[GOT7-Suzy series : Mark Version] My Irksome Brother

 76188d4a91e611e38d3b12c6ba81c438_8

[GOT7-Suzy series : Mark Version] My Irksome Brother

 .

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Tittle : My Irksome Brother || Scriptwriter  : Fanficfunny || Main Cast : Bae Suzy Miss A and Mark GOT7|| Support Cast : Lee Jiuen [IU], member GOT7, member EXO || Genre : Fluff, School Life, Romance, comedy, absurd!|| Duration : Oneshoot|| Rating : T
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

Summary :

Aku sangat menyukai Mark! Aku membencimu Oh Sehun!

Bisakah kalian berpisah?

***

.

.

 

[Gift Fail]

 

Dia lelaki bersurai hitam yang kala itu sedang berdiri sambil menatap lurus kearah lapangan sekolah oh bukan lelaki penyuka bubble tea yang berada di sebelahnya. Sungguh aku tak berminat menjelaskan pria bernama Oh Sehun lelaki yang hanya berselisih tiga bulan denganku itu terlampau sering menjejeri Mark dimanapun berada termasuk tempak duduknya.

Dan dengan kehadiran Oh Sehun yang sangat menyebalkan itu membuat sebuah bungkusan berwarna peach milikku harus kembali berakhir di loker menunggu Sehun pergi jauh dari Mark. Mark? Oh itu nama lelaki yang seharusnya kuceritakan, dia adalah seorang maniak cokelat yang hampir menabraku saat kali  pertama aku  menginjakan pantofel hitamku di salah satu sudut lapangan sekolah.

“Suzy.”

Oke aku mendengarnya, kau  tak perlu mengulang untuk sepuluh kalinya Lee Jieun jika kau ingin lebih didengarkan olehku.

“Kau tinggal memberikan saja pada Mark memang apa susahnya? Semua perempuan yang memberikan Mark hadiah sudah barang tentu Sehun mengetahuinya jadi kau tak perlu merasa malu pada Sehun.”

“Ya, jika dia bukan sepupuku, Jieun.”

“Aku tak mengerti kenapa Sehun selalu berada di  sekeliling lelaki pendiam itu.”

Oh aku terlampau tidak mengerti pada Sehun. Bagaimana mungkin ia mempunyai teman setampan Mark tak pernah memberitahukannya padaku. Mencari namanya pun aku harus menyumpal Sehun dengan lima bubble tea agar dia berhenti menggodaku apalagi membocorkan pada siapapun meski aku hanya bertanya nama dan alamatnya saja tapi tetap saja itu hal yang memalukan.

“Kau masih mau terus disini atau pergi bersamaku? Aku lapar.”

Tak ada pilihan lain selain pergi bersama Jieun daripada memilih menunggu Sehun menjauh barang satu milimeter dari jangkauan Mark, sudah pasti itu tak mungkin apalagi jika mata mereka sudah bersibakku dengan sepak bola.

Aku tahu mereka sangat payah dalam olahraga sepak bola tapi yang aku bingungkan kenapa mereka snagat tertarik bola. Untuk apa tertarik jika tak bisa?

“Suzy-ah cepatlah .. aku sangat lapar.”

 

|.|

[Bang! Unsuccessful]

 

“Damon-ah kau harus berpura-pura mati saat aku bilang bang. Oke?”

Ia mengangguk namun lebih ke perasaan bingung yang jelas tercetak pada mimik wajah lucunya  tapi anehnya hal itu membuatku jengkel. Biasanya jika ia tahu apa yang aku perintahkan Damon akan menggonggong lucu seolah berkata ‘siap acaptain sepertinya ia tertular virus bodoh dari Monggu –anjing milik Jong In tetanggaku yang selalu menggonggong jika aku lewat dan setelahnya Jong In sudah bergaya sok cool dihadapanku, kenapa aku harus menceritakan Jong In?—

Eoh dia lewat.”

Dengan gerakan seanggun mungkin aku berlari disekitar lapangan yang kali ini tampak sepi dari orang-orang yang ingin menghabiskan minggu paginya dengan berolahraga. Tampak olehku tubuh kerennya yang terbalut jaket abu-abu tengah berlari melewatiku, ugh bau parfum manly miliknya sungguh membuatku candu.

Aku masih tetap berlari dengan gerakan konstan dan sudah kuatur seanggun mungkin. Kau tahu? Aku harus berlatih selama  tiga hari demi mempelajari cara lari yang anggun dan itu  benar-benar menjengkelkan.

Ekor mataku kembali menilik Mark yang kini sudah hampir menyelesaikan putarannya dan ia sedang menuju kearahku. Ini waktunya Damon.

Bang!”

Damon berhenti ia melihatku dengan ekspresi kebingungan.

“Mati, kau harus berpura-pura mati!” gumamku.

Bang!”

Ekornya ia goyang-goyangkan semabari menatapku.

Yaa! palliwa bang! Bang! Bang! Bang!”

Damon menggonggong ke arahku. Akhirnya kau mengerti juga anjing kecil. Dia menggongg sekali lagi sebelum berguling ditanah dan kembali berdiri lagi, memnag maksudku untuk jatuh tapi bukan untuk berguling dan berdiri lagi.. ayolah mati. mati. Kau harus berpura-pura mati.

Bang! Bang! Bang! teriakku penuh emosi.

Mark semakin mempersempit jarak dan dapat kulihat tinggal lima langkah lagi untuk sampai ketempatku berdiri.

Bang! Mati, ayo cepat mati,” gumamku sambil menidurkan tubuh Damon.

Tapi nyatanya ia bangun kembali dengan muka berseri-seri seolah aku sedang mengajaknya bercanda.

Bang! Bang! Bang!”

Oh tidak! Sekarang Mark sudah melewatiku dan mengabaikanku. Ini semua gara-gara Damon seharusnya ia berpura-pura mati agar Mark mau  membantuku untuk memeriksa Damon tapi kenapa kau mengacaukannya Damon?

Bang!”

Damon terjatuh berpura-pura mati.

“Kau terlambat Damon!” teriaku kesal.

|.|

 

[Library]

Tak ada yang lebih menjengkelkan dibanding pelajaran kosong milik Jung Saem. Mungkin jika guru lainnya mereka hanya akan memberikan tugas kecil-kecilan namun berbeda dengan Jung Saem yang lebih tega membiarkan muridnya mencari referensi bertumpuk-tumpuk buku Biologi hanya sekedar menjawab lima biji pertanyaan yang menurutku sangat tidak masuk akal. Ia benar-benar guru hebat karena secara tak langsung membuat kami harus berdiam diri di perpustakaan dan mencari jawabannya dipuluhan buku yang terpampang di rak.

Aku membencimu Jung Saem!

“Lihat ini?”

Suara khas milik Baekhyun terdengar, aku meliriknya sekilas lalu mengangguk datar saat dia memperlihatkan puluhan not berjejer  di selembar kertas putih yang kutahu diambilnya diam-diam dari buku Chen.

“Kau harus menyanyikannya denganku.”

Jangan salah paham dengan kami. Meskipun aku sedikit dekat dengan Byun Baekhyun namun hubunganku sejauh ini masih berstatus teman satu ekstrakulikuler dan teman sekelas dan kupastikan tak ada peningkatan lebih jauh lagi karena ia terlanjur menaruh hatinya pada Yae Bin –perempuan yang selalu dijahilinya—

“Kau sudah selesai?”

“Kau lihat Eunji, aku bahkan baru mencamtumkan nomor satu. Bukankah aku hebat?” ucapku kesal.

“Huu keren setidaknya kau tahu apa yang akan kau kerjakan dahulu, well selamat berusaha mencarinya aku akan mencari di kamus Biologi terbitan 1982 kuharap tentara Jepang belum memusnahkannya,” ucapnya sedikit kesal karena kutahu sedari tadi ia membaca namun belum juga tahu jawaban dari sepuluh kalimat dinomor pertama.

“Hey itu Mark!”

Mana? Dimana? Aku sedikit menegapkan kepalaku saat dia berjalan mendekat ke arahku. Pandanganku langsung beralih menatap buku tebal dengan kesal begitu mendapati Sehun dan murid dari cina—Yixing namanya—  berada disampingnya.

Sial! Kenapa ada Sehun lagi?

“Sepertnya aku harus memusnahkan Sehun,” gumamku yang ditanggapi tawaan kecil dari Jieun.

“Cobalah untuk menarik perhatiannya meskipun dia hanya tahu namamu,” bisik Jieun.

“Caranya?”

“Berpura-pura meminta tolong mengambilkan buku.”

“Mana yang harus kuminta? Jika aku sependek Yae Bin aku bisa melakukannya masalahnya semua  buku di rak ini dapat kujangkau dengan mudah.”

“Benar juga.. Ah! bagaimana kalau mencoba bertanya letak buku?”

“Kalau ada Sehun kenapa aku harus meminta tolong padanya?” jawabku datar.

“Ck! Sehun lagi,” gerutu Jieun kesal mengetahui nama sepupuku penghalang dari segalanya.

“Menjatuhkan kartu perpustakaanmu di depannya? Mungkin dia akan mengambilkannya untukmu.”

Aku melirik ke arah Mark yang kini sudah berada di depanku. Shit! Kenapa tiba-tiba dia duduk di depanku? Apa dia ini seorang mafia? Kenapa jantungku bisa melompat-lompat begini. Tunggu…tunggu… apa cara duduku aneh? Bagaiaman yang benar? Haruskah aku menegakan tengkukku?

“Apa yang kau lakukan sepupuku?”

Sial! Sehun lagi!

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Cara dudukmu sedikit aneh, kau tahu itu?”

Aku bersumpah akan memberi racun tikus pada bubble teanya agar dia berhenti tertawa kecil. Ya ampun Bae Suzy! Kau baru saja ketahuan sedang menjaga sikapmu didepan Mark! Apa Mark tahu? Apa benar aku aneh seperti ini? Haruskah aku sedikit memiringkan wajahku? Atau mungkin menggeser letak tanganku?

“Manis juga.”

SIALAN KAU OH SEHUN! Aku tahu kau sedang menyindiriku.

“Kupikir menjatuhkan kartu perpustakaanmu didepan Mark bukan ide yang baik,” bisik Jieun lagi sambil mengerling ke arah Sehun yang sedang duduk di depanku sambil menahan senyumnya.

“Jieun,” bisikku pelan.

“Bisakah kau memberiku tali?” tanyaku frustasi.

“Untuk apa?”

Aku menoleh ke arah Jieun memasang wajah sadisku kemudian berbisik, “Membunuh Sehun.”

“APA?”

Seluruh penghuni perpustakaan berjengit kaget mendengar teriakan Jieun termasuk Mark yang sedang menaikan sebelah alisnya. Oh ini semakin menyebalkan!

“Jieun-ah ini perpustakaan,” ucap Eunji jengkel sambil mengacungkan buku biologi setebal lima ratus halaman.

“Maaf. Maaf.” Ia membungkuk meminta maaf pada seluruh siswa yang masih betah memberikan tatapan intimidasi mereka menusuk tepat di retina Jieun membuatnya semakin merasa bersalah. Aku memilih menyandarkan kepalaku pada permukaan buku yang setahuku berbahasa bilingual.

“Jangan bercanda, kau tak bisa membunuhnya dia sepupumu.”

Ya Tuhan! Aku hanya bercanda.

“Aku tak akan memberikanmu tali. Apa sepatumu bertali? Coba kulihat, yaa coba kulihat.”

 

Tak!

 

Jieun mengusap permukaan poninya yang baru saja kuhadiahi buku tugas. Ia mengerucut protes dengan tindakan tak berperikemanusiaan dariku, well jangan salahkan aku tapi salahkan reaksinya yang terlalu berlebihan.

“Sakit,” rengeknya masih menyentuh dahinya.

“Suzy-ah,” pangggil Sehun dengan nada setetngah bercanda.

“Jangan menggodaku atau kulemparkan kamus ini ke wajah tampanmu,” ucapku tak minat.

Mark mendongak, merasa sedikit penasaran dengan baru saja yang kulakukan. Kulihat dari raut wajahnya menunjukan sedikit keterkejutan lalu ia tersenyum manis kembali mengencani novel yang diambilnya.

Well, Suzy! Kau sukses mempermalukan dirimu sendiri didepan Mark!.

“Aku benar-benar ingin membunuh Sehun,” gumamku semakin jengkel.

“JANGAN!”

Yaa! Jieun-ah diam!” teriak hampir seluruh siswa kelas.

|.|

 

[Canteen]

 “Yaa! Jieun palli.. palli.. perutku sudah lapar,” teriakku keras memenuhi ruang kelasku yang kosong.

“Sebentar lagi, kurang satu nomor lagi.”

Tangan Jieun meliuk-liuk diatas buku bersampul kotak-kotak merah miliknya. Wajah seriusnya bergaung menjadikan pendukung bahwa ia sedang mati-matian mengerjakan tugas memberatkan yang sayangnya menjauhi fakta yang ada bahwa ia sedang mencontek pekerjaan rumahku.

“Selesai.”

Ia menutup bukunya cepat lalu berlari menghampiriku yang masih betah beridiri menyandar pada pintu ruang kelas. Kami berjalan sedikit terburu-buru ketika tak ada lagi tanda-tanda siswa yang menyentakan sepatunya pada permukaan keramik putih, pastilah mereka semua sudah berkumpul di kantin sekolah untuk mengisi perut mereka. Awas saja jika Ahn ahjumma hanya memberikan kami sisa sayur ataupun sisa nasi saja.

Aku sedikit bernafas lega saat melihat hanya tersisa beberapa antrean yang masih meminta jatah makan siang mereka. Aku mengambil nampanku dan seperti biasa beberapa pelayan dapur memberikan kami masing-masing satu sendok besar lauk dan satu mangkuk nasi ukuran jumbo –Ah yang ini karena aku memintanya—

Karena semua tempat duduk sudah terisi dan hanya tersisa satu tempat duduk yang kebetulan berukuran sedikit lebih kecil dibandingkan tempat duduk lainnya kami terpaksa duduk di sana, tapi mau bagaiaman lagi sudah tak tersisa lagi tempat duduk kecuali jika mau menyempil diantara Chanyeol, Baekhyun, Junior, Bambam, Yixing,dan Jackson atau mungkin sok kenal dengan Krystal Sunbae dan teman-temannya.

Mungkin duduk di bangku yang hanya mampu menampung dua orang di setiap sisinya lebih baik di bandingkan ikut mengobrol masalah seputar lelaki dengan Baekhyun dan teman-temannya atau mencoba sok kenal dengan Krystal Sunbae.

“Eh? Kau tidak mencari Mark?” tanya Jieun heran.

“Kepentingan cacingku lebih mendesak, diamlah dan makan. Selamat makan.”

Aku menyuapkan sendok besar makan siangku sedikit terburu-buru mengingat aku sudah sangat lapar karena Sehun seenaknya saja menyeretku untuk berangkat bersamanya dan menghabiskan makan pagiku. Oh dia harus menggantinya dengan bulgogi!

Dan alasan lainnya tentu saja pria berwajah tampan, Mark. Aku ingin segera menghabiskan makananku dan mencari posisi duduk Mark untuk melihatnya dari jauh, kuharap kali ini ia tak sebangku dengan Sehun.

“Suzy.”

 

Uhuk-uhuk

 

Sehun gila! Ia membawa Mark duduk di depanku lagi! Dia benar-benar suka sekali menggodaku!

“Ini.”

Aku mengambil botol air mineral yang Mark juluran padaku, jika saja Sehun tak memanggilku seperti itu mungkin aku tak akan pernah meminum air mineral dengan gaya jauh dari kata anggun.

“Kau ingin membunuhku,” sungutku kesal.

Manikku beralih menatap Mark dan mengembalikan botol air mineralnya kemudian bergumam, “Terimakasih Mark-ssi.”

Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasihku. Mark.. Apa kau seorang pengeran? Atau kau seorang dewa? Ya Tuhan aku bisa meleleh karena senyumanmu.

“Ya ampun.”

Bagus sepupu tercintaku kembali berulah.

“Apa? Aku hanya bilang ya ampun  Bambam dan Chanyeol bertengkar lagi hanya gara-gara siapa member tercantik di Girls Generation, tidak percaya? Lihat mereka berdua.”

Aku masih menatapnya tajam meskipun dapat kusimpulkan memang  Chanyeol dan Bambam sedang memamerkan poster seukuran buku yang bertanda tangan membernya. Tapi aku tahu ia hanya beralasan bagaimanapun aku sudah mengenalnya lebih dari separuh umurku.

Aku kembali menyendokan satu persatu makan siangku pelan yang kali ini anehnya rasanya sangat menggiurkan. Tentu saja aku lapar, dan Sehun membawa Mark untuk duduk di depanku. Jujur saja ini membuatku tersiksa, aku harus makan seanggun mungkin di depan Mark mengabaikan kebutuhan primerku yang masih setia merutuki tindakanku.

“Makan yang banyak adiku,” ucapnya sedikit menggoda.

Seharusnya ya jika kau tak membawa Mark kemari bahkan aku rela jika harus memakanmu sepupuku tersayang –ugh menjijikan—

Kami kembali memakan makan siang kami dan untunglah Jieun tak kembali berulah layaknya kemarin tapi bukankah aku yang memualainya dulu? Entahlah..

“Dasar lamban.”

Kenapa Sehun hobi ekali menyindiriku? Kenapa harus di depan Mark? Oh ini membuatku gila Oh Sehun berhentilah bersikap menjengkelkan. Oke cukup, aku akan menceramahimu kembali Tuan Bubble tea.

Belum sempat aku mengaplikasikan keinginanku Mark sudah meninju pelan lengan Sehun sambil tersenyum aneh. Eoh? Jadi kalimat tadi bukan untukku melainkan untuk Mark? Tapi lamban itu maksudnya apa? Jika lamban dalam makan emm.. mungkin harus ku akui ia satu level lebih lamban di banding Sehun –kenapa aku harus memnadingkan dengan orang rakus sepertinya yang tentu saja Mark akan kalah berkali-kali lipat—

“Apa harus aku?”

Apa yang mereka bicarakan? Yaa! Sehun apa yang sebenarnya kau bicarakan dengan Mark?

“Mereka berbicara tentang apa?” bisik Jieun.

“Entahlah, mungkin masalah lelaki?” balasku pelan.

“Maksudmu masalah tentang organ vital mereka?”

“LEE JIEUN!”

Baiklah kali ini akulah yang harus membungkuk meminta maaf kepada seluruh siswa Kyunghae atas sikap lancangku yang berteriak beberapa oktaf hingga membuat Baekhyun berbinar-binar dan sepertinya aku harus terbiasa mendengarkan ia merengek untuk berduet dengannya mengingat bulan depan ada lomba menyanyi antar sekolah.

Aku kembali ke tempat duduku canggung tatkala masih ada manik yang menatapku tak suka sekaligus penasaran. Ini memalukan.

“Ada apa?” tanya Sehun kebingungan.

“Jieun menginjak sepatuku,” jawabku sekenanya.

Kuharap kau tak menginterogasiku lagi Oh Sehun. Kumohon kali ini bersikaplah sedikit normal.

“Ooh, begitu.”

Terimakasih Tuhan.

“Apa kau serius dengan masalah—“

“—Stop!” aku menghentikan bisikannya tak mau membayangkan masalah apa yang dihadapi Sehun dan Mark. Tidak, tidak, ini semua membuat otaku sedikit tergelincir. Kenapa Jieun harus sepolos itu?

“Suzy-ah apa mereka benar-benar mempunyai masalah di—?”

Aku mohon jangan teruskan lagi Lee Jieun.

|.|

 

[Unforgettable Moment]

Aku masih tak mengerti kenapa Sehun mau berbaik hati mengajaku pergi ke festival kembang api yang diadakan di Busan setiap dua tahun sekali. Aku masih ingat tahun lalu aku merengek pada Sehun untuk menemaniku menonton festival kembang api mengingat aku tak mempunyai saudara dekat yang lain kecuali Sehun. Sebenarnya bisa saja aku pergi bersama ayah dan ibuku tapi mereka selalu berkumpul bersama teman-temannya dan bercerita panjang lebar tentang masa muda mereka kemudian membandingkannya dengan zaman sekarang ini dan hal itu membuatku kesal. Jika bersama Jieun mungkin sedikit tak mungkin karena biasanya ia pergi bersama saudara-saudaranya ugh aku cukup iri dia mempunyai saudara yang normal.

“Cepatlah,” teriakku padanya yang masih berkutat dengan sneakers navy blue-nya.

Begitu selesai ia segera menarik tanganku, menggenggam erat jemariku. Ini aneh? Kenapa tiba-tiba dia menautkan kelima jarinya di sela-sela jemariku? Seingatku dia melakukannya terakhir saat kami masih duduk di bangku SMP itupun saat kami mau menyebrang.

“Nona Bae.” Ia menatap langit kelabu yang bertahtahkan benda langit yang bersinar terang.

“Ya?”

Aku menelisik lebih jauh ke dalam manik kelamnya mencoba menerka apa yang dipikirkannya namun tak ada yang kutemukan selain pancaran maniknya yang masih sama seperti dulu.

“Kuharap aku melakukan keputusan yang benar.”

Ia kembali mengeratkan jemarinya. Apa dia mulai menyukaiku? Eh? Yang benar saja.

“Jika kau memikirkan yang tidak-tidak aku akan menyentilmu tiga puluh kali,” sungutnya.

“Aku tidak berpikiran macam-macam. Hanya saja malam ini kau terlihat aneh, ada apa? Apa ada masalah? Sama seperti dua tahun yang lalu?”

Dua tahun lalu ia memang mempunyai masalah dengan cinta pertamanya. Cinta pertamanya mengkhianatinya dengan menjadikan Sehun hanya sebagai pelampiasan dan membuangnya tatkala lelaki berstatus mantan kekasihnya meminta menjalin hubungan kembali. Aku benar-benar membenci perempuan itu.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku merasakan deja vu. Bukankah ‘perempuan itu’ memutuskan hubungan denganku tepat sebelum kita pergi ke festival kembang api dan di sana kita menyaksikan ia tengah bersenang-sennag dengan mantan kekasihnya. Kenapa aku terlihat menyedihkan begini.” Ia menggaruk tengkuk lehernya mencoba mengabaikan perasaan yang kutahu masih terlampau sakit sekedar untuk diingat.

“Aku tahu. Sudahlah jangan diingat lagi lagipula masih banyak perempuan yang lebih baik darinya.”

“Bagaimana dengan teman sekelasmu Yae Bin? Jodohkan aku dengannya, bagaimana?”

Yaa! Tidak mau. Aku tidak mau jika harus bertengkar setiap hari dengan Baekhyun lelaki itu sangat menyukai Yae Bin.”

Aku tak bisa membayangkan si cerewet Baekhyun terus menyerangku dengan kata-kata. Oh! Itu buruk.

Tak terasa kami telah sampai di pintu masuk festival kembang api. Suasananya cukup membuatku terkejut karena ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Sehun melepaskan jemarinya lalu mengacak rambutku. Aku tahu ini sedikit aneh.

“Kau tiba-tiba sedih dan sekarang kau tiba-tiba tersenyum. Apa kau gila Tuan Oh?”

“Tidak. Tapi kau yang akan gila.”

Tepat setelah dia mengatakannya dapat kulihat sosok Mark yang mengenakan pakaian casual dilengkapi topi bertgradasi hitam muncul dari balik kerumunan perempuan yang sedikit berbisik-bisik sambil menunjuk dirinya. Mungkin fans. Sama sepertiku. Ugh miris sekali.

“Aku tak mempunyai teman tidak masalah bukan kalau aku bergabung?”

Tidak sama sekali.

“Tentu saja, ayo kita membeli camilan lalu segera mencari tempat duduk, ini sudah hampir jam dua belas,” ucap Sehun.

Aku merutuki didirku sendiri yang sangat susah di bangunkan jika saja aku bisa bangun lebih awal dan pergi ke festival kembang api lebih awal mungkin aku bisa bersama Mark lebih lama.

Setelah membeli beberapa camilan, kami memutuskan untuk pergi mencari tempat yang nyaman untuk melihat festival kembang api. Tapi tunggu alih-alih mereka mereka mencari tempat diantara kerumanan orang kenapa mereka berjalan kearah jalan sempit menuju bukit?

“Pegang ini. Pegang ini. Bukankah itu Jia Miss A? Woaah.. aku harus mendapatkan foto dan tanda tangannya. Akan kupamerkan besok pada Luhan dan Yixing.”

Mark menerima camilan dengan wajah kebingungan begitupun denganku. Setahuku aku tak menemukan ada idol yang terselip diantara ribuan warga Busan.

“Lebih baik kita berdua saja. Jika tak cepat kita akan melewatkan festival kembang api tahun ini. Ayo.”

Eh? Pergi? Bedua dengan Mark? Ini serius?

Kami berjalan menyusuri jalanan menanjak yang jujur saja baru pertama kalinya aku melihatnya. Mark berada di depanku masih setia bersenandung dengan nada yang berubah-ubah. Tak lama kami berjalan aku menemukan sebuah bukit  tak begitu tinggi namun mampu menadakan bahwa gundukan tanah berumput itu bukit. Ia meletakan camilannya lalu duduk beralaskan rumput lembut.

“Duduklah.”

Ini pertama kalinya aku bersama Mark hanya berdua. Ini pertama kalinya ia berbicara lebih banyak denganku. Tapi ini bukan pertama kalinya jantungku berdetak keras.

Dengan sedikit gugup aku duduk disampingnya namun masih menyisakan jarak yang cukup takut ia akan mendengrkan pergerakan tak normal jantungku.

 

Duaarr

 

Aku tak menyangka melihat kembang api dari sudut pandang yang berbeda seribu kali lebih baik dibandingkan harus berdesak-desakan dengan para pengunjung lainnya.

Malam berbintang kini tak lagi menyimpan kesepian karena sang bintang sudah tersenyum bahagia melihat berbagai coretan warna mengarungi cakrawala yang malam ini tak berselimut awan.

“Aku menyukai kembang api.”

“Aku tahu.”

“Aku sangat menyukai warna merah pada kembang api.”

“Aku tahu.”

“Aku selalu makan bbobki jika ada kembang api.”

“Aku tahu.”

“Darimana kau tahu segalanya tentangku?”

Eh? Apa? Apa yang diucapkannya?

“Darimana kau tahu segalanya tentangku?” ulangnya lagi.

Oh man!!! Seharusnya aku berpura-pura tak tahu. Ini semua gara-gara ulah kembang api yang terlalu menariku lebih dalam sehingga tanpa kusadari dua kalimat itu terlontar begitu saja. Bodoh! Bae Suzy bodoh!

“Temanku sering menceritakannya. Kau tahu dia sangat mengaggumimu.”

Yeah, yang kumaksud adalah diriku sendiri.

“Siapa dia?”

Bae Suzy siswi kelas 2-1

Aku mengendikan bahu lantas mengakhiri kecanggungan ini dengan senyuman kaku. Maniku kembali mencoba menyelami kembang api yang masih saja meletup-letup diangkasa sialnya jantungku telah mengacaukan segalanya. Ia terlampau jujur untuk mengatakan aku tak tahu.

“Apa kau tahu aku ini seorang maniak cokelat?”

“Entahlah.”

Aku kembali memfokuskan diri pada kembang api.

“Apa kau juga tahu aku menyukai seorang gadis bernama Bae Suzy?”

“Aku ta—“

 

 Dduarr

 

“Apa?”

“Aku menyukaimu.”

“Aku? Atau kembang apinya?” tanyaku masih tak mengerti.

“Aku menyukai Bae Suzy.” Ia tersenyum puas kemudian mengacak rambutku.

Aku sendiri masih terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakannya alih-alih mendapat jawaban aku malah tak bisa berpikir dengan jernih seolah otaku telah tumpul.

“Jadi kau mau menjadi kekasihku?”

Dia serius?

“Aku serius,” ucapnya ditemani senyuman menawan.

“Tentu saja,” ucapku salah tingkah.

Aku masih belum percaya jika Mark menyatakan perasaannya padaku. benarkah? God I Love You.

“Akhirnya acara kucing-kucingan ini berakhir. Wah betapa melegakannya.. Aku memang lamban, seharusnya dari dulu aku menyatakannya tanpa harus campur tangan kakak sepupumu.”

Kakak sepupu? Tunggu.. Tunggu.. Kakak sepupu maksunya Sehun? Oh Sehun?

“Apa kau tidak tahu kenapa aku selalu disampingmu bersama Sehun?”

Untuk menggodaku tentu saja.

“Entahlah.”

“Dasar tidak peka, aku menyukaimu dan aku meminta bantuan pada sepupumu. Awalnya ia sama sekali tak menggubrisku tapi lama-kelamaan dia mau membantuku. Kau tahu aku hampir gila membujuk sepupumu untuk membantuku mendekatimu  bahkan ia tak bisa disogok dengan puluhan bubble tea dalam beragam rasa.”

Kenapa ia tak menceritakannya padaku?

“Kau cerwet,” ucapku menyadari ia baru saja mengeluarkan sekelumit kalimat.

“Lalu kenapa kau jadi pendiam?”

Oh Shit! Kenapa wajahku memanas sekarang. Ini memalukan.

Drrtt~~

Sebuah getaran yang kuyakini berasal dari ponselku bergetar dengan segera aku membukanya well untuk menyembunyikan rasa malu juga tentunya.

 

From : Sehunnie
Kupikir Mark adalah lelaki terbaik dari semua lelaki yang mencoba mendekatimu. Semoga kau mendapat pengalaman cinta pertamamu yang menyenangkan. Maafkan aku sempat melarangmu bersama lelaki ini itu, aku hanya tak ingin kau merasakan apa yang kurasakan. Karena aku begitu menyayangimu adiku yang menyebalkan :P.

Note : Tidak ada adegan kissing oke!

 

“Kakakmu sangat menyayangimu untuk itu jangan berniat untuk membunuhnya.”

“Dariman aku tahu?” tanyaku tanpa sadar.

“Saat kau berbisik-bisik dengan Jieun bukankah kau ingin membunuhnya dengan tali?”

Umm, maafkan aku Oh Sehun. Dan terimakasih Sepupuku..

“Mark Oppa?”

Mark mengangkat wajahnya kaget begitu aku memanggilnya Oppa, namun sedetik kemudian kedua pipinya memerah dan kupikir pipiku juga sekarang memarah.

 

CUP~

 

Dengan cepat aku menjauhkan diriku menatap kembang api yang masih setia meledak di angkasa. Hatiku juga, meledak dan menghasilkan ribuan warna yang jauh lebih cantik dibandingkan kembang api manapun.

“YAA! Bae Suzy! Sudah kubilang tidak ada adegan kissing!”

Sepupuku mengintip!!

END

 

My First FF GOT7. Huhu maafkan aku karena ini hancur banget. Tapi salahkan Mark yang gila gantengnya itu.. senyumannya bikin meleleh /aahh melting melting/ /rolling/

Sebagian dari Fanfic ini sih sebenarnya menceritakan perasaanku waktu liat GOT7 terutama Mark. Sumpah engga tau kenapa berasa jadi ababil /what!/ okey salahkan member got7 yang terlanjur keren.

Sekalian mau bilang. Aku HIATUS sampai UN berakhir so pay pay 😛

Mana Bagian Favoritmu??

 

 00022833lll

 

23 respons untuk ‘[GOT7-Suzy series : Mark Version] My Irksome Brother

  1. Kucing kucingannya selesai 🙂 aigoo sejahil twhun tetnyata malh jdi cupid suzy kekwkeke
    Suzy aj, qw jga pingen jotak jieu hohohoho ini anak polosnya bikin jengkwl 🙂
    Kagak ada adegan mlh sda kiss hahaha dasar suzy- mark

    1. Hohoho…. Sehun niatnya sih baik tapi dia jadi cupidnya bikin suzy salah tingkah hoho.
      Jieun polossss bangettttt zzzzz 😀
      Eh kisseu? Ah ini mah dasar si bocahnya nakal engga nurut kata sepupu-nya keke

  2. Keren thor,sumpah,!!!
    mark kalau senyum mang manis bangett..
    sehun ternyata ngebantuin suzy..keke
    gak berhenti ngakak tiap jieun ngomong..
    pokonya deabak..

    1. Mark emangg maniiiiiiisssss banget kayak gulali di kasih gulaa abis itu dikasih caramel. Bener2 bikin cewe kelepek2 ditambah sikapnya yg pendiem bikon gregetan itu orang sebenernya kayak apa sih….
      Jiahaha Jieun sepolos mukanya… atau Suzy yg terlalu dewasaa kah??
      Hoho hanya mereka yg tahu.
      Wah Sehun meskipun evil dan sering bikin suzy pengin bunuh dia tapi sebenernyaa dia baik pake banget…

      Well makasih ya udah komen di sini Lenny? Aku manggilnya lenny atau kak lenny?

    1. Haha kan biar engga bosen. Sekali2 buat Suzy yang nakal sama sepupunya yg sebenernya sepupunya juga nakal sih .
      Jadi dua2nya bikin gemes deh. Sekali2 juga buat Suzy sadis ama Sehun jarang2 loh bisa bully maknae sm /soalnya maknae sm epil semua/
      Gomawo yaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s