Only Tears

Only Tears

only-tears

Tittle :  Only Tears

Author : Han Hye Woo (@Apriyani96)

Main Cast : -Bae Suzy
-Choi Minho
-Kim Myungsoo

Support Cast :

Genre: Sad, romance, songfict

Length : Chaptered

Rating: PG 13+

Summary: Takdir? Apa yang kau bayangkan jika kau membacanya?
Entahlah setiap sudut pandang orang berbeda dalam mengartikan takdir. Bagi Minho, Suzy, dan Myungsoo Takdir adalah sebuah jembatan kecil yang panjang dan curam yang ujungnya tak pernah kita duga.

Cinta? Sebuah kata manis yang selalu dibayangi bunga. Cinta merupakan pedang bermata dua dimana kau dapat membelah apapun yang kau mau tetapi pedang lainnya dapat membunuhmu. Suzy mengalami keduanya ia mencintai Minho apa adanya namun sayang kekuasaan menghalangi cinta mereka.

Lalu jika kau harus memilih. Apa yang kau pilih Takdir atau Cinta atau bahkan mungkin kekuasaan??
Tak ada yang tahu siapa pemenangnya hanya waktu yang mampu menjawab.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Annyeonghaseyo…*bow*
Aku kembali lagi readers. Ini adalah FF ku yang lagi-lagi songfict. Dan ini karya kedua oneshootku yang ternyata gagal total. Sumpah, ini FF menurutku datar banget dan alurnya sangat membingungkan. Tapi semoga kalian mengerti sajalah.

Warning : Typo bertebaran dimana-mana. dan ini asli karya ku.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Happy Reading ^^

Aku hanya dapat melihat wajah itu dari jauh. Merasakan pancaran kehangatannya yang hanya tersirat dari caranya tersenyum atau sekedar untuk berbicara dengan orang lain.

Apa kau menganggapku pengecut? Mungkin kau benar, aku hanya dapat melihatnya saja tanpa berusaha untuk mendekatinya. Kadang keinginan itu muncul memenuhi otaku dan dengan sigap aku mulai berdiri namun sekilas satu kata melintas dengan cepat memenuhi seluruh sistem kerja otaku membuat nyaliku menciut seketika. Kelas !! Yah itulah yang membuat cintaku teramat tak berharga dibandingkan dengan dirinya yang cantik, baik hati dan mempunyai harta yang berlimpah cukup bukan untuk mengatakannya di kelas sosial yang tinggi sedangkan aku? Aku hanya anak seorang pedagang buah yang bekerja di pasar untuk memenuhi kehidupan. Bahkan aku kuliah dengan beasisiwa yang kuterima.

Saranghanda mianhada
Geurae deoneun andoegesseo;
Nan dagagal jagyeok jocha eobseo

Naegen maeumeul naeeojul yeoyudo eobseo;
Maeireul himgyeopge salgo
Haruga beogeowo ulgo;

“Kau melamunkan dia lagi?” tanya seorang sahabat karibku kibum.

Aku mengangguk pasrah, tak mengelak.

“Kenapa kau tak mencoba dekat dengannya?”

Dekat dengannya sama saja menggali lubang kuburanmu sendiri. Appanya terkenal sangat menyeramkan dan tergila-gila pada harta.

“Kau takut dengan Ayahnya bukan? Baiklah masalah selesai kau akan selalu menatapnya dari jauh”

Mungkin hanya itu yang dapat kulakukan setiap pagi di meja kantin dekat jendela, menatapnya mengagumi setiap lekuk wajahnya yang mampu membuat setiap namja tersihir hanya karena matanya yang berbentuk bulan sabit saat tersenyum.

“Kajja” Kibum mengajaku.

Sepertinya kelas akan dimulai, suasana Jum’at pagi kelas Bahasa Inggris. Yapp kelas itu adalah salah satu kelas favoritku. Bukan karena bahasanya dapat kumengerti dengan mudah atau seonsaengnim yang menyenangkan keunde saat kelas bahasa inggris bulan sabit  itu akan berceloteh menggunakan bahasa asing yang sangat diagung-agungkan itu.

Aku sangat merindukannya saat-saat dia berceloteh ria. Keunde apakah aku berhak merindukanmu? Aku tak pernah mengatakan sepakatah cintapun padamu. Bahkan berharap pun aku tak berani karena semua itu mustahil bagiku.

O nan.. Nege jul su inneunge eobseo
Missing u
Ttatteutan maldo motae
I missing u;
Gamhi baral sudo eobseo
I missing u

“Aiggo, rasanya aku ingin membolos saja” ucap Kibum malas sambil meletakan tasnya persis di meja tengah.

“Bulan sabitmu akan berceloteh lagi, tenang saja” goda Kibum.

“Dan aku akan tertidur lagi”

“Lalu kau akan dimarahi lagi” godaku

“Aishhh sudahlah lupakan seonsaengnim sok itu”

Kibum memulai ritualnya untuk tidur dikelas. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatku itu. Kau tahu musuh terbesar dari seonsaengnim di kampus ini hanya Kibum. Namja yang paling malas di seantero kampus yang membuat seluruh seonsaengnim ingin menelannya bulat-bulat keunde semua itu tak dapat mereka lakukan karena namja pemalas ini merupakan anak dari  pemegang saham terbesar di kampus yang sangat terkenal di Korea.

“Morning” tiba-tiba terdengar suara Ms. Sohee yang sudah membahana di ruangan ini.

“Kibum, wake up” bentak Ms. Sohee

“Aishhh, Sorry Ms. aku sedang mengantuk jangan ganggu aku sekarang”
Ms. Sohee menghampiri meja Kibum.

BRAKKKKK

Kami semua terkejut dengan pukulan keras tepat di sampig telinga Kibum.

“Yes, Ms. Aku akan membasuh mukaku” jawab Kibum takut.

Seketika itu juga senyum kemenangan merekah di wajah yeoja muda Ms. Sohee, membentak Kibum adalah sebuah prestasi kebanggan sendiri untuknya.

“Bae Suji, stand up and tell us about Cultur”

Yah, bulan sabit  itu akan berceloteh lagi seperti biasa dan seperti biasa juga aku disini akan terkagum-kagum layaknya orang bodoh yang sedang belajar membuat obat HIV. Sangat bodoh bukan.

“Thanks Suji”

Aishhh setelah ini, kupastikan pelajaran yang membosankan akan dimulai.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Author POV

Minho memainkan tasnya dan berjalan seperti biasa melewati gang sempit yang sudah ribuan kali ia lewati. Kali ini ia tak secerah seperti biasanya, tadi siang bagian administrasi menagihnya uang bulanan yang sudah 2 bulan menunggak.

“Lepaskan aku…Apa mau kalian?” bentak seorang yeoja.

Yeoja itu terus meronta meminta dilepaskan dari serbuan singa-singa kelaparan yang tentu saja sangat tergiur dengan korban mereka.

BUKKK…BUKKK

Dua orang sudah tersungkur sempurna di tanah mengeluarkan bau amis yang segar.

“Kau beraninya” pekik dua orang lainyya.

Kedua singa mengamuk itu mencoba memukul Minho dengan tangan besarnya namun sayang hal itu tak berpengaruh sama sekali, Minho pintar judo.

BUKKK……..BUKKK…….
BUKKK………….BUKKK……….

BUKKK….

Satu pukulan tepat mengenai bibir Minho yang menyebabkan sudut bibirnya mengeluarkan darah dan menyisakan rasa ngilu.

“Hanya ini kemampuanmu?” tanya Minho meremehkan

BUKKK….BUKKKK…….

Tak samapi 10 menit semua penjahat itu lari tunggang langgang menyelamatkan sisa nyawa mereka yang bisa kapan saja Minho cabut dengan paksa.

“Gwenchana?” tanya Minho pada seorang yeoja muda yang sedang berjongkok ketakutan

Yeoja itu mendongak pelan, mentap penuh binar wajah Minho dan seketika itu juga tangis pecah dari sang yeoja.

“Wajah itu milik Bae Suji” batin Minho

“Gamsahamnida”

“Ne, nona Suji” ucap Minho tulus

“Panggil saja aku Suzy, aku lebih suka dengan nama itu” ucap Suzy tersenyum menunjukan bulan sabit miliknya.

Seketika itu juga dada Minho bergetar sangat cepat, cepat dan cepat lagi. Berdetak dua kali ani tiga kali lebih cepat dari biasanya menyalurkan listrik kecil yang anehnya justru membuatnya gugup.

“Ne, no..na Su..Suzy-ssi” ucap Minho terbata.

“Tak usah seformal itu. Hey Bibirmu terluka” ucap Suzy ngeri

“Ige? Gwenchanayo” Minho mengelap sudut bibirnya dengan punggung telapak tangannya.

“Aku obati dulu”

“Aniya, itu tidak perlu” tolak Minho

Suzy mendengus kesal, ia menarik tangan Minho menuju kesebuah apotik terdekat yang dilihatnya berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Suzy menarik Minho ke tempat duduk disebuah taman yang sederhana.

“Kau tunggu disini, aku akan kembali”

Suzy berlari kecil meninggalkan Minho yang malah memandanginya layaknya seorang anak kecil sedang melihat lolipop ukuran jumbo.

Tak membutuhkan waktu yang lama Suzy kembali dengan membawa kotak putih yang terdapat tulisan PPPK dan lambangnya.

“Kau tahan ya” Suzy mulai mengolesi sudut bibir Minho dengan hati-hati.

Minho dapat merasakan dengan jelas aroma rasberry pada  rambut Suzy dan parfum Liliy yang digunakan Suzy. Entah sadar atau tidak Minho memejamkan matanya merasakan  setiap aroma yang menusuk hidungnya.

“Selesai, tidak sakit bukan”

“Nde? Ah ne, tidak sakit”

“Gamsahamnida sudah menolongku” ucap Suzy tulus.

“Ne” jawab Minho

Rasanya Minho ingin mengeluarkan Jantungnya yang terus berdetak tak karuan seperti ingin meledak begitu saja.

“Kau mengenalku? Ku tadi langsung tahu namaku”

“AH, itu karena kita satu kelas untuk kelas bahaasa Inggris Jum’at pagi”

“Ooh, jadi kita kuliah di Universitas yang sama, tetapi maaf aku tak mengetahui namamu. Bisakah kau perkanalkan namamu?” tanya Suzy hati-hati

“Tentu saja kau tak mengetahui namaku. Aku terlalu kecil untuk dapat kau lihat sebelumnya jadi tak heran jika kau tak mengenalku” batin Minho

“Cheonun Choi Minho imnida”

“Ne, Choi Minho. Senang berkenalan denganmu. Aku harus pergi sekarang. Minhae”

“Ne, pergilah”

“Senang berbincang denganmu Minho. Annyeong” ucap Suzy lembut dan membungkuk sedikit

“Annyeong” balas Minho

Minho tersenyum hangat dan bersenandung riang. Ia sangat senang sekarang dan ia tak ingin satu kata –kelas- itu merusak semua keindahannya.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Suzy POV

Aku mengaduk-ngaduk vanilla late ku tanpa minat untuk meminumnya. Pikiranku masih saja terpaku pada namja yang tempo hari menolongku, namanya Choi Minho keunde aku lupa bertanya dia mengambil jurusan apa.

“Yaa”

“Aigoo, Jieun-ah berhenti mengagetkanku” teriaku kesal.

Dia ini salah satu sahabatku yang sangat menyebalkan, bayangkan saja setiap hari aku harus membangunkannya kemudian harus selalu mengingatkannya untuk makan dan belajar. Cih, dia ini kan sudah besar tetapi kenapa sangat manja.

“Morning” salam Eunjung sahabatku yang lebih tua dariku dan Jieun.

“Eonni, traktir aku makan” mohon Jieun dengan muka memelasnya

“Yaa…Yaa…. Aku baru saja sampai sudah minta traktir dariku. Aigoo” Eunjung eonni mengacak rambut Jieun pelan.

“Ada salam dari Myungsoo” ucap Eunjung eonni padaku

“Ne”

“Hanya itu jawabanmu? Dia sudah menunggumu selama 3 tahun kau masih saja menjawab ‘Ne’?”

“Eonni, aku tak menyukainya” jawabku malas.

“Arraso, arraso”

Aku mengerucutkan bibirku kesal, bagaimana mungkin Myungsoo menungguku selama itu memangnya atak ada yeoja lain yang membuatnya tertarik dan berpaling dariku. Jika kau bertanya Myungsoo. Dia adalah temanku sekaligus anak dari teman rekan bisnis Appaku sebenarnya dia orang yang baik dan juga penyabar keunde aku tak pernah tertarik padanya sama sekali.

“Itu Kibum” pekik Eunjung eonni senang

Huh, Eonniku satu ini aneh dan sangat aneh, jika semua orang mempunyai tipe namjachingu yang baik, pintar, sopan dan rapih sedangkan dia? Dia sangat terpesona dengan Kibum entah apa yang dilihat eonniku dari namja pemalas sepertinya.

“Kibum, kau keren”

Aku menoleh sedikit, apanya yang keren dia hanya membaca buku sambil duduk ditaman dan itu bukan buku pelajaran melainkan komik. Lihatah teman sebelahnya barulah dia membaca buku pelajaran.

Tunggu…Tunguu…Bukankah itu namja yang menolongku tempo hari, namja yang bernama Choi Minho bukan??

“Namja itu, apa dia Choi Minho?” tanyaku pada Jieun

“Yang mana?” tanya Jieun

“Yang duduk disebelah Kibum” jawabku

“Oh itu, dia Choi Minho sahabat Kibum dari SMP dia kuliah dijurusan arsitek. Orang tuanya bekerja sebagai penjual buah di pasar. Buahnya segar-segar, keluargaku berlangganan buah miliknya”

Begitulah, jika kau bertanya namja pada Jieun tak sampai 5 menit dia akan menjawabnya sampai sedetail mungkin. Aku heran padanya dia sangat tahu semua seluk beluk namja yang ada di kampus ini keunde kalau untuk menghafal pelajaran otaknya lelet minta ampun.

“Wae? Jangan bilang kau menyukainya?”

“I don’t know baby”

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Author POV

Awan hitam kini sudah memenuhi kota Seoul dengan menyeramkan. Warnanya mengisyaratkan dia sangat tak suka dengan kehangatan dan berniat menebarkan setiap inci SEOUL dengan bau basahnya yang khas. Tak semua orang membenci hujan ini, hanya segelintir orang saja yang mau memandangi hujan dan menengadahkan tangannya untuk menerima setiap tetes air yang hujan berikan.

Yeoja itu dengan rambut panjang yang terurai terus memandang lembut hujan yang menetes menyentuh lembut telapak tangannya. Ia sedang tidak mengenang masa lalunya atau terkena masalah namun kini ia tengah menunggu hujan berhenti, unik bukan?

Dan tak jauh tempat yeoja berambut panjang itu berdiri seorang namja yang memegangi payungnya dengan bergemetar. Ia sedang tidak menggigil karena kedinginan, tapi ia sedang mengumpulkan segenap semangatnya untuk membuatnya berani menatap bulan sabit yang terus saja menerangi malam namja itu.

Dengan jantung berdegup kencang, didekatinya yeoja berambut panjang tergerai itu.
“Annyeong” sapanya

Yeoja itu berhenti dari dunianya dan menoleh cepat  ke sumber suara.

“Annyeong” balas yeoja itu ramah

“Su..Suzy-ah”

“Emmm” desis Suzy

“Ingin pulang bersama?” tanya namja itu dengan senyum kikuknya.

“Tentu saja, Minho-ah” jawab Suzy senang

Minho membentangkan payung transparan miliknya, memayungi Suzy dengan anggunnya.

“Kenapa baru pulang?” tanya Minho mencoba mencairkan suasana.

Minho memang sudah memutuskan untuk menjadi seorang teman untuk Suzy, ia tak mengharapkan lebih. Sudah menjadi temannya itu sudah lebih dari cukup untuknya.

“Aku?” tanya Suzy kaget

“Tentu saja, memang siapa lagi?”

Suzy hanya tersenyum kikuk mendapati kebodohannya.

“Ada tugas yang harus kuserahkan pada seonsaengnim” jawab Suzy

“Tugas apa?”

“Lukisan”

“Oh” gumam Minho paham.

Keduanya kembali diam menjelajahi isi pikiran masing-masing. Entahlah rasanya kedua mulut mereka terasa kelu hanya untuk mengatakan kata selanjutnya.

Hanya suara tetesan hujan saja yang mampu memenuhi setiap langkah kecil mereka. Tangan Suzy sudah mulai terasa membeku, dengan gerakan santai ia menggosok-gosokan tangannya dan meniupnya agar sedikit kehangatan mampu mencairkan tangannya yang entah berapa lama sudah terasa sangat dingin. Minho tersenyum kecil.

“Peganglah” Minho menyerahkan gagang payungnya.

Suzy menerimanya dengan perasaan bingung. Ia semakin bingung ketika Minho mengacak-acak isi tasnya lalu mengeluarkan sebuah jaket wol yang terlihat sangat hangat.

“Pakailah, kau pasti kedinginan” Minho memakaikan jaket satu-satunya yang ia miliki.

“Gomawo” ucap Suzy tersenyum malu. Minho kembali merebut gagang payung miliknya untuk memayungi bulan sabit yang kini berada disampingnya.

“Tak sia-sia, aku baru membelinya kemarin setidaknya tidak terlalu buruk bila dipakai Suzy. Mianhae aku hanya mampu memberikan jaket pasaran yang mampu kau beli kapanpun” batin Minho

Minho sedikit mencodongkan payungnya agar Suzy tak terkena hujan walau setets pun, ia lebih merelakan separuh badannya basah kuyup untuk melindungi Suzy.

“Kau akan kemana?” tanya Minho tersadar sedari tadi mereka hanya berjalan lurus saja.

“Pulang” jawab Suzy polos.

“Mau kuantarkan?” Minho mencoba tersenyum untuk menyamarkan rasa gugupnya.

“Memangnya kau ingin meninggalkanku dijalan basah kuyup? Tidak kan, kau harus bertanggung jawab karena sudah menawarkanku pergi bersama” ucap Suzy pura-pura kesal

“Mianhae” sesal Minho

“Hahaha, aku hanya bercanda jangan kau buat serius begitu” ucap Suzy terkekeh

Minho hanya tersenyum menikmati wajah berbinar Suzy. Yah kali ini ia tak harus mencuri pandang lagi disetiap pagi hanya untuk melihat wajah merekahnya, kini ia dapat kapan saja menikmati pemandangan itu dengan jarak yang cukup dekat walaupun dapat dipastikan itu hanya sebagai seorang teman tidak lebih.

“Rumahku belok kiri di ujung gang sana” ucap Suzy memberikan petunjuk

Minho mengangguk  mengerti. Keduanya kembali berjalan dalam diam, sepertinya mereka masih terlalu canggung untuk membicarakan berita yang cukup berarti.

“Ini rumahku”

ASTAGA !!!! Apa benar ini adalah sebuah rumah? Ini lebih pantas disebut dengan istana kepresidenan Korea Selatan dibandingkan dengan rumah yang berpenghuni 3 orang dan beberapa pelayan. Gerbangnya menjulang begitu tinggi mengisyaratkan hanya orang mempunyai hak yang  pantas masuk dan bagi mereka yang hanya sedikit berurusan dengan si empunya rumah mungkin lebih baik berdiri di depan gerbang tersebut. Sejenak langkah Minho berhenti ragu, ia kembali melongok bangunan dibalik gerbang tinggi itu membayangkan berapa banyak jumlah pelayan yang bekerja didalamnya. Ia berani bertaruh sebagai seorang mahasiswa jurusan arsitektur rumah itu membutuhkan dana jutaan dolar dan menyewa seorang arsitek luar negeri.

“Kau ingin mampir?” tanya Suzy menawarkan

“Aniya” jawab Minho ragu.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok di Universitas. Annyeong” salam Suzy

Minho tersenyum getir. Bagaimana jika ia benar-benar mencintai Suzy dan menginginkannya lebih dari seorang teman. Apakah ayah Suzy akan menerimanya dengan senang hati jika mengetahui ia hanya seorang anak dari pedagang buah.

“Minho-ah” panggil Suzy

“Nde?” kaget Minho

“Kau melamun?”

“Ani..Aniyo. Sampai jumpa besok, anyyeong”

Suzy mengangguk, ia segera mengirimkan pesan pada pelayannya untuk segera menjemputnya dan tak sampai 5 menit dia sudah dijemput menggunakan payung yang jauh lebih mewah daripada payung Minho.

“Nona muda, kenapa tak menelepon?” tanya seorang pelayan yang sudah bekerja dirumah itu selama bertahun-tahun.

“Aniyo, apa appa dan eomma sudah pulang?” tanya Suzy

“Aniyo, nona muda”

“A..A..Ahhhh” desah Suzy kecewa.

“Ah, Minho-ah Annyeong” salam Suzy

Minho melambaikan tangannya, ia kembali memandang payung miliknya dan membandingkannya dengan payung milik pelayan Suzy.

“Sepertinya sulit untuk menggapaimu”

Minho mengeratkan tangannya sepertinya nanti malam dia harus rela kedinginan.

“Semoga hujan cepat reda”

@Suzy Home

“Nona muda, tadi itu siapa?” tanya pelayan laki-laki itu.

“Temanku, ada apa?”

“Ani, hanya saja…”

“Arra. Arra. Aku tidak akan jatuh cinta padanya. Aku sudah dijodohkan dengan Myungsoo” potong Suzy cepat.

“Mianhae” ucap pelayan itu pelan

“Untuk apa ahjussi?”

“Mianhae, karena tidak dapat menolong nona muda tentang perjodohan itu”

“Gwenchana, lagipula aku akan menyadarkan appa dengan caraku”

Suzy tersenyum hangat seolah-olah tak terjadi sesuatu.Ia melangkah keatas lantai untuk mengistirahatkan badannya yang sudah sangat lelah.

“Nona, tuan dan nyonya malam ini pulang larut jadi nona dimohon jangan menunggunya” ucap pelayan itu hikmat

“Lagi?” desah Suzy kecewa

“Arra” jawabnya lesu.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Pagi ini universitas tempat Suzy belajar sepi karena hanya sedikit siswa saja yang mengambil kuliah pagi, mereka semua berbondong-bondong mengikuti kelas malam karena adanya konser Music Core yang bertaburan bintang-bintang korea secara live.

“Kau tidak pergi kekonser?” tanya Eunjung heran.

“Hari ini seonsaengnim menghukumku mana bisa aku pergi ke konser” ucap Jieun jengkel

“Suzy-ah, lepaskan jaket itu”

“Wae, Jieun-ah?” tanya Suzy agak kesal

“Kau bisa membeli yang bagus dari pada itu, aku risih melihatnya. Apa kau tidak malu mengenakan jaket murahan seperti itu?” tanya Jieun dengan mimik jijik

“I don’t Care baby”

Suzy melangkah menjauh dari kedua sahabatnya.

“Apa dia marah?” tanya Jieun polos

“Molla” jawab Eunjung yang masih bengong dengan kelakuan Suzy.

Tak biasanya Suzy meninggalkan mereka setelah Jieun mengatakan hal yang sudah biasa Jieun katakan. Ia terlalu terkejut karena setahunya Suzy bukanlah orang yang gampang marah.

“Mereka ini menyebalkan” dumel Suzy tak jelas.

Ia segera melipat jaket Minho dan merapikannya dengan hati-hati seolah-olah itu adalah barang berharga yang ada didunia

“Kau sedang apa?”

“Aniyo, aniyo..aku hanya..hanya…” Suzy segera menutupi jaket milik Minho dibelakang badannya.

“Pasti tingkahku menggelikan” rutuk Suzy dalam hati.

“Apa itu?”

“Ini? Ini jaketmu maaf tadi aku memakainya lagi. Tapi tenang saja jaketmu tetap wangi” ucap Suzy salah tingkah

Minho tersenyum geli. Apakah sebegitu spesial jaketnya sehingga Suzy harus memberikannya dengan wajah memerah seperti itu.

“Mau makan? Aku yang traktir” ucap Minho sambil memasukan jaketnya pada tas kesayanganya itu.

“Ne”

Keduanya berjalan ringan menuju cafe universitas. Minho hanya bersenandung kecil mengingat tingkah lucu Suzy yang memperlakukan jaket buruknya dengan amat spesial.

“Apa aku boleh menyukaimu?” batin Minho

“Ladies First” Minho membukakan pintu membiarkan bulan sabitnya masuk terlebih dahulu.

“Duduk dimana?” tanya Suzy bingung

“Disana”

Minho menunjuk sebuah tempat duduk disamping jendela kaca yang memperlihatkan ruangan samping universitasnya yang berupa taman kecil.

“Bukankah itu tempat favoritku? Molla” ucap Suzy pelan

Suzy mengikuti arah Minho yang duduk persis didepannya.

“Annyeonghaseyo ^^, oh Suji-ssi kau ingin memesan apa?” tanya seorang pelayan yang sudah sangat hafal dengan yeoja itu.

Suzy memperhatikan dengan teliti buku menunya, ia tahu Minho tak sekaya dia.

“Aku vanilla latte dan burger saja” jawab Suzy manis

“Tidak seperti biasanya?” tanya pelayan itu bingung.

“Aniya, aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda” bohong Suzy

Minho tersenyum getir, ia tahu kenapa Suzy tak memesan makanan kesukaannya.

“Kau mungkin takan pernah merasa bahagia bersamaku” batin Minho

“Dan kau Minho-ssi mau pesan apa?”

“Aku sama dengannya hanya saja minumnya pepsi saja”

Pelayan itu menangangguk takjim. Ia tak heran kenapa Minho hanya memesan menu yang sangat standart, ia juga tak terlalu memikirkannya.

“Ne, tunggu sebentar ya”

Pelayan itu tersenyum hangat seperti biasa dan melangkah pergi untuk menyiapkan pesanan keduanya.

“Tanganmu kenapa?” tanya Suzy panik.

Ia memegang tangan kanan Minho yang sudah terbalut sempurna oleh perban putih.

“Kau terluka?”

Minho mengatur nafasnya perlahan. Tidak, dia tidak akan menjawabnya dengan muka semerah tomat dan jantung yang terus berdetak bukan? Gagal. Ia telah gagal mengontrol emosinya, Tuhan apakah ini yang sering dirasakan seorang pasangan kekasih. Jantung berdetak kencang, wajah semerah tomat dan rasa gugup yang menjalar keseluruh tubuh? Bukankah seharusnya ini konyol? Tak ada rumus manapun yang dapat menjelaskannya seharusnya ini semua dapat dijelaskan secara rinci oleh pelajaran Biologi tetapi kenapa… Aishhh, ini semua membuatnya gila seketika.

“Ini, aku terluka saat membantu ibuku mengangkat peti buah” bohong Minho.

“Aku terluka saat membantu mengangkat barang-barang berat hanya untuk mendapatkan uang tambahan untuk mentraktirmu sekarang. Tak apa ini hanya sebuah perjuangan kecil untuk terus mengukir senyummu” batin Minho

“Kau harus lebih berhati-hati lagi”

“Ne”

“Makanan datang”

Palayan itu memberikan keduanya masing-masing burger dengan minuman yang berbeda.

“Tunggu sebentar, aku ke toilet dulu ya” pamit Suzy yang dijawab dengan anggukan kecil Minho.

Minho membuka isi dompetnya, masih cukup untuk membayar bus, dan membeli beberapa buku pelajaran yang dipesan dongsaengnya bahkan lebihnya dapat dibelikan sebuah minuman soft drink.

“Untunglah cukup, tak sia-sia jika aku harus merasakan sakit punggung”

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Suzy POV

Jika aku boleh memilih, aku akan memilih dilahirkan oleh orang biasa daripada harus dilahirkan oleh keluarga kaya yang memaksa anaknya sendiri untuk menikah dengan namja yang tidak dicintainya.

“Ahjussi apakah macetnya masih lama?” tanyaku

“Sepertinya begitu”

AH, melegakan sekali. Semoga saja macetnya sampai besok sehingga aku tak perlu menghadiri acara konyol seperti itu.

BUKKKK

Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu telah menabrak mobilku dari belakang. Ada apa ini.

“Tunggu sebentar nona muda” Bodyguardku keluar memeriksa begitupun dengan sopirku.

Menyebalkan. Hari ini sangat-sangat menyebalkan, sudah terjebak macet, harus menghadiri pertemuan keluargaku dan Myungsoo dan sekarang apa !! rasanya aku ingin cepat-cepat kabur dari keadaan ini…huh menyebalkan.

“Tunggu..Tunggu…Kabur? Bukan ide yang buruk”

Kubuka sedikit demi sedikit pintu mobil… Perlahan-lahan..

Hahaha… Selamat tinggal, ahjussi-ahjussiku, kudoakan semoga kalian tidak dicekik appa. Annyeong….

Aku berjalan-jalan santai menyusuri sepanjang pertokoan ini. Jangan tanyakan aku sedang berada dimana dan apa yang akan kulakukan jika nanti aku pulang.

“Aku benar-benar frustasi” erangku kesal.

Seseorang memandangku aneh lalu berbisik ditelinga temannya. Waeyo? Memangnya aku terlihat aneh? Seperti orang gila.

“Babo” aku menepuk jidatku

Pantas saja mereka melihatku aneh,  disuasana sore ini aku memakai dress hitam selutut dan dipadukan dengan high hels yang tinggi. Apa akau terlihat seperti orang bodoh?

*Roly Poly Roly Roly Poly
nal mireonaedo nan dasi negero dagagaseo
Roly Poly Roly Roly Poly
naman boilkkeoya neoege nareul boyeo julkkeoya

OMO !! Bodyguardku menelepon. Otthokae??

“Nona Suzy” pekik seseorang

OMONA bukankah itu para pesuruh Appa. Aishhh… Aku segera berlari secepat mungkin.

“Appo” pekiku keras.

Damn, disaat seperti ini kenapa high heels ku malah menyiksa seharusnya tadi akau membawa sandal atau apapun itu.

Segera kulepas paksa high heels dan membuangnya secara sembarang. Mianhae, aku harus membuangmu padahal itu adalah hadiah terbaiku dari Ahn Ahjumma gara-gara membantunya mendekor ruangannya.

“Nona muda”

Aishhh, kenapa mereka terobsesi sekali untuk menangkapku memangnya aku ini kucing peliharaan yang bisa kabur dan takan kembali.

“Nona Muda”

Omo.Omo. Mereka semakin mendekat. Otthokae, tidak mungkin kan aku berlari aku yakin ujung sana pesuruh Appa juga menghadang.

“Aishhh”

Mataku mengedarkan ke sekeliling. Ah pedagang buah, kenapa aku tak memikirkannya…

“Jeongso hamnida, bisakah aku menumpang ke toilet?” tanyaku pada seorang ahjumma yang sedang membereskan buah mangga.

“Silahkan”

Terimakasih Tuhan kau telah memberikanku pertolongan. Segera ku masuk kedalam toko yang sekaligus dijadikan rumah.

“Ahjumma kau melihat seorang wanita muda disini, dia mengenakan dress berwarna hitam tadi dengan high hells”

Omo. Omo. Bukankah itu suaara pesuruh Appaku. Otthokae, jangan-jangan ahjumma itu mengatakannya.

“Kau siapa?” seseorang menepuk pundaku dari belakang

“AAAAAAAAAA” teriaku kaget.

Kulihat sesorang membekap mulutku. Kyaa~ jangan-jangan dia pesuruh Appaku.

Bukk…Bukk…Bukk….
Aku memukuli namja tadi dengan tasku. Kalau benar dia pesuruh appaku akan kupastikan dia dipecat karena tak berhasil menangkapku malah kupukuli.

“Appo…Appo…Appooo” rintihnya. Kuperhatikan bajunya, Omona sejak kapan pesuruh apa hanya memakai t-shirt polos dengan celana pendek.

“Suara apa itu?”

“Mungkin Minho sedang bersih-bersih rumah” jawab ahjumma itu

“Kalau begitu aku duluan ahjumma. Jika kau melihat seorang yeoja dengan ciri-ciri yang kusebutkan tadi mohon hubungi kami. Ini kartu nama saya”

Kalau ini bukan pesuruh appaku, lalu… Siapa namja ini?

“Suzy-ah, pukulanmu lumayan juga”

Minho menatapku dengan senyum yang mengembang. Oh My God, apa yang telah ku lakukan. Bae Suji kau telah merusak image mu selama ini didepan orang yang kau cintai !!!! Bagaimana kalau dia mengira aku yeoja brutal, aneh atau gila.. Andwaeyo.

“Gwencha, aku tidak apa-apa”

“Mianhae kupikir kau pesuruh appaku” ucapku lemah

“Pesuruh appamu? Memangnya ada apa mereka mencarimu?”

Apakah aku harus menjawab, mereka ingin menyeretku kedepan orang tua Myungsoo dan berbicara tentang perjodohan. Aishh mana mungkin, dia pasti akan menjauhiku, ani.ani.

“Aku membolos les pianoku”

“Jinjja? Ckckck ternyata kau anak yang nakal ya”

Dia tidak mengataiku brutal, aneh atau gila tapi dia mengataiku NAKAL. Ckckck Alasanmu dangkal sekali bae suji, aku kasihan padamu.

“Tenang saja, aku tak akan mengatakan kau disini, tapi apa kau ingin les dengan memakai dressmu?”

Dress !! Lagi !! Argghhh, hari ini dipenuhi dengan masalah dress. Aku sangat membenci dress.

“Pentas. Iya, aku disuruh pentas tetapi aku tak mau makanya kau kabur”

Alasan apa lagi bae Suji !! Semoga Minho mau menerimanya dan tak perlu bertanya lagi.

“Aneh ya? Biasanya orang selalu mendamba-dambakan saat-saat pentas tetapi kau malah kabur. Aneh sekali”

ANEH ? Dia mengataiku aneh?? Sudah bagus dia hanya mengataiku nakal kenapa harus aneh.

“Dan pukulanmu memang benar-benar kuat”

Apa dia ingin mengatakan aku ini yeoja yang brutal?

“Mianhae”

“Gwenchana, tak usah merasa bersalah seperti itu” jawab Minho hangat

“Minho-ah” panggil ahjumma yang ada di depan.

“Nde eomonim”

Eomonim?? Dia Ibu Minho? Aigoo, sekarang bukan hanya citraku yang jatuh dihadapan Minho tetapi juga didepan eomma Minho.

“Suzy-ah, mau membantu menghias parsel tidak?” ajak Minho .

“Tentu saja”

Minho mengacak rambutku pelan. Ahhh pasti pipiku memerah sekarang.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Author POV

PLAKKKKK

“Kau !! Kenapa baru pulang”

“Appa, sudah kubilangkan aku tak mau dijodohkan”

“Kau” gertak ayah Suzy siap menampar ankanya kembali

“Yeobo, hentikan”  eomma suzy mencoba untuk menenangkan suaminya itu.

“Bawa Suzy kekamar dan antarkan makanan untuknya. Aku akan ke kamarnya” perintah eomma suzy pada sang pelayan

“Ne, Nyonya”

Salah satu pelayan yeoja membawa Suzy ke kamarnya, lalu ia berbalik lagi  untuk memberikan majikannya makanan.

“Nona, makanlah” pelayan tadi menyodorkan makanan makan malam mereka lengkap dengan es krim strowberry kesukaan Suzy.

“Kemana eomma??” tanya Suzy sambil memeluk boneka kesayangannya.

“Disini chagi” eomma Suzy berdiri dipintu kamar.

“Eomma” pekik Suzy

Suzy langsung memeluk ibunya, menumpahan segala kekesalannya. Hanya ibunyalah yang mampu membuat Suzy merasa aman dan nyaman.

“Mianhae, chagi eomma tidak bisa membantumu kali ini, keinginan appamu sudah bulat dan tidak bisa diganggu guggat lagi” eomma Suzy mengelus rambut Suzy dengan lembut.

“Tidak bisa yah, hanya sekali ini saja. Aku berjanji aku tidak akan menjadi anak nakal lagi “

“Mianhae chagi” sesal eomma Suzy.

“Gwenchana, biarkan aku yang akan meluluhkan hati appa”

“Minahe” sesal eomma Suzy lagi

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Keadaan siang yang cukup teduh, tak seterik musim panas dan tak semendung jika hujan datang. Waktu yang sangat cocok untuk menikmati hari.

“Kau, yakin ingin bersama Minho?” tanya Eunjung memastikan.

“Ne, aku sangat yakin. Aku yakin dia adalah jodohku” jawab Suzy mantap

“Kau ini benar-benar yeoja yang aneh. Seharusnya kau bersyukur dijodohkan dengan Myungsoo keunde kau lebih memilih Minho” sindir Jieun

“Shutt up”

Suzy meninggalkan kedua sahabatnya. Ia sudah lelah terus mendengarkan cacian tentang pilihannya atau Minho sendiri.

Pyongg…Pyonggg…..Pyonggg…

Suzy membuka ponselnya dengan malas.

From: Appa 😛
Myungsoo akan menjemputmu, jangan pergi kemana-mana Arra !!

“Aishhh, Appa menyebalkan”

Suzy menghentak-hentakan kakinya tak terima, padahal ia mempunyai janji dengan Minho untuk membantunya lagi.

Pyonggg….Pyongggg…Pyonggg….

From: Minho
Mianhae, aku ada perlu. Kau tidak usah membantuku

“Yaa..Yaa.. Apa-apaan dia membatalkan janji seenaknya saja”

Suzy mendengus kesal, dibalasnya pesan Minho dengan umpatan kesal. Tapi bagaimana kalau Minho mengira dia yeoja yang menyebalkan dan pemarah. Ani…Ani…

TINNN……TIINNNN……

“Omo” pekik Suzy kaget

Suzy memandang mobil yang ada dibelakangnya dengan kesal. Cukup dengan ulah sahabatnya, appa dan Minho, apakah harus ditambah dengan perkara mobil ini.

Sesok namja mengenakan jas ditambah dengan kacamata hitamnya turun dari mobil dengan kerennya. Mungkin jika semua yeoja dikampus ini menyaksikan aksi keren dari namja tadi, mereka akan berteriak histeris, atau terbengong-bengong atau mungkin langsung mengatas namakan diri mereka fans namja itu.

“Long Time no see”

Suzy hanya mengerutkan dahinya bingung, rasanya dia tak mempunyai teman sekeren itu.Tidak sama sekali.

“Aigoo, Suji-ah kau semakin cantik saja”

Seketika itu juga Suzy membulatkan matanya. Apakah namja itu Myungsoo? Temannya dulu. Ah, maldo andwae sekeren Myungsoo dia takan pernah menjadi seorang yang sangat keren begitu.

“Kau tidak memeluku?” namja itu membuka kacamatanya dan tersenyum manis.

“Kim Myungsoo” pekik Suzy keras

Ia memeluk Myungsoo erat, sudah lama mereka bertemu terakhir saat kelas 1 karena Myungsoo harus bersekolah ke Kanada.

“Kemarin kenapa kau tak datang?”

“Ah itu, aku pergi bersama Eunjung eonni” jawab Suzy sekenanya.

“Jeongmal? Bagaimana keadaannya?”

“Dia baik-baik saja” jawab Suzy bersemangat

“Bagaimana kalau temani aku jalan-jalan ? Seoul banyak berubah”

“Arra. Arra. Kajja”

Suzy segera masuk mobil Myungsoo dan memakai sabuk pengamannya.

Pyonggg…Pyonggg…Pyongggg

From: Appa 😛
Nikmatilah waktu kencanmu, jangan kecewakan Myungsoo. Suzy-ah Fighting !!!

Raut wajah Suzy berubah drastis. Yah, dia tahu sekarang dia sedang berjalan dengan calon suaminya, rasa enggan menyergapnya dengan tiba-tiba mungkin jika Myungsoo sebagai temannya dia akan dengan senang hati menemaninya mengelilingi kota seoul keunde Myungsoo yang sekarang adalah Myungsoo calon suaminya.

“Kau tidak senang akau disini?” tanya Myungsoo yang mengetahui perubahan raut wajah Suzy

“Aku senang” jawab Suzy datar.

Myungsoo hanya tersenyum tipiss sebenarnya ia tak terlalu terkejut dengan sikap Suzy. Ia sudah mengetahui semuanya dari Eunjung.

“Kita ke mall saja, temani aku membeli beberapa persedian untuk disini”

“Ne” jawab Suzy sekenanya.

Tak membutuhkan waktu yang lama keduanya telah sampai di Hyundai Departement Store sebuah mall terbesar kedua di Korea Selatan. Kau pasti tau bukan pewaris dari mall ini, dia merupakan anggota boyband yang sangat terkenal. Yapp siapa lagi kalau bukan Siwon Super Junior.

“Kalau ingin berbelanja cepatlah”

Myungsoo hanya tersenyum kecut, apakah mungkin jika ia menjadi suaminya Suzy akan memperlakukannya dingin seperti itu?

Myungsoo segera mengambil troli dan berjalan sedikit cepat, ia tahu Suzy yang dikenalnya dulu bukanlah Suzy sekarang tetapi kenapa rasa cintanya tak pernah berubah sama sekali atau berkurang pun tidak.

“Kau mau eskrim?”

“Ani, aku sedang tidak ingin”

“Arra”

Hanya kerang dari 10 menit saja Myungsoo sudah memutuskan untuk segera membayarnya ke kasir padahal dulu seingatnya mereka betah berlama-lama belanja di mall.

“Palliwa” pekik Suzy tak sabar

Myungsoo yang sudah siap pergi itu hanya berdecak kesal. Fine, kalau dia tak menyukainya tetapi bisakah ia berlaku sopan sedikit ia juga mempunyai hati.

“Kau ingin pulang?” tanya Myungsoo

“Menurutmu?”

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Suzy menghentakan kakinya kesal, ini sudah hampir kesepuluh kalinya Myungsoo menjemputnya di depan kampus dan sudah sepuluh kali juga ia harus mendengar teriakan histeris dari teman-teman yeojanya.

“Huh, memangnya dia tak mempunyai pekerjaan lain apa?” dumel Suzy pelan

“Masuklah” ucap Myungsoo santai seperti biasa

“Wae?? Apa maumu sebenarnya?”

“Aku hanya ingin menjemput calon istriku, memangnya tidak boleh?” tanya Myungsoo dengan wajah polosnya

“Tsk, calon istri”

Suzy segera masuk kedalam mobil Myungsoo dan menutupnya dengan sangat keras.

“Aigoo, kapan dia akan berubah” Myungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.

Myungsoo membuka pintu mobilnya dan memperhatikan wajah Suzy. Selalu menunjukan ekspresi kesalnya, tak pernah berganti tak pernah juga hilang.

“Kita akan pergi ke Lotte World”

“Lotte World?”

Apakah Myungsoo akan menyinggung masa kedakatan mereka saat menjadi sahabat? Agar hatinya dapat luluh? Yang benar saja, masa menggunakan cara licik seperti itu.

Myungsoo segera menstater mobilnya,  membunyikan mesinnya untuk membawa mereka ke Lotte World. Selang lima belas menit mereka sudah berada teppat parkiran Lotte World.

“Turunlah”

Suzy kembali mendengus kesal, entahlah selama ia menganggap Myungsoo sebagai calon suaminya hatinya selalu bergejolak meminta segera dilepaskan dari belenggu besi yang kuat.

BRAKKKKK

Suzy menutup pintu mobil mewah Myungsoo dengan amat keras.

“Aigoo, dia bisa merusak mobilku”

Myungsoo menghela nafas panjang, ia harus bersabar.

Keduanya berjalan dalam diam, memasuki kawasan Lotte World yang sangat diagung-agungkan warga Korea Selatan untuk menghabiskan waktu luangnya.

“Ini tiketnya” Myungsoo menyerahkan 2 lembar tiket masuk

“Babo, kenapa kau memberikannya padaku? Berikan pada petugas disana”

“Aku tidak akan masuk” jawab Myungsoo santai
Suzy menaikan sebelah alisnya. Bingung? tentu saja.

Seakan tak melihat kebingungan diwajah Suzy, Myungsoo mengedarkan pandangannya kesekeliling. Ia tersenyum hangat mendapati teman barunya melambaikan tangan menandakan posisinya sekarang. Dengan gerakan yang mudah Myungsoo memintanya untuk mendekat.

“Kau masuklah bersamanya”

Myungsoo menepuk pelan temannya dan tersenyum bergantian pada kedua orang yang sedang terbengong-bengong menatapnya.

“Aku dan Minho?” tanya Suzy tak percaya.

“Masuklah dan bersenang-senanglah”

Kedua mata Suzy berbinar gembira, yah akhirnya bulan sabit itu mampu mengobati rasa rindunya pada Minho namja yang diam-diam sudah merebut perhatiannya.

Myungsoo POV

Sujiku. Akhirnya dia tersenyum hangat padaku, Teruslah tersenyum Suji karena hanya senyummu lah yang mampu membangkitkan semangatku, mampu membuat nafasku kembali terisi.

“Kau tidaak apa-apa?”

Babo, tentu saja aku sakit keunde mau bagaimana lagi, kau selalu tersenyum jika bersamanya sedangkan denganku raut wajahmu selalu ditekuk.

“Molla” jawabku pura-pura sedih

“Yaa, aku serius”

“Pergilah, aku tidak apa-apa lagipula aku aku ada meeting hari ini”

Mereka berdua mengangguk berterimakasih dan segera masuk kedalam Lotte World.

Seharusnya aku tertawa disini karena Suzy sudah menemukan namja yang mampu membuatnya kembali tertawa riang, keunde kenapa rasanya sakit sekali.

Harus kuakui, aku cemburu melihatmu memberikan senyum terbaikmu pada Minho. Aku cemburu ketika kau memandang matanya penuh binar. Aku merindukan saat-saat itu, saat binar dimatamu yang ditunjukan padaku

Dan Ingatkah ketika dulu ketika salju berterbangan ketika aku mengelus rambutmu lembut menyalurkan sedikit kehangatan. Saat itu aku mengatakan semua perasaanku, mengatakan bagaimana aku mencintaimu dan apakah kau masih mengingatnya ‘ketika dunia berputar, ketika tangan takdir merajutkan benang mereah diantara kita  maka datanglah padaku membawa sekuntum bunga mawar merah dan bersimpuhlah memintaku menjadi permaisuri hidupmu’ bukakah itu jawabanmu.

Butuh waktu yang sangat lama hingga aku mampu mencernanya, membutuhkan waktu kurang dari 3 tahun untuk aku pahami dan renungi. Apakah yang kau maksud Takdir??

Mungkin hanya takdir yang mampu menolongku dari jerat cintamu, hanya takdir yang mampu membuatmu kembali padaku atau terbang bersama takdir lain selamanya.

“Tuhan takdirkanlah dia untuku jika tidak maka takdirkanlah aku untuk yeoja yang selalu menungguku”

Menungguku? Hahahaha kukira siapa yang mau menunggu seorang namja babo sepertiku. Namja yang merelakan cintanya pergi bersama namja lain.

“Myungsoo-ah”

Aku tersentak kaget ketika kurasakan tepukan pelan dari tangan seseorang.

“Aahh kau ternyata Eunjung.”

“Kau namja terbodoh dan paling munafik yang pernah aku kenal”

Dia sedang mengatakan apa? Aku tidak mengerti sama sekali ucapannya.

“Mana ada namja yang mau membiarkan yeoja yang dicintainya pergi bersama namja lain”

“Masuk dan lihatlah sendiri, atas perbuatanmu mereka akan menjalani sebuah rintangan hidup yang tak mampu mereka abaikan”

“Eunjung-ah, mereka pantas bahagia” ucapku memohon

“Kau lupa, betapa kerasnya ayah Suzy? Kau lupa ayah Suzy pernah membuat seseorang hampir bunuh diri karenanya? Kau lupa ketika Gikwang dikeluarkan dari sekolah karena terus membuntuti Suzy? Apa kau juga lupa ketika seorang namja bunuh diri hanya untuk membuktikan cintanya pada eonni Suzy”

Babo, bagaimana bisa aku melupakan itu. Yah aku ingat ketika namjachingu nuna Suzy bunuh diri tepat dihadapan ayah Suzy demi mendapatkan cinta Jiyeon nuna Suzy.

Dan detik itu juga Jiyeon dipindahkan ke London untuk menetap disana dan sampai sekarang dia tak pernah kembali hanya untuk melihat kerasnya hati ayahnya.

“Tapi bukankah ayah Suzy sangat bersalah waktu itu, dia menangis atas kebodohannya sendiri”

“Yah, memang ayah Suzy sudah sedikitr melembut keunde aku hanya takut itu semua terluang kembali”

Aku hanya mampu diam, biarlah Takdir yang menentukannya.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

 “Kau senang hari ini?” tanya Minho

Suzy mengangguk ceria. Sudah hampir 3 jam mereka berjalan-jalan dan menaiki wahana yang ada di Lotte World namun tak sedikitpun peluh menghiasi wajah Suzy.

“Minho-ah” panggil Suzy

“Emmm…Wae?”

“Aku tahu jam berdetak terlalu cepat, dan nafasku berhembus kian dalam” Suzy menggantungkan kata-katanya

“Aku tak mengerti kata-katamu sama sekali”

“Baiklah kita buat ini semakin sederhana. Sarangheyo Choi Minho”

Minho mengerjapkan matanya kaget. Benarkah? Bulan sabit yang dipujanya selama ini menjatuhkan benderanya dan mengatakan isi hatinya.

“Kau serius?” tanya Minho kaget dan hanya dijawab oleh anggukan saja.

“Nado, sarangheyo keunde…”

“Ssssttttt” Suzy menempelkan jari telunjuknya kebibir Minho.

“Masalah appa. Aku akan menyadarkannya”

Suzy mendekatkan wajahnya  ke wajah Minho. Ia tak mengindahkan lagi logikanya yang memintanya untuk menunggu Minho yang memulai. Terlalu lama jika hal itu terjadi, terlalu lama ia menunggunya. Dan detik berikutnya bibir mungil Suzy sudah mendarat manis dibibir Minho. Mereka terdiam saling menikmati sensasi yang menjalar ke seluruh tubuh mereka.

Tepat disamping balon-balon yang terikat kuat pada tangan seorang badut, Myungsoo menyaksikan semuanya, mengintip dibalik celah balon yang berkibar tinggi diangkasa.

“Sepertinya aku mendorong mereka terlalu jauh”

Mau apa lagi yang bisa dilakukannya sekarang ia hanya bisa membantu hubungan keduanya tak diendus oleh ayah Suzy.

“Semoga kau bahagia dengan Minho”

Sekilas, Myungsoo tampak buruk dengan rambut acakannya dan matanya yang sudah meneteskan air mata yang entah sudah keberapa kalinya. Bukankah laki-laki pantang menangis tetapi kenapa ia menangis. Memalukan~

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Author POV

Seorang yeoja duduk dengan lemas, dibawah pohon akasia. Kakinya sudah sangat letih untuk berjalan terus tanpa arah tujuan yang jelas.

“Hikss…hiksss…”

Bulir-bulir air matanya mengalir perlahan membentuk anak sungai yang langsung ditepis olehnya. Ia ingat betul raut wajah appanya saat rahasia yang ditutupnya rapat terbongkar.

Flashbackk

Namja tambun yang sudah berusia hampir setengah abad itu membulatkan matanya merah memandang setumpuk foto hasil jepretan pesuruhnya. Ia tak menyangka anak perempuannya berani membohonginya selama 3 bulan, waktu yang cukup lama bukan.

“Appa, kau memanggilku?”

“APA INI !!! BAE SUJI !!!”

Namja yang disebut appa oleh Suzy melemparkan foto dengan asal. Nafasnya masih memburu menandakan ia sangat marah pada anaknya.

“Ini” ucap Suzy gelagapan.

“Sejak kapan kau bersamanya? Sejak kapan kau berhubungan dengan namja brengsek ini!! Hah !!!”

Emosi kian menyulut ayah Suzy, membuat Suzy tak mampu berbicara tak mampu beranjak lagi. Ayah Suzy semakin kalap saat respon Suzy hanya diam.

“Kau mengkhianati Myungsoo” ucap ayah Suzy dengan nada menyindir

“Aku tidak mengkhianatinya, sejak awal aku tidak ada hubungan dengannya. Jadi aku tidak mengkhianatinya bukan?”

PLAKKKK

Sebuah tamparan keras dan tegas mendarat dipipi anaknya. Bukannya berkurang emosi ayah Suzy semakin menjadi-jadi. Dibantingnya sebuah gelas yang berada didekatnya.

“Appa kau egois”

“Aku? Egois !!! Seharusnya kau berterimakasih pada appamu ini karena sudah menjodohkanmu dengan namja yang baik-baik dan bisa membiayai kehidupanmu nantinya”

“Dia memang namja baik, keunde aku tidak mencintainya Appa. Kumohon…”

“Bulshit tentang cinta”

“Appa, aku mohon hentikan perjodohan ini dan relakan aku bersama Minho” Suzy menangis terduduk, bersimpuh didepan ayahnya.

“Choi Minho, anak dari pedagang buah? Kita lihat nanti cinta atau kekuasaan yang akan menang”
Ayah Suzy tersenyum sinis kemudian meninggalkan anaknya dengan penuh keangkuhan.

Flasback end

“Aku yeoja yang kuat”

Dia memukul dadanya bangga seola-olah dialah peraih nobel yang mampu mendamaikan palestina dan israel.

“Ckckck, yeoja payah” ditangkapnya sesosok namja menggunakan jas kerjanya dengan ekor matanya.

“Apa maumu”

“Pulanglah bersamaku”

“Kenapa harus?” terdengar nada tidak suka dalam setiap katanya.

“Karena aku mencintaimu. Kalau kau tak mau pulang bersamaku tinggalah diapartemenku untuk sementara waktu”

Yeoja tadi nampak berpikir keras. Ia orang baik, sabar dan sudah sangat mengenalnya seharusnya tidak masalah bukan.

“Baiklah, keunde aku ingin tinggal di apartemenmu”

“Arra” namja itu berniat mengacak lembut rambutnya namun segera ditepis oleh Suzy.

“Kau sekarang adalah Kim Myungsoo  calon suamiku bukan Kim Myungsoo sahabatku” perkataan Suzy singkat namun sangat menusuk.

Semenjak itulah Suzy tinggal di apartemen Myungsoo dan saat itulah ia harus membanting tulang untuk dirinya sendiri karena semua fasilitas mewah dicabut paksa oleh appanya.

Tak terasa sudah 3 bulan ia menghadapi semua kesusahannya dan sejak itu pula Minho selalu membantunya dan menyemangatinya

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

“Kau tahu Suzy semakin menderita, wajahnya semakin tirus, terdapat kantung mata dan kau lihat badannya…ia sangat kurus” ucap Eunjung sambil memperhatikan Suzy yang sedang bersama Minho.

“Mau bagaimana lagi, ia sangat keras kepala. Dengan adanya tidak bantuanku toh dia juga akan berbuat demikian” ucap Myungsoo pelan.

“Menaruh roti dan susu didepan apartemennya setiap hari dan menulis sebuah catatan kecil untuk membuat harinya lebih bersemangat yang menyedihkannya lagi kau menulis nama Minho bukan” ucap Eunjung sinis.

Myungsoo hanya diam membisu. Salahkah perbuatannya? Ia hanya terlalu mencintai Suzy.
“Bila kutulis namaku ia pasti takan memakannya jadi bukankah lebih baik menulis nama Minho” ucap Myungsoo tersenyum getir

“Apa perlu ku ucapkan perbuatanmu yang menunjukan kau namja terbodoh didunia?” tanya Eunjung seakan tak mau mendengar pembelaan Myungsoo.

“Apakah kau masih ingat saat Suzy setengah mati mencari pekerjaan dan saat dia memasuki sebuah cafe sebenarnya dia tak diterima di cafe itu karena appanya lalu apa yang kau lakukan?”

“Yah, kau memaksa manager dari cafe itu menerima Suzy” timpal Eunjung.

“Kau juga tidak lupa kan saat Minho menjemut Suzy dicafe disaat hari hujan? Kau merelakan payungmu pada mereka dengan dalih kau akan dijemput supirmu”

“Cukup Eunjung”

“Waktu di Lotte World itu, kau memang merencanakan semuanya bukan?”

Myungsoo tersenyum getir, sudah cukup ia mendengar perbuatannnya yang hanya akan menambah luka dihatinya.

“Berpura-pura ada meeting. Alasan paling konyol”

“Eunjung-ah !! Aku tahu kau menyayangi Suzy bahkan sangat menyayanginya tapi apa kau pernah tahu perasaannya bagaimana?” pekik Myungsoo kasar

“Cinta hanya akan membuatmu menderita. Setidaknya itu yang kupelajari dari Kibum”

Mata Eunjung memerah ia, air mata yang sudah lama dibendungnya kini tumpah ruah.
“Aku hanya tidak mau Suzy mengalaminya” ucap Eunjung ditengah isakannya.

“Apa aku jahat?”

Myungsoo menghela nafas panjang, direngkuhnya tubuh Eunjung yang bergetar. Ia yakin Kibum tak sepenuhnya bersalah, mungkin terdapat sedikit kesalahpahaman saja.

“Kau percaya takdir?” tanya Myungsoo menerawang.

“Tentu saja”

“Kalau begitu percayalah, putusnya kau dan Kibum adalah sebuah takdir. Aku yakin takdirmu bersama seseorang yang mencintaimu sepenuh hati”

Ah, Takdir.. Kalau begitu takdir Myungsoo harus menjadi guardian angel yang tak pernah menunjukan wajahnya. Terus bersembunyi dibalik semak belukar yang berduri, apa itu takdirnya?
Entahlah, jika sang waktu baik maka dia akan menjawab semuanya dengan cepat.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Minho mendesah pasrah, ini sudah ketiga kalinya Suzy masuk rumah sakit karena penyakit maagnya. Ia takan menyangka karena cintanya yang hina ini Suzy harus merelakan hidupnya yang penuh dengan gemerlap.

“Apakah aku namja yang jahat?”

“Minho-ah ada telepon untukmu” pekik ibu Minho dari dalam

“Ne, eomma”

Minho bergegas masuk dan segera mengangkat telepon yang digeletakan begitu saja.

“Yeoboseyo” salam Minho

“Aku ingin berbicara denganmu, cepatlah ke cafe KyuHae sekarang. Aku menunggumu disini”

“Kau siapa?” tanya Minho penasaran

“Appa dari Bae Suji atau biasa dipanggil Suzy”

Deg. Kenapa ayah Suzy meneleponnya, apakah ini berkaitan dengan Suzy. Tentu saja, ini berkaitan dengan Suzy bahkan mungkin ini berkaitan juga dengannya.

Minho segera meletakan gagang telepon yang sudah diputuskan dari sang penelepon entah sejak kapan.

“Eomma, aku pergi dulu” pamit Minho

Ia berlari secepat mungkin. Cafe itu tidaklah jauh dari rumahnya jadi tak memerlukan angkutan umum. Cukup hanya berlari saja 5 menit ia akan sampai.

Bel berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk dan dengan sigap pelayan yang berada didekat pintu tersenyum membungkuk mengucapkan salam seperti biasa. Tapi namja itu-Minho- sedang tidak ingin mendengarnya ia kesini bukan untuk mendengarkan orang memberinya salam selamat datang.

“Disini” seorang namja tambun lengkap dengan jas licin yang dikenakannya.

“Ada apa appa Suzy” ucap Minho canggung

Ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan namja yang terkenal sangat keras. Ayah Suzy menyeringai pelan sepertinya ia tak mempunyai waktu banyak untuk bermain-main dengan namja ini.

“Duduklah”

Minho duduk dengan canggung. Ia merrasakan atmosfer yang berbeda seakan-akan dialah penjahat yang sedang diadili.

“Bagaimana keadaan Suzy?”

Tenggorokan Minho tercekat, apa yang harus ia katakan pada ayah Suzy. Tidak mungkin bukan dia mengatakan Suzy sedang berada dirumah sakit karena kelelahan dan telat makan.

“Dia sakit dirumah sakit yah” sindir Ayah Suzy

“Terimakasih kau telah bekerja keras membahagiakannya seanjutnya biar aku yang menanganinya”

Minho POV

Apa yang dimaksudnya ia akan mengambil Suzy dariku? Andwae itu takan terjadi.

“Jeongso hamnida, tapi Suzy sudah memilih jalannya”

Lalu apa gunanya aku dan dia menabung selama 3 bulan. Kami sudah mempunyai tekad yang kuat untuk bersatu dengan kerja keras kami sendiri dan uang yang kami tabung sudah lebih dari cukup untuk membiayai pernikahan kami dan hidup selama satu bulan kedepan.

“Sujiku ia hanya ingin bersenang-senang sebentar dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan semuanya ke tempat yang semula”

DAMN. Si tua brengsek ini tak mengerti apa yang kuucapkan. Aku sanksi dia pernah merasakan jatuh cinta atau cinta yang begitu berkobar-kobar, atau jangan-jangan dia menikah dengan ibu Suzy hanya keterpaksaan belaka. Cih apakah ia pantas disebut namja sejati~

“Kembalikan Suji anaku”

BRAKKKK
Aku menggebrak menja dengan keras, Sudah cukup omong kosongnya. Aku akan tetap menjadi romeo untuk Juliet dan selamanya akan begitu.

Ia memandangku murka, wae? Memangnya aku takut terhadap iblis sepertimu. Aku tahu kau yang sudah membuat Suzy menderita selama ini, menghambat Suzy menemukan pekerjaannya, memblokir semua kartu kreditnya, membebankan semua administrasi kuliahnya, bahkan kau menyuruh seseorang untuk mengacak-ngacak barang dagangan eommaku. Cih apakah namja ini pantas disebut Appa.

“Kalau itu yang anda ingin katakan. Seharusnya anda sudah tau jawabannya”

Aku meninggalkannya pergi.
“Kalau begitu duduklah di rumahmu dengan santai dan lihatlah drama Boys Over Flowers atau BBF”

Shitt, Aku menggertakan gigiku marah, aku tahu apa yang ia maksud. Apakah ia akan melakukan semua penderitaan yang ada di drama itu untuk menghalangi cintaku padanya, tidak. Tidak akan pernah.

“Tapi sayang endingnya tidak begitu bagus”

Ia melangkah mendekatiku dan berbisik pelan tepat dikuping kananku.

“Menyenangkan jika endingnya bisa dirubah”

“Kalau kau butuh bantuan hubungi saja aku” teriaknya

Rasanya aku ingin memukulnya sampai otaknya berfungsi dengan benar.

SHINee’s back, SHINee’s backSHINee’s back back back back back

From: Eomma
Suzy mengalami usus buntu, dia harus segera dioprasi. Cepatlah kemari

Tuhan ujian apalagi ini, bukankah kau bilang kau takan memberikan beban yang tak kuat dipikul hambanya tapi kenapa kau memberikan ujian yang membuatku tak bisa bernafas dengan benar.

Aku berlari kencang, sangat kencang. Tuhan aku mohon selamatkanlah Suzy.

“Eomma dimana Suzy” ucapku setibanya dirumah sakit.

“Apakah anda keluarga Suzy?” tanya seorang dokter berpakaian jas putih

“Ne, ada apa?” tanyaku tak sabar

“Kami harus segera melakukan operasi usus buntu”

“Lakukanlah dok, lakukanlah”

“Tapi kau harus mengurus segera administrasinya. Kami tak bisa melakukannya sebelum kau melunasi biaya operasinya atau setengahnya”

Uang ?!! Uang!! Bagaimana ini uang yag kukumpulkan tak mencukupi untuk membayar semuanya, apa yang harus kulakukan Oh Tuhan.
Haruskah aku melakukannya? Tapi…. Kesehatan Suzy lebih berharga.

“Dokter lakukan saja masalah biaya akan aku urus secepatnya”

“Baiklah, silahkan isi formulirnya”

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

4 Bulan kemudian……….

Yeoja dengan baju pengantin putih berjuntai manis itu tersenyum simpul. Dia mematutkan dirinya didepan kaca yang seukuran dengan tingginya.

“Apakah ini takdirku?” gumamnya

Pelayan yang melayani yeoja tersebut mohon diri, meninggalkannya sendiri di ruangan serba putih lengkap dengan hiasan bunga mawar merah, bunga kesukaannya.

“Kau tampak seperti bidadari” ucap seorang namja didepan pintu

Pemilik wajah nan cantik itu menoleh cepat. Ia tahu siapa pemilik suara yang sudah mengisi relung hatinya itu.

“Tak mau memeluku?”

Yeoja itu tersenyum penuh arti, ia berlari kecil dan memeluk namja yang sangat berarti baginya.

“Tentu saja tuan Choi”

“Bagaimana perasaanmu saat ini Suzy-ah”

“Pertanyaan bodoh” yeoja itu mengeratkan pelukannya.

Minho melepaskan pelukannya, dan tersenyum lembut seperti biasa. Ia mengusap pucuk kepala Suzy dengan penuh kasih sayang.

“Kau siap?”

“Ne” jawabnya lirih

“Jangan memalukan”
Minho menampakan senyumnya lagi, kemudian pergi menjauhi ruangan yang seharusnya hanya boleh di huni oleh pengantin wanita dan beberapa pelayannya.

Tak lama setelah itu, ayah Suzy muncul dengan pakaian jas seperti biasa hanya bedanya ia memakai rangkain bunga kecil di kemeja kanan atas.

“Kau siap?”

Suzy mengangguk cepat. Diraih tangan ayahnya, kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah gereja yang jaraknya sagatlah dekat.

Suzy memandangi sebuah karpet merah yang terhampar luas didepannya dipenuhi bunga mawar putih. Ia memasuki altar gereja dengan degupan yang sangat kencang dan di seberang sana terdapat namja yang sudah digariskan takdir menjadi pasangannya.

Suzy semakin mendekati namja yang sedang berdiri membelakanginya, ayah Suzy membenarkan letak tangan anaknya. Ia takut, anak termudanya meninggalkannya sendiri bersama kegelapan yang akan mengepungnya namun senyuman dari saudara sampai anak tertuanya yang sudah memaafkannya memberikannya semangat. Bae Suji adalah anak yang istimewa dia harus di jaga juga dengan orang yang istimewa.

Tangan namja didepannya terulur, Suzy menatap sebentar ayahnya lalu dengan anggukan kecil Suzy melepaskan tangannya dan menerima uluran tangannya.

Keduanya berjalan beriringan disertai taburan bunga mawar merah yang menghujani mereka dengan kebahagian kecil. Mereka berdua berhenti dihapan pastur yang akan menjadi saksi hidup kebersamaan mereka.

Pastur itu menatap keduanya bergantian. “Jika tidak ada yang setuju mohon angkat tangan”
Tak ada yang mengangkat tangannya, mereka semua tertawa senang.

“Baiklah kita mulai”

“Kau Kim Myungsoo, apakah kau bersedia menikah dengan yeoja yang berada disampingmu ini.
Bersedia mencintainya dan hidup dengannya sampai ajal menjempputmu?” tanya pastur dengan hikmat.

“Aku bersedia” jawab Myungsoo mantap

“Dan, kau Bae Suji, apakah kau bersedia menikah dengan namja yang berada disampingmu ini. Bersedia mencintainya dan hidup dengannya sampai ajal menjemputmu?”
(Author ga tau ini bener atau salah)

Suzy hanya mampu diam, sekelebat bayangan masa lalu mengisi penuh otaknya

Flasbackk

“Aku mohon hiduplah bahagia dengan Myungsoo”

“Tidak, aku tidak pernah bahagia dengannya” jawab Suzy sesenggukan.

Ia memeluk tubuh Suzy yang masih bergetar. “Aku mohon katakan ini semua adalah leluconmu”
Minho hanya mampu diam membisu, air mata yang telah dibendungnya menyeruak pelan.

“Dengarkan aku” Minho melepas pelukannya.

“Aku sudah tidak mencintaimu lagi, dan aku sudah tidak menginginkanmu lagi”

“Kau hanyalah sebuah permainanku saja tidak lebih” ucap Minho ditengah isakannya.

Suzy tahu, Minho hanya berbohong ia hanya menginginkannya bersama Myungsoo tapi kenapa setiap kata yang dipilih Minho begitu menusuk hatinya membuatnya seolah ia adalah yeoja terakhir di dunia yang meregang nyawa dengan menusuk-nusukan setiap jarum di tubuhnya sampai nafasnya berhenti.

“Apakah appa yang melakukannya?”

“Tidak, tapi takdir yang melakukannya”

Suzy sadar, ia adalah segelintir dari beribu takdir yang sudah tercatat dengan rapi. Tapi bukan ini takdir yang diinginkannya jika boleh ia akan memperotes Tuhan dan mencuri buku takdir lalu menggantinya dengan takdir yang diimpikannya.

“Percayalah jika Myungsoo adalah takdirmu”

“Lalu kenapa takdir mempertemukan kita, menumbuhkan cinta diantara kita. Wae?”

“Karena takdir ingin menunjukan rasa kesetiaan Myungsoo padamu”

“Geotjimal. Geotjimal. Kau pasti berbohongkan” isak Suzy semakin keras

“Ani, jika kau ingin membuktikannya tanyalah pada Eunjung nuna. Dia tahu semuanya”

Minho memeluk Suzy kembali, ia tahu ini adalah pelukan terkahirnya dan paling menyakitkan dihidupnya.

“Percayalah jika Myungsoo adalah takdir yang kau tunggu”

Flasback end

Suzy menatap nanar kearah Minho yang sedang tersenyum kearahnya.

“Aku bersedia” ucapnya kemudian

Seluruh hadirin menghembuskan nafas lega, mereka pikir ini adalah sebuah pernikahan gagal yang akan menampilkan kisah melonkolis yang menyayat hati.

“Kalian sekarang resmi menjadi pasangan suami istri”

Myungsoo tersenyum lega, diciumnya bibir Suzy lembut untuk mengawali kisah mereka berdua yang terlihat sangat manis.
“Ini adalah takdirku Minho Oppa” batin Suzy

“Aigoo, padahal aku belum mengatakan kalian boleh berciuman. Terserah kalian sajalah” ucap pastur frustasi baru kali ini ia menghadapi pasangan kekasih yang tak mendengarnya setelah mengatakan’aku bersedia’

PROOKKKKK…….PRRROOOKKKKK……
Tepukan Kibum mengawali kemeriahannya dan disusul dengan tepukan yang lainnya. Kibum melirik Eunjung yang sudah bahagia dengan namja yang disampingnya.

“Namanya Lee jang Woo” ucap Minho seakan tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.

“Ah, kau hebat Kibum-ah. Kau mampu menaklukan Ms. Sohee yang terkenal galak itu dan memutuskan Eunjung dengan perasaan”

“Dan kau hebat Minho-ah, mampu merelakan yeoja yang kau cintai dengan namja lain. Kau hebat bahkan lebih hebat dariku, mampu menerima takdir dengan hatimu” Kibum menepuk pelan punggung Minho.

“Kalian berdua adalah muridku yang paling hebat” ucap Sohee sambil memeluk kedua leher muridnya.

“Yaa, aku ini namjachingumu lagipula kita tidak sedang berada di Universitas” ucap Kibum sambil mengerucutkan bibirnya.

“Tapi tetap saja aku seonsaengnimu” ucap Sohee tak mau kalah

“Kau hanya lebih tua 3 tahun dariku” kilah Kibum
Sohee melepaskan rangkulannya pada leher Minho dan mengeratkan rangkulannya pada leher Kibum yang membuat Kibum harus merasakan sakit.

“Yaa…Appo. Appo”

Minho hanya tersenyum menyaksikan pertengkaran kecil yang sudah sering dilakukan keduanya. Semuanya berakhir dengan ending yang begitu mengesankan. Eunjung yang sudah menemukan cinta barunya, Kibum bersama Sohee, Jiyeon yang bersama suaminya, dan Suzy dia sudah bahagia dengan Myungsoo. Sepertinya hanya dia yang belum mencapai takdirnya.

Flasback..

“Aku ingin menolong Suzy asal dengan syarat”

“Kau benar-benar appa jahanam. Anakmu disana sedang kesakitan dan kau disini malah mempermainkanku” bentak Minho

“Jauhi Suzy hanya itu”
Ayah Suzy tersenyum lebar, ia tahu Minho bukan orang egois.

Minho menghela nafas panjang. “Baiklah”
Jika memang takdir menginginkannya menjauhi Suzy, ia akan melakukannya.

Flasback end

“Jadi saat ini takdirku adalah tidak bersamamu”

“Chukkae bulan sabitku” gumam Myungsoo pelan.

~~~~~~~~>.<~~~~~~~~

Sinar mentari menampakan kekuasaannya, mewarnai dunia dengasn warna orange yang bersinar menampilkan background teater yang begitu apik. Sang yeoja menutup matanya menikmati aliran udara yang terus bergerak disertai dengan bau asin yang tak begitu menyengat namun mampu menandakan mereka berada dipantai.

Matanya perlahan membuka sedikit, mengintip permukaan air yang tampak berkilauan akibat ulah sang mentari sore.

“Menunggu lama?” tanya namja memakai jaket terusan berwarna hitam menawan.

Yeoja itu membuka matanya sepenuhnya.
“Menurutmu?” terdapat nada kesal yang disampaikannya.

“Mianhae. Kajja”

Namja tadi memberikan uluran tangannya dan langsung disambut oleh tangan sang yeoja. Keduanya berjalan dalam diam, sambil menikmati deburan ombak yang terus berkejaran memecah karang.

Namja itu Kim Myungsoo menatap kekasihnya sekaligus istrinya sebentar.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu” jawab yeoja itu –Suzy- salah tingkah

Myungsoo tersenyum kecil, ia duduk berlutut di depan Suzy.
“Jadilah permaisuri hidupku” Myungsoo memberikan setangkai mawar merah yang entah sejak kapan disembunyikannya.

Suzy menutup mulutnya yang ternganga tak percaya dengan tingkah Myungsoo.

“Baiklah, dan jadilah pangeranku untuk sekarang, esok dan selamanya” tangannya yang lembut menerima setangkai bunga mawar yang durinya sudah dihilangkan.

“Tentu saja”
Keduanya saling tersenyum.

“Naiklah” Myungsoo berjongkok didepan Suzy.

“Disini tidak ada kuda” Suzy terkekeh kecil.
Ia menuruti permintaan Myungsoo yang sangat kekanakan.

“Kau berat yah”

“Babo, kenapa tak bisa berbohong sedikit sih” dumel Suzy sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Myungsoo.

“Aku hanya bercanda yeobo”

Keduanya diam, memainkan dunia mereka masing-masing. Suara desiran angin yang lembut membuat mata Suzy semakin berat, ia mengeratkan pelukannya pada Myungsoo yang entah sejak kapan sangat membuatnya nyaman.

“Suzy-ah” panggil Myungsoo

“Emm apa?” jawab Suzy malas.

“Kita kan sudah menikah”

“Lalu?”

“Apakah kita bisa membuat Myungsoo kecil” ucap Myungsoo pelan.

“MWO !!” Suzy langsung membulatkan matanya.

“Yaa.. Neo Juggulae !! Skripsiku juga belum selesai kau sudah meminta Myungsoo kecil” omel Suzy.

Suzy mengeratkan tangannya pada leher Myungsoo.
“Yaa. Yaa appoo…appo.. kau ingin membunuhku” pekik Myungsoo

“Ani. Aku hanya ingin membuat seoul gempar dengan berita ‘seorang suami tewas ditangan istrinya dimalam pertama’ hahaha menyenangkan bukan” Suzy mulai melonggarkan tangannya

“Yaa…Kau tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang kau terus menganiayaku”

“Karena itu menyenangkan suamiku tersayang”

“Yaa kalu begitu turun” ucap Myungsoo pura-pura kesal.

“Shirro”

“Turun”

CUPPPP

Suzy mencium lembut pipi suaminya. “Neomu..Neomu Saranghae yeobo”

“Kenapa hanya menciumku dipipi”

“Kau ini, mencium pipimu saja sudah membuat wajahku hampir mendidih”

“Kalau begitu ayo kita tuntaskan di malam pertama kita”

“Yaaa Kim Myungsoo” pekik Suzy keras

Myungsoo berlari kencang menuju villa yang sudah disewanya.
“Terimakasih Tuhan, atas semua takdirmu. Aku tak menyesal karena sudah terlahir sebagai Ki Myungsoo” batin Myungsoo

Jauh disana, sepasang mata memperhatikan keduanya. Menampilkan mimik yang susah dijelaskan, bahagia bercampur sakit mungkin itulah yang dirasaknnya. Ia menatap Surat berwarna biru muda yang berada ditangannya.

Lihatlah sendiri, di pantai Incheon jam 5 sore ini.
Aku sudah menepati janjiku padamu sebagai seorang lelaki, aku Kim Myungsoo akan menjaga bulan sabitmu sepenuh hatiku sampai ajal menjemputku

Kim Myungsoo

 

TAMAT

Baiklah sepertinya aku gagal membuat FF yang mengesankan, tapi mau bagaimana lagi ini idenya berhentik ditengah jalan terus dilanjutin tanpa semangat *nangis bareng Myung Oppa*

Walaupun aneh dan ga dapet feelnya tapi coment kalian sangat dibutuhkan untuk menambah semangat buat author yang abal-abal ini.

Ingat RCL kalian sangat berarti. Buat Silent Riders aku mohon bertobatlah kalian semua …^^

Iklan

6 respons untuk ‘Only Tears

  1. WAW sumpah Daebak luar Biasa author aku salut bener2 salut . Canggih author aku mau jadi fans author. Kukira jadinya sama Minho Eh ternyata sama Myungssoo. Kekuatan cinta yang luar biasa Minzy Shipper & Myungzy Shipper DAEBAK authornya Cerdas 🙂

  2. keren bgt….sy kira suzy nikah ma minho….
    tp seneng bgt cos suzy nikah ma myungsoo…
    gak jd galau cos dsini myungsoo bner2 guardian angel….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s