa ia tertarik begitu melihat seorang gadis kecil tengah memeluk lututnya di bawah lampu kecil teras sebuah rumah yang cukup besar.

“Kenapa kau disini? Kau tidak di rumah bersama keluargamu merayakan natal?”

“Kau mau membeli korek api?” tanpa menjawab pertanyaan bocah itu, si gadis menawarinya beberapa batang korek api. Anak kecil tadi hanya menatapnya datar.

“Ayolah hanya beberapa batang saja tak apa.”

“Tidak mau!” ucap laki-laki itu berpura-pura marah.

Ia menendang keranjang yang berisi penuh korek api, lalu berlari menjauh. Ia sempat menjulurkan lidahnya sebelum hilang di balik tembok sebuah rumah.

“Dasar.. Jahat.”

“Hey apa yang kau lakukan disini!!” bentak seorang pria berumur sekitar delapan belas tahun yang tengah berdiri di pintu teras.

“Aku hanya..”

“Pergi sana!” hardik lelaki itu memotong pembicaraannya.

“Cepat pergi!” teriaknya lagi.

Dengan sangat terpaksa gadis kecil itu melangkah pergi meninggalkan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di daerah mereka. Cukup lama gadis kecil itu berjalan menyusuri jalanan setapak yang kini sudah tampak sepi hanya beberapa orang dewasa saja yang masih betah berjalan tergsa-gesa.

Di sebelah toko permen yang kini terkunci rapat karena semua toko memang tutup ketika malam natal tiba, gadis kecil itu menemukan sebuah pohon natal yang penuh dengan bintang berwarna-warni, tak lupa beberapa boneka angel yang menggantung.

“Natal hanya diperuntukan untuk orang-orang kaya.”

Gadis itu mengambil kertas koran London Daily lalu meletakannya tepat di bawah pohon natal. Keranjang penuhnya ia letakan di sampingnya menjaganya seolah itulah benda berharga yang dimilikinya selain dirinya sendiri.

Giginya bergemeletukan setelah beberapa menit berada di bawah lampu temaram, tangan-tangan mungilnya mulai mati rasa karena kedinginan. Matanya berkilat penuh minat ke arah batangan korek api, oh! tak apakan jika dia hanya menyalakan satu batang korek api.

Perlahan ia menggesekannya pada sebuah kotak dan munculah api kecil yang membuat matanya berbinar gembira. Tangannya secara alamiah mendekat merasakan kehangatan yang terpancarkan. Sungguh sial! Api telah padam sebelum ia merasakan kehangatan lebih banyak lagi. Ia menyulut batang lainnya dan tak pernah bertahan selama lima menit.

Hal itu dilakukannya beberapa kali, puluhan kali, ratusan kali, hingga tak terisisa lagi batangan korek api. Gadis itu mulai menangis membayangkan ayahnya akan memukulinya tanpa ampun, menorehkan luka baru di lengan atau kakiknya.

Hatinya memilu saat mendengar beberapa teriakan anak kecil yang bernyanyi riang di seberang rumah. Ia juga dulu seperti itu. Dulu sekali sebelum ibunya meninggal empat tahun yang lalu.

Tak ada yang tahu kehampaan gadis itu, tak ada seorangpun yang mau peduli pada dingin tangannya semuanya terlampau bahagia dan sampai gadis itu menutup matanya kedinginan, tak seorang pun melihatnya.

 

. || .

 

#FILE 2 — Mengerikan!!   RJTVB LIN’sa. The Little Match Girls is back!

 

“Myungsoo!!” teriakan nyonya Rachel memenuhi pekarangan luas miliknya. Ia berdecak kesal begitu melihat puteranya sedang melambaikan tangan sambil menggigit roti bakar yang dibuat ibunya semenit yang lalu.

“Kalau kembali setelah petang. Akan kupotong uang jajanmu! Ingat itu!”

Rachel berteriak frustasi saat tak mendapat respon dari Myungsoo kecuali sebuah nyanyian nyaring yang digunakan bocah berumur delapan belas tahun agar tak mendengar suara cempreng ibunya.

Rachel mengangkat baju panjangnya yang menjuntai ke bawah yang menyisakan noda kecoklatan lumpur. “Kenapa penjahit itu membuatnya panjang sekali,” keluhnya.

Myungsoo berjalan santai melewati beberapa gerombol pria berumur tiga puluhan yang terkenal dengan geng ‘tukang ketik’. Mereka adalah gerombolan juru ketik dari berbagai kantor yang menerima jasa ketik pada siapapun. Ketuanya merupakan juru ketik terlama di pabrik kertas, rambutnya merah bata, hidungnya besar mancung, sikapnya yang terus terang dan lugu membuatnya disukai siapapun. Suaranya sangatlah bersahabat dan menyenangkan, sorot matanya tulus dengan bibir yang selalu mengembang hingga membuat semua orang nyaman berada di dekatnya, ditambah lagi dengan badannya yang tinggi besar karena ia merupakan orang keturunan Inggris-Negro yang membuat kulitnya tampak sedikit coklat dan hal itu membuatnya satu-satunya orang bertampang tampan di kumpulan ‘tukang ketik’. Ia selalu memakai pakaian bagus serta licin dan ikat pinggang yang sepertinya terbuat dari kulit ular asli dilihat dari motif yang terbentuk sangatlah alami dan hal yang paling dibenci Myungsoo darinya adalah bau cerutu Trichinopoly yang selalu melekat pada pria tanpa kumis atau janggut itu.

Myungsoo menggaruk tengkuknya, terlalu banyak yang ia pahami dari Harry Murcher—Pemimpin ‘tukang ketik’—

Ia kembali berjalan menyusuri Duncan Street menikmati angin semilir diawal musim panas ini yang artinya musim liburan. Hal yang paling menyenangkan, karena ia akan mengalami perbincangan seru masalah kejahatan bersama James Damery,  pria jangkung berwajah pucat dengan rambut hitam pekatnya yang bertugas sebagai polisi Mayfield Yard. Reputasinya yang baik serta sikap ramahnya membuat ia disegani di lingkungan Myungsoo. James sendiri yang notabenenya adalah pamannya sendiri merupakan lelaki tercerdas nomor dua setelah ayahnya Jonathan Small –Ahli bedah—  di Duncan Street.

Entah kenapa Myungsoo sangat menyukai hal-hal yang berbau kriminal ia bahkan sudah mengoleksi berbagai macam berita tindak kriminal yang terjadi di Inggris, ingat pemuda macam dia sudah hampir hafal seluruh kejahatan di daratan Inggris ini. Jangan salahkan Myungsoo yang terbakar rasa penasarannya tapi salahkan ayahnya yang membelikannya novel detective Monsieur Lecoq karya Emile Gaboriau disaat umurnya belum genap 7 tahun.

Myungsoo terkikik geli membayangkan kisah macam apalagi yang akan diceritakan pamannya James, tapi terkadang ia merasa sangat bosan jika hanya mendengarkan tanpa adanya praktek.

Secara tidak langsung Myungsoo menginginkan kasus sesungguhnya terjadi di lingkungannya.

“Mayat!! Ada Mayat!!”

Myungsoo hampir terantuk batu saat anak kecil berumur sekitar 10 tahun berteriak kencang sambil berlari tak tentu arah. Rambut klimisnya telah berubah bentuk begitu pula dengan baju yang kini setengahnya menjulur keluar.

Myungsoo berani menjamin bocah laki-laki itu tak berbohong. Terlihat dari wajah ketakutannya yang luar biasa.

“Dimana?” teriaknya menghadang bocah itu.

“Di dekat toko permen perempatan jalan Lauriston Street, tubuhnya dipenuhi…” bocah itu terdiam, matanya mulai berkaca-kaca, “Ibu! Ibu!” teriaknya ketakutan.

“Larilah ke kantor polisi dan katakan apa yang sebenarnya terjadi, lalu minta antarkan salah satu polisi di Mayfield Yard untuk mengantarmu ke rumah. Ceritakan pada ibumu, dan peluk ibumu sampai kau sudah tidak ketakutan lagi.Oke?” ucap Myungsoo.

Bocah tadi menganggup gugup, ia kembali berlari menuju kantor polisi.

Myungsoo tersenyum miring, mau tak mau ia merasa senang karena dengan adanya pembunuhan ini dapat menguji ketajamannya dalam berpikir.

Well sebenarnya ini adalah kasus pertamanya. Dan Myungsoo sendiri cukup gugup akan hal itu.

Ia berlari sekuat tenaga, sialnya jalan itu cukup jauh. Jika ia sedang tak beruntung, mayat sudah di kerubungi segerombolan makhluk ingin tahu dan malangnya lagi sudah ada polisi yang tiba disana.

Myungsoo semakin mempercepat langkahnya. Ia berhembus lega saat melihat mayat itu baru di kerubungi sekitar 3 orang saja. Dua diantaranya laki-laki berumur sekitar 45 tahunan dan seorang perempuan yang sedang melihatnya dengan pandangan jijik, namun memancarkan rasa penasaran yang tinggi.

Ia berlari mendekat, memasang sarung tangan plastik yang kebetulan di pinjamnya well mungkin di curinya dari laboratorium kecil milik ayahnya.

Untuk beberapa saat ia mengamati keadaan mayat tersebut. Sungguh keadaannya sangat mengerikan, ini bahkan lebih mengerikan di banding cerita pamannya tentang kisah pembunuhan janda kaya setahun yang lalu di pusat kota London—Emma Staller.

Korban adalah seorang perempuan yang Myungsoo asumsikan berumur sekitar 67 tahun—dilihat dari jumlah kerutan di wajah serta tangannya. Di sekujur tubuhnya tertancap puluhan atau bahkan mungkin ratusan korek api batangan yang ujungnya diruncingi dahulu. Kakinya besar tanpa alas kaki lalu, tangannya yang terlentang seolah sedang mengharapkan sesuatu yang datang. Wajahnya memancarkan keterkejutan luar biasa, bola mata hijaunya membulat kosong. Ia mengenakan piyama tipis berbentuk gaun berwarna orange mencolok yang kini sudah berganti warna,  karena seluruh tubuhnya dipenuhi darah.

“Aneh.”

Myungsoo mencabut salah satu batang korek api yang tertancap di bagian lengan kirinya, mengamati dengan teliti. Untunglah ia pernah sekali ikut membedah mayat setahun yang lalu bersama ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya, sebenarnya itu murni keinginan Myungsoo dan ayah Myungsoo yang terlalu memanjakannya mau tak mau harus mengiyakan permintaan anaknya itu.

Ia kembali mengambil satu batang korek api dari bagian lengan lainnya.

“Sudah kuduga ini berbeda. Pelakunya pasti menggunakan cutter tajam yang masih baru.”

“Darimana kau tahu itu diraut menggunakan cutter?”

“Astaga!!” pekiknya kaget.

Myungsoo hampir saja terjungkal kebelakang saat ia mendengar suara perempuan mulai memasuki gendang telinganya.

“Cih,” umpat gadis itu melihat wajah Myungsoo yang mulai pucat.

“Aku bukan hantu apalagi reinkarnasi dari wanita tua ini jadi kau tak perlu memasang wajah memelasmu padaku.”

Myungsoo mendengus, ia melihat gadis di depannya  tak suka, sebenarnya ia tak ingin melihat seseorang yang sudah mengganggu kasusnya tapi insting kuatnya membuatnya mau tak mau harus memperhatikan gadis itu.

Okey, gadis itu mempunyai rambut hitam bergelombang sampai sepunggung dan ada satu jepit rambut berbentuk bunga matahari yang ia gunakan sebagai penahan poninya. Wajahnya tirus, hidungnya mancung sangat proposional dengan perbandingan wajahnya. Alisnya tak terlalu tebal, bibirnya berwarna merah mungil. Ia mempunyai bola mata sedikit kecil dibanding orang-orang di Duncan Street ataupun di Lauriston Street. Tubuhnya tinggi kurus yang di balut dengan pakaian kemeja berwarna merah hati tiga seperempat yang dimasukan ke dalam celana yang biasa digunakan oleh anak laki-laki saat bepergian ke gunung. Ia memakai sandal buatan Audly T dengan ukuran 39.

Senyumannya mengembang menampilkan kesan ramah melenyapkan wajah dinginnya beberapa detik yang lalu.

Myungsoo berkerut, ia tak menemui orang semacam gadis di depannya di sekitar Birmingham.

“Kau siapa? Kau orang mana?”

Seketika wajah kecil gadis itu menarik uratnya membentuk senyuman yang menampilkan deretan gigi kecil-kecil yang tersusun rapih.

“Ayo tebak,” ucap gadis itu.

Seketika wajah Myungsoo  berubah malas, “Aku sedang tak ingin bermain,” ungkapnya langsung dan terkesan dingin.

“Bermain detective-detective-an ya? Sepertinya asik,” ujar gadis itu dengan nada kekanak-kanakan.

“Jangan mengganggu—“

“Aku hanya duduk di sini diam, lagipula jika kau sendiri di sini kau bisa saja dituduh membunuh perempuan tua jelek ini.”

“Kita sekarang ada berem… Hey kemana kepergian kedua orang lelaki yang sedang beridiri disitu?”

“Sekitar 4 menit 55 detik yang lalu mereka pergi ke arah sana.. di ujung belokan sana, lalu belok kiri sepertinya mereka akan melapor pada polisi jadi cepatlah selesaikan pekerjaanmu sebelum polisi Meyfield Yard datang meneriakimu.”

Myungsoo langsung menuruti perkataan gadis yang di duga berusia hampir sama dengannya. Ia kembali memperhatikan mayat, terutama pada bagian lubang kecil bekas menancapnya batang korek api. Ia mengerut bingung saat menemukan lubang itu lebih dalam dari perkiraannya jadi pasti si pelaku menggunakan alat tertentu untuk menusukkan batangan korek api, tak mungkin jika sang pelaku  menancapkan satu persatu  terlalu lama dan tingkat kedalaman luka tidak akan sedalam ini.

Myungsoo mengangguk antusias, ia beralih ke wajah korban. Mencoba mencari celah disana, tapi tak ada appaun kecuali wajah keriputnya yang terkejut.

Di bagian tangan sang korban pun, ia tak menemukan apapun di sana terkecuali beberapa batang korek api yang menancap. Ia menyentuh kaki korban, sudah dingin dan kaku.

“Sepertinya waktu kematiannya sekitar 7-8 jam  lebih yang lalu. Sekarang jam 08.00 berarti sekitar jam 00.00-01.00. Jika ada yang keluar pada malam segitu sudah dipastikan dia pembunuhnya, dan mungkin tempat kejadiannya memang di sini. Tak ada bekas atau tanda-tanda penyeretan.”

Myungsoo menghela nafas pasrah. “Ternyata sangat sulit ya, menentukan pelaku dan motif pembunuhan kenapa para detective bisa melakukannya dengan mudah? Oh Shitt!.”

“Apa ini?” pekik gadis itu kembali.

“Ada apa? Hey jangan menyentuh mayat sembarangan! Kau bisa meninggalkan sidik jari disana,” teriak Myungsoo mengingatkan.

“Iya aku tahu. Kau pikir aku anak kecil, huh?”

Pemuda itu memutar bola matanya tak peduli, pandangannya terpaksa mengikuti telunjuk gadis yang menunjuk sebuah aksara di samping korban. Hurufhnya besar-besar dengan warna serta ukuran yang tak sama.

 

RJTVB LIN’sa
The Little Match Girls is back!

 

“Apa artinya ini?” gumam Myungsoo semakin bingung.

“Artinya ‘Gadis kecil penjual korek api telah kembali’ apa maksudnya? kalau tidak salah itu nama dongeng yang sering diceritakan oleh ibuku sebagai pengantar tidur.”

“Apa mungkin begitu, aku juga pernah mendengarnya, gadis penjual korek api yang mati karena dinginnya malam. Tidakkah hal itu terdengar sedikit ganjil? Maksudku kenapa sang pelaku memberi petunjuk kita seperti itu?” ungkap Myungsoo.

“Kenapa mayatnya berkeringat ya?” gumam sang gadis tanpa merespon perkataan Myungsoo.

Myungsoo berjenggit kaget, ia meneliti keadaan mayat. Benar, dahinya lengket seperti keringat.

“Hey nak! Menjauh dari TKP!!”

Well~ orang asing, sepertinya permainan detective-mu harus berakhir. Mari kita dengar hipotesis para polisi disini.”

Gadis itu melangkah menjauhi mayat, kemudian duduk diatas jalanan setapak yang berjarak 5 meter dari posisi mayat dan Myungsoo mau tak mau mengikuti gadis itu.

“Nak, terimakasih sudah menjaga mayat ini. Tapi apa kalian tadi sempat mengotak-atik mayatnya?” tanya seorang polisi bertubuh tambun dengan kumis lebat yang membuat bibirnya bergerak lucu saat sedang berbicara.

Myungsoo terdiam, bibirnya kelu seketika. Oh man! Apa yang harus dijawabnya? Jika ia berkata jujur sebuah jeweran pasti akan dirasakannya lengkap dengan tendangan pengusiran tapi ..kalau dia berbohong polisi pria berwajah merah bulat itu akan mencurigainya dan memasukannya ke dalam tersangka.

“Iya, kami hanya mencabut dua potong korek api saja, habis kami penasaran, tapi tenang saja kami memakai sarung tangan iya kan teman?”

Gadis itu menyikut lengan Myungsoo dan bodohnya Myungsoo mengangguk.

“Yaa!! Ini bukan permaianan ank kecil!! Ini berbahaya!!” Wajah sang polisi kian bertambah merah, kedua pipi serta ujung hidungnya kini berwarna semerah tomat.

“Maaf. Kami hanya terobsesi dengan Sherlock Holmes dan Lecoq,” ucap gadis itu dengan nada jenaka.

“Sherlock Holmes? Siapa dia?” Petugas tadi mengernyit bingung menimang-nimang apakah ada orang yang bernama Sherlock Holmes, namun detik berikutnya mata kecilnya hilang di balik lemak pipinya, membulat lucu, “Detective konsultan itu kan? Yang tinggal di jalan Baker Street? Dia memang cukup terkenal tapi menurut berita yang beredar dia sedang pergi ke Irlandia.”

Detective konsultan itu apa?” bisik Myungsoo tak mengerti.

“Diamlah,” respon gadis itu.

“Kami berdua ingin melihat secara langsung cara kalian bekerja, kami akan duduk diam disini dan tidak mengganggu kalian, jadi bolehkan?”

“Seperti keinginanmu Nona Bae.”

“Terimakasih Paman Dudley.”

“Paman?” ujar Myungsoo berbisik.

Gadis itu hanya mengangkat bahunya—sebagai apresiasi dari rasa penasaran Myungsoo.

Polisi yang diketahui bernama Dudley mengangguk mengiyakan sebelum tenggelam bersama keenam rekannya memeriksa mayat. Satu diantara polisi tersebut, menjerit saat menemukan kode yang ditinggalkan sang pelaku. Semuanya berkumpul, bergumam, mencatat, dan memotret mayat dengan seksama.

“Jangan-jangan ini perbuatan hantu anak kecil itu,” gumam salah satu dari mereka yang berbadan kurus tinggi.

“Jangan bercanda itu sudah sepuluh tahun yang lalu! Pasti ada yang memanfaatkan nama gadis malang itu,” ujar teman polisi si kurus.

“Hipotesis sementara sang korban mati sekitar 7 jam lebih yang lalu berarti diperkirakan waktu kematiannya antara pukul 00.00-01.00, korban mati akibat tusukan kecil di sekujur tubuhnya yang membuatnya kehabisan darah. Ia memakai piyama tidurnya dan tanpa alas kaki yang berarti ia sangat terburu-buru untuk pergi kemari. Tapi apa yang membuatnya kemari?”

Si Dudley mengkerut bingung, mata kecilnya bergerak lincah di sekitar mayat korban lalu beralih ke tong sampah, parit, jalanan, serta beberapa pohon disana. Tapi sang polisi masih memasang wajah masam.

“Benar-benar pembunuhan rapi,” gumamnya setengah frustasi.

“Ini identitas sang korban dan petugas yang berjaga tadi malam sedang menuju ke sini Sir.”

Dudley mengambil catatan dari bawahannya, tangan gemuknya menopang papan itu cemas. Yah seperti dugaannya, korbannya adalah seorang warga negara yang tak ada catatan buruknya.

“Paman Dudley kenapa kau tak membacanya keras-keras? Kami juga ingin tahu.”

Dudley menghela nafas panjang, ia menyesal tidak mengusir keponakannya dari TKP ini. Gadis itu akan menjadi cerewet jika terjadi kasus seperti ini.

“Namanya Marry Morstan berumur 67 tahun, beratnya 56 kg dengan tinggi 178 cm, dia tinggal di jalan Audley Court No. 46 Kenningston Park Gate, seorang ibu ramah tangga biasa, di temukan terakhir kali oleh anaknya saat akan ke kamar mandi. Hanya itu Bae.”

“Terimakasih paman.”

Myungsoo menatap tajam ke arah gadis itu, meminta penjelasan lebih. Sang gadis balik menatapnya penuh arti, seolah tahu akan kebingungan Myungsoo.

Sir, ini petugasnya namanya Athelney Jones”

Jones adalah seorang pria kurus kering, dengan hidung yang mancung serta tulang pipi yang terlihat menonjol, kulitnya merah berbintik di penuhi keriput, matanya sayu menandakan ia sudah cukup lama tenggelam dalam kemelaratan. Ia memakai pakaian dinas yang kebesaran untuknya, ujung kemejanya dilinting ke atas sampai pergelangan tangan kurusnya. Di sela-sela jarinya menonjol sebuah cincin kawin polos.

“Ceritakan apa yang kau lihat pada pukul 00.00-01.00.”

“Aku melihatnya sir, Mr. Thaddeus Sholto dia yang membunuh Mrs. Marry!” pekik Jones bersemangat.

“Apa kau melihat dia membunuhnya?”

“Tidak Sir, tapi aku melihatnya pada pukul 00.20 sedang berjalan di sekitar sini. Kami tidak sengaja berpapasan dan kami sempat berbincang sebelumnya, ia mengeluh dengan pekerjaan yang menumpuk di kantornya membuat ia harus merelakan waktu tidurnya di kantor.”

“Apa dia sering mengeluh pada setiap orang?”

Dudley dan Jones refleks memandang Myungsoo begitu pemuda itu melemparkan pertanyaannya begitu saja.

Jones menggaruk tengkuknya lalu mulai berpikir, “Ya, dia memang sering menceritakan keluhannya pada siapapun.”
Mata tajam Duduley menghujam ke arah keponakannya meminta penjelasan lebih tentang pria muda berjambul di sebelahnya.

“Oh ini, ini teman baruku namanya….” Sang gadis melirik ke arah Myungsoo, meminta bantuannya.

“Arthur Myungsoo Small, kau bisa memanggilku Myungsoo.”

“Small? Kau anaknya Tuan Small si ahli bedah itu?”

“Ya, benar sir,” ucap Myungsoo tersenyum.

“Pangil aku paman saja, kalau tidak salah pamanmu si jenius James Damery, kan? Dia pernah bercerita sesekali tentangmu..Kalian tidak pulang? Ini sudah memasuki jam makan siang.”

“Kami akan pergi paman, sampai jumpa.”

Gadis itu melompat dari duduknya lalu menyeret Myungsoo dengan antusias. Di pertengahan jalan, Myungsoo menghentikan langkahnya menatap protes pada sang gadis.

“Kau siapa? Kau siapanya paman itu? Kenapa kau sok akra—”

“Aku akan menjelaskannya” potong sang gadis cepat.

“Namaku Bae Suzy Walcott, namanya sedikit aneh ya? Tentu saja, itu karena ibuku berdarah Korea asli dan hal itu yang membuat wajahku sedikit unik. Paman Dudley si polisi tadi adalah adik dari ayahku James Nick Walcott seorang ahli Kimia di sini. Rumahku di Lauriston Street No. 3 Peckham cari saja rumah besar berwarna hijau toska dengan kolam kecil yang terletak di bagian depan rumah, umurku delapan belas tahun dan masih bersekolah di Asrama Perempuan Payynslich. Kau sendiri siapa?” ujarnya panjang lebar

“Bukan Payynslich tapi Paynnslich kau harus menekankan huruf n-nya bukan y-nya.”

Oh baiklah tuan pintar, siapa namamu?” tanya Suzy agak tak suka.

“Namaku Arthur Myungsoo Small, mungkin sedikit ganjil pada kata Myungsoo. Ayahku menambahkan kata Myungsoo ketika umurku belum genap satu tahun, saat itu keluargaku ikut ayah pergi ke Korea di sana, aku terserang demam hebat lalu aku dibawa ke tabib yang bernama Park Myungsoo. Ibuku sangat berterimakasih untuk itu dia menyelipkan kata Myungsoo kedalam namaku. Wah jadi ibumu orang Korea? Ibuku pasti senang jika bertemu dengan ibumu. Umurku delapan belas tahun juga dan seratus persen masih bersekolah, tepatnya di Sekolah Umum Houndsditch, alamatku di Duncan Street No. 9.

“Jadi sekarang kita berteman ‘kan?” ucap Suzy gembira.

Myungsoo menggeleng, sungguh sampai kapanpun ia tak mau mempunyai teman perempuan. Baginya perempuan adalah makhluk paling menyebalkan dan paling merepotkan melebihi anjing tetangganya.

“Bukankah kita sudah berkenalan. Ayolah kenapa kita tidak berteman saja?  Kau tertarik dengan kasus pembunuhan itu ‘kan? Aku juga. Ayo kita pecahkan bersama-sama kasus itu.”

“Kau pikir ini permainan? Tidak, lupakan saja. Kau ini perempuan.”

“Memangnya kenapa kalau perempuan? Aku bisa mengorek lebih jauh tentang kasus itu dengan bantuan dari Paman Dudley,” ucapnya ketus.

“Untuk itu kita harus bekerja sama,” lanjutnya lagi dengan nada memohon.

“Kau yang memaksanya, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padamu,” cibir Myungsoo.

“Tenang saja. Aku akan menanggung resikonya, besok ada acara?”

Hemm. Aku harus menemani ayahku ke rumah Nona Violet Anderson seorang dokter muda yang rumahnya di sekitar sini, beberapa desas-desus menyebutkan bahwa Violet adalah wanita yang sangat ramah dan baik hati.”

“Boleh aku ikut?”

“Tapi—“

“Di sana kita akan membahas tentang kasus ini, Paman Dudley adalah seorang polisi tulen dia akan segera menyelediki kasus ini. Jam berapa kau ke sana?”

“Jam 10 pagi tapi jika telat mungkin jam 11 aku baru pergi,” ucap Myungsoo mulai berpikir.

“Aku akan ke sana sebelum jam 10. Tunggu aku, kalau begitu cukup sampai di sini saja aku harus segera menyelamatkan roti gandum cokelatku sebelum diambil Bella adikku. Sampai jumpa Myungsoo.”

Suzy berlari kecil melewati gang kecil yang tadi  dilewatinya.

“Katakan aku sudah gila!” pekik Myungsoo.

Apa yang akan di lakukan ayahnya jika ia ketahuan sedang menyelediki kasus pembunuhan? Oh pastilah asrama militer akan menantinya dan dia akan bertemu dengan orang-orang ambisius yang tak penting. Jangan! Jangan!

 

. || .

 

#FILE  3— Miss. Violet Anderson

 

Myungsoo mengomel kecil begitu melihat syal beludru merah marun miliknya sudah tergeletak di kamarnya. Well sebenarnya syal itu milik ayahnya ketika kecil dan diwariskan kepadanya dengan sedikit paksaan tentunya.

Myungsoo menolak bukannya tanpa alasan, bayangkan saja warna syal itu sudah memudar  karena sering dicuci lalu terdapat noda hitam yang apabila dipakai akan menonjol.

“Ayah, aku tidak mau memakainya,” teriaknya dari bilik kamar.

“Terserah kau saja.”

Myungsoo mengulum senyum puas, ia mengambil syal beludru lain berwarna senada yang masih tampak baru. Dengan agak tergesa-gesa Myungsoo melilitkannya pada kemejanya dan melapisi kemejanya dengan jas tua kesayangannya.

“Myungsoo, ada temanmu.”

Myungsoo mendesah kecil, ia berjalan malas ke arah ruang tamu yang kini ada seorang gadis seumurannya dengan rambut yang diikat ponny tail dan dengan pakaian sejenis dengan yang kemarin hanya saja, sekarang ia memakai baju polos dan celana coklat.

“Pagi Myungsoo, wuah kau mau kemana?” ucapnya berpura-pura tak tahu.

Myungsoo mendengus, “Tentu saja pergi dengan ayahku.”

“Wah sayang sekali, padahal aku baru sampai di sini kalau begitu aku pamit pulang dulu bibi.”

“Ikut saja dengan kami hitung-hitung menemani Myungsoo di sana,” ucap Ayah Myungsoo ramah.

“Memangnya boleh paman?”

“Tentu saja. Ayo pergi aku sudah memanggil kereta.”

Ayah Myungsoo berjalan mendahului keduanya, ia melangkah keluar sambil menenteng tas lebar hitam yang disusul Myungsoo maupun Suzy.

“Apa yang kau bicarakan dengan ayah sampai dia rela mengajakmu pergi bersama? Dan kenapa kau harus berakting tak mutu seperti itu?”

“Hanya memujinya sedikit. Kau tahu Myung, sifat alami manusia yang selalu ingin dipuji itu benar adanya. Kalau aku bilang ‘kau sudah siap Myung’ apa tak terlihat mencurigakan dan dengan pakaianku ini menunjukkan ketidaktahuan akan kepergianmu. Aku pintar ‘kan?”

“Iya aku tahu,” ucap Myungsoo malas.

Suzy menaiki kereta kuda yang disusul Myungsoo. Kereta berjalan ke arah Lauriston Street. Membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di Lauriston Street No. 436, ternyata rumah Violet hanya berjarak 500 meter dari tempat kejadian pembunuhan yang menewaskan si malang Nyonya Marry Morstan.

Setelah membayar kereta seharga 10 penny ketiganya turun dari kereta dan mulai memasuki pekarangan rumah Violet.

Rumahnya sederhana, terdapat dua ayunan kecil di sekitar kebun yang seluruhnya didominasi oleh rerumputan hijau, pagarnya cukup rendah hanya sekitar satu meter, terdapat beberapa karat dan cat hijau yang mulai terkelupas di bagian  samping pagar, mungkin dia belum sempat mengecat ulang pagarnya.

Perlahan Ayah Myungsoo—Jonathan Small mengetuk pintu pelan, dan terlihatlah seorang wanita muda, pakaiannya sederhana tapi rapi. Wajahnya cerah, penuh ambisius, dan terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya. Gerak-geriknya cekatan sebagaimana layaknya seorang wanita yang terbiasa hidup mandiri.

“Mr. Jo apa kabar sir, lama tak berjumpa. Apa kau menerima telegramku? Aku benar-benar tersanjung kau mau mengunjungi rumah kecilku,” ucapnya ramah.

“Dan siapa mereka? Apa mereka anakmu, sir?” lanjutnya lagi.

“Dia anak laki-lakiku namanya Myungsoo dan itu temannya Suzy. Violet bisakah kita membahasnya sekarang? Karena nanti malam sampai sebulan kedepan aku harus mengajar anak-anak di London dan mungkin aku takkan pulang.”

“Oh Tentu saja sir, ayo kita bicarakan. Bagaimana kalau kita berbincang di ruang tugasku kebetulan semua objek serta datanya sudah kupersiapkan di sana dan lagi, aku ingin menunjukan sesuatu padamu.”

Nona Violet yang baik hati membawa ketiga tamunya ke ruang kerjanya mungkin bisa dikatakan sebagai ruang laboratorium kecil pribadinya yang terletak agak jauh di belakang rumah melewati kebun mini yang dipenuhi bunga dalam berbagai varian.

Ada satu bunga yang menarik perhatian Suzy, bunga itu di letakan dalam pot tersendiri yang berada agak jauh dari papan bulat dengan panjang hampir dua meter, warnanya merah muda dengan mahkota yang cukup kecil, daunnya berbentuk jarum, dan batangnya terlihat sangat lemah.

“Jangan dipetik, bunga itu namanya Nerium oleander sejenis bunga beracun. Getahnya dapat menyebabkan iritasi pada kulit bahkan kebutaan,” tahan Myungsoo.

“Darimana..kau tahu?”

“Beberapa waktu lalu guru botaniku dengan senang hati menjelaskan tentang tumbuhan beracun di dunia salah satunya bunga nerium oleander yang digemari oleh warga India Selatan sebagai alat bunuh diri.”

“Tapi untuk apa Violet memeliharanya?”

“Entahlah dia seorang dokter, kudengar ia sangat suka meneliti racun-racun tertentu mungkin sebagai referensinya untuk membuat penawarnya, who knows?”

“Berkaitan dengan Violet aku menemukan fakta baru, ia dijadikan tersangka nomor dua setelah Mr. Thaddeus. Karena kata petugas yang berjaga, ia melihat Violet sedang berjalan di sekitar tempat kejadian pukul 04.00, dia beralasan bahwa stetoskop miliknya tertinggal di rumah Mrs. Wachot jadi ia mengambilnya dan setelah di cek semuanya benar.”

“Lalu ada perkembangan apalagi? Dan darimana kau tahu semua informasi itu?”

“Aku membaca catatan resmi milik kepolisian Mayfield Yard, di sana aku juga membaca ketika di telusuri ternyata Mr. Thaddeus memang pernah terlibat pertengkaran kecil masalah hutang dengan Mrs. Marry, jadi menurut hipotesaku yang membunuh Mrs. Marry adalah pria bersolek itu.”

“Tapi ada yang sedikit ganjil. Tentang kode ‘RJTVB LIN’sa The Little Match Girls is back!’ apa artinya? Kalaupun Mr. Thaddeus yang membunuhnya ia takkan mau bersusah-susah menuliskan kode seperti itu karena dilihat dari kepribadiannya yang terbuka. Oh bagus kita tak menemukan petunjuk apapun kecuali kode.”

“Myungsoo!”

Teriakan ayahnya menggema di telinga pemuda itu, dengan cepat keduanya memasuki rumah kecil yang sudah disulap menjadi sebuah ruangan laboratorium. Warna catnya cream dengan beberapa bagian yang sudah terkelupas, ruangan itu seperti terbagi menjadi dua, di pojok kiri berjejer tabung-tabung cairan dalam beraneka warna sedangkan di pojok kanan, terdapat meja persegi dengan 6 kursi mengelilinginya.

Kedua iris Suzy berbinar cerah, melihat jejeran tabung yang berisi cairan maupun benda padat lainnya.

Miss, bolehkan aku melihatnya?”

“Tentu boleh.”

Suzy segera menarik lengan Myungsoo, entah ia ingin pamer kelebihannya di bidang kimia atau hanya sebenarnya ia hobi sekali menarik-narik lengan Myungsoo.

“Galium, Klorin, Alkali, Erbium, eh apa ini?”

Suzy menyentuh botol reaksi yang berisi serbuk halus berwarna merah muda. Alisnya mengerut tatkala ada note kecil menempel pada botol ‘Danger!’ ya kira-kira itulah tulisan yang masih di tangkap Suzy karena kalimat berikutnya terlampau kecil untuk dapat dibaca dengan mata telanjang.

Suzy mengambil kantong plastik kecil –yang biasa digunakan ayahnya untuk meneliti benda-benda padat— mengambilnya dengan sendok kecil lalu menutupnya dengan rapat dan menyimpannya dalam kantong celananya dengan hati-hati.

Manik Myungsoo menghujam langsung kearah manik Suzy menyebabkan sang gadis harus mendengus, sungguh ia terlanjur penasaran dengan serbuk merah muda yang baru ditemuinya jadi tak apa ‘kan jika ia harus mengambil serbuk itu? Lagipula ia mengambilnya dengan ukuran yang sangat sedikit jadi tak mungkin dokter muda itu tahu.

“Tolong rahasiakan ya, aku hanya penasaran sungguh!”

Myungsoo memutar bola matanya lelah. Sudah Myungsoo bilang wanita itu merepotkan.

Mata tajamnya menemukan sesuatu di antara botolan tabung reaksi.

Aissh,” dengusnya begitu mengetahui benda itu hanya revolver yyang terbuat dari kayu lunak yang biasa digunakan anak kecil sebagai permainan tembakan. Namun lubang pada sisi atasnya, tempat untuk meletakan peluru lebih lebar daripada umumnya.

“Eh? Bahasa apa ini?” tanya Suzy sebal begiu membaca sebuah buku tentang tanaman yang menggunakan bahasa asing.

“Coba kulihat…. ooh ini bahasa perancis.”

“Benarkah? Aku akan segera menelitinya. Kalau begitu kami pamit pulang.”

Suzy langsung mengembalikan buku yang cukup tebal di atas mejanya.

“Kenapa cepat sekali paman?”  tanya Suzy heran begitu melihat Ayah Myungsoo sudah mengenakan jas coklat serta topinya kembali.

“Dia hanya memberikan beberapa data, dan sedikit diskusi tentang bunga beracun lagipula aku harus segera pergi ke London.”

“Maaf meropatkanmu sir.”

 

. || .

 

#FILE 4— Surat dari teman baru yang hebat

 

Myungsoo menenggelamkan kepalanya semakin dalam ke tumpukan buku kasus pembunuhan. Ia mengobrak-abrik seluruh koleksi buku berharganya tentang Kriminalitas, Novel Detective, Kimia, Biologi, sampai Sejarah hanya karena kode sialan itu. Sungguh pembunuhan yang menimpa Mrs. Marry seminggu yang lalu membuatnya selalu terbangun di tengah malam.

Ia memijit keningnya hampir ingin menabrakan dahinya ke mulut tembok hingga rasa pening itu hilang well~ itu memang keinginannya tapi ia tak mau dengan bodohnya menyakiti kepalanya hanya karena teori tanpa dasar.

Myungsoo kembali memaksakan kedua bulir maniknya menatap fokus kederetan kata yang memanjang rapih hingga pangkal buku, mungkin Mr. Thaddeus sudah dinyatakan sebagai tersangka yang sah atas kasus mengerikan itu tapi demi tentara Inggris! Myungsoo tak bisa mempercayainya, ia mempunyai intuisi yang begitu meledak-ledak dalam dirinya menyatakan bahwa Mr. Thaddeus tidak bersalah, ia hanya dijadikan kambing hitam oleh sang pelaku.

Dan sekarang pertanyannya adalah…

Jika bukan Mr. Thaddeus pembunuhnya lalu siapa ?

Kini Myungsoo mengegeram frustasi, ia hampir melakukan ketololannya dengan menabrakan dahinya ke arah tembok dingin kamarnya, untunglah pintu kamarnya sudah diketuk dan nampaklah ibunya yang sedang berkacak pinggang kesal.

Oh Tuhan! Tentu saja dia marah.

Myungsoo sudah mengunci dirinya selama seminggu di kamar, ia hanya akan turun ketika jam makan tiba dengan alasan ia sedang belajar menghadapi Ujian.

“Myungsoo keluarlah bermain dengan teman-temanmu atau kau pergi berbelanja.”

“Tidak, terimakasih. Ada apa?” tanya Myungsoo cuek.

“Ini ada telegram dari temanmu, Suzy.”

Myungsoo tersenyum lebar, ia segera menyambar kertas berwarna coklat yang kemungkianan besar di tulis terburu-buru oleh Suzy terlihat dari pangkal kalimat yang mengabur.

Ia segera menutup pintu kamarnya sebelum ibunya menjerit karena keadaan kamar Myungsoo yang mendekati kata mengenaskan.

 

 

Dear, Myungsoo.

Maaf aku tak bisa menemuimu aku sedang menyelediki serbuk milik Violet, ugh! sungguh sangat sulit menentukan serbuk macam apa ini. Tapi bukan hal ini yang ingin kukatakan padamu.
Aku baru saja menemukan fakta terbaru kasus Mrs. Marry, jangan tanyakan darimana aku mendapat infonya tentu saja dari paman terbaikku Dudley! Kau tahu demi kasus ini aku harus merelakan jamku dirumahnya dengan dalih  ingin bermain dengan anaknya yang sangat menyeramkan itu.

Ya ampun, aku terlalu berbelit-belit yah.

Baiklah, ternyata selain Mr. Thaddeus dan Miss Violet ada satu orang lagi yang kebetulan sedang berjalan-jalan melewati persimpangan itu kira-kira jam 3 pagi. Diketahui ia baru saja pindah dari Perancis, katanya ia ditinggalkan oleh kusir kereta di tengah jalan karena ada pemeriksaan dan ternyata kusir itu adalah pelaku perampokan bank, untuk itu ia meninggalkan kereta kudanya. Tentu saja wanita berumur 45 tahun yang bernama Jessica itu bingung bukan kepalang. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kerumahnya, untung saja ia masih hafal jalanan di sekitar situ.

Dan bagian kode itu, kepolisian sudah menyerah bahkan pamanmu yang dikenal jenius itu tak bisa mengartikan apapun.

Ah! Satu lagi, kata pamanku sikap orang yang bernama Jessica itu aneh. Bagaiamana kalau nanti malam kita menyeledikinya, kudengar dari pembantu rumahnya ia akan pergi kesuatu tempat.

Kau pasti bingung darimana aku mendapatkan informasi satu ini. Itu mudah hanya perlu bergaul dengan mereka dan merasa menjadi bagian dari mereka.

Aku tunggu kau di tempat meninggalnya Mrs. Marry pukul 10 malam ini, kuharap kau jangan terlambat, kalau kau terlambat kupastikan aku akan pergi sendiri.

Eh Myungsoo, aku juga menyelidiki tentang ‘Si gadis kecil penjual korek api’ kata kakekku sebelumnya memang pernah di temukan seorang gadis kecil yang pingsan di dekat toko permen Lauriston Street, tapi entah apa yang terjadi selanjutnya pada gadis kecil itu.

Oh iya, saat aku mengingat-ingat kasus itu lagi.. rasanya kau pernah bilang bahwa batang korek api itu dikupas menggunakan cutter darimana kau tahu?

Salam hangat dari temanmu yang terhebat

Bae Suzy.

 

Myungsoo hampir tergelak begitu membaca kalimat terakhir. Satu lagi fakta yang ditemukannya tentang seorang Bae Suzy dia adalah seorang penderita penyakit narsisme.

“Nona Bae, kau benar-benar menggelikan dan untuk pertanyaan terakhirmu aku tahu karena yeah, mudah saja ujung-ujung dari batang korek api itu halus dengan keruncingan yang sempurna jadi mungkin saja pelaku menyerutnya dengan cutter tajam.”

Myungsoo menggosok-gosokkan kedua permukaan tangannya.

Ini akan menjadi petualangan musim panas terhebatnya!

 

. || .

 

#FILE 4—Rahasia orang baru

 

Myungsoo berjongkok kesal dibawah lampu orange yang menjadi sumber penerangan di jalan Lauriston Street. Pemandangan malam ini sedikit mengerikan, tak ada kereta yang lewat lagi setelah pukul 9 ditambah lagi kabut putih yang semakin membuat bulu kuduk Myungsoo meremang.

“Cepat kesini.”

Myungsoo tersentak saat sebuah tangan halus menyeret lengan Myungsoo lalu berlari ke salah satu gang sempit.  Ia memicingkan matanya melihat sosok didepannya yang seenaknya saja menyeretnya tanpa permisi. Seharusnya Myungsoo dapat menebaknya dengan mudah begitu melihat rambut bergelombangnya.

Bae Suzy.

Memangnya siapa lagi kalau bukan gadis ‘tukang seret’ itu.

“Mau kemana kita.”

Ssstttt.”

Rasanya Myungsoo ingin menjitak kepala Suzy, berhenti bertindak sok misterius! Tapi sepertinya gadis bermantel biru kecoklatan itu sedang tidak bercanda.

Suzy berhenti ragu ketika langkahnya sampai pada ujung gang, ia menyandarkan tubuhnya pada tembok yang berbahan dasar batu bata berlumut. Myungsoo semakin geram melihatnya, kepalanya saja sudah pening lalu sekarang ia harus menghadapi petualangan tanpa sebab dan tanpa tahu arah tujuan yang jelas.

“Gila!! Kenapa kau memberiku pekerjaan sinting seperti ini!! Aku bahkan tidak bisa tidur sama sekali.” Teriakan seorang wanita paruh baya menggaung diantara rentetan toko berbau busuk yang disinyalir merupakan kawasan pertokoan daging.

Sssttt… kau bisa membangunkan setengah warga kota Birmingham,” ucap seorang pria dengan suara setengah berbisik.

“Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa tidur selama seminggu karena ini. Percuma saja algojo itu memberiku cuti jika ujungnya akan seperti ini.”

“Kuharap kau bisa mengerti, ayolah kau yang terbaik Miss. Jessica”

Suzy melebarkan pupil matanya, tak menyangka dengan nama yang barus disebutkan oleh pria yang hanya tampak bayangannya saja dari tempat persembunyian mereka.

Sedangkan Myungsoo tengah bersikeras melihat rincian yang melekat pada sang tubuh pria melalui bayangannya, tak ada yang ditangkapnya kecuali sang pria memakai mantel hingga menutupi pinggangnya dan topi kecil yang di sematkan di kepalanya miring ke depan yang berarti dia tak ingin seseorang melihat wajahnya.

“Ini yang terakhir! Aku tak mau kau memberiku pekerjaan dihari liburku. Kau bisa menguras masa tuaku,” pekik wanita yang bernama Jessica dengan nada sebalnya.

Bayangan sang pria berbalik, bayangannya perlahan mengecil hingga tak terlihat lagi.

Awww.” Suzy terpekik saat tanpa sengaja jarinya menyentuh paku bekas yang tertancap pada batu.

“Sial!” gumam Myungsoo.

Keringat dingin mulai bermunculan pada dahi Suzy. Damn! Damn! Dia pasti akan digantung oleh wanita tua itu, oh jangan Tuhan! pekiknya dalam hati.

Langkah sepatu boot mulai terdengar semakin keras, mendekat ke arah mereka, Suzy dapat melihat dari tembok, bayangan sang wanita yang mengenakan topi lebar mulai membesar. Langkahnya pelan namun menyiratkan kehati-hatian tinggi.

Suzy tak tahu lagi bayangan apalagi yang terlihat karena dalam sekali gerakan Myungsoo sudah berada di depannya dengan jarak yang terbilang sangat dekat dan detik berikutnya bibir Myungsoo sudah menyentuh permukaan bibir tipisnya.

Jantung Suzy melompat-lompat tak terkira antara gugup karena ia melihat dengan ekor  matanya sang wanita terus mendekat dan sapuan bibir lembut Myungsoo yang membuatnya semakin panas dingin.

‘Siapapun tolong aku’ rutuknya dalam hati.

“Ya Tuhan! Anak zaman sekarang memang keterlaluan.” Terdengar lagi lengkingan suara cempreng dari sang wanita. Dapat Suzy rasakan sang wanita mendengus sebelum sepatu bootnya mengetuk-ngetuk menjauh.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Suzy marah.

“Maafkan aku, tapi kau tadi berteriak jadi aku melakukannya agar wanita tadi mengira kita sedang berkencan disini,” ungkap Myungsoo penuh penyesalan.

Tapi bodohnya ada perasaan lain yang menyerangnya dalam sekali hentakan, membuat hatinya berjumpalitan tak keruan. Perasaannya terasa berdebar ketika melihat kembali bibir tipis Myungsoo yang kini mengerut ke bawah.

Oh shitt!!” pekiknya lebih ke hatinya sendiri.

“Maafkan aku.”

“Lupakan kejadian ini atau aku—“

‘Akan menciummu kembali’ ujar Suzy dalam batinnya.

Oh katakan Suzy sudah tak waras! Sejak kapan ia berpikiran se-abstrak itu.

“Atau kau akan,” ulang Myungsoo dengan nada menggantung, “Apa?” tambahnya lagi.

“Aku akan membunuhmu,” ucap Suzy berpura-pura mengancam namun tanpa disadarinya ucapan itu lebih terdengar seperti seseorang yang sedang terkena salah tingkah mendadak.

“Maafkan aku tapi kenapa kau tadi berteriak?”

“Itu bukan hal yang penting sekarang, tapi satu fakta telah kita temukan ada yang aneh dengan Miss. Jessica,” ucap Suzy berusaha senormal mungkin.

“Untuk apa dia kemari pada pukul segini di gang sempit pertokoan ayam? Sepertinya urusannya sangat penting sehingga dia sudah memesan kereta kuda pada pembantunya. Lalu siapa pria tadi?” ujar Suzy.

“Suzy, kenapa kasusnya bertambah rumit?”

“Entahlah, tapi kita harus cepat pergi sebelum orang tua kita menemukan kamar kita tak berpenghuni.”

“Lalu serbuk yang kau teliti? Bagaimana perkembangannya?”

“Sulit! Sangat Sulit!. Petualangan yang menyenangkan. Aku tunggu kau besok  di sini pukul 10 pagi seperti biasa. Kita akan membahas lagi masalah ini, banyak sekali yang belum terpecahkan.”

“Tentu saja, bagaimana kalau kali ini di rumahku?”

“Baiklah sampai jumpa.”

Binar di mata Myungsoo kini bertumpuk kembali atas semua penjelasan gadis penggemar berat Paman James—Pamannya sendiri— Entah kenapa ia dapat melihat sosok cerdas dibalik sosok keusilannya itu.

“Jangan menatapku seperti itu!”

 

. || .

 

#FILE 5—Kode telah dipecahkan

 

Suasana pagi saat  itu dipenuhi kabut putih tebal yang menutup jalanan Duncan street, terlihat dari jendela kamar Myungsoo beberapa wanita muda tengah berjalan tergesa-gesa, pakaiannya berwarna coklat –Seragam khas para pekerja pabrik— Lalu ada beberapa gerombolan lelaki yang sedang duduk-duduk di toko kelontong kecil menikmati kopi pahit ditemani cerutu besar yang memang sedang mengalami penurunan harga secara drastis.

Dahi Suzy mulai berkerut bingung saat maniknya tak sengaja menangkap seorang wanita yang terbilang cukup tua namun masih saja bertahan dalam kesendiriannya  sedang berjalan tergesa-gesa, langkahnya lebar-lebar dan ada beberapa bagian mantelnya yang tesikap tak beraturan. Rambut hitamnya bergerak lincah di terpa angin pagi.

Suzy membelalak kaget saat sang wanita tadi mengangkat wajahnya menampilkan sosok yang ditemuinya kemarin di kantor polisi dan tadi malam di gang sempit wilayah pertokoan ayam.

“Myungsoo!” panggil Suzy setengah menjerit.

Myungsoo berdiri sigap mendekati jendela kamarnya yang bertirai coklat kemerahan. Senyum di bibirnya membentuk saat melihat Miss. Jessica tengah berbincang dengan seorang lelaki asing. Badan pria itu tinggi menjulang, wajahnya terlihat sangat menyeramkan jika dilihat dari jauh, ia memakai mantel merah mencolok.

“Ayo pergi.”

Keduanya berlari tertatih-tatih menuju sang pria dan wanita yang berada hanya di seberang jalan rumah Myungsoo, namun naas saat keduanya telah sampai pada gerbang putih kebanggan Tuan Small tak ada yang terlihat kecuali beberapa kereta kuda hilir mudik dan segerombolan pria yang sedang menikmati sesapan kopi indian yang sangat terkenal di toko kelontong itu.

“Sial! Kita kehilangan jejaknya lagi.”

“Benar-benar menyebalkan!!” pekik Suzy membuat tetangga Myungsoo Nyonya Dulich yang sedang terkantuk-kantuk di kursi goyangnya tersentak kaget.

“Aku bersumpah akan menangkapmu Miss. Jessica!!” pekiknya lagi.

Myungsoo berlari ke arah seberang yang menyebabkan Suzy harus memekik bingung dan ikut berlari ke tempat mereka melihat keduanya berdiri dengan gerakan mencurigakan.

“Jangan-jangan mereka sudah tahu kita sedang menguntit mereka.”

“Tidak mungkin. Jika hal itu terjadi gerak-gerik Miss. Jessica tak mungkin sebingung itu, ia pasti akan menutupinya dengan sikap tenang meskipun itu takkan membantu karena yeah, Miss. Jessica bukanlah seorang wanita yang bersikap tenang.”

“Darimana kau tahu?”

“Sikapnya kemarin malam dan hari ini menunjukan bahwa ia bukanlah gadis yang tenang.”

Aisshh! Jessica sialan! Aku akan membunuhmu!” pekik Suzy kesal.

“Kita berlari dari kamarku menuju pagar hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja, tapi kenapa mereka hilang? Kalaupun mereka berjalan pasti masih terlihat, terkecuali mereka penyihir. Tapi itu tidak mungkin karena penyihir sudah dimusnahkan sejak berabad-abad lalu. Lalu kemungkinan kedua, mereka menaiki kereta kuda mungkin sedikit logis tapi paling tidak kita seharusnya tahu saat mereka mulai meninggalkan tempat ini, tetapi tak ada kereta kudapun yang mulai berangkat, semuanya hilir mudik jadi kita beralih ke kemungkinan yang terakhir dan sepertinya cukup logis adalah mereka pergi ke sekitar sini.”

“Kemana? Ke gang sempit di sebelah toko roti? Di toko sepatu? Atau malah pergi ke rumah salah satu penduduk di sini? Terlalu banyak kemungkianan yang terjadi Myungsoo! Tak mungkin kita mencarinya satu persatu pasti mereka akan sedikit curiga karena mungkin kita akan membuat sedikit kegaduhan,” ujar Suzy bingung.

Myungsoo mengigit bibir bawahnya, matanya setengah menerawang ke arah langit biru yang sudah mulai tampak karena kabut mulai menipis, dahinya berkerut-kerut membentuk garis-garis. Sebuah kebiasaan jika ia sedang berpikir keras.

“Myungsoo,” panggil Suzy ragu.

Myungsoo memandang wajah kebingungan Suzy sendu, ia menggeleng pelan lalu mengigit bibir bawahnya meluapkan segala kekecewaan pada dirinya. Entah kenapa rasanya otaknya benar-benar sudah buntu untuk menemukan jalan yang benar agar kasus pelik ini terselesaikan tanpa cacat.

“Tak apa, kau pilih yang mana Tuan Detective?” tanya Suzy sedikit menggoda.

Myungsoo menggeleng lemah.

“Bersemangatlah! Jika bukan hari ini, kita bisa menangkap penjahatnya esok hari, jangan khawatir jika gagal kita masih ada hari esok dan esoknya lagi. Sebelum kita benar-benar siap berhadapan dengan sang penjahat’ kita harus tak takut lagi akan terjatuh,” ucap Suzy mencoba menyemangati.

Ada perasaan aneh yang mulai menyelubungi hati Myungsoo, rasanya seperti ada sebuah selendang sutera hangat yang membungkus hati pipihnya. Dan ada dorongan kuat yang membuat dagunya mulai tegak beridiri, tersenyum bodoh ke arah Suzy yang kini memancarkan semangat yang anehnya membuat gelora api dalam benaknya terbakar kembali.

“Terimakasih,” ucap Myungsoo tulus.

“Mau mencoba sepatu Nona Bae?”

“Oh tentu Tuan Detective dengan senang hati,” ucap Suzy dengan senyuman hangatnya.

Myungsoo dan Suzy memasuki sebuah toko sepatu yang terkenal dengan kualitas rendahan dengan harga miring. Toko ini menjual sepatu bekas maupun sepatu lama yang tak laku-laku akibat krisis moneter beberapa tahun yang lalu, toko ini banyak di gemari oleh masyarakat golongan bawah. Baunya seperti toko kelontong busuk yang terendam ikan asin selama seminggu. Ukurannya tak terlalu besar namun berukuran layaknya toko biasa. Disana sini terdapat beberapa sepatu yang masih baru hanya saja dipenuhi sedikit debu.

Saat memasuki toko itu, keduanya langsung disambut dengan tatapan ramah khas penjilat oleh pelayan toko lelaki berwajah kecil. Bibirnya tebal, rambutnya keriting hitam dan ada tahi lalat sebesar biji semangka di atas bibirnya. Ia tersenyum geli begitu melihat Myungsoo dan Suzy datang ke toko tuannya.

Tampak ada seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahunan yang sedang menggandeng anaknya berbisik pelan pada temannya. Ekor matanya melirik kedunya tak suka, beberapa saat kemudian temannya tertawa terpingkal-pingkal sambil melihat keduanya, sang lelaki tersenyum puas melihat temannya tertawa hingga ia harus memegangi perutnya.

Myungsoo tak yakin dengan apa yang dibicarakan oleh sang lelaki itu, namun ia berprasangka lelaki berkulit sedikit coklat mengkilap itu sedang mentertwakannya karena ia berada diantara tumpukan barang baru yang berdebu. Memang salah? Mungkin dimata si lelaki tadi sedikit ganjil karena, sungguh hal yang aneh melihat dua orang berpakaian bagus hinggap di toko tak layak seperti ini.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya si pelayan mengaburkan lamunan Myungsoo.

“Oh itu… itu..,” kata Myungsoo mulai gelagapan.

“Aku ingin mencari sepatu, kudengar meski sepatu disini sudah berdebu dan terkadang bekas tapi ketahanan serta keawetannya mengalahkan sepatu baru yang biasa di pajang di Toko Hardy Hunter.”

“Benar, benar sekali. Anda memang pintar memilih barang yang berkualitas. Aku akan mengantarkan anda ke deretan sepatu termewah di toko kami. Ada satu yang masih benar-benar terlihat baru karena baru disimpan sekitar delapan bulan yang lalu.”

Suzy mengendikkan dagunya bangga meminta pengakuan resmi dari Myungsoo yang kini sedang mendengus kesal.

“Akan saya carikan barangnya, dimana ya… kurasa di sini ah atau di sana,” ucap pelayan tadi yang mulai sibuk mencari sepatu yang dimaksud.

“Tak perlu terburu-buru lagipula mungkin aku akan lama di sini,” ucap Suzy.

“Lalu selanjutnya apa?” tanya Myungsoo setengah berbisik.

“Carilah sesuatu yang mencurigakan di ruangan ini dan cepat kembali. Kita harus mengecek toko lainnya.”

Myungso mengangguk, ia berjalan pelan menelusuri bagian-bagian rak sepatu yang berjejer. Di bagian sepatu kelas ekonomi terendah ia bahkan menemukan sepatu-sepatu yang tak di bersihkan sama sekali begitu keluar dari gudang, ia dapat melihat tebalnya debu atau banyaknya sawang yang ada di dalam sepatu.

“Kau yakin ini berhasil?” tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari sebuah pintu yang di sinyalir merupakan ruangan kerja pemilik toko ini.

Sang pria asing dengan jenggot putih sepanjang  dada mengangguk-angguk seolah meyakinkan keraguan yang terpancar pada seorang wanita yang Myungsoo duga bernama Jessica.

Teman Jessica, pria yang persis seperti ciri-ciri dilihatnya beberapa saat yang lalu mengangkat sebotol kecil serbuk berwarna putih.

“Sekecil ini?” tanya sang pria masih enggan percaya.

“Percayalah, jika ini tak berhasil aku masih mempunyai lusinan obat sejenis.”

“Gila! Kau pikir manusia itu hewan apa?!!”

Pria berjanggut itu tertawa keras seolah yang baru saja di lontarkan oleh Jessica merupakan lelucon lucu.

“Kupastikan obat ini akan berhasil. Jika tidak, kau boleh membawa revolver besarmu ke tokoku dan menembak kepala besarku.”

“Jangan bercanda!” ucap Jessica dingin.

Myungsoo tersenyum miring,  “Mata rantai telah ditemukan,” gumamnya gembira.

Ia kembali ke tempat Suzy yang sedang tersenyum terpaksa saat pelayan tadi mencoba memasukan sepatu baru –menurut sang pelayan— yang terlihat 3 nomor lebih kecil dibanding ukuran kaki Suzy dan hal yang membuat Myungsoo ingin tertawa sekeras-kerasnya adalah wajah Suzy yang masih tersenyum menahan sakit pada ujung jarinya yang ditekuk-tekuk oleh sang pelayan yang kini sedang memasang wajah serius.

Well Suzy..” panggil Myungsoo penuh kemenangan.

“Kau memang  pintar,” lanjutnya lagi masih dengan senyum yang membuat guratan kesal bertambah di wajah tirus Suzy.

“Baiklah, aku pilih ini. Mungkin tak muat dengan kakiku tapi sepertinya akan muat dengan kaki adikku.”

Pelayan tadi setengah meloncat berjalan ke arah  meja besar yang terletak agak jauh di pojok sana. Ia membungkusnya amat cepat, mungkin jika ada turnamen membungkus paling cepat dialah pemenang nomor satunya.

“Apa yang kau dapat?

“Sesuatu yang brilian.”

“Berhentilah sok misterius kau tak cocok dengan itu,” ucap Suzy masih kesal.

“Kita bahas di rumah, dan hitung-hitung mentraktirmu, aku akan membelikanmu sepatu yang kau pilih ini. Seleramu tak buruk juga,” gurau Myungsoo.

“Berhenti menggodaku.”

Setelah membeli sepatu, keduanya kembali bergegas ke rumah Myungsoo menyelesaikan potongan puzzle yang rasanya sudah semakin terhubung.

Suzy langsung mengambil tempat untuk duduk di sebelah Myungsoo, melihat fokus ke wajah pemuda itu yang kini terlihat sedikit memerah pada kedua pipinya.

“Ayo ceritakan.”

Ehkemm jadi begini,” ucap Myungsoo mulai mengembalikan nadanya menjadi biasa.

“Pelaku kasus pembunuhan Mrs. Marry Morstan bukanlah Mr. Thaddeus seperti perkataanku di awal, kemungkianan terbesarnya adalah Miss. Jessica  Hosmer yang baru saja pindah dari Perancis. Mari kita hubungkan kemungkinan-kemungkinannya. Kau tahu ‘kan Gadis penjual korek api? Anggaplah kisah itu benar-benar terjadi dan dalam kasus manapun aku belum pernah menemukan artikel yang membahas tentang kematian si gadis penjual korek api, kalau memang begitu ada kemungkinan si gadis kecil masih hidup dan ditemukan oleh seseorang.”

“Lalu?” tanya Suzy penasaran karena Myungsoo menghentikan aktivitas mengocehnya.

“Menurut pendapatku meski sejujurnya aku masih sedikit ragu akan hal ini. Jessica, gadis itu kembali lagi ke tanahnya berasal hanya untuk membalaskan amarahnya sepuluh tahun yang lalu. Diketahui menurut cerita dongeng yang dulu pernah ku telusuri, bahwa si gadis pernah ditertawakan secara tidak sopan oleh seorang wanita dan kemungkinan besarnya wanita itu adalah Marry Morstan, lalu ada lelaki yang seumuran dengannya yang menendang keranjang miliknya dan terakhir ada laki-laki yang bertindak tidak manusiawi mengusir si gadis kecil itu dari teras rumahnya dan akhirnya dia terpaksa harus pergi, mungkin saja dia ditemukan oleh seseorang yang baik hati dan mau menampungnya.”

“Masuk akal sekali Tuan Detective. Lalu kode itu?”

Myungsoo tersentak, rasanya seperti ada aliran listrik baru saja menyengatnya hingga membuat jantungnya terpompa kaget.

Buku itu!! Bodoh! Seharusnya dia ingat!

Myungsoo bergerak lincah ke tempat penyimpanan mainannya ketika kecil, mengobrak-abrik beberapa tumpukan buku usang.

“Ini dia! Buku tentang kode-kode.”

Myungsoo membuka perlahan buku itu, mengingat-ingat kira-kira pemecahan kode apa yang pas untuk peristiwa ini, karena di buku setebal kira-kira 100 halaman terdapat berbagai macam kode serta cara pemecahannya.

“Kurasa ini,” ucapnya tersenyum.

“Bacakan kode itu lagi, Suzy”

RJTVB LIN’sa The Little Match Girls is back!’” ucap Suzy masih dengan tampang bingung.

“Menurutmu tahun berapa si gadis penjual korek api mengalami kejadian yang diceritakan dalam dongeng?”

“Mungkin sekitar tahun 1880, kalau tidak salah.”

“Natal tanggal 25 Desember ‘kan?”

“Iya. Lalu kenapa?”

“Jika aku tak salah, maka 25 Desember 1880 adalah hal yang dianggap penting oleh sang pelaku. Jadi jika aku cocokan seperti ini maka….”

Myungsoo mulai mengotak-atik kode tersebut dengan pemecahan kode tanggal yang biasa digunakan para penjahat terdahulu untuk berkomunikasi satu sama lain.

Pemecahannya mudah, Myungsoo mengambil tanggal 25 Desember 1880 (25-12-1880) tanggal yang dianggap penting oleh sang pelaku lalu mencocokannya dengan kode itu dan mengurangkan sesuai dengan angka yang ditunjukkan. Sebenarnya teknis yang di lakukan mudah, namun resiko terjadinya kesalahan sangatlah besar.

 

R J T V B  L I N’s a
2 5 1 2  1   8 8 0

 

Jika dalam membuat kode dengan menambahkannya maka, dalam penyelesaiannya menggunakan arah yang berlawanan yaitu mengurangkannya.

 

R – 2 = P
J – 5  = E
T – 1 = S
V – 2 = T
B – 1 = A

 

L – 8 = D
I – 8  = A
N – 0 = N
s
a

 

Karena huruf ‘s’ dan ‘a’ tidak mempunyai pasangan maka dibiarkan seperti itu.Kata yang terbentuk adalah…

“PESTA DAN’sa?” eja Myungsoo berdasarkan kode yang ia pecahkan.

“Ya Tuhan! Malam ini, Myungsoo malam ini,” teriak Suzy mirip orang setengah sinting.

“Apanya?”

“Pesta dansa. Pesta dansa yang dimaksud mungkin  pesta pertunangan Miss. Violet dengan seorang pengusaha pemintalan benang, siapa namnaya … ah! Addy…. Addyson….. Addyson Haynsworth!. Benar, namanya Addyson Haynsworth!” ucap Suzy terburu-buru.

“Tadi pagi saat aku ingin kerumahmu aku menerima undangan ini dari seorang laki-laki berwajah bulat dan besar, bentuk wajahnya kotak dan kedua lubang hidungnya sangatlah besar. Karena di rumah sedang tak ada orang dan aku sedang terburu-buru, jadi aku membawanya kemari. Coba kita lihat jam berapa pesta dansa di selenggarakan. Jam delapan malam ini, bagus Myung! Kita mempunyai waktu untuk menguntit Miss. Jessica jadi kita bisa tahu apa yang direncanakannya.”

“Bagaimana kalau kita tidak diundang? Maksudku hanya kau yang diundang tetapi keluargaku tidak?”

“Tidak mungkin. Ayahmu dekat dengan Miss.Violet pasti keluargamu diundang meskipun ayahmu sedang bertugas, dan yang kudengar dari beberapa anak perempuan tetanggaku, semua orang di Lauriston Street diundang. Ini akan menjadi pesta dansa sekaligus pesta pertunangan termegah Myung, kau harus ikut.”

“Kita akan mengungkapkannya di depan publik tentang kebenaran kasus itu, benar kan?”

“Ya dan kita akan menyeret si gadis kecil untuk keluar dari persembunyiannya. Oh Myungsoo, aku benar-benar tidak sabar untuk mengungkap kasus ini segera.”

Well~ Mari berharap semuanya berjalan sesuai rencana”

 

 

To Be Continued…..

 

Bukannya publish sequel Manekin malah publish ini hahaha 😀 ga papa lah. Okey fic detective story pertama dariku. Mohon reviewnya yaaa ^^

please jangan komen keren (y) daebak. Atau komen satu kalimat. Give me long coment just for this fic please. 

[Note : Siapa yang bisa bikin poster yaa? Kalau ada yang bisa bikin mau buatin cover ff ku engga?] Thankyuu

Iklan

24 respons untuk ‘A Case

  1. ohmy keren banget, panjang lagi. Puas gitu bacanya, kirain OS tapi enggak mungkin juga karena pemecahan teka-tekinya panjang banget.
    Hm, itu teka-tekinya daebak banget(aku juga berpikiran seperti itu sih,kalo sebenernya tersangkanya itu si gadis korek api. Tapi kok, tadi aku baca malah sih laki misterius itu yg malah nyuruh ms. Jessica buat lakuin sesuatu atau malah si laki misterius udh tau ms. Jessica siapa dan dia malah minta bantuan utk ngancurin pesta pernikahan ms. Violet??. Dan kalo ms. Jess bener tersangkanya, lalu nasib yg terjadi sama si lelaki penghardik anak kecil itu gimana?) yang buat author sendiri atau ambil dari kisah lain?#bikin nambah wawasan juga baca kaya begini, daripada yg romance.
    Aku penasaran, kira2 part selanjutnya bakal panjang egk yah?. Aku selalu suka ffmu thor, karna panjang(bikin seru) dan ceritanya menarik.
    Ditunggu lanjutannya

  2. Salam kenal ya,,new reader!!
    Jarang2 ney nemu ala detektif2an,,agak pusing sih sama teka-tekinya tapi ini petualangan yang seru banget kayaknya!!
    Eh,,ini ciuman pertama mereka n masing2 dah pernah ciuman kah??#plak salah fokus
    gimana sama pesta miss violet ya??wah penasaran,,apakah tebakan mereka bakal bener ya??
    Fighting ne,,thx

  3. waaaaa genrenya beda dari yang biasa aku baca ~ rasanya kaya baca novel misteri gitu.
    pelakunya udah fix jessica atau ada perubahan nih padahal aku.pikir pelakunya miss violet

  4. Terlalu bnyk terduga bkn ksusnya jd rumit…seandainya jessicanya adalah pmbnh aslinya…knp dia membeli racun di pak jenggot tua…mlht ekspresi jessi saat mnrima bubuk itu…aku g ykn dia pembunuhnya…gegege mian ini hny pmkiran lho

  5. aigoo panjang banget thor..aku kira ini bakal jadi oneshoot xD bagus banget ceritanya..bikin orang penasaran sama tekatekinya ,next part sangat ditunggu thor fighting! ^^

  6. aaaaaaaaaaaaaah ff ini benar benar menguras otak saat membacanya wkwk
    jujur ini aku kaya bukan baca ff kenapa? karena bahasa yang digunakan disini terkesan berat dan bahasanya tergolong ke dalam bahasa yang biasa digunakan di novel terjemahan detective pastinya,, soalnya aku pernah baca yang sherlock dan bahasanya well ya gini kadang sedikit sulit untuk di pahami,,

    tapi bagus ko authornim ff nya,, berkualitas ini ff nya ;)) ditunggu yaa pesta dansanya ;)))

  7. aku belum beres bacanya, cuma aga gatel penengen protes soal author mendeskripsikan uri suzy “wajahnya tirus”
    ommo myung kiss suzy (♡・~・)ε・♥)
    sejauh ini ceritanya seru

    lanjut baca lagi (♥^_^♥)

  8. bagus loh penasaran jadi pelakunya itu miss jessica gitu,tp serbuk itu dr.violet itu loh aku masih penasaran apa sama ky suserbuk putihnya?,penasaran gimana dua sherlock itu membongkar semuanya…

  9. Daebak thor ff nya, suka ama latar ama alurnya. Terkesan yg baca ikut masuk dalam cerita
     gadis korek api itu jusicca?
    Serbu, serbuk yg di teliti suzy itu serbuk ?
     mereka bisa membongkarnya?

  10. OH DAMN! this fucking awesome aw!♡ pas banget aku lagi suka fiksi berlatar bangsawan atau kehidupan inggris jaman dulu>____< dan aku rasa ini fiksinonline pertama yang akubbaca dengan latar itu!
    dan ohmy , nyelipin muka myung ama suzy disini itu loh kenapa bisa masuk lol
    mungkin sedikir review mungkin apa ga itunya suzy make gaun? karna yang aku baca dari beberpaa fiksi jaman dulu pake gaun gitu hihi

    nice fiction, keep writing author-nim!♡

    1. Hallooo Bienca /?/ ((SKSDmodeon)) Ihhh makasih bangeet buat long komenmu sebelumnya…
      Wuahahaha makasih yaa ❤

      btw btw itu yang suzy make gaun itu sebenernya jaman dulu udah ada kok. Tapi ini lebih ke long dress yang kaya princess2 itu tapi namanya ga tau… ((Eh kayaknya aku yang salah nangkep maksud kamu xixixi XD))

      Oke makasih yaaaa Bienca ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s