Have You Ever Been Cried?

have-you-ever-been-cried1

*Credit Poster: Pinkeucho @DAG

 

Have You Ever Been  Cried?

.

 

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Main Cast : Suzy and Baekhyun || Genre : Friendship || Length : Ficlet|| Rating : General

****

.

.

Apa kau pernah menangis Baek?

.

.

Kembali aku menatap sehelai sapu tangan berukir nama ‘Cho Kyuhyun’ di sana. Mencoba mengingat-ingat jasa apa yang sudah dilakukan kain selebar 10 sentimeter itu. ‘Mengusap sesuatu?’ Meski hanya itu yang dapat kuingat dengan benar tapi itu semua lebih dari cukup untuk mengingatkanku kembali pada kejadian dua tahun silam.

Sudah genap 24 bulan yang lalu seorang laki-laki bermarga Cho menghampiriku dengan membawa sapu tangan birunya dilengkapi dengan senyuman yang tercetak pada bibir tebalnya sembari membantuku megusap luka akibat tabrakan dari Mark—seorang maniak yang menjadikan skateboard sebagai pacar keduanya setelah Eunkyung— mungkin terdengar klasik jika aku harus menjabarkannya menjadi rentetan cerita yang berujung hubunganku dengannya berubah sedikit lebih intim. Maksudku kami berpacaran—yeah setelah berdebat dengan Baekhyun apakah aku harus  menerima pengakuan cintanya atau tidak.

Kembali kuremas sapu tangan bermotif kotak monoton erat, tak sanggup mengingat kejadian yang baru saja kualami dan merupakan akhir dari semua ceritaku—dengannya.

“Ada apa Sooji?”

Dengan malas aku mendongak begitu lelaki bertopi merah yang ia pakai terbalik dari umumnya tengah menyeruput bubbe tea-nya acuh. Sebelah alisnya terangkat begitu menyadari perubahan yang terjadi dalam mimik wajahku.

“Kau menangis?”

Entah apakah dia—Baekhyun— benar-benar bodoh atau berpura-pura menjadi seorang idiot sekarang.

“Kenapa? Kau bertengkar lagi dengan kakakmu?” tanyanya masih acuh dan masih menyesap bubble tea-nya.

Aku menggeleng lantas menundukan kepalaku kemudian berayun pelan pada ayunan berkarat yang berada di taman tidak jauh dari kompleksku. “Aku putus dengannya.”

“Apa!!”

Kini terdengar suara nada tingginya yang sudah naik dua oktaf dari biasa. Aku kembali mendongak namun yang kutemukan hanyalah kilatan marah yang terkungkung di manik hitamnya.

“Baek?”

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian putus? Apa yang sudah dilakukan sunbae itu padamu? Apa dia menyakitimu?”

Tubuhnya beringsut ke arahku kemudian memposisikan dirinya berjongkok untuk menyamakan pandangan kami-sejajar. Tangannya menyentuh bahuku lembut.

 “Dia berselingkuh.”

Tepat ketika aku merampungkan kalimatku wajahnya memerah, maniknya memicing menyeramkan dan tangannya mengepal sempurna. Jujur, aku sedikit takut melihatnya bertransformasi menjadi Baekhyun menakutkan.

“Sudah kubilang ‘kan,” ucapnya masih menahan marah.

Sunbae itu tak baik untukmu namun kau malah mengabaikanku. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga, kalau begini aku tak bisa berbuat apa-apa percuma saja jika aku meninju wajah menjijikannya. Hal itu malah membuatnya kian senang karena bisa mematahkan hati seorang wanita. Kau tahu dia psikopat,” ucap Baekhyun yang aku tahu mencoba memaksakan nada kelembutannya.

Dia merengkuhku dalam pelukannya kemudian mengusap rambutku. Aku tahu gosip bahwa Kyuhyun adalah seorang player sudah bukan rahasia umum lagi di sekolahku, namun aku tak pernah menyangka jika rumor murahan itu benar adanya kupikir hanya bualan Sulli saja yang saat itu tengah meradang akibat cintanya ditolak oleh Kyuhyun Sunb—entah masih pantaskah aku menyebutnya demikian jika dia menggenggam jemari seorang gadis yang kutahu bernama Son Jihye dari name tag-nya kemudian berjalan melewatiku seolah aku makhluk kasat mata baginya.

“Jangan menangis, hemm? Pasti rasanya sakit.”

Tentu saja. Ini lebih sakit ketimbang menangis akibat ulah Joon Oppa—kakakku—karena ia membentakku. Ini masih jauh lebih sakit daripada itu.. Rasanya hatiku benar-benar telah terhimpit dalam lubang penuh batu yang terdapat racun di balik lekukannya.

“Jika kau menangis, orang itu pasti merasa senang sekarang. Apalagi jika menyadari jika kau kabur dari kelas terakhirmu.”

“Kau tidak tahu rasanya Baek. Ini sangat sakit .. sakit sekali.”

Ah aku bahkan melupakan fakta bahwa Baekhyun tak pernah merasa patah hati bahkan aku sanksi jika ia pernah menangis saat memasuki area pertengahan antara anak-anak dan dewasa.

“Kau bahkan tak bisa menangis.”

“Kata siapa? Aku pernah menangis,” ucapnya gugup.

“Benarkah?”

Dapat kurasakan kepalanya mengangguk mencoba meyakinkanku namun aku kelewat tahu Baekhyun. Dia bukan seorang lelaki yang pandai menguras air matanya pun ketika kami menonton film sedih yang berakhir sad ending. Bahkan ketika aku melihat Sehun—teman sekelasku yang memiliki wajah datar— menangis haru sembari sesenggukan aku masih tak menemukan setetes air yang keluar dari maniknya. Aku tak berpikir jika Baekhyun adalah seorang lelaki kuat, bagaimana mungkin jika lelaki kuat selalu mengeluhkan anak tangga yang kerap kali dilaluinya di sekolah?

“Apa kau tahu rasanya menangis?” tanyaku ketika kejadian sialan itu kembali terngiang dalam otakku.

“Sakit—kurasa.”

“Apa kau pernah merasa sakit?”

“Tentu saja.”

Ia melepaskan rengkuhannya kemudian menatapku penuh dengan binar keyakinan. Wajahnya tak lagi semenakutkan tadi namun aku masih menangkap raut kekhawatirannya yang terselip di balik pandangannya padaku.

“Kapan kau merasakannya?”

“Saat melihat sahabatku disakiti.”

Dan kini air mataku kembali mengalir hangat, bukan. Ini bukan rasa yang sama yang baru saja kualami beberapa sekon yang lalu. Ini lebih hangat dan mengharukan yang pernah aku dengar darinya dan aku bersumpah ini kali pertama Baekhyun mengucapkan hal semanis ini selama enam tahun aku mengenalnya.

Ia memang tak pandai merayu atau membuat seseorang harus merona malu. Ia juga bukan tipe yang mampu membuat gadis akan selalu tersenyum salah tingkah. Ia cenderung orang yang memberi orang arti keceriaan, itulah yang kusuka darinya meski ia kelewat jahil untuk dijadikan sebagai seorang teman dan terkadang ia kelewat cuek untuk mendengarkan penuturanku tentang GOT7 tapi ia adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya.

“Berhenti tersenyum, kau seperti orang gila sekarang,” tuturnya.

Aku menatapnya tajam merasa sedikit kesal karena ia baru saja merusak penilaian baruku terhadapnya.

“Nah sekarang berhentilah menangis karena Cho Kyuhyun. Berhenti untuk memikirkannya, berhenti menjadi gadis yang menyedihkan, dan berhenti untuk menatapnya meski barang sejengkal pun, eoh?”

Aku mengangguk lantas kembali memeluknya erat. Apa kau tahu fakta lain Baekhyun? Ia tak pandai membuat wanita berhenti menangis karena kata-katanya tapi ia sangat pintar membuatku berhenti bersedih dengan tingkahnya.

Emm.. Soo? Bisakah kita pulang sekarang? Ini sudah pukul tujuh malam dan kau masih menggunakan seragam lengkap, aku takut orang-orang berpikir bahwa aku sedang menculikmu.”

Apa kau tahu? Dia juga menyebalkan.

.END.

 

First FF dengan genre full friendship tanpa nyelip romance. Semoga kalian suka.

Maaf juga judul sama isinya tidak saling mendukung ^^v

Tolong review-nya ^^

 

Iklan

9 respons untuk ‘Have You Ever Been Cried?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s