[GOT7-Suzy series : Jackson Version] Pregnant?

pregnant

Credit poster: CL @ School Art Graphics

 

.

.

 

[GOT7-Suzy series : Jackson Version] Pregnant?

 .

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Tittle : Pregnant? ||Author: Fanficfunny || Main Cast : Bae Suzy Miss A and Jackson GOT7|| Supp. cast : Im Jaebum, Choi Yongjae, Mark Yi-Tuan, Park Jinyoung / Jinyoung, Kang Jiyoung, Jung Soojung ||

.

Genre : Romance, comedy, friendship, ooc absurd!|| Duration : Oneshoot|| Rating : PG-13
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

Summary :

Jackson rela jika harus menukarkan alam semesta demi istri dan bayinya.

.

.

Inspired by ABOB by Hangukffindo.
You must read

 

 

***

 

Jackson tertawa keras nyaris meraung malah tapi toh apa pedulinya pada sekitar puluhan orang yang sedang melihatnya dengan tatapan takut sekaligus kesal. Takut karena mengira Jackson adalah orang gila hilang yang baru saja diumumkan petugas rumah sakit di kantornya. Kesal karena ia baru saja tertawa yang membuat beberapa rekan kerjanya tersedak secara bersamaan dan mengantri air secara bersamaan.

Jackson kembali berjalan ke dalam ruang informasi yang biasa digunakan oleh beberapa orang untuk mengumumkan sesuatu. Sebelumnya ia berdehem kecil, lalu membetulkan kerah bajunya, lengan bajunya dan tak lupa membersihkan sepatu barunya dari noda yang menempel. Ia mendudukkan dirinya pada kursi dengan penuh gaya.

 

Tess… Tess….

 

Cengiran bodoh langsung merayapi wajah besarnya begitu ia dapat melakukan tes pada microfon kecil di depannya.

 

Muahaha… Haii.

 

Jackson merutuki awal kalimat yang ia pilih. Tertawa dan sapaan hambar memang bukanlah hal lazim yang ia dengar saat informasi penting akan keluar dari speaker kantornya terkecuali hari ini. Karena ini adalah hari paling membahagiakan dalam diri Jackson. Pokoknya paling,  paling dan paling sesuatu dalam hidupnya.

 

Muahahaha (Bisakah kau tak mengawalinya dengan tertawa Jackson? Kau bahkan mirip dengan nenek sihir!) Aku hanya ingin membagikan rasa senangku pada kalian. Kalian tahu? ISTRIKU HAMIL HAHAHAA ISTRIKU HAMILL,” teriak Jackson sambil memegangi microfon kecil kuat-kuat.

…………………

 

Muahaha Aku hanya ingin membagikan rasa senangku pada kalian. Kalian tahu? ISTRIKU HAMIL HAHAHAA ISTRIKU HAMILL

 

Tak ada yang bersorak saat para karyawan mendengar pengumuman gila Jackson. Tak ada yang juga berani mengomentari kegilaan bos mereka itu, yang ada hanya sebuah wajah muram sekaligus kasihan. Muram karena mereka harus bekerja pada seorang bos setengah sinting dan kasihan secara bersamaan pada istrinya yang pasti sekarang ini sedang menangis menjerit-jerit karena menikah dengan orang berkepribadian miring.

“Kasihan Suzy pasti sekarang sedang depresi mempunyai lelaki segila Jackson,” ucap Baekhyun—salah satu manager di Wang Corp—yang langsung diangguki oleh beberapa orang yang tak sengaja mendengar penuturan Baekhyun.

“Semoga dengan kelahiran anak pertamanya Jackson bos menjadi sedikit waras,” ucap Chanyeol yang langsung diamini oleh seluruh karyawan.

Namun di pantry tengah ada seorang lelaki yang lari tunggang langgang sehabis mendengar berita bahagia itu. Ia berlari dengan segenap kekuatannya dan melupakan kopi yang sedang dibuatnya karena para OB sedang sibuk bekerja.

“Jackson!!” teriaknya di ruangan petinggi Wang Corp itu.

Oh Jinyoung hyung! Kenapa kau terburu-buru? Kau sudah mendengar berita bahagianya? Lalu Bagai—“

“JACKSON!! BAGAIMANA BISA KAU MERAWAT BAYI?!”

“Oh man! Santai, santai. Aku bisa merawat bayi.. karena aku seorang ayah. Kau tahu kan?”

Jinyoung memutar kedua bola matanya acuh. Ia sedikit khawatir Jackson akan mencelupkan bayinya saat memandikannya ataupun tak sengaja mengajak bebek betulan untuk mandi bersama bayi kecilnya. Oh baiklah sepertinya Jinyoung terlalu kelewatan, bagaimanapun Jackson masih waras dan itu tak bisa terbantahkan karena buktinya ia bisa menjadikan perusahaan keluarganya menjadi salah satu perusahaan terbaik di korea yang untungnya mematahkan mitos bahwa Jackson akan membakar perusahaan itu saat pertama kali menduduki kursi direktur utama.

Tapi ini berbeda dari perusahaan berumur lima tahun. Ia akan mengurus bayi tapi tunggu… bayinya baru akan terlahir sembilan bulan lagi jadi ia tak perlu sekhawatir ini karena ia dan teman-temannya bisa dan harus bisa mengubah Jackson menjadi lebih waras.

 

 

…||.||…

 

 

Jinyoung, Jaebum, Mark, dan Yongjae sudah bersiap dengan majalah mereka. Di depannya tengah duduk Jackson yang sedang memandang keempat temannya bingung.

“Jadi sebagai calon ayah kau harus mempersiapkan segalanya.”

Jackson langsung bernafas lega begitu Jaebum mulai angkat berbicara, ia kira ia akan diapakan oleh mereka berempat.

“Tenang saja, aku sudah menjadi ayah yang baik. Kalian tak perlu khawatir,” ucap Jackson santai.

“Tidak bisa!”

Jackson terperanjat begitu melihat wajah serius mereka dan jawaban mereka yang mantap.

“Kau harus mengikuti apa yang kami perintahkan. Ini kami sudah merangkumnya.”

 

8 cara menjadi calon ayah yang baik

  1. Perhatikan istrimu dengan baik saat dia hamil
  2. Saat dia mulai merasa mual cepatlah membeli obat mual untuk ibu hamil.
  3. Biasanya pada bulan-bulan tertentu sang istri akan meminta yang macam-macam maka turuti semua keinginannya kecuali jika dia ingin memintamu bunuh diri atau ayah yang baru.
  4. Sarankan pada istrimu untuk mengikuti senam bagi ibu-ibu hamil. Sang istri akan senang jika suaminya sangat perhatian.
  5. Temanilah istrimu check up
  6. Saat hamil biasanya istri akan lebih banyak mengomel dan suka menyuruh seenaknya saja. Lebih baik turuti saja karena membiarkan ibu hamil marah-marah tak baik bagi kesehatan bayinya
  7. Saat kandungan sudah mencapai umur tua, persiapkanlah barang-barang yang dibutuhkan saat proses persalinan dan belilah perlengkapan bayi.
  8. Siap dan sigaplah jika istri anda merasa mulas atau air ketubannya sudah pecah. Jangan panik terlebih dahulu

 

 

 

…||.||…

 

 

[Bulan Pertama]
[Perhatikan istrimu dengan baik saat dia hamil ]

 

Jackson memasang baik-baik perintah keempat teman-temannya di tembok kamarnya.

“Apa itu?” tanya Suzy heran.

“Cara agar aku bisa menjaga kehamilanmu,” jawab Jackson berbangga diri.

“Banyak sekali daftarnya.”

Jackson hanya menggangguk, setelah berhasil menempelkan catatan itu ia kembali ke tempat tidur lalu tidur di samping Suzy— istrinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Suzy heran.

Perhatikan istrimu dengan baik saat dia hamil,” ucap Jackson sambil menunjuk salah satu point yang tertera di dalam kertas. Suzy yang tahu akan hal itu hanya terkekeh kecil.

“Kalau begitu perhatikan aku dengan baik, Oppa” ucap Suzy tertawa kecil.

Suzy menguap kecil, maniknya tak sengaja melihat pergerakan jam dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ia mengecup kening Jackson sebelum berhasil terlelap dalam tidurnya dan Jackson sendiri masih tetap bersikukuh memperhatikan dalam hal terus melihat Suzy.

 

(Sepertinya Jackson sudah salah paham.)

 

Suzy menguap kecil begitu menyadari mentari merasuk ke dalam kamarnya, ia menggeliat kecil—sedikit lebih malas dibanding sebelumnya untuk segera bangun dan pergi menyiapkan sarapan untuk Jackson. Maniknya kembali beralih menatap jam dinding yang kali ini menunjukan pukul lima pagi.

“Jackson Opp—Ya Tuhan!” teriaknya begitu melihat Jackson masih menatapnya dengan senyuman lebar. Terdapat kantung mata yang begitu kentara diantara kedua kelopak matanya.

“Kau tak tidur sepanjang malam?”

Jackson tak menjawab hanya mengangguk masih disertai dengan senyuman manisnya yang sebenarnya dapat melelehkan hati gadis manapun namun kali ini mungkin para gadis hanya akan memandangnya iba begitu melihat mata sayunya.

“Tidurlah.”

Jackson menggeleng. Jelas sekali tertera di catatannya ‘Perhatikan istrimu dengan baik saat dia hamil’ berarti dia harus memperhatikan yang dalam kamusnya hal itu sama saja dengan  melihatnya sepanjang hari dan sepenjang dia hamil.

Hah!

Berarti sembilan bulan?

Jackson meradang. Satu hari saja kepalanya sudah berdenyut tak keruan apalagi sembilan bulan?

Oppa.. yang dimaksud itu perhatikan istrimu bukan dengan melihatnya tetapi lebih ke arah kau memperhatikan kesehatanku, keadaan bayi kita, dan segala macam yang dibutuhkanku. Artinya kau hanya perlu mengawasiku saja dan caranya bukan seperti ini, eoh?” ucap Suzy lembut.

Jackson tetap menggeleng tak mau. Ia harus tahu apa yang sedang dilakukan Suzy memastikan bahwa bahaya tak mengancamnya.

Oppa.. kau bisa sakit kalau seperti ini. Kalau kau sakit lalu bagaimana mungkin kau bisa menjagaku dengan baik, eoh?”

Tak ada yang dapat di lakukan Jackson selain menghela nafas dan mengangguk. Toh ia juga sudah sangat mengantuk lagipula persediaan kopi sudah habis setelah ia minum semalaman suntuk.

“Sekarang tidurlah.”

“Tapi aku harus ke kantor,” sela Jackson.

“Di hari minggu?”

Jackson menepuk dahinya. Mungkin inilah efek meminum lima belas gelas kopi semalaman.

“Aku akan membuat sarapan. Hari ini kau bisa absen mengurusi kebun kecilmu. Tidur yang nyenyak, Oppa.”

Jackson benar-benar beruntung mendapatkan istri secantik dan sebaik Suzy. Ia pikir Suzy akan menendangnya ketika umur pernikahannya baru menginjak satu bulan namun perkiraannya salah besar, ia masih bersama Suzy sampai sekarang bukan?

Eumm.. Suzy?”

“Apa?”

 

CUP

 

Morning Kiss.”

 

Ugh, so cheesy.

 

 

 

…||.||…

 

[Bulan Kedua]
[Saat dia mulai merasa mual cepatlah membeli obat mual untuk ibu hamil.]

Ini sudah menginjak bulan kedua umur kandungan Suzy dan Jackson masih berpola cukup wajar jika dibandingkan dengan awal kehamilan Suzy dulu—yang ternyata berakibat ia harus mendekam di rumah sakit selama tiga hari dengan alasan diare. Meski begitu istrinya yang baik hati tak pernah absen mengunjungi Jackson dan selalu setia membawa tumpukan tugas neraka (tugas kantor, kau tahu kan?)

Dan sekarang mereka berdua tengah menikmati sarapan di Selasa pagi yang cerah. Sesekali Jackson melontarkan pertanyaan yang sama berkali-kali seputar keadan bayinya.

Tentang ‘Bagaimana keadaan bayi?’ ‘Apakah bayinya dapat bernafas dengan baik di ruang sesempit itu?’ atau ‘Apakah ada TV di dalam rahim Suzy?’

Lupakan pertanyaan terakhir. Karena setelah bertanya itu Suzy langsung memukul sendoknya pada kepala Jackson.

Um aku harus berangkat sekarang,” ucap Jackson mengakhiri perbincangan mereka pagi ini.

Suzy hanya mengangguk lantas mengambil tas kantor Jackson dan menyerahkannya.

“Kau tak banyak makan hari ini. Kenapa?”

“Aku hanya sedikit tak berselera. Tapi kau tak perlu khawatir, aku sudah meminum vitamin.”

Jackson yakin. Bahwa Tuhan sudah memberikan bidadari padanya. Karena tak ada cacat sedikitpun pada diri Suzy Well kecuali saat ia tidur—ia mempunyai kebiasaan yang sangat buruk.

“Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu,” ucapnya dengan nada sok cool miliknya.

“Berhentilah melakukan hal seperti itu! Kita sedang tidak berpacaran.”

“Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu, Ok?”

Eum hati-hati di jalan.”

 

…………………

 

Suzy tak pernah tahu jika hamil sangat merepotkan. Ia harus bolak-balik ke kamar mandi sepeninggal Jackson dan ia juga harus melewatkan acara Running man yang sialnya edisi Kim Soohyun. Sial! Kenapa harus sekarang?

“Aku sudah lelah.”

Suzy menekan mulutnya dalam begitu merasa dia mual lagi. Oh man! Bisakah ini berhenti sekarang juga? Ia hanya memakan satu lembar roti bakar saja dan  kini ia harus rela bolak balik kamar mandi sekitar tujuh kali? Ini menjengkelkan.

Kini wajahnya sudah sepucat susu, ia berjalan ke ruang keluarga—tempat ia menyimpan P3K. Suzy mendengus ketika tak mendapati obat anti mual. Shit! Ia benar-benar sudah lemas dan tak mungkin ia berjalan ke apotik yang berjarak enam kilometer dari rumahnya.

Ah! Ia akan meminta dibelikan obat anti mual saja.

Dia segera menyambar handphone miliknya, memilih icon phonebook.

 

Amber
Tidak! Tidak! Ia sedang trauma akibat ia baru saja membantu tetangganya melahirkan.

 

Byun Baekhyun.
Hey sejak kapan dia mempunyai nomor Baekhyun. Jackson bisa memarahinya jika ketahuan. Ia harus segera menghapusnya.

 

Celena Ahn
Lena? Gilaa! Ia tak mungkin menelepon keponakannya yang sedang belajar di LA hanya untuk meminta obat anti mual.

 

Donghae Lee
Siapa Donghae? Apa temannya? Atau malah pengantar susu yang biasa lewat? Aah orang asing di phonebooknya. Delete saja.

.

.

.

.

 

Kang Jiyoung
Baiklah ia akan menghubungi dia saja.

 

Suzy segera menekan tanda call pada layar smartphone-nya.

 

“Yeoboseyo? Ada apa Suzy-ah? Aku sedang sibuk—Uuh Joy jangan dimakan lipstik ibu! Joy ibu bilang jangan makan lipstik mahal ibu. Ada apa Suzy?—Jangan makan bedaknya!!—tuuut tuuuut tuuuut.”

 

Uuh, apa semengerikan itu mempunyai anak?”

 

Suzy kembali melihat phonebook miliknya. Tak banyak  nomor yang ada di phonebook-nya mengingat Jackson sudah menghapus banyak nomor di awal pernikahan mereka.

.

.

.

 

Jung Soojung.
Untunglah Jackson tak menghapus nomor teman kerjanya itu—dulu karena ia sudah berhenti bekerja.

 

Suzy kembali menekan tombol call.

 

“Yeoboseyo?”

“Min Hyuk Oppa berikan padaku teleponnya!! Suzy meneleponku!”

Suzy menjauhkan daun telinganya pada handphone miliknya. Suara Soojung memang tak ada tandingannya.

“Katakan dulu siapa itu Kim Jong In! Apa hubunganmu dengan Kim Jong In?”

Yang benar saja! Mereka sudah bersama hampir tujuh tahun dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan tapi Min Hyuk masih saja bertingkah kekanakan seperti itu?

“Kim Jong itu keponakan Soojung. Umurnya masih delapan tahun, jadi kau ingin cemburu pada anak yang masih menjilat lolipop?” ucap Suzy datar.

“Eoh? Eumm? Masih delapan tahun?”

“Berikan ponselmu pada Soojung.”

“Terimakasih, kau sudah menolongku tapi tumben sekali kau meneleponku?”

“Hari ini aku sangat pusing bisakah kau membelikanku obat anti mual—“

“—What! Kau mual? Kau—HA..MIL?!”

Suzy benar-benar sangat menyesal sudah menelepon Soojung. Karena sekarang telinganya berdengung. Ugh bisakah dia tak berteriak?

“Kenapa kau tak memberitahuku? Kau jahat sekali padaku, apa Jiyoung tahu? Bagaimana dengan lainnya mereka semua tahu?”

Suzy mengkuadratkan penyesalannya menelepon Soojung.

“Siapa bilang aku tidak memberitahukanmu. Aku sudah bilang pada Min Hyuk Oppa tapi sepertinya penyakit pikunnya kambuh lagi. Dan tentu saja semua tahu dengan kehamilanku, salah siapa kau menghilang begitu saja selama beberapa bulan ini.”

“Min Hyuk Oppa! Setelah kau lupa rencana pernikahan kita kau juga lupa memberitahuku bahwa sahabatku sedang hamil?—Yaa mau kemana kau! Kemari jangan kabur aku belum memberi perhitungan denganmu Yaa! –Tuut tuuuut tuuut.”

 

 

Kepala Suzy rasanya akan terbelah, belum lagi rasa mual yang terus mendorongnya. Dan kini sahabatnya tidak ada yang sedang waras? Ya Tuhan cobaan apa lagi ini.

Tidak mungkin jika dia menghubungi Jackson karena suaminya itu pasti sedang sangat sibuk dan ia tipe orang yang gampang panik. Tidak! Tidak! Ia bisa saja menelepon ambulance atau malah menelepon kepolisian Korea.

Ia kembali melihat daftar phonebook-nya.

 

Park Jinyoung [Jinyoung]

 

Suzy kembali—lagi menyentuh icon call.

 

“Aku sedang rapat, maaf. Tuuut….Tuuut….”

 

“Ada apa dengan semua orang hari ini!!!!”

 

Suzy kembali melihat phonebook miliknya.

 

Wang Fei?

 

Tak mau berpikir dua kali ia segera menelepon saudaranya yang berada di….—CINA?

 

Apa! CINA?!!

 

“Ada ap—“

 

Tuuuuuut… Tuuuutt…

 

Kali ini Suzy yang memutuskan lebih dulu sambungan teleponnya. Ia bisa saja di gantung Fei karena mengganggu pekerjaannya hanya untuk membelikan obat anti mual.

(Bayangkan pergi jauh-jauh ke korea hanya untuk membeli obat mual lalu kembali lagi ke Cina, itu tidak keren tahu!)

 

Suzy kembali melihat layar phonebooknya kesal. Baik ini yang terakhir jika kakaknya itu bermasalah lagi maka ia harus berangkat sendiri.

 

“Min unnie! Bisakah kau membelikanku obat anti mual? Tolonglah.”

 

“Kau mual? Bodoh kenapa meneleponku? Apa gunannya suamimu? Lagipula aku sedang berada di Jeju, nanti kuberitahu Jackson. Bye.”

 

“Jangan beritahu Jackson Oppa!!” teriak Suzy keras di teleponnya yang sebenanrnya percuma karena Minyoung sudah menutup teleponnya sejak tadi.

Baiklah, persetan dengan mualnya! Sekarang kepalanya-lah yang lebih menderita, rasanya sudah benar-benar berkontraksi dan hanya menunggu waktu untuk booom! Meledak.

Suzy menaiki tangga kamarnya—lebih memilih beristirahat di banding harus kembali menelepon orang-orang aneh lagi. Cukup sudah!

Namun belum sempat ia terpejam ia mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Dengan muka di tekuk plus sumpah serapahnya ia berjalan terseok-seok ke lantai bawah.

“Ya Tuhan! Jackson kenapa kau disini?”

“Suzy Wang!! Aku langsung kemari saat Min nuna meneleponku dan mengatakan kau sedang sakit. Apanya yang sakit? Ini aku sudah membawakan obat untukmu.”

Jackson meletakan tasnya pada meja dan mulai mengeluarkan beragam obat dalam berbagai bentuk dan warna.

“Ini obat pusing, yang ini obat anti mual, ini obat diare, ini obat alregi, ini obat sakit perut, obat pencuci perut, obat haid, ini obat penahan rasa sakit, yang ini obat flu, pilek, batuk, obat rabies—untuk apa aku membelinya ya? Ini ada parasetamol, dan obat sakit hati—Obat macam apa ini? Ooh ternyata obat bagi penderita kanker hati. Jadi apa sakitmu?”

“Aku benar-benar bisa gila.”

“Kau sakit gila? Anjing gila?”

“JACKSON WANG!!”

 

 

…||.||…

 

 

[Bulan Ketiga]
[Biasanya pada bulan-bulan tertentu sang istri akan meminta yang macam-macam maka turuti semua keinginannya kecuali jika dia ingin memintamu bunuh diri atau ayah yang baru.]

 

Perut Suzy sudah semakin membesar, dan kini ia sudah memasuki umur ketiga kandungannya. Dan kelakuan Jackson perlahan mulai melenceng, ia kini lebih suka memakan buncis mentah hingga berkilo-kilo, atau terkadang meminta istrinya untuk menirukan dance Apink No No No jelas saja Suzy menolaknya mentah-mentah, bagaimana mungkin ia menari seperti itu dengan perut besar?

Tidak mau! Titik.

Namun setelahnya Jackson marah, ia mogok makan, ia mogok mandi, ia mogok bicara dan  yang lebih parah ia tak mau lagi memakai jas saat ke kantor ia selalu bersikukuh ingin memakai pakaian renangnya itu. Sebagai istri yang baik Suzy tak pernah mengijinkannya meski Jackson harus pergi ke kantor dengan muka di tekuk.

Suzy menghela nafas begitu mengingat lagi kejadian ajaib yang di lakukan Jackson. Maniknya memohon meminta bantuan dari Jiyoung yang sudah berpengalaman dan Soojung—Suzy benar-benar menyesal sudah mengundangnya karena Soojung hanya makan dan banyak bertanya tanpa menemukan solusi yang tepat.

“Ia sedang ngidam.”

“Ngidam? Jackson? Seolma~ Dia lealaki mana mungkin dia ngidam, jangan bercanda Kang Jiyoung!” ucap Soojung.

“Benar. Lagipula aku yang hamil bukan dia.”

“Aku juga tidak tahu, tapi teman kerja suamiku juga mengalaminya.Teman suamiku sering mengeluh ia banyak sekali meminta hal-hal aneh seperti cumi-cumi goreng yang tentakelnya harus diikat dengan karet berwarna ungu, atau ingin sekali melihat daun gugur di musim semi seperti ini.”

“Berarti lebih baik suamimu yang hanya ingin pergi ke kantor dengan memakai bikini.”

Soojung bersumpah! Ada sepasang laser yang sedang menyerangnya secara tak manusiawi. Bukankah dia benar? Jackson hanya ingin memakai bikini saja ke kantor bukan meminta cumi-cumi goreng dengan tentakel terikat kan?

“Lalu bagaimana cara menghentikannya.”

Jiyoung hanya mengangkat bahu, ia mengambil keripik kentang dan memasukannya kedalam mulutnya tanpa beban.

Eotthake!”

“Ah! Aku punya ide. Jadi…….”

 

…………………

 

“Kau yakin ini akan berhasil Soojung?” bisik Jiyoung yang kini sedang bersembunyi di balik tembok.

Soojung mengangguk antusias. Maniknya tak lepas dari sosok Jackson yang kini sedang berdiri dengan tampang—yang jujur saja Soojung ingin tertawa melihat wajah keterkejutannya.

“Apa yang kau lakukan Suzy?” tanya Jackson hampir berteriak saking terkejutnya.

Bagaimana tidak terkejut, begitu ia menginjakkan kaki di rumahnya aroma bawang putih langsung mengobrak-abrik penciumannya. Dan sekarang di ruang makannya terhampar berbagai makanan yang semuanya didominasi aroma bawang putih. Apa rumahnya kedatangan tamu vampir? Atau harga bawang putih sedang turun drastis?

“Kenapa semuanya serba bawang putih?”

“Karena ini hari bawang putih.”

Alasan yang tidak masuk akal Suzy Wang!

“Benarkah? Memangnya sejak kapan?”

“Sepuluh menit yang lalu.”

Alis Jackson bertaut, namun tak ingin mempermasalahkannya lebih lanjut karena sedari tadi perutnya terus meronta, jadi ia langsung menarik kursinya, menyambar nasi serta lauknya.

“Selamat makan!”

 

Uhuuk… Uhuukk…

 

“Apa ini?”

“Sup bawang putih, di buat dari bawang putih Indonesia yang sudah di rebus. Dan itu bawang putih saus tiram.”

Jackson tak tahu Suzy mendapat ide darimana untuk membuat sup bawang putih, bawah putih saus tiram, bawang putih bakar, dan bawang putih bumbu teriyaki. Dan sekarang ia ingin sekali menceburkan dirinya di samudra yang di penuhi hiu.

“Kau saja yang makan.”

“Tidak. Kau yang makan.”

“Kenapa aku?” tanya Jackson kelewat sebal.

“Karena ini semua untukmu.”

Okey Jackson kau harus bersabar. Ingat point tiga ‘Biasanya pada bulan-bulan tertentu sang istri akan meminta yang macam-macam maka turuti semua keinginannya kecuali jika dia ingin memintamu bunuh diri atau ayah yang baru’ Ini masih normal dan seratus kali lipat lebih baik dibanding ia merengek meminta Choi Siwon—anggota Super Jinyoung menggantikan posisinya sebagai suami.

Euh baiklah.,” ucap Jackson tak rela.

Jackson memasukan sup bawang putihnya. Wajahnya berkerut begitu rasa bawang putih mulai menjalari lidahnya.

Suapan Pertama.
Rasanya menjijikan.

 

Suapan kedua.
Ia benar-benar ingin muntah

 

Suapan ketiga.
Bawang putih sialan!!

 

Suapan keempat
Stop! Jackson ingin pergi ke toilet sekarang juga.

 

Oppa,” panggil Suzy cemas.

Suzy memalingkan wajahnya ke arah lorong tempat persembunyian kedua sahabatnya. Ia mendengus kesal saat mendengar gelak tawa dari keduanya.

 

“JUNG SOOJUNG!!!”

 

Ups, Soojung harus cepat melarikan diri.

 

Atau dia akn menjadi sup bawang putih.

 

…||.||…

 

 

[Bulan Keempat]
[Sarankan pada istrimu untuk mengikuti senam bagi ibu-ibu hamil. Sang istri akan senang jika suaminya sangat perhatian. ]

Mark—teman Jackson masih setia melihat ke arah Jackson dengan pandangan kasihan sekaligus ngeri karena sekarang pria berjas hujan itu tak henti-hentinya menggerutu akibat kostumnya.

“Aku tak mengerti kenapa semua teman kerjaku menertawaiku.”

Mark mungkin salah mengklaim dirinya sebagai pengguna fashion terburuk sepanjang sejarah ternyata ada yang lebih parah darinya. Temannya—aneh, sekarang ia malu mengakuinya—bernama Jackson Wang menggunakan jas hujan ke kantornya dan kini ia menjadi pusat perhatian—lagi di cafe karena Jackson belum mencopotnya.

Ugh, bisakah kau mencopotnya Jackson.” Mark menunjuk ke arah jas yang masih menempel pada tubuh Jackson.

“Ini trend tau!”

Trend katamu? Itu namanya idiot.”

“Idiot katamu Yongjae? Kau payah.”

Jackson menyesap coffe lattenya sampai tandas. Ia mengelap sisa buihnya sebelum berucap, “Kupikir kalian akan membelaku.”

“Membelamu?….” Jinyoung tak tahu lagi apa yang ingin dikatakannya “…..Itu sama saja kami sakit jiwa.”

“Kau tampan, kau kaya, dan aku yakin tak ada yang masalah dengan IQ-mu tapi kenapa otakmu sedikit miring,” kata Jaebum dengan wajah yang bercampur kesal.

“Sudah lupakan saja masalah jasmu yang norak itu—“

“—Kau yang norak Yongjae,” potong Jackson sebal.

Yongjae memilih diam, karena ia yakin meladeni Jackson malah akan memperkeruh suasana.

“Kau bilang ingin tahu dimana tempat yang bagus untuk senam bagi ibu hamil.”

Jackson mengangguk—menyetujui ucapan Jaebum.

“Dimana tempatnya?”

“Yang jelas, harus ada wanita cantiknya.”

Yaa! hyung Memangnya kau mau menemani Suzyku?”

“Tidak mau,” ucap Jinyoung cepat.

“Disini saja.”

Mark menunjukan selebaran yang baru diambilnya dari tiang listrik sebelum pergi tadi.

Okey, disitu.”

 

…………………

 

Jackson tak mengira jika menemani Suzy mengikuti senam bagi ibu-ibu hamil sangatlah menyenangkan. Bayangkan saja sekarang ia tengah di kerumuni ibu-ibu muda yang hampir keseluruhannya mempunyai paras cantik. Ia memang tak berniat menggoda ataupun tebar pesona tapi salahkan mereka yang tiba-tiba saja mengerumuninya dan terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Kau disini menemani istrimu? Manis sekali’  ‘Apa kau tidak bosan? Ini akan memakan waktu yang lama’  atau ‘Apa kau hanya membawa ponselmu? Kau tak membawa camilan? Wah kau pasti pria hebat’

Ya, dia pria hebat. Ia tipe lelaki yang sangat romantis—mungkin, dan pokoknya dia keren.

Suzy yang baru saja keluar dari ruang ganti menatap suaminya tak suka. Ia berdehem kecil sebelum benar-benar pergi ke dalam ruangan dan hal itu sukses membuat Jackson sadar.

“Sepertinya akan dimulai. Kalian tidak ganti?”

Uhm, kita memang harus berganti pakaian. Jadi teman-teman ayoo,” ucap salah seorang wanita yang diketahui Jackson bernama Jung Nara (:P)

Semua wanita meninggalkan dirinya tak terkecuali salah satu karyawan yang berniat sekali menginterogasinya. Ia tak tahu Mark mendapatkan selebaran itu darimana yang jelas ia sangat sangat menyukai tempat ini.

Setelah suasana benar-benar sunyi senyap—ia bahkan berpikir bahwa dirinya sedang berada di pemakaman. Jackson memilih memainkan smartphone miliknya, browsing mengenai hal-hal apa saja yang harus di lakukan seorang ibu hamil dan hal-hal yang patut dihindarinya namun belum sempat ia klik icon pencaharian handphone miliknya sudah berdering dan blub!—Handphonenya meninggal.

“Ini tak asik.”

Jackson memilih mengambil majalah wanita terbitan bulan lalu, ia tak berniat membaca majalah yang dipenuhi berita gosip itu sungguh! Ia hanya ingin menggunakannya sebagai penutup wajahnya karena ia sangat mengantuk. Benar-benar mengantuk.

Tepat satu jam dua puluh enam menit ia terlelap di ruang tunggu dengan posisi duduk. Hal itu sukses membuat seluruh badannya pegal-pegal serasa baru bertempur melawan Jacky Chan. Ia melihat ke arah pintu memastikan keberadaan istrinya, takut ditinggal istrinya, maniknya beralih menatap sepatu yang berjejer. Aman. Istrinya tak meninggalkannnya.

Jackson tahu kini maksud dari wanita-wanita yang mengerumuninya sayangnya ia terlambat menangkap maksud mereka. Ia sudah menunggu hampir satu jam—eoh ternyata masih kurang lima belas menit—dan para ibu hamil belum ada tanda-tanda ingin angkat kaki dari ruangan ini.

Darimana Mark mendapatkan tempat semembosankan ini, sih? Disini tak ada Tv—ah sebenarnya ada tetapi mereka bilang Televisinya sedang mengalami kerusakan, baiklah ia memakluminya.  Tak ada majalah untuk pria semuanya masalah wanita mungkin jika menyangkut ibu hamil ia tak apa-apa masalahnya semua majalah disini membahas gosip. Dalam hidupnya ia tak suka bergosip!, belum lagi tempat ini jaaaauh dari kedai makanan atau minuman dan sialnya lagi para karyawan tidak menjual aneka minuman karena stok habis.

Inilah alasan hanya dirinya duduk di kursi dengan status suami satu-satunya disini.

Ugh, dia tak mau lagi menemani Suzy. Tak mau lagi.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Jackson. Ia berjalan mengendap-endap , membuka pintu kaca secara perlahan. Betapa terkejutnya ia melihat semua wanita disini menggunakan pakaian ketat dengan perut membuncit dan mata tertutup. Jackson nyaris tertawa jika saja ia tak melihat wajah menakutkan instrukturnya. Ia berjalan mengendap-ngendap ke arah speaker yang kini sedang memutar lagu klasik. ‘Pantas saja mereka semua tertidur’ pikirnya.

“Oh iya handphone-ku mati..” Jackson melihat kesegala penjuru arah “… ponsel siapa ini? Ini juga bisa.”

Ia melihat list lagunya, bergumam sedikit betapa kampungannya pemilik ponsel karena tak ada lagu avenged sovenfold atau minimal one direction.

“Ini saja.”

Ia mencabut kabel penghubung, lalu menghubungkannya ke ponsel berwarna putih gading.

 

Neomu banjjak banjjak nunibusyeo No No No No No

Neomu kkamjjak kkamjjak nollan naneun Oh Oh Oh Oh Oh

Neomu jjaritjjarit momi tteollyeo Gee Gee Gee Gee Gee

Jeojeun nunbit Oh Yeah joheun hyanggi Oh Yeah Yeah Yeah

[SNSD-Gee]

 

 

“Ya Tuhan!”

 

“Astaga!”

 

“Apa itu?!!”

 

“Ada konser?”

 

Kini semuanya tanpa terkecuali istrinya menjerit kaget dan hanya dirinya makhluk yang tertawa terpingkal-pingkal.

 

“Hahaha kalian… kalian lucu.”

 

Sang instruktur bertubuh gempal dan memiliki sorot mata mengerikan berkacak pinggang.

 

“KELUAR  KAU  ORANG  ASING!”

 

Jackson tak lagi pernah mau  menemani istrinya karena setiap ia datang, ia langsung ditatapi horror oleh instruktur yang baru diketahuinya merupakan istri dari jenderal angkatan laut. Ia tak mau mati muda.

 

 

…||.||…

 

[Bulan Kelima]
[Temanilah istrimu check up.]

 

Sedari tadi Jackson tak henti-hentinya tersenyum. Ia melihat kalendernya sekali lagi takut-takut retinanya salah menangkap gambar namun yang dilihatnya memang benar. Sekarang tanggal lima belas Juni—yang dilingkarinya dengan spidol merah dan itu artinya…

“Waktunya check up sayaang.”

Jacskon kembali melihat buku check up milik istirinya. Ini sudah keempat kalinya ia menemani istrinya check up jika di kalkulasikan dengan hari ini maka ia akan menjalani check up yang kelima dan itu tandanya umur kehamilan istrinya sudah menginjak yang kelima.

Namun kali ini berbeda dari check up biasanya. Hari ini istimewa, ingat I-S-T-I-M-E-W-A. Karena ia akan mengetahui jenis kelamin bayinya. Entah nantinya lelaki atau perempuan yang jelas ia akan sangat bahagia.

Yuhuuu sayangg….”

Suzy keluar dari kamarnya setengah malas, tas yang di jinjingnya segera ia serahkan pada Jackson.

“Ingat. Tunggu diluar saja nanti.”

Suzy mempunyai alasan tersendiri memerintahkan Jackson tak ikut serta kedalam ruangan dokter. Ia selalu menyuruh suaminya menunggu di luar, mungkin itu adalah cara paling tidak ampuh untuk membuat Jackson tak masuk ke dalam ruangan. Suzy tak kehilangan akal dia selalu meminta untuk di belikan Jjampong di daerah Gangnam yang berajarak lima belas kilometer dari rumah sakit dengan alasan bayinya yang meminta.

Jackson tak bisa menolak jika sudah menyangkut  masalah bayi mereka.

“Ayo pergi.”

Ucapan Jackson mampu membuat Suzy tersadar akan lamunannya. Ia berjalan mengekori Jackson dengan perut yag semakin membesar dan hal itu sukses menjadi bahan gerutuannya setiap berjalan.

“Untuk tuan puteri yang ingin melaksanakan tugas mulianya ‘memeriksa kandungan’ silahkan tuan puteri.”

Suzy tertawa kecil begitu melihat wajah berlebihan Jackson ketika membukakan pintu untuknya. Setelah ia pastikan Suzy masuk dengan selamat ia segera berlari mengitari mobil, membuka pintu mobilnya dengan sedikit bersemangat dan yang terakhir mendudukkan dirinya di tempat duduk pengemudi.

“Siap tuan puteri?”

“Siap pangeran, ayo berangkat.”

…………………..

 

“Ayolah sekali ini… saja. Aku juga ingin tahu perkembangan bayi kita. Ya ….ya…. ya?”

Suzy nampak berpikir, mengira-ngira apakah Jackson akan melakukan hal yang tidak mengenakan di dalam atau ia akan sama seperti suami lainnya duduk normal sambil sesekali bertanya.

Well, tak selamanya ia akan melarang Jackson ‘kan? Ia juga punya hak. lagipula ini merupakan hari paling istimewa baginya dan bagi Jackson.

Okey, tapi kau harus bertingkah normal. oke?”

Normal? Memangnya sejak kapan Jackson tak normal? Ia normal, tentu saja dan selamanya akan normal, itu sudah pasti.

(Normal apanya Jackson! Kau bahkan pernah membelikan Suzy obat rabies!)

Keduanya memasuki kedalam ruang praktek Mr. Ahn, hal yang pertama kali Jackson lakukan adalah berdecak kagum mengagumi hal-hal aneh yang terpajang di dalam ruangan seorang lelaki berambut cepak dengan bentuk wajah yang tampan. Maklum saja, Jackson tak pernah sekalipun menginjak lantai rumah sakit mengingat ia tak mempunyai sejarah sakit kronis, sekalipun ia atau keluarganya sakit mereka lebih memilih dirawat dirumah dengan alasan kenyamanan.

Jackson berdeham, tak mau terlihat kampungan. Ia bersikap cool kendati mata dan pikirannya selalu berucap ‘waow apa namanya benda yang mirip tabung gas itu?’  ‘berapa banyak macam obat  yang ada di lemari?’    atau gumaman  ‘Jasnya keren! bagaimana kalau aku memakai jas dokter untuk pergi ke kantor? Uh Jinyoung hyung pasti iri denganku’

(Bukankah Suzy sudah berpesan untuk bersikap normal! Begitupun dengan pikiranmu.)

“Silahkan nyonya Bae dan ….” Si dokter menatap jackson sebentar. “….anda pasti suaminya.” Jackson sedikit membusungan badannya sebelum ia duduk di samping Suzy. Dokter ini memang pandai menebak dan Jackson berikan poin plus untuknya.

“Sudah siap USG-nya?”

Lihat betapa ramahnya Dokter Ahn. Satu poin lagi diberikan Jackson untuknya.

“Mari kita segera melihatnya. Ayo Tuan Jackson, kau juga bisa melihatnya.”

Jackson tersenyum kecil tak mau merusak imagenya  di depan seorang dokter muda yang ia perkirakan baru menginjak umur dua puluh empat atau mungkin dua puluh tiga? Ah yang jelas ia masih muda dan tampan tapi tak setampan dirinya.

Suzy berbaring di ranjang, sedangkan dokter bermarga Ahn itu mulai menyiapkan alatnya.

“Maaf nyonya, bisa di buka baju anda sedikit?”

What!! Apa-apaan dokter muda tak mutu itu! Ia berani sekali menyuruh istrinya untuk membuka bajunya dan bodohnya lagi istrinya menurut!

“Tunggu..Tunggu… Apa yang anda akan lakukan pada istri saya, hah!”

“Me-meriksanya…” sang dokter terlihat takut namun memberanikan diri untuk berucap lagi “…b-bukankah anda ingin tahu jen-nis kelaminnya?”

“Tapi tidak dengan memperlihatkan perut istri saya!”

“T-tapi…”

“Apa kau juga melakukan hal ini pada semua wanita di sini? Ya Tuhan! Rumah sakit macam apa ini, kenapa mereka membiarkan dokter berperilaku tak senonoh pada pasiennya!!”

Sang dokter sudah mengkerut di balik jubah putihnya sedangkan Suzy masih mengatur nafasnya, berusaha untuk sabar.

Yaa!”

Wae? Apa kau ingin membelanya? Kau ini sebenarnya istri siapa Suzy Wang?  Apa kau sedang selingkuh? Tak mutu sekali selingkuh dengan seorang dokter muda seharunya kau selingkuh dengan pengusaha kaya atau para menteri.”

 

PLETAK!

 

“Sekarang kau menjitak kepalaku!!!!!!!!!”

“Suamiku tersayang dan paling pintar sedunia. Dokter Ahn ingin menempelkan alat itu pada perutku agar bisa tahu jenis kelaminnya, hanya itu yang ingin di lakukannya lagipula ia tak mempunyai perasaan apapun padaku meski yaaah, aku cantik….” Dokter Ahn benar-benar ingin mencekik dirinya sekarang juga. Suaminya gila dan sekarang istrinya mempunyai kadar narsis yang terlampau tinggi, semoga Tuhan masih mengampuni dosa mereka dengan memberi anak mereka sikap waras dan jauh dari orang tuanya. “……. dan itu semua hanya tuntutan kerja, sayang.”

 

“TIDAK BISA!”

 

“Sini biar aku saja yang memeriksanya.”

Ia merebut alat—yang baginya terlihat seperti tongkat kecil kemudian menempelkan pada perut istrinya namun setelahnya sang dokter menyesal membiarkan alat itu berpindah ke tangan Jackson karena…..

 

“KEMANA  PERGINYA  ANAKKU!  ANAKKU  HILANG!!  ANAKKU  HILANG!!”

 

…..Jackson berteriak seperti orang gila.

“Anda salah Tuan,” ucap Dokter Ahn lembut setengah kesal.

“Tidak! Aku benar alatmu saja yang rusak,” ucap Jackson kesal sambil mengembalikan alat itu pada tangan Dokter Ahn kembali.

Oppa, bisakah kau diam dan lihat saja, eoh?”

Jackson tak bisa berbuat apa-apa setelah ia mendapat tatapan mengitimidasi dari manik Suzy.

Dokter Ahn tersenyum kecil, meski dalam hatinya menggerutu habis-habisan pada Jackson. Ia menempelkan alat yang tersambung dengan layar ke permukaan perut Suzy. Ia berpikir Jackson akan berteriak heboh saking senangnya tapi sepertinya ia salah.

“ITU  ANAKKU?!  JANGAN  BERCANDA!  KENAPA  BENTUKNYA  ANEH  SEKALI?  ITU    ALIEN!”

“Apa anda belum pernah mendapatkan pelajaran IPA saat sekolah?” tanya Dokter Ahn mencoba sabar.

Muka Jackson melongo, wajahnya blank namun setelahnya ia tersenyum bersalah yang bermuara pada kekehan malunya.

“Aku lupa.”

Dokter Ahn kembali tersenyum, kali ini tersenyum penuh paksaan.

“Sepertinya anak anda laki-laki.”

Jackson tersenyum bahagia ia memperhatikan bayinya lewat monitor yang terpasang di depannya.

“Tapi….” Ia menatap Dokter Ahn “…Darimana kau tahu? Aku saja tidak tahu. Memangnya di bagian mana jenis kelaminnya? Aah atau jangan-jangan kau hanya mengarang saja. Iya ‘kan? Tunggu.. jangan bilang kau penyihir?!……” Jackson terkejut dengan ucapannya sendiri “…..Benar kau pasti penyihir. Apa nenek moyangmu ada yang bernama Merlin, Harry Potter, atau—“

 

“—KELUAR  DARI  RUANGANKU.  SEKARANG!”

 

Jackson bersumpah ia tak ingin dan tak sudi lagi menemani Suzy masuk ke ruangan monster itu. Tak akan pernah. Never!

 

 

 

 

…||.||…

 

[Bulan Keenam]
[Saat hamil biasanya istri akan lebih banyak mengomel dan suka menyuruh seenaknya saja. Lebih baik turuti saja karena membiarkan ibu hamil marah-marah  tak baik bagi kesehatan bayinya.]

 

Entah kenapa Jackson merasa menyesal dulu berujar ia beruntung mempunyai istri sebaik Suzy. Benar-benar menyesal, karena ia baru saja di tendang keluar dari kamarnya sendiri oleh Suzy! Ingat Suzy istrinya sendiri. Sebenarnya masalahnya sepele, wanita itu sangat membenci Choi Siwon dengan alasan  konyol. Pertama, karena ia lebih tampan dibandingkan Sungmin. Kedua badannya terlalu bagus, ketiga ia mempunyai hidung yang panjang dan baginya terlalu panjang, dan yang terakhir ia tidak suka dengan pakaian yang di pakai idol terkenal itu.

Dan kala itu sedang menampilkan berita tentang Super Jinyoung. Yang lebih mengesalkannya lagi adalah…  Kenapa tak mengganti chanelnya jika ada Super Jinyoung di sana!!!

“Dia benar-benar menyebalkan.”

“Aku mendengarmu Jackson!”

Heol,” umpatnya lebih pelan.

Ia memilih menyingkir dari kamarnya beralih ke ruang TV, menyalakan tombol power pada remotte.

Eoh? Running Man?”

Jackson tersenyum melihat salah satu member Apink menjadi bintang tamu kali ini. Ini akan menarik mengingat ia dulu pernah menjadi deretan terdepan fans Apink dan membawa banner paling-paling lebar dan panjang diantara fans lainnya.

Menit terus berjalan, pergerakan arah jarum jam kini sudah menginjak angka sembilan. Jackson bertepuk tangan riuh begitu acara selesai dengan menambahkan beberapa potongan lagu Apink—Mr. Chu.

Oppa.” Suzy berujar lembut, lalu menyenderkan kepalanya pada lengan Jackson.

Jackson tahu— kelewat tahu malah, jika keadaan sudah seperti ini pasti istrinya sedang meminta sesuatu.

“Kenapa?”

“Badanku pegal semua—“

“—Jadi kau mau aku memijatmu, baiklah mana bagian yang sakit.” Tak mau berlama-lama Jackson berbasa-basi kendati wajah kekanakan Suzy menggodanya untuk ia jahili.

Aniyo, kalau besok aku pergi bersama Sooojung dan Jiyoung, boleh?”

“Tentu. Bukankah kalian sering melakukannya?”

Uhm. Lalu besok hari minggu ‘kan?”

Jackson rasa ada yang tidak beres.

“Lalu?”

“Cucian kita sudah menumpuk, lantainya sangat kotor, kasurnya juga kurasa perlu  di jemur, kolam renangnya penuh dengan daun, dan bunga-bunga disini belum mendaptkan pupuk. Dan ibumu bilang aku tak boleh melakukan pekerjaan berat, jadi—“

“—Jadi Kau menyuruhku untuk melakukannya ‘kan? Aku sendiri? Suzy-ah apa itu tidak terlalu kejam?”

“Mau bagaimana lagi. Eoh bagaimana kalau mengajak teman-temanmu? Pasti sangat menyenangkan bisa mengerjakannya bersama-sama.”

Jackson tersenyum miring,  ide yang brilian. Ia bisa sekalian mengerjai mereka.

“Oke, deal!”

……………………

 

“Mark Yi-Tuan.”

“Hadir.”

“Choi Yongjae.”

“Terpaksa.”

“Im Jaebum.”

“Hilang.”

“Park Jinyoung.”

“Aku membencimu.”

Jackson berhenti mengabsen teman-temannya yang kini memasang wajah malas sekaligus kesal.

“Kalian benar-benar baik hati.”

Tak ada yang menggubris Jackson karena pikiran mereka dipenuhi sumpah serapah. Mereka tak menyangka Jackson mengundang mereka dengan iming-iming pesta kecil hanyalah topeng belaka. Kenyataannya mereka semua dipaksa membantu lelaki bertopi merah itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sial!

“Mark hyung kau bertugas mengepel rumah.”

Mark melotot menyebabkan kedua biji matanya hampir keluar. Oh tak masalah jika rumah mereka seluas rumah tikus tapi rumah mereka itu besar dan bertingkat!!

“Tenang saja, jika kita semua selesai mengerjakan tugas masing-masing kami akan membantumu.”

Tak ada yang mengangguk. Tak ada yang merespon. Dan Jackson tak mau ambil pusing

“Yongjae bagianmu menjemur kasur dan bantal di rumah ini. Disini ada dua kamar, jadi kau hanya perlu menjemur dua kasur saja…” Yongjae tersenyum “….bantalnya ada satu, dua, lima, tujuh… 20.”

“Hah!!”

“Kau hanya perlu menjemurnya itu tak sulit, kok.”

Yongjae tersenyum timpang. ‘Tidak sulit?’ Jackson adalah penjahat kecil yang  tak punya belas kasihan.

“Jaebum hyung, kau hanya perlu mengurusi taman kita ditambah memupuki tanamannya.”

“Dengan pupuk?”

“Kandang tentu saja.”

Itu adalah kata-kata terburuk dan paling menakutkan dalam hidupnya. Jaebum—seorang dewa kebersihan harus bercengkrama dengan pupuk kandang. Big No!

“Dan terakhir uri Jinyoung hyung!” Jinyoung mendengus sebal, wajahnya ia alihkan ke arah lain.

“Tugasmu hanya mencuci itu saja.”

“Dan kau?” tanya Jinyoung balik.

“Membersihkan kolam.”

Eiii itu tidak adil.”

“Benar, tak adil,” ucap Mark menanggapi perkataan Yongjae.

“Ingat! Aku punya kartu as masing-masing dari kalian. Mark apa kau ingin aku  mengadukan masalah mobil hyungmu yang kau tabrakan? Jinyoung hyung apa kau ingat kau baru saja melakukan pendekatan dengan salah satu gadis di kantor? Aku bisa saja merubah pikirannya dengan menjelek-jelekanmu. Ingat! Aku pandai menghasut orang. Yongjae.. apa kau ingat suster yang menyuntikmu? Aku bisa saja menggagalkan acara pertunangan kalian.   Dan Jaebum hyung, aku dengar kau kalah taruhan. Jika istrimu tahu kau pasti akan mati.”

Skak mat!

Tak ada pilihan bagi mereka selain mengangguk pasrah.

“Ayoo bekerja!” teriak Jackson semangat yang hanya di jawab gumaman tak jelas dari keempat temannya.

Jinyoung beralih ke lantai atas, mengambil pakaian kotor yang berada di depan kamar Jackson.

“Ya tuhan!”

Jackson benar-benar ingin membunuhnya. Sekarang dihadapannya tengah ada dua keranjang besar berisi pakaian kotor mereka.

Ugh aku bisa gila.”

Terpkasa ia menyeretnya satu persatu melewati tangga sialan yang panjang sekali. Setelah berhasil menurunkan keduanya dan menariknya hingga ke tempat mesin cuci, tubuhnya menegang.

 

Ia ingat.

 

Ia tak bisa mencuci.

 

Ia membaca cara mencuci yang tertera di belakang kemasan deterjen.

 

Cara mencuci :

  1. Pisahkan pakaian yang mudah luntur
  2. Larutkan satu genggam deterjen kedalam 10 liter air
  3. Rendam pakaian selama 30 menit
  4. Kucek pakaian di dalam larutan deterjen
  5. Bilas sampai bersih dan jemur bagian luar di dalam

 

“Pakaian yang mudah luntur ya?”

Jinyoung sama sekali tak mengerti mana pakaian yang mudah luntur dan mana pakaian yang tidak luntur-luntur. Ia kembali memutar otaknya, lima menit tak ada ide yang mampir dalam otaknya ia memutuskan. Semua pakaian kotor tidak luntur termasuk celana jeans.

“Masukan semua.”

Jinyoung memasukan setengah keranjang pakaian kotor ke dalam mesin cuci.

“Larutkan satu genggam deterjen kedalam 10 liter air.”

Sepuluh liter? Darimana ia tahu takaran itu? Ah kira-kira saja lah.

“Satu genggam? Apa tidak terlalu sedikit. Padahal ‘kan pakaiannya banyak.”

Jinyoung memutuskan untuk memasukan dua genggam.

“Diamkan tigapuluh menit.”

Setelah arlojinya menunjukan menit ke-30. Jinyoung bangkit untuk kembali membaca petunjuknya. Eh? Kucek pakaian? Lalu untuk apa guananya mesin cuci!!!.

Ah! Dia ingat, ia pernah membantu ibunya mencuci pakaian kalau tidak salah enam tahun yang lalu.

Ia memutar tombolnya.

Berhasil.

Hal itu mampu ia lakukannya sebanyak tiga kali, dan semuanya berhasil tanpa cacat. Mungkin jika dia berhenti dari pekerjaannya dan membuka usaha laundry, ia pasti cepat kaya.

“Deterjennya masih banyak sekali, sayang kalau disimpan. Kenapa aku tak menambahkannya lebih banyak lagi? Jackson pasti senang karena pakaiannya akan harum selama tujuh hari. Haha kau memang pintar Park Jinyoung.”

Jinyoung memasukan setengah dari jumlah keseluruhan deterjen. Namun tak lebih dari sepuluh menit, rahang Jinyoung jatuh beberapa senti. Cengiranya berganti dengan kepanikan..

 

“JACKSON! BUSANYA BANYAK SEKALI.. …. TOLONG AKU!”

 

 

…………………

 

Jaaebum masih betah memerangi pupuk yang kini terhampar di depannya. Tangannya tertekuk di depan dada membentengi dirinya dari serangan pupuk—yang well, sebenarnya tak terlalu berbahaya kecuali di makan.

Eotthokae…” Jaebum tak yakin mana yang lebih parah; pupuk kandang yang menjijikan atau tendangan di bokongnya oleh istrinya.

Eumm well mari berperang.”

Sedikit mengernyit Jaebum mengambil pupuk itu mati-matian dengan tangan terbungkus plastik. Rasanya dingin, entah kenapa tulangnya terasa ngilu ditambah baunya cukup sukses membuatnya ingin muntah.

Maniknya tertutup tak mau melihat butiran-butiran kecil di tangannya. Ia letakan saja dalam pot tak mau bersusah-susah meratakannya. Ia hanya di perintahkan untuk merawat kebunnya dan hal itu tak termasuk pelayanan yang baik bagi tanaman Jackson ‘kan?

Eh? Apa ini?”

Ia melihat benda aneh menyerupai tali namun pendek. Menggeliat kecil ditangannya.

 

“OH MY GOD…”Jaebum ingin pingsan melihatnya. “…JAUHKAN  CACING  INI  DARI TANGANKU!  TOLONG  AKU!”

 

Ia menemukan alasan yang tepat untuk phobia pada berkebun; pupuk kandang dan cacing. Iuh

 

…………………

 

Girls.. Girls.. they love me—uups

Yongjae secara sadar dan tak sengaja kembali menjatuhkan bantal yang sedang di jemurnya di ruang atas. Ia mengerjap mencari-cari tempat jatuhnya bantal dari lantai atas. Maniknya terhenti begitu melihat Jaebum yangs sedang berteriak sambil menjauhkan tangannya dari wajahnya, ia mengernyit heran namun memilih tak ambil pusing dengan hal itu. Ia kembali berjelajah, mungkin saja bantalnya tersangkut di atap tetangga sebelah?—sedikit kurang waras memang jawabannya.

Eh apa itu?”

Yang ia lihat bukan seorang nelayan ‘kan? Atau mungkin nelayan  yang terlanjur amnesia dan mengklaim kolam renang berbentuk persegi panjang sebagai laut tiada batas. Huh, idiot. Seharusnya ia tahu tanpa melihatnya lebih detail karena seorang pria yang sedang berdiri tegap itu adalah Jackson—temannya yang jenius sekligus idiot. Ia tak tahu jenius dengan idiot hanya dibatasi selembar kain satin saja.

Oyy Jackson apa yang kau lakukan di bawah?”

“Menangkap daun, haha ideku cemerlang kan?”

Menangkap daun dengan jala? Huh, Keren.

“Lihat aku… aku adalah nelayan. Nelayan jeniuus—Kyaaaaaa.”

Upss

Ia terjebur.

“TOLONG  AKU .. AKU  MAU TENGGELAM!!”

“Tenggelam? Lihat airnya bahkan tak menyentuh batas perutmu, bodoh!”

Eh? KALAU  BEGITU  AKU  TAK  JADI  TENGGELAM!” teriaknya lagi.

“Bodoh. Ia tak bisa berenang maka dari itu ia memakai jala?  huh dasar.”

Ia tersenyum beberapa kali namun langsung luntur begitu melihat Jaebum kembali.

“YAAK!  JAEBUM  HYUNG  APA  YANG KAU  LAKUKAN  PADA  BANTALNYA! ANDWAEE!  JANGAN  MENGGUNAKAN  BANTALNYA  UNTUK  LAP.  IM   JAEBUUUUM.”

Jaebum membeku. Ia melihat kembali pada bantal putih polos yang kini tercampur bau tanah, kotoran kambing, dan cacing.

“Huuuaaa!! Jackson tolong aku!!” teriaknya

Tugas mereka hancur, kini tinggal Mark yang masih bersikap normal. Semoga satu diantara mereka mempunyai otak waras.

 

………………….

 

“Ya kalian dari mana saja!” teriak Mark jengkel.

“Jinyoung apa kau baru saja mandi busa? Jaebum apa yang terjadi denganmu, kenapa bau sekali?…” Mark mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya, tak kuat dengan bau Jaebum. “….. Yongjae kau baru mandi? Kenapa basah sekali? Uuh Jackson kau baru berenang rupanya?”

“Sudahlah aku tak mau bertengkar lagi.” Yongjae berlalu meninggalkannya dan duduk di sofa.

Eii, kalian janji akan membantuku. Lantai atas beres tapi lantai bawahnya aku baru mengerjakan dapur saja.”

Ppali, kasihan dia.”

“Aku tak mau bicara denganmu Im Jaebum.”

Yaa! Cepat bantu aku, sekarang!.”

Jinyoung menghampiri Mark, melirik ember yang terisi penuh dengan air. Ia membuangnya secara random ke lantai.

Yaa!” teriak Mark tak terima.

“Ayo kita pel.  Kalau begini lebih mudah ‘kan?”

Wuuaah Jinyoung kau jenius.”

 

Tidak ia bodoh.

 

“Aku bangga mempunyai kakak sepertimu.”

 

Mereka bodoh.

 

“Tapi Jinyoung hyung, disini masih kering.”

“Gampang Yongjae, tinggal kau semprotkan larutan pembersih lantai ke lantainya langsung.”

“Tanpa air?” tanya Mark bingung.

“Tidak usah, menghemat waktu.”

“Kalau kita kehabisan cairannya bagimana?” tanya Jaebum.

“Diganti saja dengan pewangi pakaian. Selesai.”

“Memangnya bisa?” tanya Jackson masih setengah percaya.

“Ya di paksakan.”

.

.

.

.

.

.

.

 

“Akhirnya. . Kering juga lantainya,” kata Mark lega.

“Aku pulang dulu ya,” ucap Jinyoung masih sebal dengan perkara mesin cuci yang sudah merenggut keindahan rambutnya.

 

Kyyaaa!!!”

 

Bruk

 

Waeyo? Kenapa kau jatuh?”

 

“Ini karena lantainya licin bodoh!”

 

TING NONG

 

Oppa, kau di dalam? Pintunya tidak terkunci ‘kan? Aku masuk ya.”

“Lantainya….” Jaebum berucap pelan seolah ada kata yang salah dengan lantai.  “Licin?…” Kali ini Yongjae yang bergumam.  “….Lalu?” Jackson mempoutkan bibirnya merasa janggal dengan kejadian barusan.

Memangnya kenapa kalau lantainya licin?

 

“Bayinyaa!!” teriak mereka bertiga bersamaan.

 

“Yaa! Suzy jangan masuk!!!!”

 

 

 

…||.||…

 

[Bulan Ketujuh dan Kedelapan]
[Saat kandungan sudah mencapai umur tua, persiapkanlah barang-barang yang dibutuhkan saat proses persalinan dan belilah perlengkapan bayi.]

Kini Jackson lebih memilih diam jika Suzy sudah mengomel tak jelas dan ia lebih memilih menuruti semua perintah Suzy termasuk memasak, membersihkan rumah, memijat badan Suzy dan lainnya. Ia hanya perlu bersabar toh, ini sudah bulan kedelapan yang artinya hanya menunggu sebulan lagi. Tak ada masalah.

Oppa.”

Entah kenapa sekarang Jackson sedikit kesal ketika gendang telinganya menangkap suara manis Suzy.

Hmm.”

Tak menoleh dan tetap berkutat dengan acara berita siang di depannya membuat Suzy mempoutkan bibirnya, ia merengek kecil meminta perhatian lebih.

“Kenapa sayang?”

“Kita belum membeli pakaian bayi. Ayo beli sekarang.”

Jackson mengerutkan keningnya. Ah! Ia hampir lupa dengan itu akibat omelan Suzy tempo hari mengenai tugasnya. Salah dia sendiri, mengusulkan teman-temannya ikut serta membantunya yang malah membuat rumahnya semakin tak keruan. Ia masih ingat bantal kesayangan Suzy yang kotor dan terpaksa harus dibuang meski ia harus didiami dan diomeli Suzy selama tiga minggu. Lalu lantainya. ia benar-benar dendam dengan Jinyoung dan Mark. Mereka membuatnya harus mengepel seluruh rumah lagi. Dan itu membuat badannya pegal—ugh menyebalkan.

Bajunya?

Ia bersumpah akan menceburkan Jinyoung ke selokan! Semua bajunya .. terkena lunturan dan siapa yang disalahkan? Dia. Hanya dirinya.

Kebunnya?

Ia bersyukur temannya Jaebum  sedikit waras.

Oppa..”

Jackson mengalah, ia bangkit dari duduknya menyambar coat cokelatnya dan tak lupa kunci mobil yang berada diatas nakas kamar.

Ketika ia keluar dari kamar, ia melihat Suzy sudah mengnakan sweater abu-abu yang dulu dibuatnyaa saat mereka masih berpacaran dahulu. Jackson rasanya ingin menangis ketika melihat robekan di sweater abu-abu milik istrinya karena ukuran perut Suzy yang besar. Ia perlu waktu enam bulan untuk menjahit satu sweater dan kini sudah robek!

“Coba kita lihat bagaimana kabar jagoan ayah….” Jackson mendekatkan telinga kanannya pada perut Suzy, ia tertawa kecil begitu mendengar suara tendangan dari bayi kecilnya, “…..Kau ingin menjadi pemain sepak bola ya, Jacky.”

“Jacky?”

“Ya, nama Jacky itu lucu ‘kan?”

“Jackson Wang. Nama Jacky itu nama anjing tetangga kita. Kau ingin ketika kau memanggil bayi kita yang mendekat malah anjing milik Gary Oppa?”

Aah….” Jackson tersenyum salah tingkah “….Aku lupa,” ucapnya lagi merasa bersalah.

Suzy memutar bola matanya, ia memilih meninggalkan Jackson yang masih merasa bersalah. Lebih baik ia menunggu di mobil saja, akhir-akhir ini emosinya sedang tidak baik.

Tak lama ia menunggu, Jackson sudah berlari kecil kearah mobilnya. Ia berjalan memutar untuk menduduki kursi kemudi.

 

…………………..

 

“Bolehkan aku duduk disini?”

Suzy memutar kedua bola matanya jengah, ia segera menyeret Jackson sebelum Jacskon berhasil menaiki kuda-kudaan milik anak kecil berumur dua tahun dan menjadi  bahan tertawaan orang lain.

“Jika nanti bayi kita lahir aku ingin mengajaknya ke wahana permainan.”

Suzy harus mengingat-ingat keinginan Jackson dan melarangnya membawa anaknya ke wahana bermain karena ia yakin ia tak mengawasi bayinya malah ikutan bermain atau malah ia juga akan berebut bola dengan anak-anak lainnya—ugh, semoga saja tidak.

“Kita sudah membeli baju, popok kain, dan peralatan lainnya. Jadi kurang apalagi?” tanya Jackson sambil mengabsen satu-satu barang yang berada di trolinya.

“Haruskah kita membeli  poster Apink?”

Jackson menunjuk salah satu poster berukuran jumbo yang kebetulan terpasang di salah satu tembok supermarket.

“Untuk apa?”

“Siapa tahu setelah melihat poster Apink bayi kita akan berhenti menangis,” ucap Jackson polos.

Suzy menghela nafas kasar, mencoba bersabar dengan tingkah abnormal suaminya..

“Berhenti membeli tiket konser Apink, berhenti membeli albumnya, berhenti menjadi fansnya atau kau akan berubah menjadi member ketujuh Apink.”

Waow itu keren! Memangnya boleh?”

Suzy tersedak begitu mendengar jawaban Jackson. Maniknya membesar tak mengira jika suaminya sebodoh itu!

“Aku hanya bercanda,” kilah Jacskon.

Uh, Suzy benar-benar lega.

Eh, Oppa kau sudah menyiapkan barang-barang  yang diperlukan jika aku akan melahirkan?”

“Beres.”

Suzy memicingkan matanya merasa ada yang janggal dengan senyuman Jackson kali ini.

“Tenang saja aku tak memasukan Album Apink, atau telur goreng, atau mungkin anak ayam milik Jihyo Nuna.”

“Lalu apa yang kau bawa?”

“Baju buatmu, baju untuk bayi kita, baju untukku dan alat make up.”

“Alat make up? Untuk apa?” tanya Suzy hampir berteriak.

“Kupikir setelah kau melahirkan kau tampak jelek jadi tak ada salahnya jika kau berdandan ‘kan?”

Suzy berdecak, malas menanggapi ucapan Jackson. Dulu setahunya suaminya itu tak se-gila ini tapi kenapa hanya karena kehamilannya ia mampu bersikap jauh dari logika?

“Oke minus make up,” ucap Jackson begiu mendapati wajah kesal dari Suzy.

“Tapi jika aku membawa Jacky tak apa ‘kan?”

“Jackson!!!”

 

Oke dia tak akan membawa Jacky.

 

Tapi jika dia membawa Betty—kucing milik Jaebum? Itu tak masalah ‘kan?

 

Atau mungkin membawa kelinci saja ya?

 

(Kuharap Jackson tak membawa buaya yang berada di kebun binatang :D)

 

 

 

…||.||…

 

[Bulan Kesembilan]
[Siap dan sigaplah jika istri anda merasa mulas atau air ketubannya sudah pecah. Jangan panik terlebih dahulu.]

OPPAA!! Sepertinya aku mau melahirkan.”

Hening.

“Bodoh! Cepat panggil ambulan!!”

Jackson masih menatap malas TV-nya seolah enggan meninggalkan acara music yangs sedang menampilkan perform Apink.

Wae?

Ia ingat betul kalimat ‘Siap dan sigaplah jika istri anda merasa mulas atau air ketubannya sudah pecah. Jangan panik terlebih dahulu.

Ingat Jangan panik terlebih dahulu.

 

Oppa perutku mulas—AIR  KETUBANKU!!!”

 

Kyaaaaa!!!!”

 

Jackson melompat dari sofanya, ia menghampiri Suzy yang sedang memasang wajah kesakitan.

Segera ia berlari mengambil kunci mobilnya membawa perlengkapan yang sudah di siapkannya dan memapah Suzy menuju mobilnya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya.

“Apa sakit?”

Jackson berkali-kali melirik istrinya cemas. Bodoh! Seharusnya tadi ia tak berbuat begitu, seharusnya ia tak membiarkan dirinya terlarut dalam lagu No No No –sayang sekali padahal kurang tiga lirik lagi.

(Istrimu akan melahirkan dan kau masih memikirkan Apink?!! Kau gila Jackson!!)

Jackson mengeluh bahkan hampir menangis saat macet sedang menderanya di lampu merah. Berkali-kali ia menyentuh klaksonnya agar mmobil di depannya dapat berpindah sejauh satu kilometer saja.

Yaa! Istriku mau melahirkan tau!!” teriaknya pada mobil di depannya.

“Diam kau brengsek!! Istriku sedang melahirkan di dalam mobil.!”

Ups—lelaki di depan malah lebih parah.

Jackson mengetuk-ngetuk stir mibilnya bingung. Ia harus segera melarikan Suzy ke rumah sakit atau anaknya akan bernasib sama dengan pengemudi di depannya.

Hey! Istriku sudah melahirkan dan bayinya perempuan!!……” What the hell!! Apa hubungannya dengan Jackson! “……Mungkin istrimu juga ingin melahirkan di dalam mobil, disini ada dokter.” Jackson terdiam well tawaran yang begitu menggiurkan tapi bagaimana jika nanti anaknya berubah nama menjadi Jackcar gara-gara istrinya melahirkan di dalam mobil.

Oh man!! Serius itu tidak KEREN!!!

 

“TIDAAAKKK”

 

Nafas Suzy semakin tercekik begitu mendengar teriakan Jackson. Berkali-kali ia mencengkram busa tempat duduknya untuk mengurangi rasa sakit barang sedikit.

 

TINNNN

 

Setelah Jackson melayangkan protesnya, macet di depannya mendadak hilang. Mobil Audy rusak yang habis di hantam oleh truk—sumber kemacetan telah menyingkir di gantikan wajah masam para petugas—mengingat Jackson selalu membunyikan klaksonnya.

Jackson tak mau ambil pusing oleh hal itu ia memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus dinginnya malam.

 

“Semoga istrimu melahirkan dengan mudah.” Samar-samar ia mendengar lelaki yang sempat di bentaknya tadi.

 

Jackson terus melajukan mobilnya.

 

Dan Suzy terus menahan mati-matian rasa sakitnya.

 

Jackosn berhembus lega melihat plang rumah sakit sudah terpampang di depannya, ia membelokan mobilnya tanpa memberi riting kanan terlebih dahulu. Ah persetan dengan aturan lalu lintas!.

Ia tak membawa mobilnya ke ruang UGD melainkan ke ruang utama rumah skait.

 

Ia melajukan mobilnya menembus anak tangga dan menembus pintu kaca yang terbuka. Suzy hampir menangis begitu menyadari mobil Jackson masuk rumah sakit.

Semua orang terpekik kaget—tak terkecuali balita berumur empat tahun.

“HEEYY  ISTRIKU  MAU  MELAHIRKAN!!!”

Jackson berteriak namun tak ada petugas yang mendekat ke arahnya—masih shock dengan kejaidan barusan.

“HEYY!!”

Sekali hentakan para petugas berhamburan menghampiri mobil Jackosn, dan membawa Suzy segera ke ruang UGD.

Jackson ikut tergabung dan berlari-lari sepanjang lorong. Ssesekali bibirnya memohon pertolongan dari yang kuasa.

Ia ternganga begitu melihat ruang UGD yang di penuhi alat-alat ‘keren’ tak seperti ruangan dokter pervert itu. Disini jauh berkali-kali lipat di penuhi benda-benda aneh.

Seorang dokter laki-laki memasuki ruangan ia memakai masker dan sarung tangan yang membelit kedua tangannya. Ia melirik Jackson yang masih bersikap kampungan kemudian melihat ke wajah pucat Suzy.

“Ayo sus—“

Stop! Apa yang akan kaulakukan dengan istriku?”

“Mem-membantunya melahirkan tentu saja.”

 

“TIDAK DENGAN MELIHAT ‘uhuk’ ISTRIKU!!!”

 

Sang dokter ternganga.

 

Suzy menangis.

 

Dan suster menjerit—meminta dokter wanita agar segera masuk.

 

“Minggir kau bukan siapa-siapanya,” teriak Jackson sambil mendorong tubuh sang dokter laki-laki menjauh dari isterinya.

 

“Biar aku saja.”

 

Seorang dokter wanita muda berlari masuk ke ruang UGD. Sembari berlari ia memasang sarung tangannya, sedangkan dokter pria hanya terkekeh sekaligus menjerit kesal pada Jackson—well hanya dalam hati sih.

 

…………………

 

Oyy Jackson bagaimana kabar istrimu?” tanya Jinyoung yang kala itu habis berlari.

“Iya bagaimana dengan istrimu? Setelah mendapat telepon darimu kita langsung kemari,” ucap Yongjae.

“Padahal aku sedang menonton bola,” ucap Mark.

Eum, bahkan aku lupa mengganti piyamaku,”ucap Jaebum kesal karena sedari tadi para suster menghadiahinya tatapan geli.

Hey apa salahnya jika lelaki memakai piyama princess?

Dan berwarna biru-pink

(Jelas itu aneh Im Jabeum!!)

 

“Hyung…”

Tanpa mereka sadari ada yang berubah dari mimik Jackson saat itu, mereka tak lagi menemukan wajah tengilnya atau senyumannya yang mengganggu penglihatan.

Ia menemukan Jackson tengah bergetar dengan segaris air mata yang sudah mencapai ujung kelopak matanya.

“Aku…” Jackson tak tahu kalimat apa yang tepat menggambarkan kekalutan hatinya. Ia terlalu takut saat tangannya menggenggam erat jemari Suzy dan Suzy menjerit kesakitan saat itu. Ia terlalu takut ketika melihat dokter muda berkali-kali mengatakan ‘ayo terus dorong’.  Ia…

Ia takut jika nyawa keduanya terancam dan akhirnya meninggalkannya.

Tidak!

“Sabarlah..” Mark yang pertama kali menarik Jackson dalam pelukannya. Dan untuk pertama kalinya Jackson menangis.

“Suzy.. dia.. dia.

Di Op-operasi.”

Jackson tak tahu lagi apa yang harus di perbuatnya. Dokter hanya bilang jika Suzy terlalu takut untuk mendorong bayinya keluar, dan katanya jika ingin keduanya selamat maka Suzy harus menjalani operasi sesar.

Jackson tak tahu jenis apa operasi itu?

Ia hanya tahu jika operasi itu pernah terselip dalam drama kesukaan ibunya.

“Apa operasi sesar itu sakit?” tanyanya parau.

Jaebum mengelus punggung Jackson mencoba menyalurkan sebagian energinya pada Jackson.  Jinyoung hanya mampu terpaku dengan otak masih terpasang pada dua kata yang baru saja terlontar dari mulut Jackson.

 

Operasi Sesar’

 

Apa operasi sesar itu….Sejenis operasi penambah kadar ketampanan atau kecantikan seseorang?

 

Apa ia perlu melakukan operasi itu agar Nayeon jatuh hati padanya?

 

Haruskah?

 

“Operasi sesar itu mengeluarkan bayi dengan perut dibelah agar bayinya dapat keluar,” ucap Yongjae setengah berbangga hati meski penjelasannya tak lebih baik dari anak berumur lima tahun.

Jinyoung mengerjap.

 

Iuh. Kalau begitu ia tak mau dan tak akan pernah operasi sesar.

 

Huaaaaaa!!!! Berarti istriku perutnya di belah, bagaimana dengan bayinya. Bagaimana jika bayinya ikut terbelah?!!!”

 

Jackson tahu ia adalah suami paling idiot sedunia, paling aneh sedunia, dan paling menyebalkan sedunia tapi rasa sayangnya dan rasa cintanya pada Suzy dan bayi mereka melebihi apapun. Ia rela jika harus menukarkan alam semesta agar istrinya dan bayinya dapat hidup. Ia juga rela jika harus menjadi member ketujuh Apink agar kedua orang dicintainya selamat.

Jackson semakin menangis dalam dekapan Mark.

Ia hanya ingin menjadi lelaki yang baik untuk Suzy dan menjadi ayah yang baik bagi bayinya kelak meski cara yang ditempuhnya tak layak jika disandingkan dengan logika. Namun begitulah ia mencintai kedua orang yang dikasihinya.

“Tuan Jackson.”

Seorang dokter lelaki—yang dibentak Jackson tadi keluar dari ruang operasi.  Ia tersenyum samar sebelum berucap, “Selamat anda akan menjadi ayah dan anak anda laki-laki”

Jackson kembali menangis dengan cengiran yang terkembang di bibirnya. Ia berlari memeluk sang dokter dan menciumnya beberapa kali—Setelahnya sang dokter harus meminum antiseptik.

“Aku akan menjadi ayah!!!” pekiknya.

“Kau membawa baju Suzy ‘kan?” tanya Yongjae.

Tawa Jackosn terhenti di udara, ia melihat Yongjae sebentar lalu mengangguk antusias.

“Aku membawa semua bajunya. Dari baju tidur, pesta, renang, dress, sampai aku membawa high heels-nya dan aku membawa satu kardus ramen takut-takut Suzy merasa lapar. Kalau tak salah juga aku membawa tenda—kau tahu aku benar-benar tak betah berada di rumah sakit jadi aku akan memasang tenda di luar dan membuat barbekyu di sana ah! Aku juga tak lupa membawa ayam dan seekor kelinci—tadinya sih aku ingin membawa Betty tapi karena tak sempat jadi aku membawa kelinci milik Jihyo Nuna saja.”

 

Hening….

 

Semuanya terdiam hingga jarum sekon menunjukan pergerakan setengah putaran jarum jam dan setelahnya…….

 

Mark menendang-nendang tembok rumah sakit  melampiaskan kemarahannya.

 

Jinyoung memilih menangis membayangkan anak Jackson mungkin akan mengalami hal-hal yang sulit setelah ini.

 

Jaebum ia lebih parah, ia malah mencekik Jackson.

 

Dan Yongjaesibuk memisahkan Jaebum dari Jackson.

 

Dan Sang dokter—Ia bersungguh-sungguh ingin sekali menjeburkan Jackson ke dalam kolam ikan piranha.

 

…………………..

 

Jackon tersenyum di balik kaca yang memisahkan antara dirinya dan belasan bayi mungil. Maniknya tak lepas dari bayi yang kini mengenakan seragam hijau dengan tulisan Brasil di kiri dadanya.

Mark hanya mampu tersenyum ala kadarnya melihat baju brasil yang sudah dimodivikasi untuk bayi yang baru lahir melekat pada bayi Jackson.

Lelaki itu bersikukuh memasangkan bajunya dengan alasan agar anaknya tak tertukar oleh bayi lainnya. Ia bahkan mencoret-coret ranjang si bayi dengan crayon agar suster tak salah ranjang meletakan jagoan kecilnya.

 

“Kalau kau sudah tumbuh besar, ayah akan mengajakmu menonton konser Apink bersama. Dan kita akan menjadi fans yang berada di barisan paliiiiing depan. Ayah juga akan membawa banner yang paliiiiiingggg besaaaar.”

 

Mark bergidik.

 

Jinyoung kembali menangis.

 

Yongjae kembali sibuk menahan Jaebum untuk tak mencekik Jackson kembali.

 

Namun itulah Jackosn. Meski ia dinobatkan menjadi ayah terburuk di dunia sekalipun  namun rasa sayangnya pada istri dan bayinya mengalahkan segalanya.

 

 

END

 

 

Ohoii sebenernya ini udah pernah di post di SFW tapi entah kenapa juga pengin post di sini haha. Maafkan saya yang sudah menistakan Jackson di sini huhuhu T^T /padahal seneng bisa bully kapten sableng Jack piiis ^^v/

Oh iya, FF ini udah aku edit ulang ^o^

eh

.

iya

.

Mana Bagian Favoritmu??

Iklan

4 thoughts on “[GOT7-Suzy series : Jackson Version] Pregnant?

  1. Annyeong i’m new readers in here 🙂 numpang baca ffnya boleh ya??
    hahaha lucu banget ffnya chingu 🙂
    ngakak abis!! itu jackson kok jadi terkesan freak ya?? menurut aku loh #gak penting!
    ada bikin sequelnya gak?? pengen baca.. 🙂
    next ditunggu ff karyamu yang lain ya.. gomawo 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s